Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 33


__ADS_3

Roman sudah lebih dulu duduk di sofa berhadapan dengan pemuda bernama Rendi, duduk tegap dengan menunjukkan raut wajah yang lumayan galak. sedangkan Darren memilih untuk duduk di sopa single sebelah sang calon mertua.


Baru saja Rendi berkedip ketegangan sudah tampak jelas dari wajah pria dewasa di depannya yang tanpa perlu diperkenalkan pun sepertinya Rendi sudah tau bahwa pria itu adalah Ayah dari gadis yang entah kenapa menjadi sangat sulit dia lupakan bahkan sejak pertama kali melihat dan berbicara dengannya.


"Sudah tau kenapa kamu saya minta datang ke sini?" Roman memulai pembicaraan.


"Belum Om, tadi Darren hanya meminta saya untuk datang." sahut Rendi yang membuat Roman menatap Darren.


"Nggak usah ngomong." ucap Roman saat Darren baru saja akan membuka mulutnya.


"Papah kok gitu sih sama Kak Darren." sungut Rona yang sejak tadi mengintip dari dalam kamarnya.


"Papah kamu masih kesel sama kalian berdua." ketus Tania yang lewat di depan kamar sang anak dengan nampan berisi tiga cangkir teh, karena kebetulan sejak tadi pun ia memang belum membuatkan Darren minuman karena panik dengan keadaan Rona.


Rona memanyunkan bibirnya mendengar perkataan sang Mamah yang yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


 Roman mulai menanyakan tentang kejadian bagaimana Rona sampai di dorong ke sungai dengan lebih jelas kepada Rendi.


 "Nggak lihat waktu di dorongnya sih Om, yang saat Rendi datang Rona sudah ada di sungai, untung Rendi kepikiran mau ke sungai Om, jadi begitu lihat Rona hampir kebawa arus Rendi langsung loncat buat tolongin Rona." tutur Rendi membuat Darren mengernyit mendengar perkataan teman kampusnya itu.


  "Tadi lu bilang."


  "Gue nggak bilang apa-apa sama elu Ren." Rendi memotong omongan Darren.


  "Tadi kamu bilang ada yang lihat." Roman melihat pada Darren yang kesal pada Rendi.


  "Kok Kak Rendi bohong?!" Rona keluar dari dalam kamarnya karena kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Rendi yang sepertinya sengaja menutupi perbuatan Sherin terhadapnya.


  "Kak Rendi nggak bohong Rona, Kakak memang nggak lihat Sherin dorong kamu." sahut Rendi.

__ADS_1


  "Tapi Kakak lihat di situ ada Sherin dan Nella kan?" tanya Rona.


  "Lihat, tapi Kakak nggak lihat waktu mereka dorong kamu, mugngkin kamu kepeleset dan kebetulan mereka ada di sana." ucap Rendi, sepertinya saat ini Rendi sedang ingin menutupi perbuatan Sherin, entah apa yang dia inginkan sebenarnya.


Mata Roman melihat pada Rona dan Darren bergantian.


  "Darren nggak bohong Om, dia emang sempat bilang sama Darren kalau Rona di dorong ke sungai." kata Darren mencoba menerangkan dan Rona pun turut membantunya berbicara pada sang Papah.


  "Jadi lu nuduh gue yang bohong Ren?" Rendi mengerutkan keningnya.


  "Gue nggak nuduh, tapi kenyataannya lu emang ngomong kalau lu lihat Sherin dorong Rona!" emosi Darren sepertinya sudah semakin memuncak mendengar Rendi yang terus saja berkata hal berbeda dari apa yang sudah dia katakan pada Darren sebelumnya.


  Bahkan sekarang ini Darren sudah berdiri seolah sangat siap untuk melayangkan pukulannya pada Rendi yang malah bersikap sangat tenang.


  "Duduk Darren!" tegas Roman.


   "Emosian banget lu, nggak puas apa lu mukulin Bimo." sindir Rendi pada Darren yang sudah kembali duduk.


  "Kamu berkelahi?" tanya Roman pada Darren. Darren hanya bisa menunduk dan itu membuat Roman menarik napas berat.


  "Adit sukses nurunin semua sifatnya ke kamu." tutur Roman pelan.


  "Itu Bimo juga sih yang keterlaluan juga, mulutnya tuh nggak bisa di saring kalau ngatain orang." lanjut Rendi yang mulai membuat Darren mengerti apa yang ingin dilakukan oleh temannya itu.


  "Tutup mulut lu!" kata Darren tajam namun sepertinya Rendi tidak mau perduli terbukti mulutnya yang sudah siap untuk kembali berkata.


  "Mau Darren dan Rona tidur satu tenda juga kan nggak masalah, toh si Bimo juga udah sering tidur sama cewek, kayak baru lihat orang anak muda zaman sekarang aja." cerocos Rendi yang membuat Darren sontak menyerangnya tanpa ampun, memukuli seluruh wajah serta tubuhnya bertubi-tubi tidak menghiraukan teriakan dari Rona juga calon Ibu mertuanya.


 "BERHENTI DARREN!" bentak Roman seraya menarik Darren menjauh.

__ADS_1


  "Kenapa lu marah sama gue Ren? gue kan cuma ngomong apa yang gue ketahui, semalam lu sama Rona tidur berdua kan? itu kenyataannya kenapa lu mesti marah? oh atau jangan-jangan lu takut kalau orang tua Rona tau pergaulan lu tuh bebas banget." Rendi semakin memancing kemarahan Darren.


  "Kak Rendi cukup!" seru Rona yang tidak sanggup mendengar Rendi terus saja mengoceh membuat Darren terlihat sangat buruk di depan Papah dan Mamahnya.


" Roman mendudukkan Darren dengan kasar ke atas sofa.


  "Sebaiknya kamu pulang sekarang." kali ini berkata pada Rendi yang tengah merapikan bajunya lalu mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


 "Sebaiknya Om jangan terlalu percaya pada dia, saya pamit Om." kata Rendi seraya tersenyum sinis saat melihat Darren.


  "Kamu masuk ke kamar." berucap pada Rona.


  "Tapi Pah, Rona bisa jelasin sama Papah."


  "MASUK!" bentak Roman dengan suara yang menggelegar.


  "Masuk Na." pinta Darren pada Rona yang masih saja tidak bergeming bahkan setelah mendengar suara sang Papah yang sangat kencang menyiratkan betapa marahnya dia saat ini.


  Tania yang juga jadis pusing menyaksikan suasana tegang di rumahnya itupun membawa paksa Rona ke dalam kamar.


  "Kak Darren nggak salah Mah, Rona yang paksa Kak Darren buat tidur sama Rona." ucap Rona sambil berjalan, ucapannya itupun juga di dengar oleh Roman, sungguh membuat Roman sangat marah dengan cepat dia menarik tangan Rona dan PLAK satu tamparan sukses mendarat di pipi sang anak.


  "PAH!" bentak Tania pada suaminya dan Darren pun segera berlari kearah mereka.


 "Rona nggak salah Om, ini salah Darren, pukul Darren aja Om jangan Ron." berdiri di depan Rona yang tengah memegangi pipinya.


  "Tunggu Ayahmu datang, lihat saja akan semurka apa dia dengan kelakuan anaknya!' kata Roman tajam seraya masuk ke dalam kamarnya meninggalkan mereka dengan suara tangisan anaknya yang mulai terdengar.


  ******

__ADS_1


__ADS_2