
Sesampainya di kosan Aditya juga Roman bingung karena pintu kosan terkunci dan tampak tidak ada orang didalam sana ketika Roman mengintip dari jendela yang gordennya tersingkap sedikit.
"Nggak ada orang Dit."
"Lu nggak ngomong juga gua tahu kalau ini tempat sepi." gerutu Aditya ketika tidak mendapati satu orang penghuni pun disekitar kosan.
"Gua tanya temen gua dulu kali ya?" ucap Roman sudah mengeluarkan ponselnya menghubungi temannya sebagai pemilik kosan tempat Selfi tinggal.
"Ngapain?" tanya Aditya.
"Kali dia tahu si Imran pergi kemana, kan bisa aja dia kabur." kecurigaan yang mulai mengganggu pikirannya
"Ck, mending lu telepon adek ipar lu sana tanya aja sama dia." saran Aditya yang langsung saja dituruti oleh Roman.
"Boro-boro nampolin si Imran, ini mah gua yang malah dikerjain." bersungut-sungut sendiri di tengah Roman yang sedang menghubungi Tania.
Roman menyimpan kembali ponsel disaku celana setelah selesai berbicara dengan Tania juga adik iparnya yang sudah memberitahukan dimana Imran saat ini.
"Masih di rumah sakit Dit." katanya pada Aditya yang langsung menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar ditembok.
"Hah?siapa yang di rumah sakit?" tanyanya dengan raut wajah terkejut.
"Imraan." ucap Roman dramatis.
"Jadi dia masih belum keluar dari rumah sakit?!" seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Roman mengangguk pelan.
"Terus kita ke sana nih sekarang?" tanya aditya sudah tidak seantusias tadi,sepertinya ia sadar bahwa tidak bisa melanjutkan acara pukul memukulnya kepada Imran,karena posisinya masih di rumah sakit jika nekat melakukan hal kriminal di rumah sakit,bisa tersebar wajahnya di koran pagi.
"Ya iya Dit,masa kita mau nungguin dia disini." sahut Roman seraya berjalan menuju mobilnya menjauhi kosan yang kosong itu.
Tanpa pikir panjang lagi mereka pun pergi menuju rumah sakit tempat Imran berada.
Langkah kedua lelaki itu terlihat sangat cepat ketika menyusuri koridor rumah sakit untuk segera sampai di kamar perawatan Imran.
"Wah lagi santai-santai rupanya." baru saja masuk dan mendapati Imran tengah memakan buah mulut Aditya sudah tak terkendali.
"Ngapain lu berdua kesini?" tanya Imran yang tersentak kaget dan merasa begitu terganggu dengan hadirnya dua serangkai tanpa diundang.
"Besuk elu dong,masa mau ribut." kata Aditya dengan gerakan alisnya yang begitu meledek.
Padahal di hatinya Aditya begitu muak melihat wajah Imran.
Roman berjalan menuju Imran dan menarik kursi untuk ia duduki.
"Gua mau ngomong." kata Roman saat melihat wajah Imran begitu tegang melihatnya.
Sedangkan Aditya berdiri menyandar di tepi ranjang dengan kedua tangan disilangkan nya.
Imran memegang erat buah yang masih tersisa banyak karena memang dirinya baru memakan sebagiannya saja.
__ADS_1
"Biasa aja muka lu." Aditya mengoceh ketika melihat wajah Imran yang sudah sangat tegang seolah urat-urat di wajahnya menjadi kaku.
Imran melirik Aditya tanpa mengucapkan kata apapun.
Mendapat lirikan dari seorang Imran membuat Aditya memutar bola matanya seraya mencebikkan bibir.
"Selfi hamil." ujar Roman dengan suara yang masih terdengar sabar.
"Lah terus?kenapa ngomong sama gua?emang apa urusannya dia hamil sama gua?" sahut Imran dengan gaya bicara songong nya.
"Ya lu tanggung jawab bego." malah Aditya yang telihat lebih nyolot dari pada Roman.
"Lu lagi Man, ngapain ngomong pelan sama dia,manusia nggak tahu diri." sepertinya dendam Aditya pada Imran masih begitu membara,hingga membuat lelaki itu tak bisa mengontrol nada suaranya.
"Perlu gua bikin koma lagi nggak nih?" sudah menggulung lengan kemejanya seraya menyorot kan mata yang begitu sangar pada Imran.
"Nih,mau lu bikin gua koma seribu kali juga gua mah ogah nikah sama si Selfi." menolak mentah-mentah untuk menikahi Selfi.
"Nggak sampai seribu kali juga lu udah mati Imran." ucap Aditya dengan dengusan napas emosi.
"Dit." Roman terlihat meminta Aditya untuk tidak membuat kericuhan di rumah sakit, dia masih ingin berbicara baik-baik dengan Imran gara lelaki itu mau menikahi Selfi tanpa perlu dengan tindakan kekerasan.
"Ya udah sana ngomong ama nih manusia nggak beradab." Aditya memilih untuk duduk di sofa dan memperhatikan saja Roman berbicara dengan Imran yang tampaknya masih saja ngeyel menolak untuk menikah dengan Selfi.
Sekian lama berbicara dengan Imran sepertinya Roman menyerah,ia kemudian bangun dari duduknya dan menghampiri Aditya yang sedang santai duduk dengan kaki kiri berada di atas kaki kanannya.
"Puas nggak ngomong baik-baik sama tuh orang." berkata pedas saat Roman baru saja menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Gua serahin sama elu dah." kali ini dia menyerah,sebenarnya sejak tadi jika tidak berada di rumah sakit tangannya sendiri sudah sangat gatal ingin sekali ia menghajar Imran untuk melampiaskan emosi serta sakit kepala yang ia rasakan karena memikirkan adik ipar nya yang hamil dan pastinya merepotkan dirinya terutama Tania.
Aditya menurunkan kaki kirinya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang lumayan keras di lantai.
"Jadi gimana?lu masih nggak mau tanggung jawab?" tanya Aditya pada Imran seraya kedua tangannya bertumpu di atas ranjang tepat di samping Imran dengan wajahnya sudah terlihat sangat garang macam binatang liar.
"Kan lu denger sendiri,gua nggak bakal tanggung jawab apalagi nikah sama Selfi,harus berapa kali gua ulangi perkataan gua." ucap Imran dengan mata mendelik seolah sedang melawan Aditya dan membuat Aditya menjadi ciut.
Tapi ternyata tidak,nyali Aditya bukannya menciut malah makin menjadi melihat Imran yang tak tahu diri itu malah terlihat ngotot padahal sudah melakukan kesalahan dengan menghamili anak gadis orang.
"Gua sama dia sama-sama mau,toh kalau dia hamil ya itu resiko dia,siapa suruh dia hamil." perkataan Imran makin menjadi-jadi kali ini.
Aditya tertawa sinis mendengar penuturan Imran yang seenak perutnya saja,keluar tanpa dipikir terlebih dulu seperti orang yang tidak punya otak.
"Oh jadi masih tetap nggak mau tanggung jawab?" tanya Aditya memastikan jawaban Imran yang sudah sejak tadi dia ucapkan.
"Ngapain masih tanya aja sih lu!" Imran mulai kehilangan kesabaran karena Aditya.
"Santai, gua cuma mau pastikan jawaban lu emang udah final tanpa dirubah lagi."tutur Aditya.
Imran mendengus kesal dengan penuturan Aditya yang sepertinya akan mulai melancarkan serangan terakhirnya.
" Baiklah kalau begitu,sepertinya gua akan melaporkan kasus korupsi yang elu lakukan disalah satu perusahaan gua." Aditya berkata biasa namun sangat terlihat begitu mengancam bagi Imran.
__ADS_1
Aditya sudah mengeluarkan ponsel dari saku celana dengan diiringi tatapan mata Imran yang terus memantaunya.
"Mau ngapain lu?" tanya Imran kemudian.
"Hubungin pengacara gua lah,buka kasus korupsi yang elu perbuat,enak aja lu udah ngambil uang perusahaan gua terus mau melenggang bebas begitu saja,jangan ngimpi!!" Aditya berkata sadis pada Imran yang raut wajahnya kini berubah berkali lipat dari pada yang tadi.
Terlihat kepanikan yang langsung menghiasi wajahnya sekarang ini.
Aditya sudah menempelkan ponsel di telinganya menunggu panggilannya di jawab oleh sang pengacara kepercayaannya.
"Halo, ada kasus yang harus kamu tangani sekarang juga." kata aditya pada si pengacara yang sudah menjawab teleponnya.
"Dit please Dit." Imran berkata pada Aditya seraya mencoba untuk duduk dengan benar di ranjangnya.
"Apa lagi?tadi nantangin gua,sekarang malah kayak anak kucing lu." mengejek Imran yang sudah ketakutan akan dijebloskan kedalam penjara oleh Aditya.
"Kita bisa omongin baik-baik dulu." tukas Imran dengan wajah memelas.
"Dari tadi tuh orang udah ngomong baik-baik sama elu tapi nggak lu dengerin, lu malah makin nyolot." kata Aditya seraya menunjuk Roman yang menatap tajam pada mereka berdua, melihat adegan demi adegan yang dilakukan oleh temannya yang bernama Aditya sekarang ini.
"Oke oke sorry kalau tadi gua sedikit emosi." Imran beralasan emosi.
"Emosi nggak emosi elu mah emang nyolotin." cibir Aditya seraya mematikan ponsel nya setelah meminta pengacara untuk menunggu kabar darinya.
Imran diam mendengar tutur kata Aditya yang tak hentinya menyerang dirinya.
"Sekarang mau lu apa?kalau gua maunya sih ngelaporin elu ke polisi." tukas Aditya terus terang dengan apa yang ia inginkan.
"Jangan lah Dit,kita kan temen."
"Dih najis." sahut Aditya cepat dan kencang sepertinya ia sangat muak mendengar Imran mengakui dirinya sebagai teman.
"Terserah lu dah mau anggap gua temen apa nggak." ucap Imran akhirnya seraya menggaruk rambutnya yang kemungkinan sudah seminggu lebih tidak di keramas.
"Gua bakal tanggung jawab buat nikahin Selfi,tapi gua harap lu jangan laporin gua ke polisi."
"Nggak ah, gua maunya lu masuk penjara." kata Aditya santai.
"Gua mohon Dit." memohon pada Aditya padahal sebenarnya ia kesal kenapa harus memohon seperti itu.
"Nggak mau gua,lu juga pernah mau deketin istri gua kan,malah nyumpahin gua mati lagi." rupanya masih ingat akan perbuatan Imran belum lama ini.
"Cuma bercanda gua itu Dit." kata Imran.
"Udah lah males gua lama-lama ngomong sama elu!" Aditya terlihat kesal sendiri.
"Man lu aja tuh yang ngomong sama nih orang,kalau dia ngeles lagi lu kasih tahu gua, biar gua langsung suruh pengacara buat laporin dia." kata Aditya seraya berjalan menuju Roman.
Ya Roman pun langsung menuruti Aditya untuk berbicara pada Imran dan setelah sepakat menentukan pernikahan dalam waktu dekat,Roman dan Aditya melenggang keluar dengan ancaman yang tak lupa Aditya berikan lebih dulu untuk Imran.
**************
__ADS_1