Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 55


__ADS_3

"Lu mah kurang kerjaan dah Dit!" omel Roman yang tengah mengobati luka di bagian wajah temannya itu, yang sebelumnya menghubungi dirinya dan meminta datang dengan membawa obat-obatan.


"dimana kurang kerjaannya?" tanyanya seraya melihat Roman tengah membersihkan luka di bagian sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.


Mereka berdua sekarang tengah berada di dalam hotel, persis seperti orang yang kurang kerjaan, benar seperti yang di katakan oleh Roman


Mereka berdua punya rumah namun malah lebih memilih hotel untuk bertemu dan mengobati luka , apa lagi alasannya kalau bukan tidak ingin di ketahui oleh istri dari Aditya Erlangga, karena jika sampai sang istri tahu, bukan telinga Aditya saja yang akan berdengung merasakan omelan Rianti akan tetapi Roman pun di pastikan akan mengalami hal yang sama.


Roman juga akan terkena omelan Rianti karena sebelumnya sudah membantu Aditya membohongi Rianti kala istri dari temannya itu menghubunginya menanyakan apakah benar mereka pergi ke bengkel.


"Ya lu ngapain ngeladenin orang edan macem si Imran itu. malah ngajak ketemu di sini lagi, macem selingkuhan aja gue!" kata Roman seiring tangannya yang sedang menyiapkan kapas dan cairan obat merah


"Jangan di pakein ini Man" Aditya menolak saat Roman akan mengoleskan nya ke luka Aditya


"Lah aneh di obatin nggak mau" sungut Roman


"Bukan nggak mau Man, nanti ada bekasnya malah ketahuan sama Rianti." ucap Aditya


"Lu masih takut sama bini aja laganya udah kayak jagoan!" malah di katai oleh Roman yang terlihat geregetan dengan lelaki di depannya ini


"Bukan takut, cuma nggak mau dia khawatir aja." beralasan yang di sambut dengan cebikkan dari Roman


"Tadi dia telepon elu nggak?" tanya Aditya kemudian


"Iya, dan gue yakin istri lu seratus persen nggak percaya." sahut Roman


Aditya mengerutkan kening tak mengerti


"Ya enggak percayalah dia, elu ke bengkel buat servis mobil sendiri aja nggak pernah, masa tiba-tiba tanpa ujan geledek elu nganterin gye ke bengkel, kan nggak masuk di akal." ucap Roman membuat Aditya berpikir dan mendadak ragu dengan alasan bengkel yang ia berikan pada sang istri, sebab selama ini yang istrinya tahu ia memang tidak pernah membawa mobil ke bengkel sendiri, selalu Johan atau bahkan sopir kantor yang ia suruh.


"Nah mikir kan lu." tukas Roman


"Sakit Man!!!" sentak Aditya kala tangan Roman dengan begitu sengaja nya menekan memar di pipi Aditya akibat tonjok kan yang di berikan Imran


"Udah lah tangan lu diem aja" menjauhkan wajahnya dari tangan Roman


Roman menghentikan gerakan tangannya lalu beralih mengambil obat penghilang sakit yang tak lupa ia bawa dan memberikan pada Aditya untuk di minum.


"Lu babak belur begini, nih cunguk nasibnya gimana?" tanya Roman curiga, jika Aditya saja sampai babak belur seperti ini , bagaimana dengan Imran yang berhadapan dengannya saja tempo hari sudah tak berdaya, apalagi berhadapan dengan Aditya bisa di pastikan separuh dari nyawa Imran mungkin sudah pergi meninggalkannya


"Berkunjung ke rumah sakit, masih untung nggak mati" Aditya menjawab dengan santai dan tenangnya.


Mata Roman terpicing curiga


"Anak orang lu bikin mati?" tanya Roman lagi

__ADS_1


Aditya berniat menonjok Roman tapi untung temannya itu sigap menghindar


"Gua bilang masuk rumah sakit, bukan masuk tanah!!" membentak Roman sebab dirinya kadung di buat emosi


Roman menarik napas lega


"Paling koma." kata Aditya enteng membuat mata Roman membelalak lebar di barengi dengan mulutnya yang mulai mengomel


"Lu gila apa gimana Dit? otak lu kemana?" maki Roman


"Nih otak gue masih ada di tempatnya dan masih berada di posisi semula tanpa bergeser sedikit pun." ucap Aditya dengan tangannya yang sibuk membuka kemeja yang ia kenakan


"Lu mikir nggak,lu bakal berurusan sama polisi!!" Roman berkata cemas karena ia khawatir dengan nasib temannya apabila Imran menuntutnya nanti


"Yaelah seminggu juga sadar tuh orang." Lagi-lagi menjawab santai seolah tidak ada masalah


"Dit, lu nggak mikirin anak istri lu?"


"Ngapain bawa-bawa Rianti sama anak gue lu." tanya Aditya seraya tertawa kecil


Roman menggeleng kesal sebab temannya itu malah ngeyel


"Lu tau dari mana kalo si Imran masuk rumah sakit, kalo dia aja lu bikin koma?" tanya Roman tegang


"Ck" decak Aditya kesal karena di ajukan banyaknya pertanyaan oleh Roman


Roman menggeleng-gelengkan kepalanya tak tahu lagi harus berkata apa dengan kelakuan temannya ini, bisa-bisanya sang teman menghubungi ambulance bahkan dengan santainya menunggu sampai ambulance datang dan membawa Imran ke rumah sakit


"Santai ajalah , dia laporin gue, gue juga bakal laporin dia, ribet amat." kata Aditya menjawab pertanyaan Roman yang tadi


Flashback


Aditya sudah menunggu Imran dengan tidak sabarnya di sebuah gudang tak terpakai yang ada di pinggiran kota tempat yang sudah di tentukan oleh Imran kemarin sore


Berbagai makian keluar dari mulut Aditya karena Imran yang tak juga kunjung terlihat batang lehernya membuat emosi Aditya makin tinggi.


Aditya yang tengah duduk di atas meja dengan wajah garangnya bahkan tingkahnya itu begitu mirip seperti seorang penjahat kelas atas yang tengah menunggu musuh bebuyutannya.


Lelaki yang menggunakan kemeja dengan lengan tergulung ke atas itu lantas berdiri tegak ketika telinganya mendengar suara kendaraan berhenti di depan gudang.


Sontak saat pria yang ia tunggu muncul, Aditya yang tengah melemaskan jari-jari tangannya itu melangkah perlahan seperti menyambut.


Imran tersenyum sinis menganggap remeh lelaki yang tengah emosi di depannya akibat perbuatan yang sudah ia lakukan.


Tanpa mau menunggu Imran mengeluarkan suara Aditya lantas menyerang membabi buta meluapkan semua emosi yang sejak kemarin di tahannya.

__ADS_1


Begitupun Imran ia dengan tak mau begitu saja mengalah meski semakin kualahan meladeni Aditya yang begitu agresif menyerang dirinya, melayangkan pukulan demi pukulan seraya mulutnya terus memaki teman sekolahnya dulu yang sudah begitu beraninya ingin mendekati ibu dari anak-anak nya.


"Gue tau siapa elu Imraan, perbuatan apa yang sudah elu lakukan! bahkan perusahaan tempat terakhir lu kerja sampai akhirnya lu di pecat!!" Aditya memojokkan Imran di tembok serta menahan lehernya dengan lengan tak membiarkan lelaki itu lepas.


"Haha, apa?" Imran malah tertawa mengejek


Melihat itu Aditya makin kesal


"Lu ganggu istri gue, tamat riwayat lu!!" ancam Aditya


"Istri lu terlalu menarik buat di acuhkan." menjawab dengan senyuman seperti sengaja memancing emosi dari Aditya


Dan benar saja jawaban Imran itu bagaikan sulutan api yang membuat Aditya terbakar, kepalan tangannya ia layangkan kembali ke wajah Imran tak perduli meski wajah pria itu sudah berlumuran dengan darah, bahkan bengkak di bagian matanya.


"Lu mau main-main sama gue? haaa? lu mau main-main sama gue?" berteriak berulang kali dengan kata-kata yang sama


Sedang Imran berusaha melawan dengan sekuat tenaga yang tersisa , melayangkan pukulan demi pukulan meski pukulannya itu tak berarti apa-apa bagi seorang Aditya yang sudah di selimuti oleh emosi.


"Gue bakal buat elu di penjara dan gue pastikan saat elu menghuni sel, istri lu sudah jadi milik gue" kata Imran


Mata Aditya seperti menyala mendengar ancaman yang di katakan Imran.


Aditya melotot tajam dengan rahang yang beradu memberikan suara bergemeretakan


"Laporin, gue juga nggak bakal tinggal diam, lu tau siapa gue Ran. gue nggak pernah ngelakuin hal yang akhirnya merugikan gue bahkan keluarga gue!" Aditya berkata yakin


"Maksud lu?!" tanya Imran masih tak tahu dengan apa yang sedang di katakan oleh Aditya


"Perusahaan tempat lu bekerja dan akhirnya di pecat, adalah anak perusahaan gue!" ujar Aditya merasa menang melihat wajah babak belur Imran yang kini tak berkutik mendengar pernyataannya


"Lu di pecat karena korupsi,dan siapa yang biarin lu melenggang begitu saja tanpa masuk ketahanan kalau bukan gue!!" lanjut Aditya


"Elu korupsi di salah satu perusahaan gue!!!!" bentak Aditya seraya membenturkan kepala Imran ke tembok lalu membanting nya ke lantai yang sudah begitu kotornya oleh debu


Imran diam , merasa heran bagaimana mungkin selama ini ia bekerja di anak perusahaan Aditya begitu lama namun ia tak pernah tahu Aditya lah sang pemilik nya.


"Satu lagi, elu jadi DPO polisi kan, karena tabrak lari hingga meninggal, benar bukan??" Aditya membongkar semua perbuatan Imran sambil mencengkeram kerah baju lelaki yang ia duduki


"Berengsek!!" Imran memaki merasa tak bisa menjebloskan Aditya ke dalam penjara


Aditya tertawa sinis melihat Imran yang tak berdaya itu


" Sekarang gue cuma mau bikin lu tidur di rumah sakit dengan tenang, tapi kalo lu ngusik istri gue lagi, gue sendiri yang bakal gali kuburan buat mendem lu!!!" sentak Aditya seraya melayangkan tinjunya ke wajah Imran berulang kali hingga akhirnya Imran tak sadar di buatnya..


Aditya bangkit sambil membetulkan pakaiannya lalu mengambil ponsel dan menghubungi rumah sakit..

__ADS_1


Flashback off


********


__ADS_2