Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 22


__ADS_3

Mereka semua tampak tengah sibuk membangun tenda untuk tempat mereka beristirahat nanti malam.


Mereka mendirikan 6 tenda untuk 12 orang itu.


"Gue sama elu aja lah Sher." seru Nella sudah memilih siapa teman yang akan satu tenda dengannya.


Tentu saja sebagai teman sejati Sherin akan sangat dengan senang hati berbagi tempat dengan Nella yang selalu memberikan dukungan kepadanya.


"Kita berdua Din." kali ini Ayu sudah menentukan Dini sebagai teman satu tendanya, kini tinggal Rona yang berdiri bingung menatap keempat orang wanita yang sudah menentukan pilihan dengan siapa mereka akan tidur nantinya.


Terlihat sekali bahwa keempat wanita itu tidak menyukai Rona, tadinya Ayu dan Dini masih bersikap ramah padanya, namun entah kenapa setelah sampai di area camping itu dua orang wanita itu malah ikut menjadi sinis kepadanya.


Rona menatap Ayu dan Dini bergantian berharap keduanya mau mengajak serta dirinya dengan mereka, tidak apa bertiga daripada ia harus tidur sendirian di tengah hutan yang tampak menyeramkan itu.


Tapi sepertinya Ayu dan Dini sudah terkena bisa Sherin dan Nella agar ikut membenci dirinya terbukti wanita itu malah membuang muka dan melakukan kesibukan yang entah apa itu.


"Kenapa Na?" Darren yang memperhatikan lantas menghampiri Rona.


"Mereka pada berdua tidurnya tapi Rona sendiri." adu Rona pada lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Nggak apa-apa sendiri." kata Darren.


Rona menggeleng karena memang ia takut dan sepanjang malam pasti tidak akan bisa tidur membayangkan kengerian di tempat itu.


Darren menatap Sherin dan Nella merasa tidak mungkin meminta mereka untuk mau berbagi tempat dengan Rona dan akhirnya Darren meminta pada Ayu dan Dini tapi belum juga dia berbicara kedua temannya itu sudah langsung menolak.


"Nggak muat Ren, ini tendanya sempit banget loh." alasan yang mereka utarakan membuat Darren memandang sinis keduanya.


"Ya udah kamu sendiri aja, malah enak nggak ada yang ganggu." kata Darren pada Rona.


"Tapi Rona takut." sahut Rona.


"Nanti aku jagain di depan sini." ucap Darren meyakinkan calon istrinya.

__ADS_1


Dan perkataan Darren itu pun sukses membuat Sherin memperlihatkan tatapan sinisnya kepada gadis di samping Darren.


"Kalau gitu biar aku aja yang temenin kamu deh." suara Rendi membuat seluruh mata melihat ke arahnya yang malah memasang wajah serius, sepertinya playboy itu memang bersungguh-sungguh dengan yang dia bicarakan barusan.


"Masuk sana, istirahat." pinta Darren pada Rona lalu lelaki itu berjalan menuju Rendi yang lalu dengan sengaja menubruknya keras seperti tengah memberi peringatan pada lelaki itu untuk tidak berbuat macam-macam pada Rona.


Malam hari rupanya mereka sedang bersiap untuk menyalakan api unggun tentunya dengan mereka yang sudah duduk di sekitar api unggun itu dengan saling membicarakan apa saja hingga sesekali terdengar gelak tawa mereka di tengah hutan yang terasa semakin menyeramkan saja.


"Na." Darren memanggil Rona mengganggu kegiatan gadis itu yang sedari tadi matanya terus saja berkeliling entah apa yang ia cari saat ini.


"Hhm" Rona menoleh dengan alis terangkat.


"Aku mau ngomong serius sama kamu." ucap Darren pelan seperti tidak ingin ada yang mendengarnya.


"Ngomong apa?" tanya Rona yang memang tidak tahu menahu dengan apa yang akan dibicarakan oleh lelaki yang sejak sampai membuktikan janjinya untuk menemani Rona.


Tentu saja Darren tidak akan membiarkan gadis itu sendirian diantara orang-orang asing apalagi keempat wanita yang sangat tidak bersahabat pada calon istrinya itu, lebih lagi Darren juga tidak ingin membiarkan Rendi sampai bisa mencuri kesempatan untuk mendekati Rona.


"Ya udah ngomong." pinta Rona dan sudah memasang telinga untuk untaian kata yang akan mulut Darren keluarkan selanjutnya.


Sekian detik menunggu nyatanya Darren tidak juga kunjung bersuara malah kini sibuk memperhatikan teman-temannya yang bermain gitar dengan suara yang kencang.


"Kak." Rona menyentuh tangan Darren mencoba mengingatkan bahwa lelaki itu belum mengatakan apa yang tadi ingin di katakan.



"Kok panggil Kakak?" protes Darren tak senang kata Kakak keluar dari mulut Rona.


"Katanya kan kalau di depan teman-teman aja panggil sayangnya." ucap Rona membela diri bahwa ia memang tidak salah jika kembali memanggil Kakak sebab memang tidak ada yang akan mendengarnya.


"Nah itu tau kalau di depan teman aku harus panggil apa, tapi kok malah panggil Kakak terus." tak mau mengalah, memanglah Darren duplikat seorang Aditya, sifatnya begitu menyerupai sang Ayah.


Rona mengernyit tak mengerti.

__ADS_1


"Teman-teman aku sekarang ada di mana?" tanya Darren dengan wajah datar.


"Ada yang di depan, ada juga yang di samping." jawab Rona dengan kepolosan yang luar biasa menakjubkan.


Apa yang dilakukan Darren ketika mendengar jawaban Rona? Yap, lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gerakan lambat.


"Kita berada diantara teman-teman aku, yang artinya kamu harus memanggil dengan sebutan yang sudah kita sepakati." Darren menyebikkan bibirnya.


"Tapi kan dari tadi kita ngomongnya bisik-bisik nggak mungkin juga mereka dengar, orang lagi pada sibuk nyanyi gitu." sahut Rona dengan ekspresi tak percaya.


"Tapi kan mereka ada di depan kita sekarang." lelaki berjaket hitam itu dengan entengnya menjawab.


Rona mendengus kesal sekaligus tidak percaya bahwa ia akan menikah dengan lelaki yang betapa sangat ribet dan tidak simpel sama sekali.


Semua harus sesuai dengan yang sudah dikatakannya, tidak ada yang bisa membantah jika dia sudah berucap sekalipun terkadang semua yang diucapkan malah membuat jengkel dan pusing lawannya.


"Ya udah oke, sekarang SAYANG mau ngomong apa?" Rona menekan mata sayang yang malah membuat Darren tersenyum sangat lebar menampilkan pesona yang sulit di tampik oleh siapapun yang melihatnya.


Rona bahkan sampai memiringkan kepalanya guna melihat betapa menawannya Darren ketika sedang tersenyum apalagi dengan sinar api unggun yang menerpa wajahnya.


"Kamu ganteng banget sih, pantes aja si badut tergila-gila." mulut Rona dengan lancarnya mengeluarkan pujian yang tak ia sadari.


"Baru sadar aku ganteng? kemana aja selama ini?" desis Darren dengan narsisnya yang akhirnya membuat Rona tersadar dan mengerjakan mata seraya menggelengkan kepala.


Rona baru saja berusaha untuk menyadarkan diri saat Darren menarik tangannya menjauh dari kumpulan teman-temannya, mereka yang tengah asyik bernyanyi mengabaikan sepasang kekasih itu menjauh dari mereka, namun satu orang wanita malah menjadi salah tingkah disertai dengan mulut yang terus mengeluarkan makian untuk gadis yang sekarang pergi bersama lelaki pujaannya.


"Nanti kita kerjain aja tuh cewek." bisik Nella yang juga sangat tidak suka dengan Rona apalagi sampai teman sejatinya sampai patah hati nantinya.


Darren membawa Rona ke tempat yang lebih sepi, bukan lebih sepi sebenarnya tapi sangat-sangat sepi namun tidak terlalu jauh dari tempat dimana teman-temannya berada karena suara gitar dan nyanyian dari teman-temannya masih bisa dia dengar.


Mereka duduk berduaan seraya menghirup udara malam yang teramat menyegarkan dan tentunya tidak mereka dapati di kota tempat mereka tinggal yang sudah dipenuhi dengan bangunan-bangunan besar, Rona tampak menanti apa yang mau dibicarakan oleh Darren yang kini hanya menatap ke depan sambil menggenggam tangannya.


****

__ADS_1


__ADS_2