
Rona yang sejak tadi bercerita dengan Rianti lantas segera pamit pulang ketika mendengar suara motor milik Daren berhenti di garasi samping ruang tengah tempatnya berada sekarang.
"Tante Rona pulang ya." ucap gadis itu seraya berdiri cepat membuat Rianti yang duduk di sampingnya sampai menjengkit terkejut karena perbuatan Anak dari teman suaminya itu.
"Kok buru-buru, tadi katanya mau ketemu Om juga?" tanya Rianti.
"Nggak usah Tante takut Papah sama Mamah cariin." jawab Rona seraya terus melihat ke arah pintu masuk, wajahnya menampakkan kecemasan takut seseorang yang baru saja dia adukan kelakuannya keburu muncul.
Rona memang mengadukan kelakuan Daren tadi pagi terhadapnya yang meninggalkan dirinya padahal ia sudah mengatakan akan terlambat sekolah namun anak dari teman Papahnya itu malah sengaja meninggalkan dirinya.
Kesal? jangan ditanya sebagai seorang yang memiliki emosi Rona juga bisa kesal sekalipun hal itu dilakukan oleh orang yang ia sukai.
"Memang kamu nggak bilang dulu sama orang tua kamu?" tanya Rianti seraya ikut berdiri.
Rona menggeleng seraya mengumbar senyum konyolnya.
"Rona pulang ya Tante." kata Rona lalu dengan cepat menyambar tangan Rianti dan menciumnya.
"Ya sudah hati-hati." ucap wanita yang masih terlihat cantik meskipun kedua anaknya sudah beranjak dewasa.
Rona mengangguk dan bergegas keluar, akan tetapi saat di pintu keluar dirinya berpapasan dengan sosok pemuda tinggi yang selama ini ia kagumi yang tengah memandangnya dengan tatapan menyelidik.
"Halo Kak Daren, baru pulang kuliah?" Rona bertanya dengan senyum yang sangat mencurigakan di mata Daren.
__ADS_1
Daren menatap Rona dengan tajam dan kecurigaan yang mendalam, sungguh pemuda itu merasa heran kenapa senyum Rona saat ini terlihat sangat berbeda dari sebelumnya, senyum yang misterius dan pasti ada sesuatu di balik senyuman itu. batin Daren terus bertanya sendiri.
Daren tidak sempat menjawab pertanyaan dari Rona sebab gadis berusia 18 tahun itu sudah keburu kabur membawa motornya setelah mengajukan pertanyaan yang sepertinya hanya basa-basi saja karena terlihat jelas bahwa Rona tidak ingin mendapat jawaban dari pertanyaannya itu.
Di atas motornya yang terus melaju Rona tertawa penuh kemenangan karena tahu sebentar lagi Daren akan di sidang oleh kedua orang tuanya.
"Siapa suruh pelit banget, orang minta anterin aja nggak mau." tutur Rona yang masih kesal dengan kelakuan Daren.
Daren mengahampiri wanita yang selama ini dia panggil Ibu di ruang tengah mengecup tangannya dengan rasa hormat dan penuh kasih sayang.
"Mandi sana." Rianti berkata dingin pada sang anak dan tentunya hal itu membuat Daren mengernyit tak mengerti.
"Ibu kenapa?" tanya Daren.
Bukannya menjawab pertanyaan dari anaknya itu, Rianti malah menghela napas lalu melenggang pergi.
"Cepat mandi sana, nanti Ayah pulang mau bicara sama kamu." seru Rianti dari dalam dapur ketika menyadari anaknya belum juga bergerak mengikuti permintaannya.
"Iyaa." Daren menjawab dan gegas menaiki tangga untuk ke kamarnya.
Selesai mandi Daren masih bersikap santai dengan duduk di meja belajarnya dan mengerjakan tugas dari kampus dengan laptop.
Di dalam kamarnya Rianti tengah mengadukan sikap anak lelakinya pada sang suami.
__ADS_1
"Ya namanya juga anak muda Yang." sahut Aditya santai, seperti memaklumi sikap Daren yang tidak jauh berbeda dengannya.
Rianti membuang napasnya dengan kasar mendengar jawaban sang suami.
"Mas tuh kalau di kasih tahu kayak gitu, tadi waktu aku telepon katanya Mas mau ngomong sama Daren." Rianti menagih janji pada Aditya.
"Kasihan Rona Mas di kerjain terus sama Daren, kalau misalnya Riana yang digituin sama lelaki yang dia sukai gimana coba? emangnya Mas mau Riana kayak Rona?" tanya Rianti yang sekarang membawa-bawa nama anak perempuannya sedang melanjutkan kuliah di Singapura.
"Enak aja, kalau Riana digituin sama lelaki yang Mas pukulin orangnya, enak aja anak orang di kerjain." kata Aditya seraya menatap Rianti.
"Ya udah makanya tuh bilangin anaknya, heran punya anak laki kenapa sifatnya mesti nurunin kamu sih ngeselinnya." sungut Rianti seperti tidak terima sifat Aditya menurun pada Daren.
"Lagian kamu di ajakin bikin lagi yang sifatnya nggak kayak aku malah nggak mau." sahut Aditya seenaknya.
"Kan aku suruh Mas yang hamil kalau mau nambah anak lagi, tapi Mas nya nggak mau." jawab Rianti.
"Lah ngaco, lakinya di suruh hamil keluarnya dari mana?" ucap Aditya dengan kedua alis yang meninggi.
"Terserah." tutur Rianti seraya melenggang keluar.
"Tuh kan, dasar perempuan paling bisa ngomong terserah." Aditya menggeleng melihat tingkah Rianti.
__ADS_1
Aditya keluar dari kamar setelah selesai memakai baju sehabis mandi, dia duduk di meja makan dengan Daren yang sudah ada di seberang mejanya sekarang ini dengan piring yang sudah berisi makanan.
****