Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 76


__ADS_3

Pintu yang mendadak terbuka serta wajah Roman yang muncul membuat Aditya serta Johan berbarengan melihat kearah tamu tidak diundang itu.


"Lu ngapain?" Aditya bertanya pada temannya yang melangkah tegap menuju meja kerjanya.


"Berkunjung lah,kenapa emangnya?nggak suka?" tanya Roman lalu menarik kursi untuk ia duduki dengan santainya tanpa memperdulikan tatapan Johan yang tidak mau berpaling dari gerakan yang ia lakukan.


"Nggak,bukannya elu ke rumah orang tuanya Tania buat nikahin adik ipar lu." ucap Aditya heran karena dua hari yang lalu setelah Imran setuju untuk menikah dengan Selfi,mereka berempat pun tanpa menunggu waktu langsung berangkat,meskipun saat itu kaki Imran masih kaku untuk digerakkan.


Bagaimana urat-urat di kakinya tidak menjadi kalau selama hampir dua minggu lamanya ia hanya terbaring di rumah sakit akibat perbuatannya sendiri yang seolah menantang singa lapar,masih untung lelaki brengsek itu masih dibiarkan hidup oleh Aditya.


Jika tidak mungkin sekarang Imran sudah berkeliaran di alam kubur meratapi nasibnya yang mati karena menggoda istri orang.


"Udah pulang dari semalam gua." sahut Romantis acuh.


"Oh."kata Aditya singkat.


"Apaan aja ini?"mengambil salah satu berkas yang berada di tumpukkan paling atas.


"Kertas Man." jawab Aditya yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Roman mendengus sewot.


"Telunjuknya Johan juga tahu kalau ini kertas."wajahnya terlihat sinis.


"Ya udah berarti gua nggak salah kan,kalau jawab kertas?"


"Kenapa jadi bawa-bawa telunjuk saya?"mengacungkan telunjuknya setinggi mungkin.


"Salahin bos lu tuh,gua tanya bener dia malah jawab ngeselin."ucapnya menyalahkan Aditya.


"Menurut kamu jawaban saya salah tidak Han?"Aditya yang merasa benar mencari pembelaan dari sang asisten.


Johan menggeleng membuat mata Aditya membelalak tak Terima.


"Noh asisten lu aja ngerti jawaban lu itu terkesan meledek dan tidak menghargai norma-norma pertanyaan."kata Roman mempermasalahkan jawaban yang diberikan oleh Aditya.


"Makanya kalau mau nanya tuh lebih jelas lagi biar orang nggak salah tanggap." tetap saja Aditya akan selalu merasa paling benar diantara mereka bertiga.


"Pake pertanyaan gua yang jadi masalah sekarang."kata Roman ketus.


"Otak lu kayaknya yang harus lebih diperjelas,ada apa nggak sebenarnya tuh otak didalam kepala lu itu."mempertanyakan otak yang dimiliki oleh Aditya.


Johan menarik napas dan menghembuskan nya berulang kali.


Padahal telinganya baru saja aman dari suara Aditya yang terus mengoceh lantaran masalah boneka dan robot,eh malah datang lagi satu manusia yang tidak berbeda jauh dengan bosnya.

__ADS_1


Sepagi ini telinganya sudah harus disuguhi dengan obrolan yang tidak jelas dari kedua orang di depannya.


"Kamu kenapa narik napas begitu?" Aditya merasa terganggu dengan hembusan napas Johan yang sepertinya sengaja mengeluarkannya dengan kencang untuk menyindir kedua lelaki yang sedang mempermasalahkan selembar berkas.


"Saya kan manusia yang masih hidup pak,jadi saya memerlukan napas."Johan menjawab dengan begitu tenangnya,tapi jawabannya itu malah terdengar menyebalkan bagi Aditya.


"Suara napas kamu mengganggu telinga saya!"berkata tajam bahkan jika perkataan itu berwujud benda kemungkinan bisa melukai bagian tubuh orang.


"Nah ya kan,patut dipertanyakan emang nih orang otaknya." Roman menyindir sang teman.


"Lu nggak mau pindah keruangan lu sendiri Han?"Roman berkata pada Johan yang sedang mengurut keningnya,mungkin lelaki itu merasa pusing menghadapi atasan yang tingkah nya aduh sungguh membuat orang geleng-geleng kepala.


"Dengan senang hati jika diijinkan."sahut Johan,ya jika disuruh memilih ia akan memilih untuk kembali keruangan nya yang lama dan bekerja dengan damai tanpa harus terus terganggu dengan omelan Aditya yang kadang apa saja dijadikan kesalahan orang,juga dari temannya yang tingkahnya tidak beda jauh dengan Aditya,yang tidak bisa diprediksi kedatangannya.


Sebab Roman akan tiba-tiba muncul waktu yang tidak tepat,bukan waktu yang tidak tepat sebenarnya,hanya saja orangnya yang terkadang tidak tahu aturan datang seenaknya tanpa memberitahu terlebih dulu.


"Ya udah sana pindah dari pada stres lu lama-lama satu ruangan sama dia." memajukan bibirnya menunjuk Aditya.


Aditya yang sejak tadi mendengarkan dengan tangannya yang terus bekerja membubuhkan tanda tangan itu mengangkat wajahnya dan melihat orang yang sedang mengompori sang asisten untuk pindah dari ruangannya.


"Jangan jadi kompor lu."berkata ketus pada Roman.


"Bukannya mau jadi kompor Aditya,gua kasihan aja sama dia tuh nggak konsentrasi jadinya." ucapnya.


"Lagian lu kantor segede ini masa asisten ruangan lu jadi satu sama asisten."lanjut Roman yang seakan tidak habis pikir dengan Aditya yang memilih satu ruangan dengan Johan padahal sebenarnya Johan mempunyai ruangan sendiri.


"Gunanya itu buat apa?" menunjuk telepon yang tergeletak tak jauh dari dirinya.


"Nggak guna,dia suka tiba-tiba ngilang soalnya."melihat Johan yang duduk menyender mendengarkan dua orang sedang memperdebatkan tentang dirinya serta ruangan.


"Udah, berisik ah ngomong mulu lu." menggaruk telinganya dengan cepat menyalurkan rasa kesal karena pekerjaannya terganggu dengan banyaknya ocehan yang dikeluarkan oleh mulut Roman.


"Dan elu Han,jangan pernah coba-coba buta pindah." memberi peringatan keras pada sang asisten yang hanya menatapnya saja dengan tanpa ekspresi.


"Lu pulang sana." mengusir Roman.


"Nggak mau."menolak untuk pergi.


"Gua mau disini."


"Oh lagi belajar jadi pengangguran rupanya." Aditya mencibir temannya yang seperti tidak punya pekerjaan itu,karena masih pagi sudah muncul di kantornya.


"Sembarangan."menghardik Aditya dengan mengibaskan berkas di tangannya dengan kasar.


"Lalu harus disebut apa namanya untuk seseorang lelaki dewasa yang pagi-pagi datang kekantor temannya kalau bukan lagi belajar nganggur,punya kerjaan tapi ngelantur mulu." Aditya berkata panjang.

__ADS_1


"Mungkin memang sudah tidak punya pekerjaan." Johan dengan entengnya malah menyambar omongan Aditya.


"Keseringan bergaul sama dia nih lu Han, jadi ikutan nggak disaring kalau ngucap."malah menunjuk Aditya karena perkataan Johan.


"Jadwal gua seminggu emang cuma 4hari."katanya menerangkan pada kedua manusia yang tengah melontarkan sindiran.


"Wow kalau tahu gitu kenapa dulu gua nggak jadi dokter aja."ucap Aditya dengan wajah tak percaya mendengar penuturan Roman tentang waktu kerjanya.


"Halah otak lu nggak bakal nyampe,kuliah aja cabut mulu."menyindir sang teman yang langsung melemparkan pulpen yang sedang ia pegang.


"Sialan banget."memaki perkataan Roman yang secara tidak langsung mengatai dirinya bodoh.


"Ngapa lagi nih orang ngangguk-ngangguk." terganggu dengan gerakan kepala Johan yang terkesan mendukung pernyataan Roman.


Johan mengedikkan bahu karena tahu Aditya tengah berkata padanya.


"Mending lu bantuin gua nih."berkata pada Roman yang ia lihat tidak melakukan apapun sedangkan dirinya dan Johan sibuk bekerja.


"Ngapain?" tanya Roman.


"Periksa nih berkas." menepuk tumpukan berkas yang belum diperiksa olehnya.


"Nggak ngerti gua."ucap Roman seraya menyilangkan kakinya.


"Nah kan,elu juga nggak ngerti sama kerjaan gua,itu tandanya otak lu juga sama aja kayak gua." menyerang Roman dengan perkataan yang sama seperti yang diucapkan Roman tadi untuknya.


Johan menarik napasnya lalu dengan gamblangnya berkata.


"Sudahlah kalian berdua itu sama saja."


Perkataan Johan sontak membuat Aditya dan Roman kompak melihat dirinya dengan raut wajah yang sangar menuntut penjelasan dari perkataan yang baru saja ia utarakan.


"Maksud saya kalian itu punya kelebihan masing-masing,bapak dengan otak seorang pebisnisnya sedangkan pak Roman dengan otak seorang dokter."kata Johan seraya melihat Aditya serta Roman bergantian.


Roman dan Aditya mengangguk tanda paham dengan maksud Johan,bahkan sepertinya mereka tidak menaruh kecurigaan pada maksud perkataan Johan yang sebenarnya.


Johan menarik napas lega karena berhasil terbebas dari serangan dua orang di depannya jika tadi ia tidak cepat memberikan jawaban yang mengenakkan.


Sedangkan maksud dari kalian berdua itu sama saja ialah Aditya dan Roman sama-sama tak jelas dan sama-sama berisik.


Bisa dibayangkan jika sampai Johan menjawab dengan jujur apa yang akan terjadi?.


Tentu saja ia akan diserang habis-habisan oleh kedua manusia yang akan menjadi kompak jika sudah menyerang orang.


Mungkin telinganya akan rusak seketika jika dua serangkai itu menyerangnya dengan perkataan menusuk mereka.

__ADS_1


**************


__ADS_2