Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 78


__ADS_3

Tania terlonjak kaget ketika pintu kamar di buka dengan sangat kasar.


"Kamu ngapain Na? Darren nya mana?" tanya wanita yang tadi sedang mengganti seprai di kamar anaknya, meskipun kamar itu kosong namun ia tetap rutin untuk mengganti seprai dan juga sarung bantalnya.


Rona tak menjawab malah sibuk menutup pintu lalu menguncinya dengan gerakan yang sangat cepat.


"Apa sih Na? kenapa di kunci coba?" Tania melihat bingung pada tingkah sang anak yang masih membelakangi dirinya.


Rona menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan-lahan sangat hati-hati karena jantungnya juga tengah berdebar kencang, jelas karena takut Papanya akan mengomel padanya karena sudah pergi dari apartemen tanpa bilang pada Darren lalu masih di tambah dengan berbohong kepada sang Papa.


"Mamaaa, Rona kangeen," seru Rona seraya berlari memeluk wanita yang pertanyaannya belum terjawab.


"Kemarin bukannya baru ketemu?" tanya Tania yang semakin bingung dengan kelakuan anaknya.


"Emangnya kalau orang kangen itu mesti lama nggak ketemu dulu gitu?" sungut Rona yang sudah bergelayut manja di lengan Mamanya.


"Ya nggak juga sih, nggak ada waktu tertentu untuk kangen sama seseorang," sahut Tania yang mendapat acungan jempol dari sang anak.


"Tapi kangennya kamu ini malah terkesan mencurigakan, pertanyaan Mama juga nggak ada yang kamu jawab," sambung Tania yang segera saja membuat Rona menggembungkan pipinya.


Otak Rona pun di paksa untuk bekerja mencari alasan yang akan ia jadikan pembenaran jika nantinya Mamanya itu malah lebih berpihak pada Darren, sedangkan sudah jelas Papanya pasti akan membela Darren ketimbang dirinya setelah mengetahui bahwa ia berbohong.


"Mama masa gitu, sama anak curigaan banget," rajuk Rona mulai menunjukkan wajah yang terkesan sangat polos.


"Cepat jawab, kamu Dateng sama siapa?"


"Emm.." Rona malah bertele-tele tidak segera menjawab pertanyaan dari sang Mama.


"Rona!" seru Tania mulai kehabisan kesabaran dengan sikap anaknya itu.


"Rona Dateng sendiri." akhirnya menjawab dengan nada suara yang sangat pelan.


"Sendiri? suami kamu?" kening Tania mengerut dengan jawaban anaknya yang memang manja namun juga sekaligus nakal dan pecicilan persis seperti Papanya, tingkah lakunya terkadang tak jelas dan sangat suka memancing emosi orang.


"Kak Darren kan pagi kerja jadi kuliahnya pulang kerja, artinya sekarang masih ada di kampus kali," sahut Rona dengan ujung kalimat yang malah membuat Tania kesal.


"Kenapa harus ada KALI nya?! kamu sebenarnya itu tahu nggak sih kegiatan suami kamu!" cerocos Tania.


Sepertinya Rona salah mencari tempat untuk berlindung dari sang Papa dan juga suaminya, melihat reaksi dari Mamanya yang baru begitu saja sudah tampak sangat sengit, sepertinya Mamanya ini akan lebih menyeramkan ketimbang Papanya.


"Ya tahu lah Ma, tapi kan sekarang Rona lagi.." Rona tak berani meneruskan perkataannya malah sibuk menggaruk kepalanya yang mendadak terasa sangat gatal seolah ada banyak ribuan kutu yang tengah menyerang dirinya.


"Lagi apa? lagi kenapa? lagi berantem? lagi ngambek?"

__ADS_1


Astaga! Rona meremas semua jari-jarinya mendengar rentetan pertanyaan dari wanita yang sekarang menatapnya dengan sangat tajam, menatap penuh kecurigaan yang makin membuat nyali Rona menciut dalam sekejap mata.


"Mama jangan kayak gitu tanyanya," rengek Rona menunjukkan wajah memelas berharap Mamanya tidak makin memojokkan dirinya.


Tania menghela nafasnya lalu menurunkan tensi yang sudah naik karena menghadapi anak semata wayangnya yang memang sejak dulu akan selalu menguras kesabaran untuk menghadapinya.


"Ya udah duduk sini," Tania mengajak anak manjanya itu duduk bersamanya di tepi tempat tidur yang baru ia rapihkan.


Rona menurut masih dengan wajah memelasnya yang membuat sang Mama merasa kasihan dan tak tega untuk sesaat.


"Ceritain sama Mama kenapa kamu ke sini malam-malam begini?" Tania masih penasaran karena memang pertanyaannya belum terjawabkan.


"Kak Darren diemin Rona." wanita yang kini tengah membuat Darren gemas itu mulai menjawab sekaligus bercerita apa yang terjadi dengannya dan juga suaminya.


Kening Tania mengernyit dengan mata yang memicing mendengar pengakuan sang anak.


"Alasannya apa?"


Rona terdiam lama berpikir apakah ia akan mengatakan hal yang jujur atau memilih untuk berbohong lagi guna menyelamatkan diri dari Omelan Mamanya, namun sepertinya ia sudah tidak mungkin untuk berbohong lagi karena yakin Papanya sudah tahu apa yang terjadi antara ia dan Darren.


"Kenapa diam? pasti ada alasan kenapa Darren sampai diemin kamu, Mama ini Mama kamu, Mama yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu jadi Mama tahu betul bagaimana watak kamu," terang Tania membeberkan seberapa ingat ia tentang sifat dan sikap anaknya itu.


"Pasti kamu yang buat salah," tuding Tania yang langsung tepat pada sasaran.


"Mamaaaa." Rona merengek yang makin meyakinkan Tania bahwa anaknya itulah yang sudah berulah hingga Darren mendiamkannya.


Terang saja ia seperti itu karena meski ia nakal dan manja sekalipun namun tetap saja ia takut pada kedua orang tuanya, takut mendapatkan Omelan demi Omelan yang keluar dari mulut Papa serta Mamanya.


"Tapi kan Rona nggak sengaja, lagian juga Rona sudah bilang sama Kak Darren kalau Rona mau ke sekolah karena ada rapat buat perpisahan, Mama juga kan tahu," sanggah Rona mencoba untuk membela diri.


"Kalau kamu sudah bilang sama Darren nggak mungkin dong sekarang dia marah sama kamu, pasti ada hal lain yang kamu lakukan," tuduh Tania tak mau percaya dengan sang anak karena memang masih ada yang Rona sembunyikan darinya.


Anaknya itu masih belum menceritakan apa yang terjadi sebenarnya hingga Darren marah bahkan sampai mendiamkan putrinya itu.


"Iya, iya Rona yang salah. Rona nggak langsung pulang malah pergi makan bakso sama Tyo dan temen-temen Rona, terus makan baksonya di depan kampus Kak Darren sampai akhirnya malah ketemu sama temen-temennya Kak Darren yang rese terus Tyo sama tuh orang berantem gara-gara tuh orang katain Rona terus Rona telepon Kak Darren terus Kak Darren keluar dan malah Kak Darren yang berantem, terus.."



Banyaknya kata terus yang keluar dari mulut sang anak membuat Tania mengurut samping kepalanya.



"Rona keluar jangan sembunyi kamu!"

__ADS_1



Belum juga Rona melanjutkan perkataannya sudah terdengar suara sang Papa yang berteriak memanggil dirinya, dari nadanya sudah dapat terdengar bahwa pria itu akan marah padanya.



Tania menoleh ke arah pintu dengan tangan yang masih bergerak di kepalanya pusing dengan anaknya dan sekarang akan di tambah dengan ke bawelan dari suaminya.



"Maa." Rona merangsek ke belakang sang Mama untuk bersembunyi.



"Tania buka! itu anak kamu suruh keluar minta maaf sama suaminya!" seru Roman memanggil nama istrinya.



"Kamu itu jangan manjain anak terus," sambungnya dan sekarang malah menuduh Tania memanjakan anak.



"Tuh kan jadi Mama yang kena," sungut Tania lalu hendak beranjak bangun namun Rona menahannya.



"Itu ada suami kamu," kata Tania menatap sang anak yang menggelengkan kepala.



"Takut," rengek Rona yang takut menghadapi suaminya yang pasti akan di dukung oleh Papanya dan kemungkinan besar Mamanya pun akan berpihak juga pada suaminya itu.



"Bodo ah, Mama Nggak mau belain kamu," ucap Tania lalu berjalan menuju pintu dan herannya Rona pun mengikutinya lalu bersembunyi di balik tubuhnya ketika ia membuka pintu.



Rona menyusupkan wajahnya pada punggung sang Mama dengan tangan yang berpegangan erat pada pakaian yang Mamanya kenakan.



Jantungnya pun sudah berdebar tak menentu seakan sebuah genderang yang di tabuh berkali-kali, suasana berubah menjadi sangat mencekam bagi wanita yang bahkan tas nya saja masih nangkring di bahunya belum sempat ia lepaskan karena sudah langsung mendapatkan beragam pertanyaan dari kedua orang tuanya atas apa yang tengah terjadi pada dirinya dan juga suaminya.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2