Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 76


__ADS_3

Di apartemen Rona wajah Rona terus saja di tekuk, cemberut karena sudah sore namun suaminya tidak menghubunginya sama sekali, benar-benar masih melanjutkan acara diamnya sekaligus memuasakan jari-jari tangannya hingga tidak bisa mengirimkan pesan padanya.


Wanita itu mulai bersungut-sungut mengeluarkan kekesalannya dengan sikap sang suami hingga akhirnya iapun tak tahan dan memutuskan untuk menghubungi pria itu yang kemungkinan sudah pulang dari kantor dan berada di kampusnya.


Rona menekan-nekan layar handphonenya dengan sangat ganas akibat rasa marah yang ingin ia salurkan namun tidak tersalurkan hingga melampiaskannya pada benda itu.


Ia menempelkan benda yang sudah menyala itu ke telinganya menanti panggilannya terhubung, keningnya mengernyit karena panggilannya terhubung namun Darren tidak juga menjawab membuat ia melihat jam berapa sekarang ini lalu ketika melihat jam ia yakin jika suaminya pasti sudah ada di kampus.


"Jam setengah enam kan? udah sampai di kampus pasti. tapi masa nggak jawab juga, nggak mungkin dia nggak denger," gumam Rona sambil masih tetap menunggu suara pria yang kesal dengannya sejak semalam.


"Nggak mungkin tuh handphone di tinggal di helm!" ketus Rona mulai ngelantur karena Darren yang tak kunjung menjawab telepon darinya.


"iiiissshhhh!" saking kesalnya hingga handphone pun kembali menjadi sasaran empuk baginya dengan mengetuk-ngetuk layarnya dengan telunjuk ketika akan memutus telepon karena Darren tidak juga menjawab.


"Mamaaaa," seru Rona merengek menyebut Mamanya seraya *******-***** bantal sofa yang baru ia ambil, kali ini handphone yang sejak tadi seolah menjadi samsak patut bersyukur karena posisinya sudah digantikan oleh bantal yang kini kempes tak jelas karena perbuatan seorang istri yang suaminya sengaja tidak menjawab telepon darinya.


Darren kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku ketika melihat ada panggilan dari istrinya, keturunan Aditya itu hanya melihat saja bahkan ketika jarinya sudah berniat untuk menjawab panggilan itu malah dibisiki oleh setan untuk mengabaikannya.


Pria itu baru saja duduk di bangkunya ketika wajah babak belur masuk ke dalam ruangan kelas mereka dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat, tatapan penuh dendam terlihat jelas dari pria yang semalam dia berikan pelajaran karena ketidaksopanannya dalam berbicara, bukan hanya tidak sopan melainkan juga sangat kurang ajar dan brengsek!


Jika memang tidak puas dengan apa yang sudah Darren lakukan bukankah seharusnya Bimo menuntutnya, membawanya ke jalur polisi, kenapa tidak dia lakukan? bahkan Darren pun sudah sangat siap jika mantan temannya melakukan hal itu.


Darren tampak bersikap tenang seakan ia tidak pernah mengenal pria bernama Bimo itu, namun meski begitu tetap saja dia masih menyimpan kemarahan atas apa yang di perbuat oleh Bimo terhadap istrinya.


Bimo semakin melayangkan tatapan yang tajam kepada Darren meskipun jarak duduk mereka terbilang cukup jauh, namun tetap seja mereka berada di satu ruangan yang akan mempertemukan keduanya.


Sherin yang baru saja masuk dengan wajah yang pucat tapi pakaian yang masih selalu kekurangan bahan atau kehabisan benang untuk menjahit. mata wanita itu terlihat bergerak seperti ada yang sangat ia cari dan tatapannya berhenti begitu menemukan sosok yang ia cari berada di barisan keempat, tanpa berpikir iapun lantas menuju tempat itu dengan suara hak sepatunya yang terdengar beradu dengan lantai.


Nella tampak melihat apa yang akan dilakukan oleh sang teman yang sejak semalam ia ketahui begitu syok mendengar kabar yang tidak biasa, kabar tentang pria idamannya sudah menikah menjadi pukulan tersendiri baginya.


Dua orang wanita masuk ke dalam dengan sangat tergesa dan langsung menghampiri Bimo yang duduk bersebelahan dengan Nella, keduanya meskipun duduk bersebelahan namun tidak saling bicara karena tentu saja pertengkaran yang terjadi semalam saat mereka di klinik yang bahkan sampai saat inipun Bimo masih terus mengelak tidak mau mengakui tudingan check in dengan seorang wanita yang Nella tidak ketahui siapa.

__ADS_1


"Wajah kamu parah banget lukanya," seru Dini yang refleks menyentuh wajah Bimo dengan kekhawatiran yang terlihat jelas di matanya.


Nella yang sedari tadi sedang melihat Sherin pun dalam sekejap memutar kepalanya menatap pada Dini dan Bimo, dua orang itu terlihat tidak seperti biasanya.


"Ada yang mesti gue kerjain," kata Ayu kala menyadari ada sesuatu yang panas di depan matanya lalu segera kabur ke tempat duduknya dan mulai bertingkah sibuk.


Bimo menyingkirkan tangan Dini ketika menyadari Nella sedang menatap padanya dan juga Dini bergantian.


"Sejak kapan lu perhatian sama cowok gue? nggak salah lu manggil kamu segala?!" tuntut Nella pada dua temannya yang kini menampilkan wajah tegang.


"Sorry, gue cuma kaget aja waktu denger kabar Bimo dipukulin Darren," kelit Dini dengan suara yang sangat terdengar bahwa ia gugup karena sesuatu yang ia sembunyikan.


Nella mendengus tidak percaya dengan pengakuan temannya yang orang bodoh manapun pasti tidak akan bisa percaya begitu saja setelah melihat sendiri apa yang tadi dilakukan oleh Dini terhadap kekasihnya.


Tanpa berbicara apapun Dini gegas meninggalkan dua orang itu dengan Nella yang tak hentinya memberikan tatapan penuh curiga terhadapnya.


"Sampai ketahuan sama Nella, habis lu Din!" celetuk Ayu ketika Dini baru saja duduk di dekatnya.


Harapan yang akhirnya pupus setelah Darren malah menggeleng kepalanya menandakan bahwa ia tidak berbohong tentang apa yang semalam keluar dari mulutnya.


"Kamu jahat Darren, sejak dulu bahkan kamu sudah tahu jika aku sangat mencintai kamu, tapi kamu malah tega sama aku!" tuding Sherin tentang kekecewaannya terhadap pria yang tetap menunjukkan wajah luar biasa tenang.


"Tapi lu juga tahu Sher, gue nggak pernah suka sama elu, sejak dulu sejak awal kita bertemu nggak ada sedikitpun gue suka sama elu," kata Darren yang teramat jujur tentang apa yang dia rasakan karena menurutnya lebih baik mengatakan hal yang sesungguhnya ketimbang harus berpura-pura yang nantinya malah akan membuat orang berharap.


Bahkan ketika dia sudah berkata jujur pun Sherin masih terus mengejar dirinya, lalu sekarang apa dia pantas untuk disalahkan? terasa sangat konyol jika mendengar perkataan Sherin tadi yang terus mengatai dirinya jahat dan tega atas pernikahan yang bahkan dengan sadar dia lakukan.


Sherin menangis seraya memegang lengan pria yang sedang mencoba untuk melepaskannya namun nyatanya pegangan wanita itu sangat kuat seolah ada lem dengan daya rekat luar bisa hingga usahanya gagal.


"Jadi lu nikahin Rona!?" satu lagi orang yang datang dan menyerang Darren dengan pertanyaan, siapa lagi jika bukan Rendi si playboy kampus yang baru akan mulai menebar jaring agar bisa mendapatkan Rona namun malah sudah di dahului oleh Darren yang sangat kurang ajar telah menikahi wanita yang masih berusaha dia dekati.


Darren melihat pada Rendi dengan tatapan yang mengejek berpadu dengan sudut bibirnya yang terangkat menunjukkan senyum yang sangat di buat-buat.

__ADS_1


"Lepas Sher!" sentak Darren mulai tak tahan dengan wanita yang malah menangis seraya mendekap lengannya, begitu konyol seakan dia sudah melakukan kejahatan yang sangat jahat terhadap wanita itu.



Rendi menatap Sherin yang tampak menyedihkan, ada rasa tidak tega namun rasa kesalnya malah lebih besar sehingga Rendi mengabaikannya dan kembali memberikan tatapan kesal dan marah pada Darren.



"Oke dia istri lu sekarang, tapi jangan merasa senang karena tentu lu tahu siapa gue!" desis Rendi dengan tangan yang menunjuk pada Darren sangat jelas dia tengah memberi peringatan.



Mendengar itupun Darren berdiri dan kedua pria itupun saling berhadapan, "Kita lihat apa yang bisa lu lakuin!" lawan Darren tak tinggal diam.



Jelas sekarang siapa-siapa saja yang harus dia waspadai selain Bimo.


Brak!


Rendi menggebrak meja lalu pergi keluar dari ruangan itu padahal dosen pun belum datang, sepertinya pria itu tidak berniat untuk mengikuti mata kuliah setelah mengetahui sebuah fakta yang membuatnya tidak terima, bukan karena dia sudah sangat mencintai Rona namun lebih karena dia tidak pernah terima jika Darren mengalahkannya.


Dia terkenal sebagai playboy di kampus itu tapi sekarang malah di kalahkan oleh Darren, mau dia taruh mana wajahnya itu.



"Sialan!" makinya ketika sudah berada di luar kampus dengan motor yang dia naiki.



Darren yang sudah tidak ingin mengikuti pelajaran hari itupun memilih keluar dari kampus, dia merasa kepalanya pusing karena sejak semalam ada saja kejadian tidak mengenakkan yang dia hadapi menambah, bahkan dia mengabaikan sapaan dari Permana yang berpapasan dengannya di lorong kampus, Darren terus berjalan seperti tidak melihat temannya itu.

__ADS_1


****


__ADS_2