Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 27


__ADS_3

Tania baru saja keluar dari ruangan Aditya dengan wajah yang terlihat sangat lesu bercampur sedih, ya Aditya sudah memberikan surat pemecatan untuk Tania sesuai dengan yang diminta oleh Roman.


"saya kasihan sama Tania pak" ujar johan saat Tania menutup pintu ruangan


Aditya menarik napas


"mau gimana lagi Han suaminya yang minta kayak gitu, saya juga pusing sekarang harus cari sekretaris baru" berkata cemas memikirkan harus merekrut orang baru untuk membantunya, padahal dia sudah sangat cocok dengan pekerjaan Tania selama ini, namun karena begitu setia kawannya ia pada Roman mau tak mau ia menyingkirkan egonya untuk mempertahankan Tania terus bekerja dengannya


"bapak belum ada kandidat buat gantiin posisi Tania? " tanya Johan heran, dia mengira Aditya sudah memikirkan sekretaris baru sebagai pengganti Tania jauh-jauh hari. ternyata malah dia baru musingkannya sekarang padahal hari ini Tania sudah tidak bekerja lagi karena selepas di beri surat PHK Tania langsung merapikan barang miliknya untuk dibawa pulang


"belum" menggeleng kan kepala


"saya pikir bapak sudah ada pilihan" Johan juga ikut pusing sekarang karena sudah pasti selama belum ada pengganti Tania semua pekerjaan yang dikerjakan oleh Tania akan dilimpahkan kepadanya


"biar kamu saja yang cari penggantinya" Lagi-lagi melimpahkannya pada Johan


Johan tak menjawab lagi dan hanya menumpukan kepalanya diatas meja kerjanya, sudah mengerjakan pekerjaan yang ditinggal oleh Tania dia masih juga harus mencari sekretaris baru untuk bosnya itu yang kini dengan santainya membuka laptop melanjutkan pekerjaannya


Tania langsung pulang kerumah begitu selesai merapikan barang dan berpamitan pada teman kerjanya yang lain.


Di dalam taksi dia masih terus membaca ulang ketikan selembar kertas ditangannya, tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Aditya memecatnya apalagi saat ia membaca alasan yang diberikan oleh Aditya didalam surat PHK yang tadi diberikannya


setelah terdiam cukup lama Tania melipat kembali kertas dan memasukkannya kedalam amplop serta menyimpannya kedalam tas lalu mengambil ponsel menghubungi sang suami


"hallo beb" terdengar suara Roman


"aa dimana? " tanya Tania pada suaminya


"masih dirumah sakit sayank, kenapa? "


"pulangnya masih lama? " menanyakan kapan amah suami pulang


"sebentar lagi kok " melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore


"kamu udah keluar kantor ya? sabar ya beb sebentar lagi aku jemput kok" tidak tahu bahwa istrinya sudah dalam perjalanan pulang dengan menaiki taksi

__ADS_1


"nggak usah aku udah naik taksi, aku tunggu dirumah aja ada yang mau aku omongin sama kamu" kata Tania terdengar sekali bahwa dia sangat sedih karena di berhentikan secara sepihak dan tanpa alasan yang jelas


"oh ya udah kalo gitu" imbuh Roman kemudian


"yaudah aku jalan pulang sekarang ya sayank" langsung mematikan tlp begitu di iyakan oleh istrinya


seperti yang dikatakan pada istrinya Roman pun langsung keluar ruangannya dan bergegas pulang karena memang sudah tak ada pasien lagi yang harus ia tangani


Butuh waktu sekitar 40menit untuk Roman sampai dirumah nya.


Dia nampak meng klakson tak sabar menunggu pagar dibuka, saat dibuka mobilnya langsung masuk dengan cepat mengisi garasi rumah


Tania sudah menunggu di dalam kamar masih dengan pakaian kerja nya yang memang ia belum berniat untuk mandi setelah sampai dirumah tadi


"mau ngomong apa sii? kayaknya serius banget" menaruh tas di sofa dan berjalan mendekat sang istri yang tengah duduk di sofa dekat jendela


Tania segera menyodorkan amplop yang memang sejak tadi dipegangnya pada sang suami


"ini apa? " tanya Roman seraya menerima amplop yang diberikan Tania


Roman mengikuti apa yang dipinta oleh Tania


tanpa bertanya lagi ia segera membuka amplop yang ditangannya yang tak memang tak bersegel tanpa membaca apa yang tertera dibagian luar amplop


Roman sekejap memicingkan mata dan mengernyitkan keningnya, ada rasa senang saat mengetahui apa yang kini ada didepan matanya, namun juga timbul rasa aneh campur dongkol saat mengetahui alasan yang tertera disana


"kamu dipecat sama Adit? " berpura-pura tidak tahu padahal semua adalah ulahnya


Tania mengangguk "iya, tapi disitu ada yang aneh a"


"apa yang aneh? " kembali bersandiwara bagai seorang aktor profesional


Tania mengambil kertas ditangan suaminya dan menunjuk ketikan yang ada di bagian tengah surat


"ini, a liat nggak, masa alesannya kayak gini"

__ADS_1


"yah mungkin emang ada yang nggak suka kamu kerja disana" menjawab santai padahal dialah dalang dari dipecatnya sang istri


"nggak mungkin lah a, aku juga nggak ngerasa punya musuh kok" membela diri mendapat tudingan dari sang suami


"aku rasa juga nggak mungkin kamu punya musuh dikantor " merubah perkataannya yang tadi tampak sekali plin-plan nya


Roman meng garuk-garuk tengkuknya yang mulai terasa sangat gatal


"ya emang nggak mungkin " terang Tania lagi


Roman masih terus berakting agar Tania tak mencurigai dirinya


"nanti aku tanya Adit deh" imbuh Roman seraya mengelus bahu sang istri


sudah jelas apa yang akan ditanyakan Roman pada Aditya nantinya, bukan masalah pemecatan istrinya melainkan alasan pemecatan yang tertera didalam kertas putih yang tadi ia baca


"yaudah" sahut Tania


"si selfi kemana? " Roman menanyakan adik iparnya yang tidak terlihat sejak pulang tadi


"ke tempat temennya " ujar Tania


"hm, aku tlp Adit dulu" Roman melangkah keluar kamar menuju ruang keluarga meninggalkan Tania yang masih duduk disofa tak berniat untuk berpindah tempat


Roman segera menelepon Aditya begitu duduk di atas karpet bulu di depan TV


"nanti malam gue tunggu lu di caffe biasa, bawa asisten setia lu sekalian" langsung saja bicara ke intinya begitu Aditya menjawab panggilannya


"jam berapa? " bertanya jam berapa mereka bertemu sebab sudah menjadi kebiasaan Roman membuat janji bertemu tapi tak pernah memberitahuan jam berapa nya


"jam setengah delapan, jangan sampe nggak dateng lu! inget bawa si Johan!! " mengultimatum temannya dengan tegas


"iyaaaa" sahut Aditya panjang meyakinkan Roman bahwa ia akan datang dengan mengajak serta Johan sesuai dengan yang diminta..


pembicaraan mereka pun berakhir dan telepon diputus dengan cepat oleh Roman tanpa berpamitan..

__ADS_1


*****


__ADS_2