Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 34


__ADS_3

Aditya dan Roman sudah duduk berhadapan di ruang tamu dengan wajah yang keduanya terlihat menegang sepertinya sekarang ini mereka sedang melakukan perang batin lewat tatapan kedua lelaki itu yang di saksikan oleh Darren serta Tania yang sejak tadi mendekap erat putrinya yang masih saja menangis tersedu pemandangan yang sungguh tidak ingin Darren lihat selama hidupnya, gadis yang dia cintai menangis dan itupun karena dirinya.


"Sebaiknya lu tanya sendiri sama anak lu itu, apa yang sudah dia perbuat." Roman membuka mulut mulai mengutarakan apa yang ingin dia bicarakan kepada sang sahabat.


Mendengar perkataan dari temannya itu sontak Aditya menoleh pada sang anak yang duduk tak jauh darinya, menatap dengan raut wajah tak mengerti sebab memang Roman belum menerangkan padanya apa yang tengah terjadi, hanya memintanya untuk segera datang bahkan begitu tiba dari luar kota Aditya pun langsung menuju rumah temannya itu tanpa pulang lebih dulu dan hanya menghubungi istrinya lewat sambungan telepon agar wanita itu tidak khawatir.


Dan sekarang dia malah di kejutkan dengan adanya sang anak di rumah temannya itu juga Rona yang terlihat masih menangis meski tanpa suara, pemandangan yang membuatnya makin bingung sebab tak biasanya Roman membiarkan saja anaknya itu menangis.


"Darren." berseru pelan ketika anaknya tak juga berbicara.


"Maafin Darren Ayah." kata Darren yang mengerutkan kening lelaki yang selama ini sangat dia hormati.


"Kamu seorang laki-laki Darren, berbicara yang jelas katakan apa yang terjadi dan tatap orang yang kamu ajak bicara." nasihat Aditya untuk sang anak yang dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi saat ini.


"Katakan pada Ayah apa yang terjadi, lalu kenapa kalian ada di sini? bukankah kalian camping selama 4 hari?" tanya Aditya menatap sang anak yang sudah mengangkat wajahnya.


"Darren."


"Kak." Rona mencegah Darren untuk melanjutkan perkataannya karena ia takut Darren pun akan mengalami hal yang sama seperti dirinya atau justru malah lebih menyakitkan di banding yang ia rasakan.


Darren menoleh pada Rona lalu mengangguk samar seraya tersenyum tipis seakan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Rona pun tak kuasa untuk kembali menangis di dalam dekapan sang Mamah yang senantiasa memeluknya erat berusaha meyakinkan kalau tidak akan terjadi apapun pada Darren.


"Percaya sama Darren Na." tutur Tania.

__ADS_1


Mata Aditya bergantian menatap pada anaknya lalu kemudian pada Rona yang malah semakin mencurahkan air mata.


"Katakan." pinta Aditya tegas bercampur ketenangan yang malah semakin membuat Rona tegang, dia saja yang bukan anak dari Aditya tau bagaimana sifat Ayah dari lelaki yang ia cintai itu jika sedang marah apalagi bercampur dengan kecewa, dan sekarang jelas lelaki itu akan kecewa pada apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


Kekecewaan yang pasti semua orang tua dimana pun akan merasakannya jika anak mereka melakukan perbuatan yang di larang oleh agama yang mereka anut, meski mereka belum sempat melakukannya tapi tidur dengan lawan jenis bahkan sampai melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang pun sungguh perbuatan yang dosa.


"Darren tidur satu tenda sama Rona dan Darren juga udah lihat semua tubuh Rona." ucap Darren dengan suara yang lantang dan tanpa terjeda sedikitpun, berkata tegas agar sang Ayah bisa mendengar apa yang dia ucapkan.


Mendengar perkataan anaknya itu raut wajah Aditya pun sontak berubah yang tadinya tenang menjadi sangat marah dengan rahang yang mengeras juga mata yang memerah.


Aditya bangkit dari duduknya lalu membungkuk di depan sang anak dengan tangannya yang menarik sweater yang pemuda itu gunakan.


"Katakan sekali lagi apa yang sudah kamu lakukan!?" bertanya tegas dengan mata yang sangat tajam.


"Darren yang salah Ayah, Rona nggak salah, harusnya sebagai seorang laki-laki Darren melindungi Rona bukan malah mengambil kesempatan." tutur Darren menataap sang Ayah yang masih saja mencengkeram sweater yang dia pakai dengan sangat kencang bahkan sampai membuat tangannya memerah.


Melihat kedua anak muda itu yang saling membela membuat Aditya menarik napas panjang lalu melepaskan tangannya dari sang anak.


"Pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu perbuat." kata Aditya dingin dengan segurat emosi yang masih tergambar jelas di wajahnya.


Rona terlihat tenang kala Aditya tidak melakukan apapun pada Darren, dan kini hanya mesikan sedikit suara iasaknya saja.


"Man." panggil Aditya pada sang sahabat yang  duduk di depannya.


Roman menatap Aditya dengan tatapan yang sangat serius.

__ADS_1


"Besok gue dan Rianti akan datang ke sini buat lamar Rona." tukas Aditya pelan menahan kemarahan yang sebenarnya masih mengumpul di dalam dadanya.


Roman hanya mengangguk saja menyetujui apa yang memang harus segera mereka lakukan sebelum terjadi hal makin membuat nama mereka tercoreng karena ulah dua anak manusia yang tengah di rasuki gelora asmara yang mungkin akan semakin menggila jika tidak segera mereka cari solusinya, hingga akhirya solusi yang paling baik memang menikahkan mereka sesegera mungkin.


Aditya mengajak anaknya untuk pulang ke rumah dengan Aditya lah yang membawa mobil, karena tadi begitu melihat mobil Darren di halaman rumah Roman, Aditya langsung meminta Johan untuk pulang lebih dulu dengan membawa mobilnya, Darren duduk di samping Ayahnya dengan sejuta perasaan bersalah.


Dia memang sudah mendapatkan pekerjaan di tempat temannya dan rencananya akan mulai bekerja setelah pulang dari camping guna membuktikan pada sang Ayah juga Ibu dan Kakaknya bahwa dia sangat bersungguh-sungguh untuk menikah dengan Rona.


"Nanti kamu kerja di kantor Ayah aja." Aditya memulai pembicaraan ketika sudah setengah perjalanan.


"Darren sudah dapat pekerjaan Ayah." sahut Darren.


"Dimana?" tanya Aditya penasaran.


"Cafe teman Darren."


Jawaban dari Anaknya membuat Aditya mengernyitkan keningnya.


"Cafe? dari pada kamu kerja di cafe lebih baik kamu bikin cafe sendiri Darren, kerja di cafe tidak akan cukup untuk membiayai kamu dan Rona." tegas Aditya seraya menggeleng kepalanya merasa konyol anaknya itu ingin menikahi anak gadis orang dengan bekerja di cafe yang bahkan gajinya mungkin hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.


"Ayah tidak akan membiarkan kamu membuat anak teman Ayah hidup kekurangan!" kata Aditya tajam.


Darren sudah tidak bisa berkata apapun lagi jika sudah menyangkut tentang hidup Rona yang akan dia tanggung nantinya, menurut pada sang Ayah tidaklah buruk jika itu untuk kebaikan dirinya juga.


****

__ADS_1


__ADS_2