Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 16


__ADS_3

Kini Darren dan Rona sudah pergi berdua menuju cafe dengan motor matic milik Rona yang tentunya sudah lebih dulu meminta ijin pada calon mertuanya untuk membawa Rona keluar.


Darren yang memang tidak membawa kendaraan terlihat sangat lucu kala membawa motor milik Rona, sebenarnya tadi Roman sudah menawarkan untuk membawa mobilnya saja, tapi Rona yang malah menolak, sudah pasti dengan alasan yang tak jelas padahal sebenarnya ia ingin mengulangi keromantisan saat menaiki motor dengan Darren tempo hari.


Namun Darren malah menghentikan motor matic itu di sebuah taman.


"Kok malah ke sini?" bingung Rona, karena memang tadi Darren mengatakan akan mengajaknya ke cafe tapi pada kenyataannya malah ke sebuah taman yang biasa di datangi oleh orang yang ingin berpacaran atau hanya sekedar ngobrol saja dengan teman-teman mereka.


Tentunya dengan suasana taman yang memang memberikan pemandangan yang bagus dengan bonus udara yang cukup segar karena di kelilingi oleh pepohonan yang bau harum dari daun serta bunga yang mulai tumbuh akan menyerusup ke dalam indera penciuman siapa saja yang berada di tempat itu.


"Aku mau ngomong serius sama kamu." kata Darren yang sudah mencabut kunci motor dan berjalan duluan menuju bangku kosong di bawah pohon membuat Rona mau tidak mau mengikutinya lalu ikut duduk di samping lelaki berwajah di atas rata-rata itu.


"Kenapa Kak? Kakak marah sama Rona?" tanya wanita yang sekarang sudah semakin dewasa di mata Darren itu semenjak dia menciumnya.


"Sedikit." ungkap Darren.


"Walau pun sedikit tetap saja itu namanya Kakak marah." oceh Rona.


Darren mengangkat sudut bibirnya mendengar penuturan Rona, wanita yang di depan kedua orang tuanya dengan lancar membuka semua apa yang mereka lakukan sungguh membuatnya ingin marah tapi tidak bisa, sebab dia sangat menyayangi wanita di sampingnya itu dengan segala kepolosan dan kebocorannya saat berucap.


"Na." Panggil Darren akhirnya.


"Ya." sahut Rona menatap wajah Darren dari samping yang menampakkan rahang tegasnya sebagai seorang laki-laki.


"Kenapa sih mulut kamu itu kalau udah ngomong nggak bisa di rem, semua yang kita lakuin kamu omongin." protes Darren pelan namun membuat Rona sadar akan kesalahannya itu.


"Maaf Kak, Rona nggak sengaja." sahut Rona dengan suara yang sangat menyesal.


Rona memang tidak berniat untuk mengatakan semua yang mereka lakukan kepada orang tuanya juga orang tua calon suaminya itu, tapi semua itu keluar begitu saja saat ia mendengar bahwa Darren akan menikah dengan ia tidak tahu bahwa Darren ingin menikah dengannya.


Sungguh ia tidak sengaja melakukan hal itu, ia terlanjur kesal hingga mulutnya dengan lancar mengeluarkan ocehannya.


Darren menarik napas panjang.


"Jangan kayak gitu lagi ya, akunya susah kalau mau ngapa-ngapain kamu nantinya." ucap Darren sambil menunjukkan senyum menyebalkan.


"Asal Kakak nikahnya sama aku, aku nggak bakal keceplosan ngomong lagi." janji Rona.


"Memangnya tadi kamu pikir Kakak mau nikah sama siapa?" tanya Darren dengan tatapan meledek.


"Ngaco banget pikirannya." sambung Darren mencibir.

__ADS_1


"Abis Ayah kamu ngomongnya setengah-setengah." Rona membela diri.


Darren menjitak kepala Rona.


"Kamu nya sendiri yang nggak mau dengerin Ayah selesai ngomong, main nyerocos aja." omel Darren.


"Emosi Kak, masa calon suami aku mau nikah."


"Emosi aja di gedein." sekarang mengacak rambut Rona yang di biarkan tergerai dengan Kilauan karena di terpa sinar rembulan di langit.


"Darren." terdengar suara dari sebelah kanan tempat Darren dan Rona duduk.


Kompak keduanya pun menoleh melihat dua orang lelaki yang sudah pasti adalah teman Darren jika bukan teman kuliahnya sudah pasti teman satu komplek yang juga tengah berada di tempat yang sama.


"Siapa Kak?" tanya Rona yang tidak mengenal dua orang yang sekarang sedang berjalan menuju mereka.


"Temannya Rendi." sahut Darren.


"Ooh." tanggapan Rona yang memang masih ingat dengan lelaki yang barusan di sebut oleh Darren.


"Ingat, jangan panggil aku Kakak." dengan tegasnya memperingatkan.


Rona mengangguk seolah mengerti apa yang di minta oleh lelaki yang kini sudah berdiri dan tengah mengobrol dengan dua orang lelaki itu membicarakan camping yang akan sebentar lagi.


"Bang." Rona berdiri mengahampiri Darren.


Sontak saja panggilan Rona itu membuat Darren kaget bukan main apalagi saat mendengar kedua temannya yang memang belum pernah bertemu dengan Rona bertanya padanya.


"Adik lu? lu punya Adik cantik begini nggak bilang-bilang Ren." seru kedua lelaki itu dengan kompak dan segera saja minta di kenalkan oleh Darren.


Bagaimana tanggapan Darren sekarang? sudah pasti sangat kesal lebih lagi dengan polosnya Rona malah mengumbar senyum.


"Teman-teman Kakak ganteng semua." bisik Rona yang membuat mata Darren mendelik penuh ancaman.


"Gue pulang duluan ya." Darren berkata pada kedua temannya seraya langsung menarik tangan Rona menjauh dari dua temannya yang sudah mengulurkan tangan mengajak berkenalan.


Kedua lelaki itu saling memandang bingung hingga kemudian mengedikkan bahunya.


"Kita mau pulang?" tanya Rona dengan raut wajah tanpa bersalah sedikitpun.


"Kenapa panggil aku Abang?" tanya Darren sengit.

__ADS_1


"Tadi kan katanya nggak boleh panggil Kakak." sahut Rona bingung.


"Terus kenapa malah panggil Abang?"


"Lagian Kakak nggak kasih tahu harus panggil apa, di panggil Mas nggak mau, Rona nya yang bingung jadinya." celoteh Rona.


"Ya jangan panggil Abang juga Rona, emangnya kamu pikir aku ini Abang tukang ojek." dengus Darren dengan tingkat kekesalan yang sudah di atas normal itu.


"Terus panggil apa Kakaaaak?" Rona jadi ikutan gemas merasa semua yang dilakukannya serba salah di mata Darren.


"Panggil sayang Rona, sayang!" sahut Darren dengan sangat tajam dan lantangnya membuat mata Rona membesar dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan.



"Nggak usah sok kaget." ketus Darren seraya menjalankan motor.


"Kenapa nggak bilang dari kemarin kalau mau di panggil sayang, nggak usah pake bilang terserah-terserah terus." Rona tersenyum meledek sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang lelaki yang tengah merengut kesal.


"Kamu nya yang nggak peka." ketus Darren.


"Rona kan nggak ngerti." sahut Rona membela diri.


"Udah ciuman masa kayak gitu nggak ngerti." gerutu Darren yang membuat wanita di boncengannya itu mencubit pinggangnya mendengar omongannya yang membahas soal ciuman mereka.


"Aku boleh cium kamu lagi Nggak?" tanya Darren yang ternyata pembicaraan soal ciuman malah membuatnya ingin kembali melakukan hal itu dengan Rona.



"Iiissshh, apaan sih." Rina terpekik malu.


"Boleh nggak?" tanya Darren lagi.


Rona mengangguk yang sudah jelas tidak akan bisa di lihat oleh Darren karena sekarang dia tengah menyetir motor.


"Na." Panggil Darren.


"Boleh." menjawab pelan.


"Nggak jadi deh, nanti kamu ngadu lagi." kata Darren yang memang hanya berniat mengerjai Rona saja.


"Ngeselin." seru Rona yang membuat Darren tertawa kencang mendengarnya.

__ADS_1


****


__ADS_2