
Sepanjang jalan wajah Rona terus saja di tekuk dengan bibirnya yang maju beberapa centi, di ajak bicara oleh Tyo pun gadis itu sama sekali tidak menjawab, seolah tidak mendengar dan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri yang terus mengomel mengingat ada wanita lain yang duduk di motor Darren padahal ia sekalipun belum pernah naik di motor itu, motor yang kata kedua orang tuanya adalah milik lelaki yang akan menjadi suaminya nanti itupun kalau keduanya setuju dan menerima untuk menikah, jika antara Darren dan Rona tidak mau pun orang tua mereka tidak akan memaksakan apa yang anak-anak mereka ingin jalani dan dengan siapa mereka akan menikah nantinya.
"Kesambet setan Om-Om kayaknya nih anak." gerutu Tyo yang kesal ocehannya tidak juga di gubris oleh gadis di belakangnya.
Motor mereka sampai di depan pintu pagar rumah Rona dan lihatlah sekarang siapa yang sudah berdiri di depan pagar besi itu dengan kedua tangan yang menyilang di dadanya.
Ya lelaki itu adalah Ayah daro gadis yang ada di boncengan Tyo, sudah menjadi kegiatan Roman menunggu anak gadisnya pulang di depan pagar jika anaknya itu pergi melewati batas jam pulang yang dia tentukan.
"Nah kan Papah lu udah mejeng di sana Na." seru Tyo memberitahu Rona yang tetap diam.
"Malam Om." sapa Tyo sopan setelah mematikan mesin motornya.
"Kenapa Jam segini baru pulang? janjinya kan pulang Jam 9?" Roman mulai menginterogasi Tyo dan Rona tapi sepertinya suasana hati Rona memang sangat buruk hingga gadis itu turun Drai motor dan langsung berlari ke dalam rumah setelah tak lupa mencium tangan sang Papah yang mengernyit bingung dengan tingkah sang Anak.
"Nih kenapa? waktu pergi senyum-senyum pas pulang mukanya udah kayak koran di lipet-lipet." seru Roman namun Rona tampak tak semangat untuk menjawab, terbukti gadis itu yang langsung masuk ke dalam rumah.
Melihat Rona masuk ke dalam kini tatapan Roman beralih pada Tyo yang hendak pamit namun sepertinya pemuda itu tidak akan bisa langsung pulang mengingat sebentar lagi dia akan mendapatkan cecaran pertanyaan dari Papah temannya yang kabur meninggalkan dirinya dalam masalah karena harus menjawab berbagai pertanyaan dari lelaki dewasa di depannya saat ini.
"Rona kebiasaan." gerutu Tyo sebab ini memang bukan pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini, dulu saat Rona bolos sekolah untuk menonton bersama teman-temannya yang malah dirinya lah yang harus menjawab semua pertanyaan Roman.
Ya memang salah dirinya juga yang kenapa datang ke rumah Rona untuk menanyakan kenapa Rona tidak masuk sekolah, dan semakin kacaunya lagi Tyo bertanya pada Roman langsung yang melihat sendiri anaknya pergi dengan seragam sekolah. jadilah Tyo yang lagi-lagi di interogasi.
"Rona kenapa?" usut Roman dengan mata yang penuh selidik.
"Nggak tahu Om." ucap Tyo dengan gelengan kepala.
"Perginya sama kamu kok bisa kamu malah nggak tahu." desis Roman.
"Eemm."
"Ngapain am em am em segala?!" sengit lelaki yang masih terlihat tampan di usianya yang bahkan sudah tidak lagi bisa di sebut muda itu.
Tyo mulai kebingungan dan menggaruk kepalanya yang bahkan masih memakai helm.
"Apa gara-gara ketemu Om yang tadi ya?!" Tyo mulai menebak.
__ADS_1
Kening Roman mengernyit bingung dan semakin penasaran.
"Om siapa maksud kamu?!" seru Roman.
"Itu temennya Rona." sahut Tyo lagi dengan wajah yang tak tahu seperti apa sekarang karena terus di interogasi oleh Papah temannya sendiri.
"Rona temenan sama Om-Om?" mata Roman membelalak mendengar pernyataan pemuda di depannya tentang anaknya yang mengenal lelaki yang lebih tua.
"Iya." Tyo mengangguk.
"Ya sudah sana kamu pulang." seru Roman dan Tyo pun dengan semangatnya langsung naik ke atas motor dan tancap gas sebelum Roman kembali menjadikannya informan.
Roman masuk ke dalam rumah dengan kerutan di dahinya, masih tidak mengerti bahwa anaknya bisa berteman dengan seorang lelaki yang di panggil Om oleh Tyo.
"Rona!" panggil Roman dengan suara yang cukup keras apalagi niatnya sekarang jika bukan untuk memarahi anaknya itu karena berteman dengan lelaki yang lebih tua dari sang anak.
"Kenapa Pah?!" malah Tania yang menjawab.
"Rona!" malah makin mengencangkan suaranya.
"Rona mana?" tanya Roman.
"Udah masuk kamarnya, kenapa sih emangnya?" tanya Tania yang tidak biasanya mendengar suaminya itu berkata keras pada anak mereka satu-satunya.
Tanpa menjawab pertanyaan sang istri, lelaki itu bergegas menaiki tangga untuk menuju kamar anak gadisnya yang pintunya sudah tertutup rapat.
"Rona keluar, Papah mau bicara!" seru Roman dengan tangan yang mengetuk keras pintu di depannya.
Tania yang mengikuti dari belakang mencoba untuk menenangkan suaminya namun nyatanya Roman tetap saja tidak mau menghentikan perbuatannya.
__ADS_1
"Rona buka pintunya." seru Roman lagi.
Setelah tak berapa lama akhirnya terdengar suara kunci di buka, tangan Roman pun berhenti mengetuk.
Pintu terbuka dan wajah Rona yang matanya tampak sedikit basah terlihat di depan kedua orang tuanya yang saling menatap.
"Rona nggak mau nikah sama Kak Darren." kata itu meluncur dari mulut Rona yang membuat Papah dan Mamahnya saling menatap bingung tidak mengerti dengan yang saat ini di ucapkan oleh anak mereka.
Roman yang tadinya akan mengomeli sang anak karena berteman dengan Lelaki yang lebih tua malah di buat heran.
Mereka tahu anaknya itu sangat menyukai Darren bahkan saat mereka masih kecil Darren dan Rona sudah sangat lengket sekali dna begitu sulit di pisahkan, bahkan Rona begitu semangat ketika mengetahui bahwa dirinya di jodohkan dengan Darren, meskipun dengan sikap Darren yang semakin dewasa malah semakin cuek padanya tapi Rona tetap yakin bahwa bisa menjadi istri Darren suatu saat nanti.
Bahkan gadis Roman itu tidak menyerah untuk bisa terus menghadapi sikap dingin dan cuek nya seorang Darren.
Tapi kenapa hari ini Rona berkata bahwa ia tidak mau menikah dengan Darren, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan anaknya itu.
"Kamu lagi ngigau?" tanya Tania pada sang anak.
"Pokoknya Rona nggak mau nikah sama Kak Darren." Rona mengulang kembali pernyataannya.
"Ya udah besok kita ke rumah Om Adit." kata Roman akhirnya yang sepertinya sudah lupa tentang apa yang ingin dia tanyakan pada sang anak.
"Ngapain?" tanya Rona.
"Ya ngomong kalau kamu nggak mau nikah sama Darren." sahut Roman.
"Iya." Rona menjawab ketus.
"Ya sudah tidur sana." ujar Tania yang langsung di jalankan oleh Rona.
Roman dan Tania meninggalkan kamar Rona dan menuruni tangga dengan sejuta pertanyaan di dalam kepala mereka tentang apa yang terjadi dengan Rona saat ini.
****
__ADS_1