Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 81


__ADS_3

Pagi-pagi buta pintu kamar hotel tempat Darren dan Rona menginap semalam sudah di ketuk dari luar berulang kali membuat Darren yang sebenarnya masih ingin menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut bersama dengan sang istri harus membuka matanya dan menggerakkan tubuhnya secara paksa untuk membuka pintu.


Entah siapa gerangan yang sangat berani mengganggu kedamaian tidurnya setelah lelah bermain-main dengan sang istri yang di temani oleh derasnya hujan serta suara petir yang bergemuruh, tentunya setelah hujan semalaman pagi ini cuaca akan terasa sangat dingin apalagi di bantu dengan dinginnya AC yang memang tidak mereka matikan.


Melihat Rona yang masih tertidur pulas bahkan tidak bergerak sama sekali membuatnya tidak mau mengganggu wanita itu, tentu saja karena dialah yang semalaman telah mengerjai istrinya sedemikian rupa.


Darren menaikkan kembali selimut menutupi tubuh sang istri guna menghalaunya dari cuaca dingin yang sangat menusuk kulit.


Sambil menguap Darren menyeret langkahnya menuju pintu guna membuka dan mengetahui siapa yang datang mengganggu di langit yang masih tampak gelap.


"Apa tidak bisa menunggu sampai matahari muncul dulu, baru mengetuk kamar orang!" mulut Darren bersungut-sungut ketika membuka pintu, dan matanya yang tadi mengantuk pun dengan begitu cepat membuka lebar seakan tidak percaya dengan wajah yang ada di hadapannya itu.


"Om, ngapain pagi-pagi?" tanya Darren dengan tatapan yang benar-benar tidak mau percaya padahal seraya menelusuri penampilan yang tidak seperti biasanya.


Asisten sang Ayah yang ada di depannya itu sekarang hanya memakai kaos dengan celana panjang hitam, sangat kontras dengan penampilannya ketika tengah bekerja.


Johan pun mengangkat paper bag yang dia bawa tepat ke depan wajah putra atasannya yang semalam sudah mengganggu tidurnya meminta untuknya datang pagi-pagi untuk mengambil pakaian Darren dan Rona juga memintanya untuk langsung mengantarkannya ke hotel tempat sang anak menginap.


Sebagai seorang asisten Johan tentunya akan melaksanakan apa yang sudah di perintahkan untuknya, mau bagaimana lagi karena sudah tugasnya yang menjadi asisten pribadi merangkap sebagai pesuruh asal gaji lancar dan besar semua bisa di atur, begitu pikir Johan.


Melihat apa yang Johan tunjukkan sudah tidak bisa membuat Darren berkata-kata lagi, dia ingat dirinyalah yang mengatakan pada sang Ayah untuk mengantarkannya pagi hari, tapi seharusnya Ayahnya itu juga punya pikiran pagi bukan berarti begitu ayam berkokok Johan sudah berada di depan pintu kamar hotelnya.


"Apa ada yang kamu perlukan lagi Darren Putra Erlangga?!" tanya Johan, bukan pertanyaan biasa karena di setiap katanya penuh dengan penekanan seakan tengah menyindir anak muda di depannya saat ini.


Anak muda yang penampilannya terlihat kacau balau karena hanya mengenakan celana pendek yang mungkin semalam basah terkena air hujan dengan wajah yang terlihat begitu lelah dihiasi dengan rambutnya yang berantakan bagaikan orang yang baru saja terkena angin badai.

__ADS_1


"Tidak ada Om, terimakasih," tutur Darren dengan suara yang terdengar serak.


"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang," kata Johan benar-benar formal berbanding terbalik dengan penampilannya saya ini.


Darren mengangguk lalu bersiap untuk menutup pintu namun gerakannya terhenti kala mendengar suara Johan yang kembali berkata.


Johan kembali memutar tubuhnya melihat pada anak atasannya yang termangu menunggu apa yang akan dia katakan.


"Lain kali langsung saja menghubungi Om jika membutuhkan sesuatu, tidak perlu lewat Ayahmu karena kamu tahu sendiri bagaimana kelakuannya, dia dengan konyolnya memaksa Om untuk mengantarkan barang yang kamu minta sebelum matahari terbit!" tegas Johan melaporkan kelakuan Aditya kepada sang anak.


Darren menarik nafas lalu mengangguk, benar saja apa yang ada di dalam pikirannya, pasti Ayahnya lah dalang atas datangnya sang asisten di pagi buta itu.


"Iya Om, maaf Darren merepotkan," tukas Darren menyesal.


"Ayahmu itu biang segala kerepotan," sahut Johan lalu melenggang pergi.


Pria yang masih mengantuk itupun melempar paper bag ke atas sofa sedangkan dia naik ke atas tempat tidur, tentu saja untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu beberapa menit lalu.


Siang hari Darren dan Rona sudah keluar dari hotel dengan penampilan yang segar, rambut yang masih sedikit basah dengan memakai pakaian yang beberapa jam lalu diantarkan oleh Johan.


Untungnya bentuk tubuh Rona dengan mertuanya tidak berbeda jauh sehingga baju Ibu mertuanya itu cukup pantas untuk di pakai olehnya.


Mereka berdua kembali menaiki motor dan sudah berada di jalan raya, terlihat begitu serasi sehingga banyak mata yang bukan fokus pada kendaraan yang tengah mereka bawa malah memusatkan perhatiannya pada pasangan suami istri itu.


Tiiin! tiiiin! suara klakson dari mobil di belakang mereka membuat Rona menoleh sedangkan Darren sedikit meminggirkan motornya dengan niat memberi mobil itu lewat lebih dulu, karena Darren berpikir mungkin orang di dalam mobil sedang sangat terburu-buru.

__ADS_1


Namun ternyata saat Darren motornya sudah menyingkir memberi ruang yang cukup untuk dilewati oleh mobil itu kenyataannya mobil berwarna merah itu tak juga melewati mereka malah mensejajarkan kendaraannya dengan mereka.


"Siapa sih itu Kak?" tanya Rona pada sang suami yang hanya melirik sekilas mobil di samping mereka saat ini.


Belum juga Darren menjawab pertanyaan dari sang istri mobil merah itu malah sudah memepet mereka membuat Darren spontan mengerem motor besarnya secara mendadak membuat tubuh Rona menubruk dirinya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pada sang istri yang memegangi dadanya, tentunya ada sedikit rasa sakit yang Rona rasakan sekalipun ia menggelengkan kepalanya.


Darren tampak kesal pada mobil di depannya yang nyaris saja membuat dia dan Rona celaka.


"Kak," seru Rona saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil yang sudah seenaknya memotong jalan mereka.



Darren memicingkan mata menunjukkan raut wajah yang begitu sinis bercampur kemarahan yang siapapun pasti akan menyadarinya bahwa pria itu marah atas perbuatan orang yang baru saja turun dari mobil.



"Oh jadi ini yang namanya Darren," kata Melly pada sang anak yang tadi begitu nafsu mengarahkan dirinya untuk menghadang motor yang dikendarai oleh pria yang dia cintai.



Sherin mengangguk lalu menatap tak suka pada wanita yang ada di boncengan Darren, tatapannya penuh dengan aura permusuhan karena memang dia merasa Rona sudah merebut pria yang ia cintai sejak lama.


Darren menatap tak senang pada dua wanita yang dia yakin tengah membicarakan dirinya karena mata kedua wanita itu tertuju padanya hanya sedangkan hanya sekilas saja pada Rona.

__ADS_1


Jika saja mereka itu pria sudah sejak tadi Darren akan menghajar keduanya karena membawa mobil dengan sembarangan, seenaknya tanpa memperdulikan nyawa orang lain.


****


__ADS_2