
"Mas." baru saja masuk rumah telinga Aditya sudah di suguhkan oleh suara lembut istrinya namun dengan intonasi penuh penekanan.
Aditya menoleh sumber suara di sudut sofa, sofa yang dulu pernah ia duduki kala dirinya menunggu Rianti pulang dan betapa murkanya ia saat melihat sang istri pulang diantar oleh Rama di tengah emosinya yang meluap akibat menyaksikan sang istri duduk berdua di taman dekat kantornya dengan lelaki yang pernah menjadi temannya itu.
Dan kini Rianti duduk di posisi yang sama dengan nya dan dengan sofa yang sama pula, di tengah gelap nya ruangan.
"kamu jangan duduk di sini." berjalan kearah Rianti dan menarik sang istri
"Emang kenapa?" bingung Rianti karena ia memang tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh suaminya saat ini.
"Ini besok sofanya di ganti aja sama yang baru." kata Aditya kemudian. makin membuat Rianti mengerutkan dahinya.
"Sofa nya masih bagus mas." menolak perkataan sang suami.
Aditya menggeleng kepalanya cepat "Besok aku ganti ini sofa , kalau perlu semua yang ada di dalam rumah ini akan aku ganti." malah berniat mengganti semua isi rumah yang sempat menjadi saksi atas segala perbuatannya dulu terhadap Rianti.
"Kamu kenapa sih, baru pulang udah aneh kayak begini?!" raut wajah Rianti benar-benar tidak bingung, melihat suaminya yang baru pulang sudah sibuk ingin mengganti perabotan rumah yang kesemua nya terlihat bagus dan masih sangat layak untuk di gunakan.
Di posisi ini Rianti belum melihat jelas wajah suaminya meski dirinya berdiri persis di hadapan sang suami efek dari lampu yang sudah ia padamkan.
Semua yang kini ada di depan matanya Aditya sungguh membuat ia kembali teringat akan semua perbuatannya dahulu.
Aditya yang masih saja tak menjawab pertanyaan dari istrinya malah memilih pergi memasuki ruang kerjanya, duduk di sana dengan lampu yang sengaja ia matikan.
Rianti menyusul sang suami dengan membawa minuman yang baru ia buat.
Di depan pintu tangan Rianti tampak meraba tembok mencari saklar untuk menyalakan lampu.
"Jangan di nyalakan." larang Aditya menahan tangan sang istri.
"Ini aku nggak liat mas kalau gelap begini."
"Yaudah sini minumnya." Aditya mencoba mengambil gelas di tangan Rianti.
Rianti menjulurkan gelas yang langsung di ambil oleh sang suami.
"Aku tidur ya." ucap Rianti kemudian.
"Yaudah tidur, udah malam." sahut Aditya karena memang ini yang sejak tadi ia nantikan, ia sengaja masuk ke ruang kerja dan mematikan lampunya guna menghindari sang istri dan memilih menunggu sampai sang istri tertidur pulas baru kemudian ia akan masuk ke kamarnya.
Rianti meninggalkan suaminya dengan rasa curiga yang mendalam, karena baru kali ini suaminya itu menghindari dirinya tidak seperti biasa yang akan selalu memeluk dan berkata gombal setiap kali mereka sedang berdua, apalagi malam ini kedua anak mereka sudah tidur pulas, rasanya sungguh janggal jika suaminya itu melewatkan malam ini begitu saja tanpa melakukan kemesraan sedikitpun.
Di tengah tangga Rianti menoleh kembali ruang kerja Aditya yang pintunya sudah di tutup rapat.
Guna memuaskan rasa curiga yang sejak tadi mengganggunya, wanita yang mengenakan daster tidur itu kembali turun dari tangga dan berjalan mengendap agar tidak ada suara langkah kaki yang di hasilkan dari kedua kakinya.
Rianti menuju ruang kerja suaminya lalu menempelkan telinga di pintu mencoba mendengar apa yang di lakukan oleh sang suami.
Hening, tak ada suara di dalam sana membuat Rianti semakin tak sabar untuk membuka pintu.
__ADS_1
Pintu di bukanya perlahan lalu tangannya dengan cepat menyalakan lampu, menyala, ruangan yang tadinya gelap gulita menjadi begitu terang nya hingga membuat Aditya menutupi mata dengan tangan.
"Ngapain siih yank?" tanyanya tanpa menyingkirkan lengan dari wajahnya.
Rianti berjalan mendekat
"Buka." meminta sang suami memperlihatkan wajahnya.
Aditya tak bergeming mendengar perintah sang istri
"Iiihh bukaaa." Rianti menarik lengan Aditya secara paksa.
"Mass!!!" membentak kesal.
Bentakan Rianti tak berhasil membuat Aditya menurut, Rianti menekuk wajahnya seraya duduk di sebelah sang suami yang kakinya di silangkan di atas meja.
"Yaudah kalau nggak mau, mas tidur di sini aja." ancam Rianti lalu hendak pergi.
"Sayaank.." memanggil Rianti yang sudah ada di pintu dengan nada sepasrah mungkin sambil mengangkat lengannya dan terlihatlah wajah nya yang masih tampak membiru di beberapa bagian.
Mata Rianti membulat sempurna seraya kembali duduk di dekat sang suami.
"Ini kenapa?" menyentuh bagian pipi.
"Nggak apa-apa." menggeleng dengan tatapan mata menghiba.
"Bohong! nggak apa-apa masa ini pada biru semua." mengomel ketika matanya di suguhi memar-memar di wajah suaminya yang saat pergi tadi sore masih terlihat baik-baik saja.
"Kenapa diem?" menatap sang suami dengan tajam.
"Terus mobil mas kemana? tadi aku nggak denger suara mobil mas, kan tadi mas pergi nya bawa mobil." pertanyaan Rianti seolah menjadi sebuah ide cemerlang untuk Aditya dalam memberi alasan ngaco selanjutnya.
"Tadi waktu lagi di jalan ada kucing nyebrang, aku banting stir ke kanan, ternyata ada gerobak tukang bakso lagi parkir."
"Terus?" Rianti memasang wajah dan mata tak percaya dengan pengakuan sang suami.
"Terus tukang bakso nya marah, terus aku di pukulin padahal aku mau tanggung jawab buat benerin gerobaknya, tapi tuh tukang bakso malah nggak mau, mau nya pukulin aku aja biar puas katanya, mobil aku di bengkel soalnya body nya lecet." berkata seraya bola matanya memutar ke sana sini tak berani melihat sang istri.
Wajah Rianti tampak mengerut karena ia tak percaya sedikitpun dengan alasan yang di katakan suaminya itu, sangat tidak mungkin seorang aditya membiarkan orang lain memukulinya sekalipun ia berbuat salah.
Sungguh Rianti tidak percaya bahkan seujung rambut pun, rasanya sangat tidak masuk di otak nya, Aditya seorang yang jago karate di pukuli di pinggir jalan oleh tukang bakso rasanya pasti akan sangat memalukan bagi Aditya apalagi bila sampai ada orang yang merekam kejadian itu dan sampai masuk berita.
Rianti menggeleng kepalanya pelan seraya menatap menyelidik.
"Adduuuh." karena tau Rianti tak percaya Aditya lantas berakting kesakitan memegangi pipinya.
Wajah Rianti langsung cemas dan bertanya "Mana yang sakit?"
"Ini." menunjuk wajah
__ADS_1
"Aku ambil air dulu buat kompres." Rianti segera berlari keluar.
Sepertinya Rianti, Aditya memasang senyum seraya memainkan kedua alisnya naik turun, lalu menarik napas kelegaan, ketika berhasil mengalihkan kecurigaan sang istri..
*****************
Tania berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit mencari keberadaan adiknya di ikuti Roman yang sebenarnya malas jika harus berurusan dengan apapun yang terkait dengan Imran, beruntung jadwal praktek nya siang hari jadi pagi ini dia bisa menemani sang istri menemui adiknya.
Roman berulang kali memperingatkan Tania untuk berjalan pelan saja tidak usah terburu bagaikan orang yang baru bertemu hantu.
Namun Tania tak mendengar , ia tetap saja menggerakkan kakinya dengan cepat sehingga membuat Roman menarik tangannya dan membuat langkah nya terhenti.
"Pelan-pelan, denger nggak aku ngomong dari tadi?!" berbicara dingin agar sang istri mengerti.
"iya aku Denger." sahut Tania pelan sambil mengangguk dan mulai melangkah pelan seperti yang di minta oleh suaminya.
"Sini." Roman menggandeng tangan Tania agar tak bisa lagi melangkah cepat.
Sepasang suami istri itu melangkah beriringan menyusuri rumah sakit mencari keberadaan Selfi.
Selfi bergegas berdiri begitu melihat kakaknya dan sang suami tengah berjalan ke arah nya yang tengah menunggui Imran di depan ruang ICU.
"Mbak." menangis seraya memeluk Tania.
Tingkah Selfi membuat Roman serta Tania saling pandang, karena mereka memang tak tahu tentang hubungan Imran dan selfi.
"Imran kenapa?" pertanyaan Tania membuat mata Roman mendelik, bagaimana tidak, di depan matanya itu sang istri menanyakan mantan kekasih nya yang juga musuh dirinya.
"Koma mbak, aku juga nggak tahu gimana ceritanya, aku di telepon , waktu dia udah di sini." sahut Selfi dengan suara lirih.
"Nggak mati?" Roman malah bertanya seenak jidatnya.
Tania lantas memelototi suaminya itu, sedang Selfi malah makin kencang mengeluarkan suara tangisnya.
Roman yang salah tingkah hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya.
"Sabar Sel, nanti juga sadar." Tania mengelus punggung Selfi.
"Mbak.." melepas pelukannya pada Tania lalu melihat wajah kakaknya lama seperti ragu untuk melanjutkan kata-kata.
"Apa?" tanya Tania
"Yaudah kita duduk dulu." mengajak Selfi duduk.
"Aku nggak ada uang untuk bayar rumah sakit." berkata pelan namun di dengar roman yang tengah berdiri dengan menyilangkan tangannya.
"Nah gue lagi nih yang tanggung jawab pastinya, kenapa tiap urusan si Adit malah nyampenya ke gue juga, padahal gue nggak ikutan, sialan emang." menggerutu di dalam hatinya apalagi saat Selfi terus mendesak istrinya untuk membayarkan semua tagihan rumah sakit.
"lu mesti tanggung jawab Dit, nggak mau tahu gue." mengancam Aditya dan berniat meminta temannya itu yang membayar rumah sakit..
__ADS_1
*********