
"Aku nebeng mobil kamu ya Ren." ucap Sherin yang langsung duduk di kursi penumpang bagian depan bahkan sebelum Darren menyetujui, sepertinya gadis itu memang bukan berniat bertanya tapi lebih pada ke pernyataan yang membuat Rona mendengus sebal.
"Sayang." Rona malah dengan sengaja mengencangkan suaranya guna memancing emosi si wanita badut yang sudah duduk anggun di dalam mobil milik calon suaminya.
"Kamu masuk sana." pinta Darren karena memang mereka harus segera berangkat.
"Sebenarnya dia itu mau camping atau mau jadi badut di Ancol si? masa camping mukanya Cemong begitu." sungut Rona ketika melihat wajah Sherin yang malah tampak menor dengan warna yang sangat mencolok mata.
"Astaga Kak Darren, penggemar mu kenapa seperti ini sih." Rona menatap sinis seraya menggelengkan kepalanya.
Raut wajah Rona malah semakin sebal manakala wanita di depannya itu melirik sinis padanya dengan senyum yang mengesalkan terlihat sekali bahwa wanita itu merasa menang saat ini karena berhasil menggesernya duduk di belakang, sedangkan itu adalah mobil lelaki yang akan menjadi suaminya.
"Rona." seru Rendi yang membuka pintu samping Rona dan sudah bersiap untuk masuk, namun kemudian dari arah belakang ada yang menarik jaket miliknya hingga bergerak mundur.
"Lu bawa nih mobil." Darren berkata dingin sambil langsung masuk dan duduk di samping Rona yang tersenyum senang.
"Kan ini mobil lu Ren." malah seperti tidak terima atas permintaan Darren.
Sedangkan Sherin mendengus kesal seraya menghentakkan kakinya.
"Maka dari itu ku harus tau diri, masa gue lu jadiin sopir, udah mobil punya gue lu mau enak-enakan gitu? sorry aja Rendi, gue bukan sopir lu." ketua Darren dengan cebikkan di bibirnya.
__ADS_1
"Cepat Rendi." Rendi sudah tidak protes lagi saat teman-temannya yang sudah siap untuk berangkat berteriakan tak sabar agar dirinya cepat menjalankan mobil itu.
"Sialan." makinya saat harus menjadi supir padahal perjalanan akan sangat panjang memakan waktu hingga kurang lebih 3 jam itupun jika tidak terjebak macet, bayangkan jika macet, panas sudah bagian bokongnya nanti karena tidak akan leluasa berganti posisi saat tengah mengendarai mobil, apalagi di sebelahnya kini malah ada wanita yang terkenal menyebalkan dengan tingkah sok cantiknya, yah meskipun dulu dia sempat tergila-gila pada wanita itu, namun setelah mengetahui betapa menyebalkannya seorang Sherin membuat Rendi mundur teratur.
Sherin dan Rendi saling membuang muka karena kesal yang mereka rasakan lebih lagi saat mendengar Rona berulang kali dengan sengaja memanggil sayang kepada Darren.
"Ayo jalan." kata Bimo seraya membunyikan klakson mobilnya agar satu mobil lagi yang ada di belakangnya juga melaju, total ada 4 mobil dengan satu mobil yang berisi barang-barang bawaan mereka.
Rendi terus bersungut kesal ketika melihat spion mobil, Darren malah tengah dengan enaknya memejamkan mata dengan tangan yang saling bertautan dengan gadis manis di sebelahnya.
Sherin melirik Rendi dengan tatapan sangat kesal, bagaimana ia tidak kesal karena rencananya untuk bisa duduk di samping Darren hancur berantakan karena ulah sang Playboy kampus itu.
Seandainya Rendi tidak ikut di mobil Darren sudah bisa di pastikan saat ini ia akan merangkul mesra tangan Darren seraya menyandarkan kepalanya di bahu sang lelaki idaman.
"Nggak usah ngelihatin gue lo!" emosi Rendi saat mata Sherin terus saja menatapnya dengan kejam.
Sherin mendesis bagaikan seekor ula seraya memutar bola matanya jengkel.
Rona tak kuasa menahan tawanya hingga hampir saja kelepasan mentertawakan dua orang di depannya saat ini, tapi untungnya tangan Darren dengan cekatan menutup mulut Rona.
Meskipun Darren tengah memejamkan matanya tapi dia sadar dengan tingkah laku gadis di sampingnya sekarang
__ADS_1
"Tidur sini." menarik kepala Rona untuk bersandar di bahunya, tindakan yang makin membuat mata Sherin hampir meloncat keluar disertai dengan umpatan yang hanya ia ungkapkan di dalam hatinya.
Telinga Sherin semakin panas tak tahan dengan celotehan Rona hingga akhirnya ia berseru kencang.
"Rona!!!" pekik Sherin dengan nada bentakan.
Dan sontak membuat mata Darren terbuka dan menatap tajam pada Sherin yang tengah mendelik pada Rona yang malah menunjukkan wajah polosnya.
"Kenapa Kak?" tanya Rona.
Sherin menggeleng lalu berkata sangat pelan.
"Nggak apa-apa kok, panggil doang." katanya lalu kembali menatap lurus ke depan karena mata Darren yang terlihat kesal padanya.
Rendi melirik pada Sherin seolah memberikan ancaman untuk tidak kembali membentak gadis yang sekarang menjadi incarannya itu.
Keheningan pun akhirnya melanda mobil itu, dengan kedua orang di kursi belakang yang sepertinya tertidur.
Sungguh penampakan yang seperti majikan tengah pergi bersama dengan sopir dan pembantu mereka.
Siapa lagi sopir dan pembantu jika bukan dua orang yang duduk di kursi depan sedangkan majikan yang kini sedang tidur di kursi penumpang dengan tenangnya setelah mereka baru menempuh perjalan sekitar 1 jam kurang.
__ADS_1
****