Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 55


__ADS_3

Selepas menyelesaikan keperluan di rumah sakit, Darren dan Rona sudah kembali berada di atas motor yang tengah melaju di persimpangan jalan yang akan menuju apartemen yang akan menemani mereka menjalani hari-hari sebagai pasangan baru.


"Kenapa aku nggak boleh ikut?" tanya Rona dengan dagu yang dia topang kan di atas bahu sang suami, memang sejak tadi Rona terus saja protes kala suaminya mengatakan akan mengantarkannya lebih dulu ke apartemen baru kemudian pria yang selalu berpakaian santai itu akan pergi ke kampusnya.


"Selesai dari kampus aku di suruh Ayah ke kantor cabang yang di Tangerang." jawab Darren.


"Aku kan udah bilang, aku nggak apa-apa nunggu, malah aku seneng bisa jalan-jalan sama kamu Kak." tutur Rona yang memang sejak tadi sudah begitu ngeyel untuk ikut, baginya akan cukup menyenangkan menghabiskan waktu di jalanan bersama sang suami ketimbang harus berdiam diri di apartemen sendirian, sangat tidak manusiawi menurutnya, karena Rona yang terbiasa bertemu dengan orang banyak malah harus berdiam diri di apartemen bagaikan orang yang tengah di kurung.



"Lama, nanti kamu bosen." seru Darren dengan tangannya yang mahir mengendalikan motor, sesekali menarik rem ketika ada kendaraan yang menyalip atau saat mereka dihadang oleh lampu lalu lintas.



Rona memutar bola matanya tak terima dengan pernyataan Darren yang sepihak itu, bagaimana bisa pria itu mengatakan bahwa nantinya ia akan bosan menunggu, sedangkan dirinya sendiri malah merasa senang saat harus pergi dan menemani suaminya meskipun menunggu berjam-jam, Rona tidak akan mengeluh, bukankah ia bisa memainkan HPnya untuk mengisi kebosanan kala tengah menunggu?. mengesalkan memang mempunyai suami yang sifatnya seperti Darren ini.



"Tapi aku tetap mau ikut Kak." Rona tetap saja ngeyel pada kemauannya.



"Ngotot terus Na." cibir Darren kala Rona menjauhkan duduknya yang sejak tadi merosot dan melepas pegangan dari pinggangnya seolah tengah melancarkan sebuah demo agar keinginannya untuk ikut di turuti.



"Bodo." dengus Rona sensi.



Tindakan Rona itu bukannya membuat Darren mengijinkan untuk ikut namun malah memancing jiwa pembalap seorang Darren muncul, dengan sigap dia pun langsung membuat roda ban besarnya berputar dengan sangat cepat melewati kendaraan yang sejak tadi berjalan tenang, Darren mengendarakan motornya bagaikan sebuah hembusan angin yang hanya bisa dirasa tanpa bisa di lihat dengan mata.


__ADS_1


Mata Rona membuka lebar dengan keterkejutan yang membumbung tinggi, kedua tangannya pun bergegas mendekap erat pinggang sang suami, ia tidak mau mati muda ketika baru saja akan memulai masa depan yang indah dengan seorang pria yang ia cintai.



Gila, maki Rona dalam hati dengan mulut yang berkomat-kamit berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada mereka berdua karena kelakuan tak waras dari suaminya, nyatanya hati dan ekspresi wajahnya tidak sinkron, dalam hati dia mengumpat namun di wajahnya ia terlihat seperti orang yang tengah berdoa memohon agar bisa selamat.



Kelopak matanya terpejam dengan begitu erat terlihat dengan guratan yang muncul disertai dengan tarikan napasnya yang tertahan.


Rona baru berani membuka matanya saat merasakan tubuhnya sudah tidak terombang-ambing oleh angin, menarik napas lega karena mereka terhadang oleh lampu merah.


"Pegangan makanya." seru Darren yang memang sengaja membawa motor persis Valentino Rossi kala Rona melepaskan pegangan dari pinggangnya.



Rona tak menanggapi sebab ia masih merasakan jantungnya bekerja dengan sangat cepat.


Sebuah motor muncul dari arah belakang dan berhenti di samping mereka.



Wajah Rona dalam sekejap terlihat cerah mengetahui siapa yang ada di sampingnya saat ini.



"Tyo." seru Rona senang karena sudah satu Minggu ini ia tidak melihat teman sekelasnya itu.



"Dari mana?" tanya Tyo tenang sama sekali tidak menganggap orang di depan Rona saat ini.


__ADS_1


"Dari tempat Papah, lu sendiri dari mana?" tanya balik Rona.



"Rumah Nenek." jawabnya, mereka berdua mengobrol sambil menunggu lampu berubah warna sampai ada suara deheman yang menghentikan obrolan tak penting keduanya.



"Ehm." suara deheman yang begitu di sengaja berhasil membuat Tyo menatap pada pria yang memakai helm full face di depan Rona.



Tyo memajukan kepalanya dengan begitu menyebalkan untuk menegaskan siapa yang berhasil membuat perbincangannya dengan sang teman terganggu.



"Lah Om." katanya sangat sialan karena masih saja memanggil Darren dengan sebutan Om.


Darren mendelik tak terima dan sudah bersiap akan mengeluarkan kata pedas namun suara klakson membuatnya urung melakukan hal itu, dia melihat lampu lalu lintas yang sudah berubah warna, terang saja kendaraan di belakangnya melakukan protes.


Darren melajukan motornya dan tak di sangka Tyo malah mensejajari lalu berteriak. "Besok pengumuman lulus, gue jemput di rumah lu ya." seru Tyo dengan kedipan sebelah matanya dan senyuman yang memamerkan deretan gigi putih nan rapi miliknya.



"Waduh, Om nya ngamuk." kata Tyo mendapati mata Darren yang begitu tajam dan sadisnya menatap dirinya. "Mendingan gue cabut dah." ujarnya lalu kemudian menarik gas motornya yang juga besar sama seperti milik Darren melaju kencang dan hanya menyisakan debu yang beterbangan.



"Bocah sialan." maki Darren ketika matanya malah terasa kelilipan debu ulah Tyo yang selalu membuat emosinya tak stabil jika mereka bertemu.


Mulut suaminya yang terus mengomel sepanjang jalan tak Rona hiraukan, ia hanya menahan senyum merasa Darren sedang kualat, dia yang sejak tadi membuatnya marah malah di buat marah oleh temannya.


"Sukurin." batin Rona.

__ADS_1


****


__ADS_2