Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 56


__ADS_3

"Gila emang lu!" omel Roman


"gue mau pulang lah" lanjut Roman seraya merapikan peralatan medis yang ia bawa


"Dih masa gue lu tinggal." Aditya keberatan Roman pergi dan ia harus sendiri di hotel


"Ngapain gue disini, udah malem ini!" Roman menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dengan p, malah di tuduh ngelonin tante-tante yang ada!" kata Roman tajam membuat Aditya melemparkan kemeja yang tadi ia buka


"Sialan banget mulut lu Man kalo ngomong."


"Bodo amat!!" kata Roman dengan nada meledek


lalu bersiap anjak kaki dari hadapan Aditya


Aditya bergegas memakai kembali kemejanya dan mengikuti Roman keluar hotel.


"Anterin gue Man." pinta aditya ketika mereka berada di parkiran


"Mobil lu mana?" tanya Roman mengurungkan niatnya membuka mobil.


"Gue tinggal di bengkel."


Roman menatap Aditya seperti tengah membatin


"Ngapain lu tinggal di bengkel, nggak jelas lu makin lama." tukas Roman tajam


"Biar alesan aja sama Rianti nanti." rupanya masih berharap istrinya percaya dengan alasan bengkel yang diutarakan nya kemarin malam


Roman menggaruk kepalanya, pusing dengan kelakuan Aditya yang masih saja seperti anak baru gede yang tengah berbohong pada orang tuanya.


"yaudah lah!!" kata Roman akhirnya sambil membuka pintu mobil, berniat mengantarkan temannya itu lebih dulu.


Aditya masuk mobil dengan cepatnya ketika Roman setuju dengan permintaannya barusan.


"Man." mulai mengganggu konsentrasi Roman yang sedang menyopir


"Hhmm." dengan mata yang tetap fokus pada jalanan yang terlihat lengang.


"Man." memanggil lagi


"Hhmm." untuk kedua kalinya satu kata yang sama keluar dari mulut Roman.


"MAN!!" kali ini membentak Roman karena kesal hanya deheman saja yang terus di keluarkan oleh mulut Roman.


"ASTAGA DIT, APAAN SIIH! GUE LAGI BAWA MOBIL INI." membentak tak kalah kencangnya.


"Makanya kalo gue panggil tuh nyaut." malah protes.


"Yaudah apa, Aditya bapak nya Riana sama Daren yang takut sama istri. kenapa?" Roman berkata dengan menahan gemasnya menghadapi tingkah bapak-bapak yang akan menjadi mertua nantinya.


"Memar gue masih kelihatan nggak?" menunjukkan wajahnya pada Roman


Roman memutar bola matanya sekilas "ampun dah" batin Roman

__ADS_1


"Man." memanggil Roman lagi ketika temannya itu hanya diam saja.


"Ini kan ada kaca Dit, kenapa nggak lu coba aja berkaca di sini dan lihat sendiri tuh muka yang bonyok-bonyok macem buah kematengan." kata Roman ketus seraya menunjuk spion yang mejeng di tengah-tengah mereka.


"Udah Roman, cuma kan spion nih suka nipu, makanya gue butuh mata lu langsung buat mastiin." sahut Aditya tak mau mengalah.


tanpa kata lagi Roman lantas menginjak rem mendadak lalu menoleh pada sang teman yang duduk di sampingnya.


"Mana sini liat." dengan kasar nya Roman menarik wajah Aditya agar menghadap padanya.


"Sakit bodoh!" sentak Aditya karena pipinya yang masih nyut-nyutan akibat tonjokan Imran di pegang dengan kencang oleh Roman.


"Bodo." sungut Roman.


Roman mengambil tasnya di kursi belakang dan mencari obat yang bisa sedikit menyamarkan memar


"Nih olesin lagi." memberikan botol berisi cairan pada Aditya.


Aditya gegas turun begitu mobil Roman berhenti di depan pagar rumah nya.


"Gue langsung pulang." ujar Romantis di melongok kan kepalanya di balik kaca mobil yang terbuka.


Mobil Roman meninggalkan Aditya setelah lelaki itu mengangguk.


Roman melajukan mobilnya dengan kencang sebab ia khawatir dengan sang istri yang ia tinggal seorang diri di rumah apalagi sekarang sudah hampir tengah malam, Ia tahu pasti Tania akan menunggunya di rumah.


"Dari mana?" suara Tania sudah menyambut Roman bahkan saat Roman baru sampai di depan pintu yang ternyata tidak di tutup.


"Temuin Adit." sahut nya seraya memamerkan barisan gigi putih nya.


"Hhuuaaaammm." Roman sengaja menguap untuk menghindari pertanyaan yang di ajukan sang istri.


"Aku ngantuk beb, besok pagi harus ke rumah sakit." kata Roman seraya melangkah masuk dan menutup pintu


"Kamu udah malem gini kenapa belum tidur?" tanya Roman ingin mengalihkan pertanyaan dari sang istri.


"Nunggu kamu." menjawab singkat sambil mengekori sang suami yang berjalan terburu menuju kamar.


"Nggak bisa tidur yah, kalau nggak sama aku." kata Roman menggoda.


"Anak kamu nih yang nggak mau tidur." menggunakan anak di kandungan nya untuk menyangkal pernyataan sang suami.


"Hhheemmm, masaaa?" Roman berkata menggoda.


Roman menghentikan langkah nya ketika samar ia mendengar gumaman sang istri di belakang nya.


"Kenapa nggak bilang kalau mau makan bakso?" tanya Roman yang telinga nya peka mendengar gumaman Tania yang tengah menginginkan bakso malam itu.


Tania malah cemberut seraya melewati sang suami di depannya.


"Kamu nya nggak pernah peka sama istri." sahut Tania ketus melenggang pergi memasuki kamar.


Roman menggaruk alisnya "Gue kan dokter bukan cenayang yang bisa menerawang keinginan orang. " hanya membatin sebab Roman tidak mungkin berkata seperti itu pada wanita yang tengah hamil, jika ia berani mengatakan nya langsung bisa di pastikan dirinya akan langsung mendapat bantingan pintu di depan wajahnya dan tidak akan di biarkan masuk ke dalam, sungguh sebagai dokter ia sudah sangat hafal seberapa tinggi tingkat ke baperan wanita hamil, karena terkadang wanita yang tidak hamil saja bisa langsung marah jika mood nya sedang tidak baik.

__ADS_1


"Yaudah aku cariin bakso dulu buat kamu." kata Roman akhirnya.


Tania tak menyahut , di dalam kamar ia langsung duduk di tepi ranjang mengelus perutnya yang sudah tampak membuncit.


Tania meraih ponselnya yang mendadak berbunyi dengan kencang,ia lupa men silent nya.


"Tengah malam begini siapa yang menelepon?" gumamnya sambil melihat si penelepon di layar ponsel.


Dahi Tania berkerut melihat nama adiknya menghiasi layar, cepat ia menjawab dan wajahnya terlihat tegang saat mendengar perkataan sang adik.


Cepat ia mematikan ponselnya dan berlari mengejar sang suami yang sudah berada di luar bersiap menaiki motor besar miliknya untuk membeli bakso yang diinginkan Tania.


"Kamu ngapain lari-lari..!!?" Roman berteriak khawatir tak jadi menaiki motor dan berjalan kearah Tania.


Tania berdiri di hadapan Roman seraya mengatur napas nya yang sesak karena berlari dari kamar sampai ke halaman ketika melihat suaminya tengah mendorong motor.


"Antar aku ke rumah sakit sekarang." ujar Tania dengan napas yang masih memburu.


"Ngapain?" tanya Roman dengan tatapannya yang bingung.


"Imran masuk rumah sakit." sahut Tania.


Sontak saja perkataan istrinya itu membuat Roman terlihat tak suka.


"Terus urusan kamu sama dia apa? kenapa kamu keliatan panik kayak gini?" kata Roman sinis, ia tak suka melihat istrinya seperti sekarang ini, rela berlari dalam ke adaan hamil hanya untuk minta di antar ke rumah sakit ketika mengetahui mantan kekasihnya tengah berada di sana.


Sejenak Roman menyesali kenapa Aditya tidak langsung membuat Imran menghuni kuburan saja, kenapa harus masuk rumah sakit yang akhirnya malah justru membuat dia kesal saja mendapati istrinya meminta di antar ke rumah sakit.


"Ya nggak ada urusan." sahut Tania mulai tak enak hati saat menyadari suaminya mungkin saja tengah cemburu.


"Yaudah tidur harusnya kamu, ngapain lari-larian kayak tadi." berkata sambil menyuruh penjaga memasukkan kembali motornya ke dalam garasi, ia membatalkan niatnya mencarikan bakso untuk sang istri yang kini termangu menyaksikan dirinya masuk ke dalam rumah bahkan tanpa mengajaknya.


Tania berjalan dengan mimik wajah gugup, padahal tadi ia hanya berniat untuk menemui adiknya Selfi yang tadi menangis dan memintanya untuk datang, tapi ceritanya berubah ketika ia tak mengatakan secara detail pada sang suami yang mengakibatkan suaminya malah marah padanya.


Tania menuju kamar setelah mengunci pintu depan, ia menuju kamar mandi dan mencuci wajah serta kaki dan tangannya sebelum kembali menuju ranjang dan mendekati suaminya yang sudah telentang serta menutupi wajah dengan lengannya.


"Aku bukan mau temuin Imran." mencoba menjelaskan pada Roman.


Roman berbalik membelakangi Tania yang tengah berbicara.


Walaupun Roman mengacuhkan nya namun Tania tetap mencoba memberi penjelasan berharap marah dari suaminya itu mereda.


"Tadi Selfi telepon aku nangis-nangis minta aku temenin, aku nggak tega karena biar bagaimanapun dia adik aku, sampai saat ini aku udah nggak pernah kok berniat memikirkan Imran apalagi harus bertemu dengannya, aku hanya kasihan sama Selfi." kata Tania panjang seraya menyentuh punggung suaminya.


Roman tetap diam


kecemburuan nya memang tidak bisa di sembunyikan saat mendengar dan melihat istrinya berlari panik seraya menyebut nama mantan kekasihnya itu.


Tak mendapat tanggapan dari suaminya, Tania menarik napas lalu turun dari ranjang keluar kamar, ia membiarkan sang suami berpikir sendiri.


Tania memilih ke dapur membuat susu hamil dan duduk di ruang makan menikmati susu yang sengaja ia buat hangat.


"Kerjaan lu Dit, malah ngerepotin gue sekarang." menggerutu mengingat Aditya lah yang membuat Imran masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Harusnya matiin sekalian, biar ujung-ujung nya nggak bikin susah gue!" menarik napas, ketika ia tahu besok istrinya akan tetap memaksa pergi ke rumah sakit menemui Selfi.


**********


__ADS_2