
Sepanjang jalan Darren terus memikirkan tentang Mamanya Sherin yang sepertinya sangat mengenal Ayahnya membuat Darren kehilangan konsentrasi hingga menepikan motornya.
"Kenapa? kok berhenti?" tanya Rona bingung saat Darren mematikan mesin motornya serta membuka helm.
"Mamanya Sherin kenapa tahu nama Ayah," ujar Darren dengan suara yang terdengar bimbang.
"Mungkin mereka kenal, teman sekolah barangkali. memangnya Kakak belum pernah bertemu sebelumnya?" Rona mulai menyebutkan beberapa kemungkinan seraya bertanya.
Darren menggeleng kepalanya lalu berucap, "tapi wanita itu tadi terlihat begitu terkejut, kamu lihat perubahan wajahnya kan? berubah menjadi tegang," terang Darren sebab jaraknya dengan Melly cukup dekat hingga dia bisa melihat dengan jelas perubahan raut wajah yang Melly tunjukkan.
"Mau tanya sama Ayah?" Rona mengusulkan ketimbang membiarkan suaminya bertanya-tanya sendiri tanpa menemukan jawaban.
"Kalau itu mantan pacarnya Ayah gimana?" tanya Darren seraya memutar kepalanya melihat pada sang istri.
"Ih, masa Ayah bisa punya mantan nyeremin begitu," kata Rona yang malah merasa tidak percaya bila Ayah mertuanya mempunyai mantan kekasih yang dari fisik luarnya saja meskipun Rona akui masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda, namun tetap saja aura menakutkan terpancar jelas dari wanita itu, terlebih lagi kini ia mengetahui sifat Sherin yang menyebalkan itu menurun dari Mamanya.
"Yah namanya orang khilaf kan nggak ada yang nggak mungkin Na, Ayah juga kan manusia yang bisa aja jadi buta kalau sudah jatuh cinta. kayak aku gini, sekarang nikahnya sama kamu," terang Darren yang akhirnya malah membuat mata Rona mendelik mendengar perkataannya yang terakhir.
"Maksudnya apa tuh Kak ngomong kayak gitu?!" tanya Rona namun dengan nada yang sangat tajam seolah sangat menuntut suaminya untuk menjelaskan tentang maksud perkataannya barusan.
Darren yang gelagapan karena sadar apa yang dia katakan adalah kesalahan membuat dia segera memakai helmnya.
"Kita ke rumah Ayah aja sekarang," imbuh Darren menghindari masalah yang akan panjang jika dia nekat untuk membahasnya.
Rona melirik tajam pada suaminya yang sekarang sibuk sendiri memakai helm serta memutar kunci motor guna menjalankan motornya kembali, mengabaikan permintaannya barusan.
Bisa gawat kalau Darren memberi penjelasan, karena di beri penjelasan seperti apapun yang akan wanita ingat adalah pernyataan yang tak sengaja Darren utarakan tadi.
*****
Sherin yang tadinya ingin pergi ke Mall bersama sang Mama malah jadi tidak semangat karena melihat betapa eratnya Rona memeluk Darren sewaktu di jalan tadi itulah yang membuatnya sangat nekat untuk menghadang motor Darren.
Kedua wanita itu malah pulang ke rumah dengan wajah yang sama-sama menunjukkan emosinya.
"Ikut Mama ke kamar," ajak Melly pada sang anak yang meskipun tak mengerti kenapa Mamanya memintanya untuk ikut namun ia tetap menggerakkan kakinya mengikuti wanita itu.
Sesampainya di dalam kamar Melly lantas menuju lemari, membuka pintunya lalu berjongkok di depan lemari itu dengan tangannya yang bergerak seperti mencari sesuatu.
Sherin menantikan apa yang akan di tunjukkan oleh Mamanya itu yang sekarang tengah berjalan ke arahnya dengan membawa satu kotak yang tertutup entah apa isinya.
Melly menarik nafas seraya duduk di samping sang anak memangku kotak yang tadi ia ambil dari dalam lemari, kotak yang sengaja ia simpan sejak lama dan akhirnya hari ini akan ia perlihatkan semua isi di dalamnya kepada anaknya itu.
Wanita itu perlahan mulai membuka kotak di pangkuannya lalu terlihatlah betapa banyak barang di dalamnya membuat Sherin mulut Sherin ternganga.
Tangan Melly mengambil tiga lembar foto dari tempat itu lalu menunjukkannya pada sang anak.
"Ini Ayahnya Darren," kata Melly memperlihatkan foto Aditya yang sedang bersamanya tersenyum ke arah kamera.
"Wajahnya tidak banyak berubah Ma, saat pertama kali melihatnya bahkan Sherin tidak menyangka bahwa itu adalah Ayahnya Darren," tutur Sherin seraya mengambil foto yang ada di tangan sang Mama.
"Dia memang sangat tampan, bahkan jauh lebih tampan daripada Papa kamu." Melly berkata seraya menatap sang anak yang sekarang sibuk melihat foto yang ia tunjukkan.
Sherin melihat-lihat dua foto selanjutnya yang masih menampilkan wajah Aditya dan Melly di saat mereka muda dulu.
"Mama berapa lama pacaran dengan Ayahnya Darren?" tanya Sherin.
"Mama lupa berapa lama, yang jelas bertahun-tahun," jawab Melly.
"Lalu kenapa hanya ada tiga foto saja?" Sherin merasa heran, rasanya sangat aneh pacaran bertahun-tahun namun tidak punya banyak foto untuk mengabadikan kebahagiaan mereka.
"Karena memang Aditya itu tidak suka berfoto, dia itu pria yang tidak pernah mau mengabadikan momen apapun jika tidak di paksa bahkan untuk mengambil foto ini saja Mama harus ngambek dulu baru dituruti olehnya," terang Melly.
Entah wanita itu sedang membual atau berbicara kenyataan yang jelas sekarang ia tengah berusaha untuk membuat anaknya itu termakan semua omongannya.
Melly terus bercerita sambil menunjukkan barang-barang yang sempat Aditya berikan untuknya saat berpacaran duku, dari mulai handphone keluaran temahal di kala itu sampai emas juga berlian dalam bentuk perhiasan.
Rupanya sungguh sangat luar biasa seorang Aditya Erlangga saat berhubungan dengan wanita, bahkan rela memberikan apapun untuk wanita yang dia cintai.
"Kalau Ayahnya Darren begitu mencintai Mama bukankah seharusnya dia lebih memilih untuk menikah dengan Mama ketimbang wanita itu?" tanya Sherin merasa sedikit aneh dengan kisah percintaan sang Mama.
"Seharusnya seperti itu dan memang begitu, Aditya sebenarnya memilih Mama dan ingin menikahi Mama, semua sudah kami rencanakan, tapi ternyata wanita itu lebih jahat dari yang Mama pikirkan." Melly menghentikan ceritanya sejenak karena ia harus menarik nafas yang terlihat begitu berat.
"Wanita itu membuat Mami celaka," sambung Melly.
"Hah? celaka? maksud Mama?" pekik Sherin terhentak kaget dengan pengakuan kesekian kalinya dari sang Mama.
"Wanita itu menyuruh orang untuk menyabotase mobil yang Mami kendarai sehingga Mami kecelakaan bahkan nyaris mati!" seru Melly makin menjadi-jadi memberikan tuduhan yang tidak pernah Rianti lakukan.
Padahal dirinya sendiri pun tahu betul siapa dalang dari kecelakaan yang dulu menimpanya.
Tentu Melly sangat tahu bahwa itu adalah perbuatan seorang Aditya Erlangga yang sudah sangat muak atas kelakuannya yang berusaha membuat Rianti nyaris saja menjadi korban perkosaan karena rencana gila yang Melly buat bersama Arey.
"Ini bekasnya," Melly menyingkap celana bahan yang ia pakai memperlihatkan bekas jahitan di kakinya yang selamanya tidak akan pernah hilang.
"Jadi luka ini karena kecelakaan yang di sengaja?" seru Sherin sangat tersentak kaget, mau tidak percaya namun ia melihat bekas luka yang di jahit dan cukup besar di kedua kaki sang Mama.
Sejak ia kecil ia selalu memperhatikan luka Mamanya itu namun yang ia tahu luka itu ada karena sang Mama mengalami kecelakaan saat wanita itu masih muda, tanpa ia tahu ada sebuah cerita di balik kecelakaan yang hampir merenggut nyawa sang Mama.
__ADS_1
Melly mengangguk seraya mengelus bekas luka di kakinya dengan anaknya yang langsung memeluk dirinya merasa sangat kasihan dengan nasib yang dialami oleh wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sherin nggak nyangka kalau ternyata Ibunya Darren bisa sejahat itu sama Mama, padahal wajahnya terlihat sangat lembut dan kalau berbicara pun sangat ramah," tukas Sherin mengingat saat ia datang ke rumah Darren bersama dengan temannya yang lain dan bertemu dengan Rianti yang langsung saja menyapa mereka serta menyuguhkan semua makanan serta minuman juga senyum yang tak pernah lepas dari bibir wanita itu kala mereka berbicara.
"Jangan pernah menilai orang dari luarnya, karena kita tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya, dan lihatlah apa yang terjadi dengan Mama ketika terlalu percaya pada orang seperti itu," ujar Melly kemudian menghela nafas yang tadi tertahan.
"Apa Ayahnya Darren mengetahui apa yang wanita itu lakukan pada Mama?" tanya Sherin menatap sang Mama.
"Tidak, wanita itu sangat licik bahkan dia menjebak Aditya sehingga terpaksa menikahinya."
Sepertinya Melly memang sedang benar-benar ingin mencari masalah dengan Aditya, wanita itu seolah ingin membangkitkan masalah lama untuk diungkit kembali, wanita ular yang benar-benar tidak bisa untuk didiamkan segala tindakannya saat ini.
"Gila!" Sherin berseru keras tatkala mendengar apa yang Melly sampaikan barusan, sungguh ia tak bisa percaya bahwa wanita yang ia lihat berwajah lembut itu ternyata berhati iblis hingga rela melakukan hal tak masuk akal.
"Sudah mengerti bukan kenapa Mama meminta kamu untuk tidak kehilangan orang yang kamu cintai, kamu harus berusaha untuk mendapatkannya, Mama tidak mau kamu mengalami hal yang sama dengan Mama. sebelum wanita itu melakukan tindakan yang lebih gila dari Ibu mertuanya lebih baik kamu yang lebih dulu melakukannya!" tekan Melly yang tidak di sangka langsung mendapatkan anggukan kepala dari sang anak.
Sherin yang memang sudah gila mah terus mendapatkan hasutan dari Mamanya, maka sudah pasti wanita itu akan bertambah semakin gila dengan segala pikirannya karena merasa melakukan hal yang benar serta mendapatkan dukungan.
*****
Aditya yang tengah duduk di teras rumahnya sambil memainkan handphone, tentu tidak sedang memainkan game cacing yang dulu sering dia mainkan saat masih muda, saat ini pria itu tengah memeriksa pesan yang dikirimkan oleh sekertaris barunya tentang agendanya di hari Senin nanti.
Pria itu mengalihkan matanya dari layar handphone ketika mendengar suara motor yang berhenti di halaman rumahnya, langsung kembali menatap layar handphonenya begitu mengetahui anak serta menantunya yang datang.
Darren dan Rona turun dari motornya lalu menghampiri sang Ayah seraya mengucapkan salam dan di jawab oleh Aditya seraya mengangkat wajahnya melihat sang anak yang sudah berdiri di depannya.
"Darren mau ngomong sama Ayah," kata Darren selepas dia mencium punggung tangan Ayahnya itu.
"Nggak usah bahas gaji, kerja juga belum sebulan." Aditya sudah menuduh macam-macam anaknya tanpa basa-basi.
"Dih sok tahu banget, Darren belum juga ngomong apa-apa," kata Darren dongkol dengan jawaban sang Ayah yang seperti biasa akan selalu keluar dari mulutnya tanpa di pikir lebih dulu.
"Kamu itu aneh, baru datang bukannya masuk dulu malah sibuk mau ngajak ngomong Ayah," celetuk Aditya pada sang anak.
"Ibu mana Yah?" tanya Rona yang sejak tadi berdiri di samping Darren mendengarkan dua orang pria yang langsung berdebat padahal baru saja bertemu.
"Di dalam, bawa suami kamu masuk sana," ucap Aditya tak ingin anaknya itu mengganggu dirinya yang sedang berkirim pesan dengan sang sekretaris juga asistennya yang tadi pagi sudah dia buat repot mengantarkan pakaian untuk anak dan menantunya.
Mendengar jelas perkataan dari sang Ayah mertua membuat Rona bergegas menarik suaminya untuk masuk ke dalam rumah guna menemui sang Ibu yang entah sedang apa di dalam sana.
"Ibuuu," teriak Rona dengan suaranya yang melengking membuat suaminya sendiri sampai menutup telinganya.
"Iyaaaa." dari arah belakang terdengar suara Rianti yang menjawab panggilan dari menantunya.
Wanita itu tergesa menghampiri sepasang pengantin baru yang wajahnya tampak begitu bersinar, sepertinya keduanya benar-benar menikmati menginap di hotel tadi malam.
"Ini Bu perempuan yang semalam nginep sama Darren di hotel, omelin aja gara-gara dia Darren nggak bisa tidur," cetus Darren mengingat bagaimana semalam Ibunya berteriak hingga membuat telinganya berdengung.
Mata Rianti mendelik mendengar pernyataan sang anak yang memang sengaja meledek dirinya karena semalam langsung nyerocos saja begitu mendengar sang anak menginap di hotel dan minta di bawakan baju miliknya tanpa bertanya lebih dulu untuk siapa baju itu.
"Nggak bisa tidur tapi wajahnya cerah banget," Rianti balik menggoda anaknya yang langsung saja kabur seraya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan tak ingin meneruskan melawan sang Ibu.
Karena jika Darren jawab tentunya Ibunya itu akan semakin menggoda dirinya mengatakan apa saja tanpa henti.
"Ayah," panggil Darren sudah berdiri di ambang pintu pada sang Ayah yang masih saja bergelut dengan handphonenya.
"Hm," Hanya deheman sekilas yang keluar dari mulut Aditya membuat Darren berdecak.
Ck ck ck ck.
"Jangan kayak cicak kamu!" dengus Aditya lalu menoleh pada sang anak sambil berkata lagi, "mau ngomong apa?"
"Ke ruangan Ayah yuk," ajak Darren.
"Astaga! kamu mau ngomong apa sih sebenarnya!" Aditya malah kesal dengan sang anak yang untuk berbicara saja harus ke ruangannya dulu, apa tidak bisa langsung saja bicara di tempat itu!
"Penting Ayah," paksa Darren yang kali ini benar-benar membuat Ayahnya makin mendengus namun pria itu tetap bangkit dari duduknya lalu melenggang menuju ruang kerjanya meninggalkan sang anak yang malah terbengong tak bergerak.
"Darren! kamu mau ngajak ngomong tapi kamu malah diem aja!" bentak Aditya cukup keras membuat Darren gegas berlari menghampirinya.
"Kalian mau ngomongin apa?" Rianti yang mendengar perkataan suaminya pun malah jadi ingin tahu.
Darren pun memberi kode pada istrinya untuk membuat Ibunya sibuk agar tidak ikut nimbrung dengan dirinya dan sang Ayah.
Untungnya Rona segera peka sehingga iapun langsung mengajak Rianti berbicara lalu kemudian mengajaknya ke dapur dengan alasan minta di ajarkan masak.
"Tumben peka," gumam Darren melihat dua wanita itu sudah pergi ke dapur.
Aditya pun mengernyitkan keningnya lalu membuka pintu ruang kerja dan masuk ke dalam diikuti oleh Darren.
"Kenapa Ayah suruh Om Johan datang pagi-pagi ke hotel bahkan saat matahari belum terbit?!" kata Darren pada sang Ayah yang langsung terperanjat dari duduknya.
"Kamu ngajak Ayah kesini cuma mau tanyain itu Darren? cuma itu?" tanya Aditya dengan ekspresi wajah yang konyol tak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu.
Darren menggeleng tenang sambil berucap, "sebenarnya bukan itu," jawab Darren polos.
"Ada yang lebih penting dari itu," sambung Darren.
__ADS_1
"Ada yang lebih penting tapi kamu justru mempertanyakan hal yang tidak penting? ckckck, kenapa kamu jadi sekonyol ini!" ketus Aditya menggeleng kepalanya merasa anaknya itu sangatlah tak jelas.
Darren menggaruk kepalanya ketika Ayahnya itu menudingnya konyol, tapi tak bisa menyangkal karena memang jelas dia membahas hal yang tidak penting untuk di bahas.
Darren tergesa duduk di samping Ayahnya membuat sang Ayah terkaget untuk sekian kalinya.
"Sebenarnya kamu mau ngomongin apa sih?" Aditya mulai sangat terganggu dengan perilaku anaknya sendiri.
Darren menoleh ke arah pintu guna memastikan tidak ada yang akan mendengar apa yang mereka bicarakan kali ini.
"Apa?" tanya Aditya seraya mengangkat wajahnya.
"Ayah kenal sama Mamanya Sherin?"
Mendengar pertanyaan dari putranya malah membuat Aditya menghembuskan nafasnya yang terasa sangat berat, sungguh anaknya itu benar-benar konyol sekaligus aneh, Sherin yang mana orangnya saja Aditya tidak tahu eh malah di tanyakan kenal atau tidak dengan Mama dari anak itu.
"Ayah kenal nggak?" Darren mengulang pertanyaannya.
"Sherin itu siapa? teman kamu? atau mantan pacar kamu?" tanya Aditya dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Ayah jangan sembarangan bilang mantan Darren, nanti kalau Rona dengar bisa ngamuk dia."
"Ya lalu siapa? kamu itu nggak jelas," dengus Aditya cukup menahan sabar atas sikap anaknya itu.
"Teman Darren, dia pernah kesini masa Ayah nggak kenal."
"Kamu pikir Ayahmu ini Om-om genit yang suka kenalan sama anak-anak kampus!" Aditya mulai menunjukkan kesengitannya.
"Ya bukan itu maksudnya juga Ayah," cetus Darren frustasi kala berbicara dengan Ayahnya sendiri.
Sepertinya dia pria itu sama-sama frustrasi menghadapi sikap mereka yang memang kadang sangat tak jelas dan di luar logika orang waras.
"Ya terus apa?"
"Ya udah intinya Ayah kenal nggak sama Mamanya Sherin?!"
"Nggak!" jawab Aditya cepat tanpa berpikir, karena memang tidak perlu menggunakan pikiran untuk pertanyaan tak masuk akal dari sang anak.
"Tapi Mamanya Sherin kenal Ayah, dia juga sebutin nama lengkap Ayah," kata Darren.
"Hah?" Aditya tampak terkejut dengan pengakuan Darren.
"Siapa namanya?" sepertinya Aditya mulai penasaran dengan wanita yang kata sang anak mengenal dirinya.
Darren menggelengkan kepala sebab dia memang tidak mengenal nama wanita itu membuat Aditya menoyor kepalanya karena kesal, dia sudah mulai terpancing untuk mengetahui siapa wanita itu namun anaknya malah tidak tahu nama sang wanita.
****
__ADS_1