Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
Bab 82


__ADS_3

( Akhirnya kita sampai diakhir cerita.. )


Sebulan kemudian...


Sore hari sekitar jam 15:08..


"Udah siap belum beb."Roman berteriak dari ruang tengah saat istrinya yang tak juga kunjung keluar dari dalam kamar,sedangkan sejak tadi dia sudha menunggu sang istri dengan pakaian yang terlihat rapi karena hari ini mereka akan menghadiri resepsi pernikahan Ninda.


Ya Ninda mantan kekasih Roman akhirnya menikah dengan Karza,lelaki yang selama ini wanita itu cari.


Siapa yang menyangka bukan?jika akhirnya mereka berdua memilih untuk menikah,padahal saat meminta bantuan Roman Ninda mengatakan tidak berharap untuk dinikahi oleh Karza.


alasan ia mencari Karza hanya ingin memberitahukan pada sang anak bahwa dia juga memiliki ayah seperti teman-temannya yang lain.


Namun jika pada akhirnya takdir mempersatukan mereka berdua tentunya itu suatu kebahagiaan juga bagi Roman,dan kala menerima undangan pernikahan itupun berulang kali Ninda maupun Karza mengucapkan terimakasih atas bantuannya dan tak lupa pula mereka menitipkan undangan serta ucapan yang sama pada Aditya,ketika mengetahui lelaki itu pun turut serta membantu.


Yah walaupun sebenarnya yang bekerja keras adalah Johan,bahkan ketika baru kembali dari Jerman dan memerlukan istirahat,Aditya malah kembali memberinya tugas untuk melacak keberadaan Karza.


Meskipun sebenarnya enggan tapi tetap tugas dadakan itu harus ia Terima walaupun hatinya menggerutu dengan helaan napas yang terus saja ia keluarkan saat mendengar perintah dari Aditya Erlangga.


"Taniaaa."suaranya mengencang kala istrinya itu tak juga memberikan jawaban,padahal mereka sedang diburu waktu karena acara yang hanya sampai pada jam 5sore saja.


Roman menghentakkan kakinya lalu beranjak dari duduk untuk mengecek sang istri yang masih tidak mengeluarkan suaranya.


"Kebiasaan perempuan kalau diajak ke mana-mana lama dandannya,padahal di sana juga paling cuma sebentar terus ngajak pulang."bersungut-sungut seraya melangkah cepat menuju kamar.


Diambang pintu Roman mematung ketika melihat sang istri memang sedang duduk didepan meja rias,tapi wajahnya malah menunduk entah sedang melakukan apa yang jelas wanita itu tidak sedang menghias wajahnya.


"Yank."memanggil sang istri seraya melangkah pelan.


Tania mengangkat wajahnya dan melihat Roman, wajahnya terlihat sedikit memucat.


"Kamu sakit?" tanya Roman sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Tania.


"Nggak apa-apa,ya udah yuk kita berangkat sekarang nanti acaranya keburu selesai." terburu mengambil tasnya yang sudah ia siapkan dari tadi dan berada di atas ranjang.


"Kalau sakit kita nggak usah ke sana."ucap Roman yang kini mengkhawatirkan keadaan Tania.


Tania menggeleng cepat dengan memamerkan senyuman lalu mendorong tubuh sang suami keluar dan terus seperti itu sampai kep pintu depan.


Tania mengunci pintu rumah sedangkan suaminya sudah berada di depan pintu mobil yang sudah ia buka menunggu dirinya.


Roman masuk setelah Tania sudah duduk rapi di kursi penumpang.


Ketika melihat Tania belum memasang sabuk pengaman Roman bergerak untuk memakaikannya.


"Nggak usah pakai A."tolak Tania.


"Kan harus pakai yank,bahaya kita lumayan jauh loh ini."bujuk Roman ketika sang istri menolak memakai sabuk pengaman.


"Perut aku ke tekan ini,sesak."mengusap perutnya yang memang sudah sangat besar itu.


Roman tetap memakaikan sabuk pengaman pada sang istri,namun memastikan agar Tania tetap merasa nyaman dan tidak merasakan sesak karena sabuk yang melingkari tubuhnya.


Tania pasrah saja melihat suaminya yang memakaikan sabuk pengaman karena ia tak lagi bisa menolak karena itu memang hal yang sudah seharusnya dilakukan saat menaiki mobil.


"Nyaman?" tanya Roman kepada Tania.


"Lumayan."ucap Tania seraya meringis,entah merasakan apa tapi nyatanya Roman tidak sadar akan ekspresi wajah istrinya itu karena setelah bertanya ia langsung fokus pada kunci mobil dan menyalakan nya.


Mobil pun bergerak keluar dari halaman rumah dan menuju tempat dimana resepsi pernikahan Ninda dan Karza dilangsungkan.


"Adit sama Rianti juga sudah ada di sana sekarang."Roman memberitahu Tania saat tadi dikabari oleh Aditya bahwa mereka sudah sampai lebih dulu padahal sebelumnya mereka tampak janjian untuk dateng bersama tapi karena Tania akhirnya mereka malah sedikit terlambat datang.


"Iya,tadi waktu dikamar juga Rianti udah telepon." tutur Tania.


"A aku lahiran nya kapan?" Tania mulai menanyakan kapan anak yang ada didalam kandungannya itu lahir.


"Perhitungan aku kan sekitar semingguan lagi,tapi kalau kamu udah ngerasain sakit perut,terus sakitnya sering,langsung kasih tahu aku jangan diem aja."ucapan Roman membuat raut wajah Tania sedikit berubah,entah kenapa yang jelas wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Memangnya kenapa?udah nggak sabar mau lihat dede bayi kah?"tanya Roman seraya tersenyum menggoda.


Tania menggeleng ragu,ada kejanggalan yang ia rasakan tapi ia tidak mau mengatakan hal itu pada suaminya,malah sekarang ia memaksakan diri untuk mengulas senyum dibibir.


Sepanjang perjalanan Tania mengelus-ngelus perutnya seraya memejamkan mata dan menarik napas panjang.


"Kamu kenapa?"Tanya sang suami melihat istrinya sedikit aneh sekarang ini,agak pendiam kembali sama seperti kala pertama kali mereka bertemu, tak banyak bicara jika tidak diajak bicara.


Roman malah aneh,karena selama masa kehamilan mulut istrinya itu terlihat lebih bawel,dan ia cukup terbiasa dengan kebawelan sang istri.


"Nggak apa-apa,kita kapan sampai nya?"malah bertanya agar perhatian Roman teralihkan.


"Ini sebentar lagi sampai." tukas Roman,dan benar saja tidak sampai 5menit mobil mereka sudah memasuki halaman gedung yang dipenuhi dengan rangkaian bunga ucapan selamat untuk sang mempelai.


"Ayo kita turun."berkata pada Tania yang dilihatnya masih asik bersandar di kursi mobil dengan perut nya yang buncit,terlihat sekali betapa engap nya wanita itu.


"Sebentar." Sahut Tania disaat Roman sedang membukakan sabuk pengaman ditubuhnya.


Roman menuruti perkataan sang istri seraya memainkan ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk,sambil menunggu istrinya itu siap untuk turun dari mobil.

__ADS_1


Setelah merasa mulai tenang Tania pun mengajak suaminya untuk masuk kedalam gedung pernikahan.


Tania melangkah perlahan ketika ia mulai merasakan kembali perutnya sakit atau lebih tepatnya mulas.


Ya ternyata sejak siang tadi ia sudah mulai merasakan mulas-mulas kecil,yang tadi jarang namun kini malah jadi semakin sering.


Meskipun seorang wanita,namun ini baru pertama kalinya ia hamil dan ia tidak cukup mengerti tentang yang namanya kontraksi sebagai tanda awal akan lahirnya sang buah hati,terlebih lagi sebelumnya ia juga pernah merasakan hal yang sama,namun ketika memberitahukan pada sang suami,suaminya itu mengatakan bahwa itu kontraksi palsu,jadi sekarang pun ia menganggap yang ia rasakan sekarang sama seperti yang sebelumnya.


Apalagi saat Roman memberitahukan bahwa ia baru akan melahirkan sekitar seminggu lagi,sepertinya Tania tidak mengerti bahwa kelahiran bisa terjadi kapan saja jika bayi memang sudah ingin keluar.


Tania menghentikan langkahnya kala merasakan rasa mulas di perutnya malah makin menjadi.


"Aduuuh."meringis seraya memegangi perut.


"Kamu kenapa?" wajah Roman sudah menunjukkan kekhawatirannya.


"Perut aku sakit." Tania berucap lirih seraya meringis menahan sakit yang ia rasa.


Roman memapah sang istri dan membawanya masuk kembali kedalam mobil.


"Itu Roman kan?"Rianti yang berjalan keluar dari gedung bertanya pada sang suami saat melihat Roman yang tengah kerepotan memapah Tania.


Aditya hanya datang berdua saja dengan Rianti karena kedua anaknya tengah bersama kakek dan neneknya.


Aditya melihat tempat yang ditunjuk oleh Rianti.


"Iya sepertinya." sahut Aditya.


"Bukan sepertinya lagi mas,itu emang Roman sama Tania."ucap Rianti seraya menarik lengan sang suami untuk menghampiri kedua orang yang terlihat tengah butuh bantuan.


"Lu ngapain Man?"Aditya bertanya ketika sudah berdiri di belakang sang teman.


"Ini istri gua kayaknya mau lahiran."Roman berkata cemas seraya memberikan kunci mobil pada Aditya.


"Lah maksudnya apaan nih?"tanya Aditya yang terlihat kebingungan seraya menatap kunci yang berada di telapak tangannya.


"Anterin gua ke rumah sakit sekarang." perintah Roman yang langsung duduk sambil memegangi Tania yang kini tengah merasa perutnya semakin menjadi.


"Udah cepet mas." Rianti ikut berkata kencang pada suaminya dengan wajahnya tak kalah panik dengan Roman.


Bukannya segera masuk kedalam mobil Aditya malah menggaruk-garuk kepalanya,yang tentu saja perbuatannya itu membuat Rianti dan Roman serentak berteriak.


"CEPETAN!" kata mereka berbarengan,dan Aditya yang kaget reflek langsung membuka pintu dan menyalakan mesin mobil.


Rianti yang duduk di samping Aditya berulang kali menoleh kebelakang saat mendengar rintihan Tania.


"Aduuh sakit." katanya tak kuasa menahan sakit yang makin menjadi.


"Kamu sejak kapan ngerasain kayak gini?"


"Udah dari tadi pagi."sahut Tania dengan suara terputus-putus.


"Kenapa nggak bilang."sentak Roman.


"Kan kata kamu aku lahirannya semingguan lagi,jadi aku pikir ini cuma kontraksi palsu kayak yang dulu kamu bilang." sahut Tania dengan tetap mencoba menarik napas agar rasa sakit yang tengah ia rasakan bisa sedikit berkurang.


"Lagian kan kamu dokter."lanjut Tania.


"Ya aku emang dokter tapi kamu mikir lah, kalau udah ngerasa mules tuh ngomong,kasih tahu suaminya biar langsung dibawa ke rumah sakit,emangnya mau lahiran ditempat umum kayak gini!"cerocos Roman mendengar pernyataan ngaco sang istri.


"Kamu kok jadi marah-marah."wajah Tania terlihat memelas mendengarkan suaminya mengomel dan menyalahkan dirinya.


Roman salah tingkah,ada rasa kesal namun juga tak tega melihat istrinya sekarang yang tengah berjuang merasakan sakitnya proses menjelang kelahiran.


"Aku marahin Adit,lu lama banget sih Dit bawa mobilnya."menyemprot Aditya begitu saja hingga Rianti melirik sang suami yang kini malah kena lampiasan Roman.


"Malah gue yang kena kan jadinya." gerutu Aditya sambil terus mengendalikan mobil.


Sekian lama terjadinya kebisingan didalam mobil,akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit yang sudah lebih dulu di hubungi oleh Roman untuk menyiapkan ruang bersalin agar begitu sampai mereka tak perlu menunggu lagi.


Empat orang perawat dan satu brankar tampak sudah menunggu kedatangan mereka.


Para perawat itu langsung sigap membantu dan menaikkan Tania keatas brankar besi yang kemudian didorong masuk menuju ruang bersalin.


Ketika Tania masuk kedalam ruang bersalin Roman justru menuju kearah yang bersebrangan,sepertinya lelaki itu mengambil jubahnya,karena ketika kembali muncul pakaiannya sudah berubah warna menjadi hijau atas bawah.


Roman berjalan tergesa menuju ruang bersalin bahkan ia melewati Aditya serta Rianti begitu saja.


"Sepertinya orang itu akan merasakan betapa sakitnya rambut ketika ditarik oleh wanita yang akan melahirkan."Aditya tersenyum senang ketika membayangkan bagaimana Roman akan mengalami yang dulu pernah ia alami kala menemani Rianti melahirkan.


"Tapi sepertinya Roman nggak akan merasakan apa yang mas rasakan." Rianti mematahkan harapan sang suami dengan senyum penuh ejekan.


Aditya mengernyit tak mengerti akan maksud yang dikatakan istrinya itu.


ia menatap dengan harapan agar Rianti menjawab ketidak mengertiannya.


"Roman kan dokternya,jadi posisinya ada didepan Tania."Rianti mengulas senyuman dikala sang suami terlihat cemberut.


"kalau gitu dia bakal ngerasain ditendang sama istrinya."masih tidak mau mengalah dengan istrinya.

__ADS_1


"Rasanya nggak mungkin Tania nendang suaminya."sahut Rianti lagi.


"Ya udah anaknya yang bakal nendang,udah diem nggak usah ngomong lagi!"menyuruh istrinya untuk diam karena ia kesal setiap keinginannya malah dipatahkan oleh istrinya itu.


Rianti cengengesan melihat suaminya kini menekuk wajah karena perbuatannya.


"Mas."


"Apalagi?!" mendelik seram.


"Itu mobil gimana?" menanyakan mobil yang mereka tinggal.


"Oh iya,aku telepon Johan dulu,biar dia aja yang ambil."dia pun langsung menghubungi Johan.


Aditya kembali duduk setelah selesai ber telepon dengan sang asisten kebanggaannya dan yang terkadang dia jadikan tumbal jika sedang melakukan kesalahan.


Didalam ruang bersalin,Roman terlihat sibuk membimbing sang istri untuk melakukan setiap perkataannya.


Dan Tania pun mengikutinya.


Tania menarik napas lalu menghembuskan nya perlahan sesuai yang diminta oleh suaminya itu.


Seorang suster berdiri di samping Tania,membantunya untuk mengelap keningnya yang dibanjiri oleh keringat.


Meski sebagian wajahnya tertutup oleh masker,namun kerutan di keningnya serta cucuran keringat yang turun bisa dipastikan kali ini Roman merasakan ketegangan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan saat membantu wanita lain melahirkan.


Ya meskipun dia seorang dokter,entah kenapa hari ini ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang ketika menangani istrinya sendiri,apalagi telinganya terus saja mendengar rintihan dari mulut istrinya,membuat ia makin merasakan ngilu.


Bahkan Roman berulang kali melirik kan kedua matanya pada sang istri saat wanita itu terengah-engah berusaha untuk mengeluarkan bayi mereka.


Dalam hatinya Roman terus saja merapalkan doa-doa agar proses bersalin segera selesai dan istri serta anaknya sehat.


"Sedikit lagi." katanya kala kepala bayi sudah terlihat.


Ketika kepala bayi makin keluar Roman langsung meminta Tania untuk mengejan sekaligus dan jangan terputus agar bayinya langsung keluar.


Semua itupun lantas dituruti oleh Tania,dengan satu tarikan napas ia mengejan agar sang bayi keluar.


Seketika Roman menarik napas lega kala bayi keluar disertai dengan suara tangisannya yang sangat kencang lalu segera membungkus tubuh sang bayi dengan handuk putih.


Sedang Tania langsung menjatuhkan kepalanya setelah mengetahui bayinya sudah berada ditangan sang dokter yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Dengan senyuman yang tersungging dari bibirnya Roman membawa sang bayi kepada Tania dan menunjukkan pada istrinya itu wajah anak mereka.


"Perempuan sayank." katanya pelan pada Tania yang mengulas senyum,meski wajahnya terlihat lelah namun tidak dipungkiri ia merasakan betapa bahagia nya kala bisa melahirkan sang anak dengan selamat.


Perjuangan seorang ibu yang akan selalu diingat sampai kapanpun.


Setelah selesai dengan Tania,Roman lantas memberikan anaknya pada seorang dokter anak untuk diperiksa dan setelah itu dibersihkan.


Roman memberikan kecupan Terima kasih pada sang istri dengan penghayatan yang luar biasa.


"Aku keluar dulu."ijinnya pada Tania yang memberikan anggukan.


Roman lantas keluar dan wajah Aditya beserta istrinya langsung terpampang didepan pintu ketika ia membukanya.


"Gimana?"Aditya bertanya tak sabar.


"Perempuan."sahut Roman.


"Gue bukan tanyain jenis kelaminnya."tutur Aditya.


"Terus yang lu tanyain apaan?" Roman menatap Aditya dengan heran,bahkan Rianti juga melakukan hal yang sama dengannya.


"Rambut lu ditarik nggak?"


"Peak,malah gituan ditanyain."


"Tinggal jawab aja susah amat." sungut Aditya.


Rianti kembali duduk dan memilih membiarkan kelakuan aneh suaminya muncul.


"Nggak!" jawab Roman.


"Berarti ditendang dong."senyuman terpampang diwajah Aditya.


Roman menggelengkan kepala. "Nggak juga tuh,gua harap cuma elu doang yang ngerasain hal itu,mungkin karena elu banyak dosa dulunya." ejek Roman.


"Brengseeek."Aditya mengumpat mengatai Roman yang kini cengengesan bahagia,bukan bahagia karena berhasil membuat Aditya marah melainkan kini ia mempunyai keluarga baru yang akan membuat rumahnya makin ramai.


***************


TAMAT


terimakasih semuanya yang sudah setia mengikuti jalan cerita di novel KAMULAH PILIHANKU.


saya berharap kita bisa berjumpa kembali di karya saya yang baru.....


akhir kata wassalamualaikum wr.wb.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2