
Hari sabtu pukul 16:34.
"Cepet mas,kamu kenapa masih santai aja sih?"Rianti yang sudah mengomel sejak tadi makin mengencangkan suaranya ketika menyaksikan sang suami malah asik bergulingan dengan anak lelaki nya di atas ranjang.
"Daren udah aku rapihin malah kamu uwel-uwel begini."melihat frustasi pada sang anak yang tadi sudah ia rapih kan,kini matanya harus melihat penampilan anaknya seperti habis tersambar angin topan,pakaian serta rambutnya di buat acak-acakan oleh suaminya.
Rianti mengangkat Daren yang hanya bisa menatapnya tanpa mengerti apa yang diomongkan oleh ibunya itu.
"Mas mandi sana!"memaksa suaminya untuk segera mandi.
"Lagian papah ngapain sih nyuruh ke sana segala, mendadak banget,kan biasanya juga kita dateng sendiri nggak perlu pakai disuruh juga bakal dateng."malah menggerutu.
"Nggak mendadak,mas nya aja yang cuek padahal dari dua hari yang lalu udah aku kasih tahu." menyahuti sang suami seraya merapikan kembali penampilan anak lelaki nya.
"Lagian kan aku ajak mas udah dari pagi,tapi mas malah diem aja,nanti-nanti terus jawabnya."kesal pada sang suami yang sebenarnya sejak pagi ia ajak untuk datang ke rumah orang tuanya,akan tetapi lelaki yang menjadi ayah dari anaknya malah terlihat ogah-ogahan.
"Tapi kan minggu kemarin kita sudah ke sana." sahut Aditya.
"Kamu ini ya mas,apa susahnya sih kalau disuruh dateng tuh dateng aja,protes mulu."melanjutkan omelan nya yang memang sudah sejak pagi ia lakukan karena kelakuan suaminya yang selalu saja membuat dirinya jengkel.
"Stop."meminta sang istri untuk berhenti mengomel.
"Ya udah mas mandi."langsung turun dari ranjang dan menuju kamar mandi menuruti perintah sang istri yang sebenar nya tidak akan mengomel jika dirinya langsung melakukan apa yang diminta sang istri,hanya sekedar mandi dan pergi ke rumah orang tuanya apa susahnya.
Tapi memang bukan Aditya namanya jika tidak terlebih dulu membuat istrinya mengomel sepanjang hari karena perbuatannya yang meskipun sudah menghasilkan dua orang anak,namun tingkahnya terkadang malah melebihi kedua anaknya itu,sulit untuk diberitahu bahkan terkadang sifat manjanya pun lebih besar dari anak-anak nya.
Setelah merapihkan Daren Rianti pun memberikan Daren pada Salma,sedangkan dirinya kini sibuk dengan ranjang yang selimut serta seprainya berantakan akibat perbuatan suaminya.
Rianti membungkuk seraya fokus membereskan ujung seprai yang menyembul,sampai ia tidak menyadari akan kehadiran sang suami yang rupanya sudah selesai mandi dan tadi dengan gerakan hati-hati menutup pintu.
Kini lelaki itu berada di belakangnya dengan handuk yang ia pakai.
Tanpa berkata Aditya langsung memegang pinggang sang istri dan menghentakkan nya dengan cepat hingga membentur tubuh bagian bawahnya.
Rianti yang sangat terkejut hingga matanya membelalak seraya melihat suaminya yang tengah tersenyum menggoda.
"Ngapain sih mas?!."pertanyaan disertai bentakan Rianti keluarkan seraya mencoba untuk menegakkan tubuhnya namun tak berhasil karena Aditya malah menahan punggungnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya masih tetap di pinggang sang istri.
__ADS_1
"Ayah."belum sempat Aditya menjawab suara Riana dari balik pintu membuat dirinya segera menoleh kearah pintu,ia bersyukur karena tadi sempat mengunci pintu terlebih dulu jadi anaknya itu tidak menyaksikan apa yang tengah ia perbuat pada istrinya.
Posisi mereka masih tidak berubah meskipun suara sang anak masih terdengar.
Aditya tidak juga mau melepaskan sang istri meski istrinya itu sudah berulang kali meminta dilepaskan namun tak ia turuti karena ia berharap sang anak segera pergi dan ia bisa melanjutkan apa yang mendadak ia inginkan saat melihat posisi istrinya yang sangat menggoda dirinya yang baru saja selesai mandi.
Namun sepertinya harapan Aditya hanya sekedar harapan belaka tak akan terwujud karena anaknya bukan pergi tapi malah makin kencang memanggil dirinya dan istrinya secara bergantian malah sekarang disertai dengan suara pintu yang di ketok dengan cukup kencang.
"Lepas mas."suara Rianti sudah terdengar sangat panik karena ia takut anaknya melihat posisi mereka yang tidak wajar saat ini.
Aditya mendengus kasar sambil menuruti perkataan sang istri.
"Ini anak anak nggak mau punya adik lagi apa,ganggu mulu."Aditya bersungut seraya menuju lemari.
"Itu pintunya buka mas." ucap Rianti kala melihat suaminya itu malah dengan cueknya melenggang ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Kamu aja sana."Aditya berucap sinis.
bagaimana tidak kesal jika tegangan yang sudah lumayan tinggi malah tidak bisa dikeluarkan,tentunya sepanjang hari kepalanya akan merasakan pusing yang akan membangkitkan tingkat emosinya semakin tinggi lagi.
Rianti yang tahu suaminya kesal hanya tersenyum tipis lalu membukakan pintu untuk sang anak yang rupanya semakin tidak sabar.
"Ayah mana?"tanyanya pada sang ibu.
"Tuh lagi pakai baju."memberitahu ayahnya yang dicari anaknya sejak tadi sedang memakai pakaiannya didepan lemari.
Riana langsung saja menuju sang ayah lalu berdiri dibelakangnya.
"Kenapa?!" bertanya dengan raut wajah kesal pada anaknya sendiri yang sudah mengacaukan apa yang ia ingin lakukan.
"Kakek telepon." ucapnya pada sang ayah yang berdiri membelakanginya.
"Ya udah biarin."sahut Aditya.
"Kata kakek disuruh cepet ke sana."kata Riana memberitahukan pada ayahnya apa yang dikatakan oleh kakeknya ditelepon tadi.
"Hmm."
__ADS_1
"Ayah kenapa?" tanyanya karena sadar ayahnya seperti kesal padanya padahal ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
"Ana tunggu dibawah aja deh,itu ayah sebentar lagi juga selesai,nanti kita langsung berangkat." kata Rianti mencoba untuk membuat Riana keluar dari kamar,agar tidak semakin memancing kekesalan sang suami yang sedang berusaha disembunyikan.
Rianti menarik anak gadisnya keluar kamar dan terus mengatakan pada sang anak bahwa ayahnya itu tidak kenapa-kenapa.
"Ayah marah ya bu sama Ana?" tanyanya ketika berada diluar kamar orang tuanya.
Rianti menggeleng cepat.
"Terus kenapa ayah jawab nya cuma hm aja?" tanya Riana karena biasanya sang ayah jika sedang kesal padanya akan menjawab singkat atau bahkan cuma sekedar deheman saja yang keluar dari mulutnya.
"Ayah lagi pusing."jawab Rianti.
"Pusing kenapa? tadi siang ayah masih main sama Ana."katanya pelan.
"Mungkin ayah lagi banyak kerjaan." masih mencoba memberi pengertian pada sang anak yang rasa penasarannya memang cukup tinggi seperti dirinya yang akan terus bertanya jika jawaban yang diberikan masih tidak memuaskan dirinya.
Riana baru akan membuka mulut untuk kembali mengajukan pertanyaan pada ibunya ketika sang ayah keluar dan melewati dirinya dengan wajah tak enak dilihat.
Gadis kecil itu hanya diam saja melihat ayahnya.
"Tuh ayah udah siap,yuk kita ke rumah kakek sekarang." ajak Rianti lalu menggandeng lengan anaknya yang mengikuti langkahnya.
Didalam mobil Rianti yang duduk di samping suaminya berulang kali menoleh kebelakang melihat Daren yang berada dipangkuan Salma pengasuhnya serta Riana yang sepertinya masih murung karena sang ayah yang terus mendiami dirinya.
"Mas." memanggil suaminya yang tengah berkonsentrasi pada kemudi mobilnya.
"Apa?"sahut Aditya tanpa melihat istrinya.
Rianti memajukan kepalanya kearah sang suami dan berbisik ditelinga nya.
"Anak kamu."
"Biarin." kata Aditya singkat.
Rianti kembali pada posisinya lalu hanya melihat kesal pada sang suami yang malah masa bodo padahal anak gadisnya tengah murung karena dirinya.
__ADS_1
Mobil terus berjalan cepat agar mereka segera sampai di tujuan dengan wajah sang pengemudinya yang terus saja ditekuk karena merasakan kepalanya yang sekarang berdenyut pusing.
******************