Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 38


__ADS_3

"Kakak mau tinggalin aku?" tanya Rona setelah mereka di landa diam cukup lama.


Darren menarik napas panjang lalu menghembuskan nya dengan berat.


"Bukankah kamu yang memilih untuk aku tinggalkan." suara Darren terkesan datar namun dapat di lihat bahwa ada kecewa yang mendalam, sungguh bukan ini yang dia inginkan, tapi jika tidak menikah dengan Rona pun itu bukanlah pilihan yang tidak menyakitkan jika dia tetap berada di satu kota dengan gadis itu namun pernikahan tidak terjadi, dia takut kejadian saat camping akan terulang kembali, takut jika akhirnya mereka malah melakukan hal berdosa.


"Kak, aku tidak mau Kakak pergi." suara Rona terdengar mulai serak mengatakan hal itu, menahan tangis sudah tidak mungkin lagi karena kini air mata pun sudah meluncur dengan bebas.


"Aku lebih takut menodai kamu nantinya." sahut Darren.


"Jika kita tidak segera menikah bukankah lebih baik kalau kita berjauhan?" sambung Darren menatap gadis di depannya.


"Tapi aku tidak akan bisa jika Kakak pergi, aku tidak mau Kakak jauh." mata gadis itu sudah mulai tidak bisa melihat dengan baik sebab air mata yang tak mau berhenti mengalir.


"Aku sudah mengambil keputusan, jika kamu ragu untuk menikah, maka biarkan aku pergi." tutur Darren menghapus air mata di kedua pipi gadisnya.


Rona menggeleng cepat. "Aku tetap tidak ijinkan, bagaimana jika di sana Kakak bertemu dengan wanita lain yang lebih segalanya dari pada aku? apa Kakak tidak akan tergoda? apa Kakak bisa tetap setia sama aku?" Rona mulai terlihat marah pada lelaki di depannya saat ini yang begitu keras pada pendiriannya.


"Jika itu terjadi mungkin kita memang tidak berjodoh." Darren menyahut tenang mengabaikan ekspresi terkejut yang Rona tunjukkan.


"Kakak jahat." tuding Rona merasakan perih di dalam hatinya, bagaikan ada yang menyayatnya dengan benda tajam, begitu entengnya Darren mengatakan hal itu tanpa beban apapun bahkan tanpa memikirkan perasaannya saat ini.


Darren membuang napas kesal kala Rona malah mengatakan dirinya jahat, apakah gadis itu tidak berpikir bagaimana kecewanya Darren saat gadis yang ia cintai malah ragu padahal dia sudah sangat serius dengan apa yang dia katakan.


"Lalu sekarang mau kamu apa?" Darren bertanya tenang, tidak mau menampakkan kekesalan yang padahal sudah menggunung.

__ADS_1


"Kakak jangan pergi, jangan tinggalin aku." seru Rona putus asa, ia sendiri tidak yakin kalau Darren akan mendengarkan permintaannya untuk tidak pergi.


"Apa yang akan kamu berikan untuk membuat aku tidak pergi?" Darren menatap gadis di depannya yang tengah menatap kedua matanya, tatapan yang begitu dalam dan Darren mengerti bahwa tatapan itu mengartikan sebuah rasa cinta yang gadis itu punya untuknya.


Tak ada jawaban apapun dari mulut gadis yang begitu ingin dia nikahi itu sedikitpun, hanya diam dengan sorot mata yang teduh bahkan terkesan rapuh.


"Baik, diamnya kamu sudah aku anggap sebagai jawaban untuk hubungan kita akan menjadi seperti apa." ucap Darren lalu hendak beranjak dari hadapan Rona.


Rona masih diam mencerna perkataan dari lelaki yang mulai beranjak menjauh, lalu kemudian setelah mulai sadar dan mengerti ia pun berlari mengejar lelaki yang sudah memunggunginya itu, menarik tangannya berusaha untuk mengehentikan lelaki itu pergi darinya.


"Apa lagi?!" tanya Darren dengan suara yang terkesan dingin dan tak peduli.


"Aku mau, aku mau menikah sama Kakak." Rona berbicara dengan cepat setiap kata yang keluar dari mulutnya pun sebagian belibet tak jelas, meski begitu Darren tetap mengerti apa yang ingin disampaikan oleh gadisnya.


"Kamu tidak lagi bercanda bukan?" tanya Darren tak percaya.


"Wajah ku sudah sangat menyedihkan seperti ini tapi Kakak malah menuduhku bercanda!" sentak Rona marah, pertanyaan konyol memang. gadis di depannya sudah banjir dengan air mata tapi Darren malah masih bertanya seperti itu.


Darren tersenyum tipis lalu menarik Rona ke dalam pelukannya. "Kenapa tidak setuju dari tadi, kenapa harus aku gertak dulu baru kamu bersedia menikah." tutur Darren membuat mata Rona membelalak.


Rona mendorong tubuh Darren menjauh darinya. "Jadi Kakak tidak benar-benar akan pergi!?" seru Rona kencang.


"Tadinya tidak, tapi jika sekarang kamu menolak lagi, aku akan benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali! lebih baik aku mencari gadis Singapura saja, dari pada gadis lokal yang senangnya mempermainkan perasaan orang." ancam Darren pada Rona.


"Cepat tentukan apa yang kamu mau? aku tidak akan memberi kesempatan lagi! ambil keputusan yang benar." kata Darren lagi membuat Rona menunduk.

__ADS_1


"Iya aku mau." berkata sangat pelan.


"Mau apa?" tanya Darren memastikan apa yang gadis itu pilih.


"Menikah." untuk kedua kalinya berkata dengan pelan.


"Apa? kalau bicara tuh yang jelas biar orang bisa dengar." omel Darren yang sengaja mengerjai Rona, terlihat dari senyum menyebalkan yang dia tunjukkan.


"Menikah, aku mau menikah dengan Kakak!" teriak Rona kencang membuat Darren memeluknya erat.


"Jangan macam-macam sama aku makanya." ujar Darren kemudian.


Rona mengerucutkan bibirnya mendengar omongan Darren.


"Aku telepon Ayah dan Ibu dulu." kata Darren seraya mengeluarkan HP dari dalam saku lalu menghubungi sang Ibu yang sedang dalam perjalanan pulang.


Aditya membuang napas kesal setelah mendengar pemberitahuan dari istrinya tentang sang anak.


"Gara-gara tuh anak dua kita jadi bolak-balik nggak jelas kayak gini!" gerutu Aditya yang dengan berat hati memutar kembali mobilnya kembali ke rumah Roman.


"Sepertinya semua itu menurun dari kamu Mas, dulu Mas juga sangat tidak jelas, apa saja Mas lakukan membuat orang pusing." cibir Rianti mengingat tingkah suaminya dulu.


Aditya hanya melirik tanpa berani menjawab perkataan sang istri karena dia pun memang merasa dulu sikapnya sama seperti sang anak, merepotkan siapa saja yang ada di dekatnya terutama sang asisten Johan yang sekarang bisa sedikit bernapas lega karena Aditya sudah sedikit lebih baik, tentunya hanya sedikit saja karena sampai sekarang pun perbuatan Aditya terkadang masih nampak tak jelas.


****

__ADS_1


__ADS_2