
"Tindakan lu tuh kriminal tau nggak Sher!" bentak Angga setelah mendengar apa yang Rendi ceritakan tentang apa yang dilakukan Sherin terhadap Rona.
"Gue nggak sengaja." sahut Sherin mengelak padahal Rendi melihat dengan jelas Sherin tersenyum kala Rona terpeleset ke sungai.
"Iya Sherin emang nggak sengaja kok, tuh cewek aja yang kepeleset sendiri." timpal Nella yang memang tak pernah mau meyebut nama Rona, entah ada masalah apa sebenarnya Nella itu terhadap Rona.
"Alah, lu kan temannya Sherin Nel udah pasti lu bakal belain dia. gue rasa kalau dia pacaran sama Bimo juga bakal lu dukung kali." cibir Rendi dengan sudut bibir yang terangkat.
"Kok lu jadi bawa-bawa Bimo! Bimo tuh nggak akan mau sama cewek lain." sentak Nella tak terima jika Rendi malah mengatakan hal seperti itu yang sangat jelas untuk urusan Bimo dia tidak akan pernah mengijinkan wanita manapun untuk mendekati kekasihnya itu.
Rendi tertawa sinis karena dia sangat tau apa yang di lakukan Bimo tanpa sepengetahuan Nella.
"Maksud lu apa?!" Bimo menghampiri Rendi saat mendengar pernyataan temannya itu barusan yang malah menyebut namanya, padahal tadi Rendi sangat mendukungnya saat dia berkelahi dengan Darren, tapi sekarang ini sikap Rendi berbanding terbalik dengan yang tadi, seakan sengaja menyerang dirinya.
Rendi dengan acuhnya mengedikkan bahu lalu masuk ke dalam tendanya dan tak lama kembali keluar dengan ransel yang sudah berada di punggungnya.
"Lu mau kemana Rendi?" tanya Angga yang sejak tadi mencoba untuk menghentikan pertikaian yang ada, padahal dia hanya ingin memperingatkan Sherin tapi kenapa yang lain malah pada ikut ribut.
"Pulang gue, nggak guna juga camping kayak gini." ketus Rendi seraya berjalan dengan diiringi tatapan mata teman-temannya.
Rendi berhenti di depan Sherin lalu berkata tajam.
"Lu hati-hati aja sama Darren, gue yakin sebenarnya tadi dia sangat ingin menghajar lu, tapi karena lu perempuan dia nggak mungkin lakuin itu. gue yakin kalau lu laki pasti nasib lu juga sama kayak si Bimo." ketus Rendi pada Sherin yang mendelik marah mendengar ucapan playboy Rendi yang sepertinya memiliki dendam pribadi terhadapnya.
Angga menarik napas panjang menatap Rendi yang sudah berlalu.
"Kayaknya kita juga mesti akhiri camping ini Per." ucap Angga pada Permana yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja, tidak mau membuka mulutnya karena sepertinya sudah capek berbicara dengan Sherin dan Nella yang tidak pernah mau mengalah bahkan selalu merasa benar dengan segala tindakan gilanya.
"Loh kok gitu." Ayu sedikit protes dengan keputusan yang di ambil oleh Angga.
"Mau ngapain lagi di sini? 3 orang udah pulang. niat kita ke sini tuh buat camping cari suasana damai, ini malah pada ribut." ketus Angga pada Ayu.
__ADS_1
"Yang udah pulang ya biarin aja, kita lanjut camping nya lah." sahut Ayu masih saja tidak mau mengikuti apa yang di katakan Angga sebagai pemimpin dalam acara camping itu.
"Kalau gitu lu aja yang terusin camping di sini, gue mah mau pulang. tuh kali aja temen lu mau nemenin di sini." Permana ikut bicara karena sudah sangat kesal masih ada saja yang ingin meneruskan camping yang sudah kacau itu.
"Yang mau tetap di sini silahkan, dan yang mau ikut pulang sama gue dan Permana silahkan rapihkan tenda dan barang-barang kalian, kita akan segera pulang mumpung belum terlalu sore." ucap Angga tegas membuat yang lain pun langsung bergerak untuk membereskan barang-barang mereka.
Sedangkan Ayu terus bersungut-sungut memaki dan menyalahkan Rona yang sudah membuat kacau acara mereka.
****
Mobil Darren berhenti saat lampu merah menyala.
Lelaki itu meregangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal setelah beberapa jam mengemudikan mobil, di sampingnya Rona tampak tengah memejamkan matanya dengan hembusan napas yang terdengar sangat cepat.
"Na." Darren yang curiga mencoba untuk memanggilnya namun gadis di sebelahnya seperti sangat pulas hingga tidak bergerak sedikitpun.
Kedua alis Darren saling bertaut dengan tangannya yang kini sudah menyentuh kening Rona betapa terkejutnya lelaki itu kala mendapati tubuh Rona sangat panas.
"Astaga Rona." pekik Darren lalu ketika lampu sudah berwarna hijau segera saja dia melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit atau klinik yang bisa segera menangani Rona dengan suhu tubuh yang tinggi.
Sepertinya gadis itu demam setelah tercebur di sungai tadi pagi.
Sesekali Darren menatap Rona sambil mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan sebab tangan yang satunya dia gunakan untuk menggenggam tangan Rona yang juga terasa panas, sangat panas seperti tengah menggenggam bara yang menyala.
__ADS_1
Kepanikan tergambar jelas di wajah Darren saat ini dan ketika matanya melihat sebuah klinik di pinggir jalan dia pun langsung menghentikan mobilnya tiba-tiba lalu turun dengan menggendong tubuh Rona dan membawanya masuk ke dalam klinik yang untungnya tidak ada pasien lain jadi Rona pun bisa di tangani dengan cepat.
Darren menunggu Rona yang tengah di tangani oleh seorang Dokter wanita dan seorang perawat.
"Halo Om." seru Darren yang menghubungi Roman untuk memberitahukan keadaan Rona saat ini.
"Loh ada sinyal?" tanya Roman yang malah mengira bahwa Darren masih berada di tempat camping.
"Darren udah di kota Om, sekarang lagi di klinik." jawab Darren.
"Di kota? klinik?" dahi Roman mengernyit tak mengerti, kenapa Darren mengatakan ada di kota dan klinik padahal rencananya mereka baru akan pulang setelah 4 hari camping.
"Iya, Rona badannya panas Om." sahut Darren dengan suara yang panik dan terdengar jelas di telinga Roman.
Roman yang sedang ada di rumah sakit pun sangat terkejut mendengar perkataan calon menantunya itu.
"Klinik mana?" tanya Roman seraya beranjak dari duduknya.
"Darren sharelok sekarang Om." kata Darren lalu mematikan telepon dan segera mengirimkan posisi di mana dia dan Rona berada sekarang.
Begitu menerima lokasi dari Darren Roman pun segera membuka jubah putihnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerjanya.
"Saya ada urusan mendadak, alihkan semua pasien pada Dokter Maya." ucap Roman pada perawatnya yang hanya bisa mengangguk dan melihat Dokternya pergi dengan cepat.
Roman sangat cemas mengetahui anak satu-satunya itu tengah berada di klinik, meskipun dia dan Rona terkadang sering berdebat tapi tetap saja sebagai orang tua dia sangat menyayangi anak gadisnya itu dengan segenap jiwa dan raga, bahkan sangat tidak rela jika anaknya terluka sedikitpun.
__ADS_1
****