Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 37


__ADS_3

"Apa kamu benar-benar sudah siap untuk menikah Darren?" tanya Roman pada pemuda yang akan menjadi suami dari anaknya itu, sebab setelah menikah Darren harus bertanggung jawab penuh atas anaknya nanti, dan sejak tadi pun ketika keluarga Aditya datang, Roman terus mengulangi pertanyaan yang sama memastikan keyakinan antara dua orang anak muda itu.


"Darren siap Om tapi.." Darren menggantung kata-katanya membuat semua mata menatap kepadanya kecuali Rona yang sejak dia datang pun tidak mau menatap, hanya sekali Darren mendapati gadis itu menatapnya namun dalam sekejap kembali menundukkan wajahnya setelah sebuah tatapan yang menyiratkan adanya keraguan tentang sebuah masa depan yang saat ini akan mereka tentukan.


"Lihatlah kemarin kamu berkata sangat tegas dan gentle mengakui apa yang sudah kamu perbuat, tapi sekarang Om menangkap adanya sebuah keraguan dari ucapan yang kamu tahan itu." tukas Roman menyindir sang calon menantu yang sekejap membungkam mulutnya.


Aditya dan Rianti serentak menatap pada sang anak dengan penuh pertanyaan, memastikan apa yang dikatakan oleh Roman tidaklah benar, karena mereka sebagai orang tua cukup kenal betul dengan pendirian anak mereka, jika sudah berkata satu hal dengan sangat serius tidak pernah sekalipun berubah pikiran apalagi untuk hal yang sangat penting seperti sekarang ini.


"Darren yakin Om bahkan sangat yakin melebihi apa yang Om, Tante serta Ayah dan Ibu pikirkan, dan Rona juga tau seyakin apa Darren padanya." tutur Darren menatap gadis yang masih senang menunduk seraya meremas seluruh jarinya.


"Tapi sepertinya saat ini Rona lah yang tidak yakin untuk menikah dengan Darren." lanjut Darren yang membuat Rona semakin menunduk dalam, benar tanpa Rona membuka mulut sekalipun Darren sudah bise menebak apa yang sekarang ada di dalam hati gadis itu.


Rona ragu dengan pernikahan antara dirinya dengan Darren, bukan karena ia tak yakin dengan lelaki yang ia cintai itu, hanya saja ia merasa belum bisa jika harus menikah di usia yang sangat muda kendati ia sebenarnya juga menginginkan pernikahan tapi tidak dalam waktu yang secepat ini.


Ini terlalu cepat, ia baru selesai menjalani ujian kelulusan sekolah dan hasilnya pun belum diumumkan, ia takut nanti malah akan merepotkan Darren sebagai suaminya untuk membiayai segala keperluannya sekalipun ia juga tau Darren pasti bisa bertanggung jawab padanya sebagai seorang suami.


Tapi ia tak tega jika nantinya Darren yang sudah lelah bekerja masih harus memikirkan tentang kuliah dan segala kesibukan tentang pelajaran yang pasti akan menguras pikiran serta tenaganya.


Pandangan mata yang tadi mengarah pada Darren sontak berpindah pada gadis yang memakai blouse berwarna muda itu.


"Rona?" seru Roman pada sang anak, tatapannya sungguh menuntut jawaban kenapa sekarang anaknya itu yang seperti ini, terlihat sangat enggan untuk menikah padahal dulu sangat bersemangat.


Rona diam menunduk tak berani menjawab apapun membuat semua yang ada di ruangan itu percaya bahwa yang dikatakan Darren memang benar.


Darren menatap Rona, raut mukanya menyiratkan sebuah kekecewaan yang mendalam.


__ADS_1


"Kalau Rona memang ragu sama Darren, tidak apa-apa Om, Darren mengerti. Darren juga tidak akan memaksa Rona untuk menikah sama Darren." ucap Darren seraya menyimpan pedihnya sendiri.



"Ayah, Ibu." Darren memanggil kedua orang tuanya yang tak bisa berkata apapun, tak ada kuasa apapun untuk memaksa dua anak muda itu untuk menikah jika salah satunya terlihat begitu ragu.



"Darren ingin kuliah di Singapura saja sama Kakak." kata Darren yang meski pelan namun perkataannya itu dapat terjangkau oleh telinga Rona yang langsung mengangkat kepala.



Darren tak menghiraukan ekspresi wajah sang gadis yang berubah menjadi gelisah setelah mendengar pernyataannya barusan.


Aditya maupun Rianti tak menjawab pernyataan sang anak, mereka hanya diam terpaku tanpa tau harus berbuat apa, sedangkan mereka datang ke rumah ini tujuannya adalah untuk membahas tentang pernikahan tapi kenapa sekarang anaknya itu malah ingin menyusul Kakaknya dan berkuliah di negeri orang.



"Man, gue pulang. sepertinya kita akan kesulitan jika menghadapi orang yang tengah kecewa." ujar Aditya kepada Roman yang mengangguk.



"Gue bakal ngomong sama Rona." ucap Roman kemudian.


Darren berpamitan pada Roman dan Tania melewati Rona begitu saja Kendari gadis itu tengah menatapnya dengan mata yang berbinar, pertanda ada buliran air mata yang siap meluncur keluar.


"Kak." lirih Rona saat Darren mengabaikannya dan berderap menjauh keluar rumah.

__ADS_1



Rona berlari mengejar Darren yang sudah masuk ke dalam mobil dan akan menutup pintu namun gadis itu menahan pintu hingga tetap terbuka.



"Rona mau bicara sama Kakak." seru Rona pada Darren yang bahkan tidak menatapnya.



"Kak." panggil Rona lagi ketika Darren abai.



"Kamu turun dan bicara sama Rona, selesaikan masalah kalian." tegas Aditya pada sang anak.


Darren menatap sang Ibu yang mengngguk setuju dengan pernyataan suaminya.


Seraya menghembuskan napas berat Darren turun dari mobil dan hanya melihat kala mobil sang Ayah kini meninggalkannya.



Darren dan Rona berdiri berhadapan di sebuah taman yang tak jauh dari rumah gadis itu, mulut keduanya masih sama-sama bungkam, Rona yang syok dengan apa yang tadi ia dengar menatap tak percaya pada lelaki di depannya, sedang Darren berdiri kaku dengan tubuh tegapnya.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2