
Keduanya masih menatap lurus pada rerumputan hijau di luar sana, menelusuri warna hijaunya yang begitu cerah dan menyegarkan setiap angin yang berhembus rumput-rumput itupun bergerak seirama seperti sedang berdansa.
Tidak lagi terdengar percakapan diantara dua anak manusia yang kini sedang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Fariz hanya tinggal menunggu jawaban dari gadis masa kecilnya yang dulu selalu dia jaga dan lindungi dari anak-anak nakal meski tak jarang dia juga terkadang ikut menjahilinya.
Sedang Riana terlihat sekali bahwa ia memikirkan apa yang tadi Fariz utarakan, pria itu datang jauh-jauh dari Indonesia ketika tadi ia terus menyalahkan pria itu yang sudah sekian lama tak juga memberinya kepastian.
Kedatangan Fariz seolah menjadi bukti bahwa pria itu pun tidak berniat untuk mempermainkan dirinya, pria itu hanya sedang memberanikan diri serta meyakinkan diri bahwa dia juga pantas untuk mengutarakan perasaannya sekalipun mereka pun sangat sadar perbedaan status diantara mereka.
Meskipun Riana tidak pernah mempermasalahkan hal itu namun Fariz cukup sadar diri siapa dirinya, keluarga Riana yang cukup baik pada keluarganya bahkan malah menambah deretan panjang rasa tidak percaya diri yang mengusik Fariz.
Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan semua yang dia rasakan pada gadis di sampingnya ini, dia hanya ingin Riana tahu bahwa dia bukan hanya sekedar menganggap Riana sebagai Adik seperti yang dulu sering dia katakan sewaktu kecil.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk memberi jawaban apalagi untuk menerimaku, aku hanya ingin kamu tahu perasaan apa yang aku punya untukmu," jelas Fariz.
Sungguh seorang pria yang sangat dewasa, bahkan tidak mau memaksa untuk diberikan jawaban, pria yang bahkan selalu saja merunut ketika Riana minta di jemput, pria yang selalu saja mau repot-repot menerima teleponnya di tengah malam hanya untuk menemani dirinya yang kadang merasa kesepian atau pria yang selalu mengajarkan dirinya jika ada pelajaran yang tidak ia mengerti.
Semua itu sudah sangat cukup untuk membuktikan bahwa Fariz memang selalu ada untuknya, lalu kenapa ia tidak segera memberikan jawaban?
"Semua orang juga tahu seberapa besar perbedaan yang kita miliki," sambung Fariz.
Riana yang sedari tadi menatap rerumputan hijau di taman dalam sekejap menoleh pada pria di sampingnya yang sejak tadi terus saja merendahkan dirinya sendiri.
Gadis cantik dengan rambut panjang yang berwarna hitam mengkilap itu sangat tidak percaya ketika seorang pengacara muda malah terus saja melontarkan kata-kata tidak masuk di akal tentang status kekayaan mereka.
Lihat saja seorang pengacara pun bisa begitu merasa rendah di hadapan keturunan Aditya, dihadapan gadis yang dia cintai sedari lama.
Johan benar-benar sangat berhasil dalam menjadikan anaknya orang yang sukses, dia sudah mengetahui jika sedari remaja anak pertamanya itu menyukai anak dari atasannya, tanpa mengatakan apapun dia segera memberikan pendidikan yang bagus mengajarinya berbagai macam hal lalu menjadikannya seorang pengacara agar bisa lebih layak untuk mendekati anak sang atasan.
__ADS_1
Dan pria itupun telah berhasil, karena dua tahun yang lalu Fariz sudah benar-benar menjadi seroang pengacara yang bahkan di sidang pertamanya dia bisa membuat seorang pria tak bersalah terbebas dari segala tuduhan.
Lalu sekarang anaknya ini malah sibuk merendahkan diri, masih saja merasa bahwa dia tidak pantas, sungguh Riana merasa kesal mendengarnya.
Riana mendesah panjang lalu berkata, "aku mau telepon Ayah," ucapnya seraya mengeluarkan handphone dari kantong celananya.
Fariz mengerut menatap gadis di sampingnya dengan sangat heran, "untuk apa?" tanya Fariz.
"Kasih tahu kalau kamu samperin aku terus nyatain perasaan ke aku," sahut Riana tanpa melihat Fariz yang jadi kaget mendengar jawaban darinya.
Pria itu pun menghentikan gerakan tangan Riana yang tengah menekan layar handphonenya.
"Tidak perlu Ana, ini hanya antara kita berdua kenapa harus memberitahu Om Adit," cegah Fariz.
Riana meletakkan handphone di sampingnya lalu menatap pria berwajah datar di sampingnya, wajah datar yang di turunkan oleh Johan, terkadang membuat Riana frustasi karena ketika dirinya tengah mengajak bergurau pria itu malah hanya mengulas senyum tipis, terlihat sangat pelit untuk menunjukkan tawa lebarnya.
"Ini hanya antara kita, tapi sejak tadi kamu terus saja merendah, berulang kali mengatakan perbedaan diantara kita, aku tahu yang ada dipikiran kamu tuh apa! kamu tuh ngeselin tau nggak?!" Riana mulai tidak tahan untuk mengeluarkan unek-uneknya yang ia tahan sejak lama.
Riana sungguh merasa jengkel dan tak percaya dengan segala pemikiran pria di sampingnya saat ini, seorang pengacara masih saja sibuk dengan segala pemikiran tak wajarnya.
Bukankah seharusnya dia merawat baik-baik otaknya itu agar tidak terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan hal konyol seperti ini.
Akan lebih baik jika dia menggunakan otaknya untuk menangani klien yang akan dia bela nantinya.
Setelah mengoceh panjang lebar, Riana menatap Fariz dengan sangat tajam, sedangkan yang di tatap membungkam mulutnya tak berani menjawab serta membantah apalagi sampai mengeluarkan argumennya seperti yang sering dia lakukan ketika tengah menjalani profesinya.
Mungkin Fariz baru menyadari betapa bawelnya gadis yang dia sukai ini, hingga dia sendiripun tak menyangka.
"Jadi kamu mau di kasih jawaban apa nggak?!" tanya Riana malah memberikan pilihan pada pria kaku berwajah datar yang tidak dia sangka bisa mendadak datang menemuinya dan menyatakan perasaannya di saat yang sangat tepat.
__ADS_1
Di saat ia tengah bimbang atas hadirnya teman masa kecil yang lain dan baru beberapa jam yang lalu juga menyatakan apa yang pria itu rasakan.
Seandainya saja Fariz tidak segera datang mungkin nanti malam Riana akan memberikan jawaban untuk Adrian.
Fariz mengangguk cepat dengan sangat lucu, pria datar itu sekarang malah bertingkah seperti anak kecil yang ditawarkan es krim oleh Ibunya.
Riana lalu terdiam menormalkan debaran jantungnya yang tentu saja tidak bisa bekerja dengan santai seperti biasanya, setelah mengoceh tadi sekarang ia merasa jadi tak enak sendiri.
Akhirnya hanya ada anggukan kepala yang Riana tunjukkan karena mulutnya seakan tidak mau terbuka dengan lancar seperti yang barusan ia lakukan.
"Jadi?" tanya Fariz.
Mata Riana mendelik kesal karena masih saja Fariz tidak peka dengan anggukan kepala yang ia tunjukkan, masih saja bertanya.
"Aku mau Fariz! mau! aku juga suka sama kamu!" sentak Riana dengan wajah yang cemberut.
Sangat aneh bukankah seharusnya gadis itu menunjukkan ekspresi wajah yang bahagia karena akhirnya ia mendapatkan kepastian dari pria yang telah lama bersamanya itu.
"Suuuuutttt." Fariz menempelkan jari telunjuknya di bibir Riana agar gadis itu tidak lagi berbicara sebab sekarang mereka malah jadi perhatian orang-orang yang ada di apartemen itu.
Riana terbengong karena untuk pertama kalinya Fariz berani menyentuh dirinya, sejak dulu pria itu tidak pernah berani untuk melakukannya bahkan saat tak sengaja bersenggolan pun pria itu meminta maaf, padahal itu dia lakukan secara tidak sengaja.
Sepertinya Johan benar-benar sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya untuk bisa menghargai orang lain terlebih lagi lawan jenis.
Menyadari tatapan gadis di depannya, Fariz pun segera sadar apa yang dia lakukan, dengan cepat dia menarik tangannya yang tadi refleks mendarat di bibir Riana.
"Maaf," katanya kemudian.
Riana mengangguk lalu menunduk, mereka pun kini kembali sibuk dengan isi hati mereka masing-masing, kembali terdiam menyelami rasa bahagia yang kini mereka rasakan secara bersamaan, tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang masih tertuju pada mereka berdua.
__ADS_1
Tarikan nafas lega begitu terlihat dari keduanya, lega karena akhirnya apa yang selama ini mereka rasakan serta simpan akhirnya tersampaikan sudah, dengan sebuah kepastian yang mulai sekarang harus mereka jaga bersama.
*****