Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 73


__ADS_3

Malam hari Rama sudah tampak bersiap untuk keluar rumah menemui seorang wanita yang akhir-akhir ini mengisi hatinya bahkan saat dirinya berada jauh di Singapura pun mereka terus berkomunikasi bahkan tak jarang saling berkirim foto dan menceritakan kegiatan mereka masing-masing.


Rama melangkah dengan yakin keluar kamar setelah memastikan penampilannya sudah sangat rapi untuk bertemu dengan wanitanya malam ini.


Mobil yang dikendarainya melaju di jalanan kota yang masih tampak becek akibat guyuran hujan pada sore hati tadi.


Ban mobil berhenti berputar ketika Rama menginjak rem sesaat setelah sampai di sebuah rumah yang terlihat sangat asri dengan banyaknya pepohonan yang pastinya akan sangat meneduhkan jika sedang siang hari karena hembusan angin dihasilkan daun-daunnya yang menyejukkan.


Rama turun dari mobil dan menuju teras rumah guna mengetuk pintu yang tertutup rapat.


"Assalamualaikum." mengucapkan salam dengan suara yang cukup santun.


"Wa'alaikumsalam."terdengar suara wanita yang menjawab salam nya dari dalam rumah.


Setelah salamnya mendapat jawaban Rama terlihat menunggu pintu dibuka.


"Nak Rama,mari silahkan masuk." ucap wanita bernama Anita yang adalah ibu dari wanita yang sekarang tengah menjadi kekasihnya.


Rama tersenyum seraya mencium tangan Anita dan mengikuti wanita itu untuk masuk kedalam rumah.


"Eva,ini Rama sudah datang." memanggil anaknya yang sepertinya masih berdandan di dalam kamarnya yang berada di lantai atas.


"Iyaa." Eva menjawab panggilan mamahnya dengan suara yang cukup keras membuat Rama tersenyum tipis mengetahui sikap asli dari wanita yang sudah berniat ia nikahi,karena biasanya saat mereka berbicara ditelepon suara Eva akan sangat lemah lembut di telinganya.


"Pah,ada Rama tuh diruang tamu."Anita tidak lupa memberitahukan pada sang suami yang baru saja keluar dari kamar.


Sepertinya Anita sudah sangat merestui hubungan anak gadisnya dengan Rama,terbukti dari betapa antusiasnya dia ketika melihat wajah Rama yang ada dibalik pintu ketika ia membukanya.


Rama bangun dari duduknya ketika melihat lelaki yang sudah cukup berumur berjalan ke arahnya,dan Rama pun melakukan hal sama seperti ia lakukan pada Anita yaitu mencium tangan Dani sebagai tanda hormat pada sang calon mertua.


Dani meminta Rama untuk kembali duduk karena ada yang ingin ia tanyakan dengan pemuda itu.


"Ayo kak berangkat sekarang." Eva yang baru turun sudah langsung mengajak Rama untuk pergi.


"Sebentar papah mau ngobrol dulu sama Rama." Dani berucap serius dengan tak lupa menunjukkan wibawanya sebagai seorang papah.


"Kamu juga duduk." meminta anaknya untuk duduk bersama.


Anita masuk dengan membawa nampan berisi minuman dan meletakkannya di atas meja lalu ia pun ikut duduk disebelah suaminya.


"Kapan kamu bawa orang tuamu kesini?" langsung saja menanyakan apa yang ia ingin tanyakan tanpa perlu berbasa-basi terlebih dulu.


"Papah." Eva sepertinya akan memprotes pertanyaan yang baru saja diajukan oleh papahnya itu.


Dani memberi kode agar Eva diam saja mendengarkan apa yang akan ia bicarakan.

__ADS_1


"Kalian kan sudah saling mengenal hampir setahun, tidak ada salahnya kan papah sebagai orang tua dari Eva mempertanyakan keseriusan kamu terhadap anak saya." ucap Dani seraya menatap Rama yang wajahnya terlihat tenang,tidak ada ketakutan ataupun rasa panik ketika dipertanyakan tentang keseriusannya pada seorang wanita,karena pada kenyataan dan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia memang sangat serius menjalin hubungan dengan Eva tidak ada sekalipun ia berniat buruk pada Eva atau hanya sekedar main-main saja.


Tidak, Rama bukanlah laki-laki seperti itu,ia lelaki baik hanya saja memang nasib yang seolah membuat dia menjadi laki-laki jahat yang sempat berniat untuk membuat seorang istri berpisah dengan suaminya.


"Baru 8 bulan pah." Eva memberitahu sudah berapa lama dia dan Rama berhubungan.


"Eva diam dulu dong kamu nak." Anita berkata gemas dengan sikap anak gadisnya itu.


"Kapan?" melihat Rama dan meminta pacar anaknya itu untuk memberi jawaban.


"Minggu depan Rama akan bawa keluarga Rama ke rumah ini menemui om." sahut Rama.


"Kak, tapi gimana sama kak Adit?" tanya Eva ketika mendengar jawaban Rama.


Memang hubungan mereka berdua masih belum di ketahui oleh Aditya,sebenarnya Rama sudah ingin berbicara dengan Aditya saat pertama kali ia mendekati Eva,tapi Eva malah melarangnya karena ia takut kakak tirinya itu marah dan tidak merestui hubungan mereka karena ia tahu kakaknya dan kekasihnya itu pernah terlibat masalah yang membuat mereka menjadi musuh.


Eva tahu tidak akan mudah memberitahu Aditya tentang jalinan asmara mereka berdua karena sifat Aditya yang akan terus mengingat kejadian apapun meski sudah lama berlalu.


"Masalah kakak mu biarkan saja dulu,biarkan dia mengetahuinya sendiri saat orang tua Rama datang kesini minggu depan." ucap Dani pada Eva.


"Kakakmu itu sebenarnya orang yang baik,hanya saja sedikit pendendam,jadi kita yang harus berinisiatif untuk mendekatinya." kata Dani lebih lanjut yang sangat tahu bagaimana sifat anaknya itu karena ia mengalaminya sendiri bertahun-tahun Aditya menaruh dendam dan kebencian padanya karena perbuatannya yang memang sudah sangat menyakiti hati Aditya dan juga ibunya,ia tahu perbuatan itu sangat sulit termaafkan namun seiring berjalan nya waktu dan hadirnya seorang Rianti melunakkan hati Aditya hingga akhirnya hubungan mereka pun kembali baik seperti sekarang ini.


Rama mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Dani.


"Rama ikut apa kata om saja,apa yang terbaik untuk Eva dan Rama tentunya om yang lebih tahu." sahut Rama dengan begitu sopan.


"Eva boleh berangkat sekarang kan pah?" tanya Eva pada papahnya.


"Silahkan." Dani mempersilahkan.


"Tapi pulangnya jangan malam-malam." memberi syarat pada sepasang kekasih itu.


"Iyaa." kata Eva seraya berdiri dan Rama pun melakukan hal yang sama.


Mereka berdua pergi setelah berpamitan dan sekarang sudah berada didalam mobil.


"Kak." Eva mulai membuka pembicaraan didalam mobil yang tengah berjalan tenang.


"Aapa?" Rama menjawab dengan suara yang membuta jantung Eva berdebar mendengarnya,sangat lembut persis seperti saat pertama kali mereka bertemu tidak berubah sama sekali.


"Maaf soal papahnya,aku nggak tahu kenapa papah tiba-tiba meminta kakak membawa orang tua untuk bertemu." tutur Eva dengan wajah yang tampak menyesal,karena ia takut Rama masih belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengannya.


"Papah wajar bersikap seperti itu Va,mungkin nanti kakak akan melakukan hal yang sama dengan papah saat mempunyai anak gadis." kata Rama diplomatis.


"Tidak ada orang tua mana pun yang ingin melihat anaknya hanya berhubungan tak jelas dengan lelaki tanpa kepastian bukan?" lanjut Rama lagi-lagi dengan nada suara yang begitu merdu dan sopan membuat Eva makin hanyut dalam cinta yang ia rasakan sekarang ini.

__ADS_1


"Tapi gimana dengan kak Adit?" memikirkan kakak tirinya.


"Kamu tenang aja ya." kata Rama seraya menyentuh rambut Eva dan mengelus nya perlahan.


"Kemarin malam aku bertemu dengan Aditya, sikapnya sudah jauh lebih baik daripada yang dulu."


"Dimana? kok kakak nggak bilang sama aku." tanya Eva dengan kedua mata yang membulat sempurna.


"Di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?kak Rianti atau keponakan aku?" Eva terlihat panik.


Rama menggeleng cepat.


"Bukan mereka."


Eva menarik napas lega saat kekhawatirannya tidak terbukti.


"Adik ipar Roman, kamu kenal kan?"


"Sama kak Roman aku kenal,tapi kalau adik iparnya aku tidak." menggeleng pelan.


"Aku sudah kasih tahu sama kamu kan kenapa kemarin kita tidak jadi bertemu."


"Iya, karena kamu harus membawa seorang wanita yang pingsan ditengah jalan."ucap Eva mengatakan apa yang kemarin diberitahu oleh Rama lewat pesan.


" Itu adik ipar Roman."


"Ooh."Eva hanya mengeluarkan kata oh saja.


" Sudah kita tidak usah membicarakan orang lain,mulai sekarang kita persiapkan saja pernikahan kita."


"Loh kok nikah?"


"Iya nikah memangnya orang tua aku mau ngapain datang kalau bukan untuk merencanakan pernikahan kita." Rama berkata serius pada Eva yang sepertinya kaget dengan keseriusan yang makin di buktikan oleh kekasihnya itu.


Sungguh Eva tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ia akan menjalin hubungan yang serius dengan seorang lelaki bernama Rama.


Padahal sebelumnya ia pernah berhubungan cukup lama dengan seorang lelaki yang ternyata tidak berjodoh dengannya,karena lelaki itu yang tiba-tiba memutuskan hubungannya begitu saja tanpa alasan apapun.


Tapi ternyata hubungan yang kandas ditengah jalan itu menjadikan ia bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar baik.


Sungguh Eva berulang kali mengucap syukur pada sang Pencipta karena berbaik hati padanya mengirimkan seorang lelaki ditengah dirinya yang merasakan kecewa.


Eva terus menatap Rama dengan segaris senyuman di bibirnya.

__ADS_1


****************


__ADS_2