Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 9


__ADS_3

Motor yang di naiki oleh sepasang anak manusia itu terus berjalan dengan santai, Iya motor itu melaju dengan kecepatan lambat tapi anehnya Darren terlihat tidak merasa risih sama sekali saat tangan Rona terus melingkar di pinggangnya bahkan tadi Darren sendirilah yang menarik kedua tangan Rona untuk berpegangan pada dirinya.


Jauh berbeda saat dirinya membonceng Sherin semalam, sepertinya lelaki itu tahu batasannya siapa saja yang boleh menyentuh dirinya.


Rona wanita yang sudah di jodohkan orang tuanya sejak kecil dan lagipula tidak di pungkiri bahwa Darren juga sangat menyayangi serta mencintai wanita yang akan menjadi istrinya nanti.


Darren mengendarai motor menuju kampus karena seperti yang sudah dia katakan tadi bahwa dia ada rapat dengan teman-temannya mengenai camping yang sudah di rencanakan awal tahun ini dan sepertinya camping kali ini harus terlaksana setelah gagal sebanyak dua kali.


Darren sesekali melirik wanita yang duduk di belakangnya dari kaca spion, hanya untuk sekedar menatap wajah Rona yang masih saja merengut kesal.


Lelaki itu menghentikan laju motornya ketika lampu lalu lintas berubah merah.


Rona bergerak mundur membetulkan posisi duduknya yang sebenarnya sejak tadi merasa tidak nyaman karena Jok motor itu tinggi dan sungguh menyiksanya yang sehari-harinya sudah terbiasa dengan motor matic.


"Sengaja banget Jok motor di tinggiin begini." sungut Rona yang tentu saja bisa di dengar oleh Darren meskipun lelaki itu memakai Helm.


Darren memutar kepalanya untuk melihat Rona yang masih mengomel.


"Kenapa sih?" tanyanya pada wanita yang sekarang bertatapan dengan matanya.


"Kakak sengaja Jok motornya di giniin biar kalau ada cewek yang naik bisa nempel-nempel." Rona mengatakan kekesalannya.


"Ya emang modelnya begini Rona." seru Darren menyadari betapa konyolnya wanita di boncengannya itu yang malah mempermasalahkan Jok motor yang bahkan tidak dia ubah sedikitpun dari semenjak dia punya.


"Alasan Mulu." ketus Rona.


"Motor begini Joknya di bikin ceper ya nggak lucu Rona." ucap Darren sambil terus menatap wajah Rona yang makin hari terlihat makin manis apalagi dengan jarak yang sangat dekat seperti ini.


"Tuh jalan." ujar Rona ketika lampu merah sudah berubah warna meminta Darren untuk kembali menjalankan motornya.


Darren menarik kedua tangan Rona untuk kembali berpegangan lalu setelahnya baru dia melajukan motornya.


Motor itu mengarah memasuki halaman kampus yang terlihat sepi, hanya ada beberapa orang tentunya memiliki urusannya masing-masing datang ke kampus di saat hari libur seperti ini.


Rona turun dari motor yang cukup tinggi untuknya tentu saja karena ia memiliki tubuh yang sangat imut seperti Mamahnya.


Dan lihatlah sekarang ini siapa yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.


Wanita Cantik dengan tubuh semampai yang semalam berada di boncengan Darren tersenyum lebar ke arah lelaki yang tengah meletakkan Helmnya di atas motor.


"Oh jadi rapatnya sama cewek itu." Rona mengangguk-angguk seolah paling mengerti bahwa Darren memang ingin bertemu dengan wanita yang ia tahu bernama Sherin itu.


"Beneran rapat Camping Na." ucap Darren menatap Rona.


"Terus kenapa ada dia?" Rona melirik sinis wanita yang sudah semakin dekat itu.

__ADS_1


"Ya karena dia emang ikut Rona." ujar Darren mulai gemas dengan kecemburuan yang ditunjukkan oleh calon istrinya itu.


Mata Rona membulat sempurna mendengar pernyataan Darren tentang Sherin yang akan ikut camping.


"Dia ikut?" tanya Rona ketika Sherin sudah berdiri di dekat Darren.


"Ikut apa nih?" tanya Sherin dengan senyuman mengukir di garis bibirnya.


"Camping." Darren menjawab malas.


"Oh tentu selama ada kamu di situ aku akan selalu ada." tutur Sherin menatap lelaki di depannya.


Bagaimana ekspresi Rona sekarang? tidak usah di tanya lagi sebab saat ini pun mata Rona sudah tidak bisa berkedip mendengar wanita di samping Darren itu berbicara.


"Hei kamu Adiknya Darren kan?" akhirnya Sherin menyapa Rona yang padahal berdiri sejak tadi di dekat lelaki yang saat ini tengah ia Pepet.


"Dia bukan adik gue." sahut Darren seraya memainkan HPnya untuk menanyai keberadaan teman-temannya yang lain sudah di mana saat ini.


"Terus siapa? sepupu?" tanya Sherin lagi.


Rona enggan menjawab, ia serahkan saja pada Darren, Rona ingin mendengar lelaki itu menganggapnya apa di depan wanita yang tengah mengejarnya itu.


Kali ini Darren menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Sherin kedua kalinya.


"Lalu?"


"Calon istri? nggak mungkin Darren suka sama bocah kecil begitu." gumam Sherin yang menganggap Rona hanyalah anak kecil padahal usia Rona saat ini sudah 18 tahun dan sebentar lagi akan lulus sekolah dan akan kuliah.


"Kak Darren tadi ngomong apa?" tanya Rona dengan wajah yang mengukir senyum malu-malunya.


"Nggak tahu, lupa." sahut Darren seraya terus berjalan tanpa menoleh Rona meskipun tangannya masih terus menggandeng Rona yang berjalan di belakangnya.


"Baru tadi masa udah lupa." Rona masih terus menggoda lelaki yang tidak ingin mendengarkan ocehannya lagi.


Lorong kampus yang sepi membuat suara Rona terdengar menggema membuat Darren kesal.


Lelaki itu dengan kencang menarik tangan Rona hingga sekarang berada di depannya lalu menatapnya dengan tatapan yang tajam.


"Aku bercanda Kak." kata Rona yang mulai takut jika Darren sudah menunjukkan wajah serius seperti saat ini.


"Mau ngomong apa lagi? ayo ngomong kenapa berhenti." kata Darren tajam seraya mendekat pada Rona yang terus bergerak mundur hingga akhirnya wanita itu merasakan tubuhnya sudah membentur tembok dan itu artinya ia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.


"Aku cuma bercanda loh Kak." kata Rona dengan wajah pias.


Sungguh mata Darren yang sangat tajam membuat napas Rona kembang kempis karenanya, ia tidak pernah bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar keras jika Darren sudah menunjukkan sifat dingin dan galaknya seperti saat ini.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu hubungan kita seperti apa, kenapa masih terus bertanya." kesal Darren.


"Maaf." sahut Rona dengan mengalihkan wajahnya karena mata Darren yang terus menatapnya lekat dan wajah lelaki itu yang semakin maju mendekati dirinya menghembuskan napas hangat yang menerpa kening Rona.


Berada di jarak sedekat ini perbedaan tinggi mereka sangat terlihat.


Tangan Darren memegang dagu Rona yang sejak tadi mengalihkan wajahnya agar wajah mereka berhadapan.


"Kak." panggil Rona saat Darren makin memajukan wajahnya dan mata Rona memejam seketika kala bibir lelaki di depannya itu menyentuh bibirnya.


Untuk pertama kalinya mereka berciuman setelah sekian lama di jodohkan oleh kedua orang tua mereka.


Rona merasakan bibir Darren semakin menuntut dirinya untuk membalas kecupan itu.


Sungguh jantung Rona sudah tidak karuan ini pertama kalinya ia merasakan ciuman dan ciuman itupun ia lakukan bersama lelaki yang sudah di jodohkan untuknya.


Setelah puas menikmati bibir wanita yang wajahnya kini menjadi merah, Darren pun berdiri menjauh.


"Kenapa?" tanya Darren saat Rona menunduk.


"Ini ciuman pertama aku Kak." ucap Rona.


"Baguslah karena kamu memang hanya untuk ku." sahut Darren menatap Rona yang meskipun tengah menunduk namun Darren bisa melihat kalau wanitanya itu tengah menggigit bibir bawahnya.


"Apa ini juga yang pertama buat Kakak?" tanya Rona.


"Tidak, ini yang ketiga kali." jawab Darren yang sontak membuat Rona mengangkat wajahnya dan melotot tak percaya.


"Kenapa melotot?" tanya Darren memundurkan kepalanya.


"Kita sudah di jodohkan dari kecil, tapi Kakak sudah tiga kali ciuman padahal denganku saja ini yang pertama kali." Rona berkata sengit.


Dengan konyolnya Darren menggaruk rambutnya sendiri menyadari kebodohannya yang berkata jujur pada Rona bahwa dia sudah pernah berciuman dengan wanita lain.


"Tapi itu waktu aku SMA Na." tutur Darren.


Ya dulu saat SMA dia memang sempat berhubungan dengan teman sekelasnya, bukan karena suka tapi karena mengikuti teman-teman sekelasnya apalagi wanita itu selalu mendekati dirinya.


"Sama aja, itu namanya Kakak selingkuh dari aku." wajah Rona terlihat sangat kesal mendengar pengakuan Darren.


"Ren." belum selesai Rona melampiaskan amarahnya karena merasa di khianati oleh calon suaminya itu, teman Darren yang baru saja muncul memanggilnya.


"Aku rapat dulu, kamu tunggu disini." kata Darren yang langsung bergegas masuk ke dalam ruangan yang entah apa itu, Rona pun tidak tahu dan enggan mencari tahu karena sudah kadung dongkol dengan Darren.


"Enak banget, dia jadi yang pertama sedangkan gue ngerasain bekas orang." sungut Rona seraya menatap tajam ke arah pintu dimana Darren masuk tadi.

__ADS_1


****


__ADS_2