Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 92


__ADS_3

Kamis pagi..


"Memangnya kamu sudah bilang sama Papa?" tanya Darren ketika Rona tengah memasang kancing pada lengan kemejanya.


"Sudah, kan yang waktu aku ngomong soal ijazah sama Kakak terus aku langsung telepon Papa," jelas Rona.


Darren mengangguk, "Ya sudah," kata Darren kemudian menatap wajahnya di cermin.


"Memarnya masih kelihatan kan? lagian sih berantem terus kerjaannya, pokoknya abis ini aku udah nggak mau denger Kakak berantem-berantem lagi! Kakak juga udah janji!" desak wanita yang juga sudah rapi karena iapun ingin ke rumah orang tuanya.


"Iyaa bawel," ucap Darren menepuk mesra bibir mungil dari istrinya.


"Kepalanya masih pusing nggak?" Rona bertanya pada sang suami, sebab sudah sejak dari kemarin suaminya itu mengeluh kepalanya pusing dan pandangan yang kadang berkunang ketika bangun dari duduk seperti orang yang kurang darah.


Darren diam lalu menggeleng, "udah nggak," sahutnya.


"Ya udah sarapan dulu," ajak Rona menggandeng suaminya ke ruang makan yang di atas mejanya sudah tersaji roti isi serta susu untuk mengisi perut mereka pagi ini.


"Aku nggak sempat masak," tukas Rona mendudukkan suaminya di kursi.


"Iyaaa, nggak apa."


Betapa terdengar sangat lembutnya suara Darren kala menjawab perkataan istri tercintanya itu seraya mulai menggigit roti yang ada di atas piringnya.


Keduanya memakan roti dengan tenang sesekali tangan Darren mengelus kepala istrinya penuh kasih sayang seperti tengah menunjukkan bahwa di dalam hatinya hanya ada wanita itu seorang.


Menghabiskan roti mereka lalu keduanya keluar dari apartemen menuju lift.


Saat pintu lift terbuka di dalamnya sudah ada seorang wanita yang beberapa kali sempat berpapasan dengan Darren membuat keduanya saling melempar senyum ramah sebagai sapaan.


Darren tidak menyadari bahwa keramahan yang dia tunjukkan itu malah mendapatkan lirikan mata yang teramat sinis padanya, lalu seketika dia merasakan pinggangnya seperti di gigit oleh semut, sangat tajam dan pedas.


Darren melirik tangan istrinya yang tengah mencubit dirinya dengan begitu kuat, pria itu berusaha menahannya sampai mereka keluar dari dalam lift.


"Sakit Na, sakit!" rintih Darren seraya mencoba untuk melepaskan tangan tajam sang istri dari pinggangnya.


"Ampun nggak?!" desak Rona.


"Iya ampun sayang," jawab Darren dengan wajah memelas.


"Jangan lirik cewek-cewek lagi! nggak usah senyum juga, sok kegantengan banget!" celetuk Rona yang sangat tidak suka melihat suaminya ramah pada lawan jenis.


Hanya sekedar bersikap ramah saja namun wanita itu justru berpikiran kalau suaminya itu tengah tebar pesona.


"Iyaa, iyaa! udah lepasin sayang sakit banget ini," pinta Darren karena sudah sangat tidak tahan merasakan cubitan maut dari wanita yang sedang merasakan cemburu.


Rona pun melepaskan cubitannya lalu berjalan cepat meninggalkan sang suami menuju parkiran motor.


"Nah ngerasain kan dia gimana keselnya gue kemarin-kemarin ngeliat dia deket-deket terus sama si bocah tengil, juga playboy nggak guna macam si Rendi," gumam Darren mengingat bagaimana dia yang sangat cemburu melihat ada yang mendekati istrinya.


"Pedes banget lagi cubitannya," tutur Darren mengelus pinggangnya yang menyisakan rasa nyeri akibat perbuatan sang istri.


Sadar istrinya tengah menunggu membuatnya melangkah cepat.


"Nanti sehabis ambil ijazah aku nggak pulang ke apartemen," kata Rona tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa? kok nggak pulang? ngambek?" tanya Darren yang sudah berpikiran jika istrinya itu ngambek akibat keramahtamahan yang tadi dia tunjukkan pada seorang wanita muda yang juga menghuni apartemen.


"Males di apartemen sendirian, aku di rumah Mama nanti pulang kuliah Kakak jemput," terang Rona membuat Darren bernafas lega karena perkiraannya salah.


Istrinya itu tidak ngambek hanya sedang bosan di apartemen yang memang hanya mereka tinggali berdua saja.


"Makanya Dede bayinya di jadiin aja biar kamu ada temannya jadi nggak bosen."


Darren sudah mulai memunculkan idenya yang jelas tidak akan disetujui oleh Rona begitu saja.


Berbagai pertimbangan akan segera terlontar dari bibir Rona yang akhirnya akan membuat Darren kalah tidak akan bisa lagi berkutik untuk mendebat istrinya dan melontarkan berbagai argumen untuk memenangkan perdebatan itu akan terasa sangat sulit karena yang tengah dia hadapi adalah seorang wanita terlebih lagi wanita itu adalah istrinya.



Lebih baik menyerah ketimbang kehilangan jatah! itulah yang ada di dalam benak Darren ketika dia hendak akan membuka mulutnya hingga akhirnya pun memutuskan untuk mengalah tidak jadi menjawab setiap pernyataan yang Rona utarakan.



"Sudah selesai?" tanya Darren pada sang istri yang sedari tadi mulutnya terus berkicau.



"Udah!" sentak Rona.



"Bisa berangkat sekarang?" tanya Darren lagi.




Darren tersenyum kaku lalu memakai helmnya, lebih baik segera berangkat sekarang sebelum wanita di belakangnya akan kembali bersuara dan menyalahkan dirinya lagi.



\*\*\*\*



Mobil Roman masuk ke halaman sekolah tempat anak gadisnya yang nyatanya sudah tak lagi gadis itu menuntut ilmu.



Mencari tempat parkir yang sudah dipenuhi oleh kendaraan dari wali murid yang juga akan mengambil ijazah sama sepertinya.



Rona turun dari mobil lalu berteriak ketika melihat Desi dan juga Kyla yang baru saja datang dengan orang tua mereka.



"Rona!" seru Roman tak senang anaknya berteriak macam sedang berada di hutan.


__ADS_1


Delikan mata yang Roman tunjukkan sudah mampu membuat Rona untuk merapatkan mulutnya.



Desi dan Kyla pun berlari menghampiri Rona lalu dengan kepo maksimal langsung menanyakan dimana suami temannya itu.



"Lu ngapain jadi tanyain Kak Darren?!" ketus Rona mendengar pertanyaan konyol dari Kyla Dan juga Desi yang anehnya malah ikut bertanya padahal Rona tahu saat ini Desi sedang berhubungan dengan Angga teman dari suaminya yang juga sudah ia kenal sebelumnya.



"Nih si Kyla katanya minta di kenalin sama temennya suami lu Na," terang Desi yang malah membuat Kyla mengerucutkan bibirnya.



Rona memandang temannya lalu malah mencebikkan bibir bawahnya meledek temannya itu.



"Cowok lu aja tuh suruh kenalin," kata Rona pada Desi.



"Angga nya nggak mau, abisnya si Kyla ngeselin banget kalau di tanya maunya yang ganteng, kan kalau yang ganteng mah belum tentu mau sama dia ya?!" ejek Desi meminta pendapat Rona yang dengan entengnya mengangguk mengiyakan apa yang Desi ucapkan.



"Jahat banget lu berdua," rengek Kyla konyol.



"Suami lu mana Na? kok Papa Lu yang ambil ijazah?" tanya Kyla ketika melihat Roman yang sedang menghampiri mereka.



"Diumpetin sama Rona biar lu nggak seenaknya aja cuci mata," seloroh Desi lalu tertawa membuat Rona pun malah ikut tertawa mendapati wajah Kyla yang sudah benar-benar di tekuk beberapa lipatan.



Rona melihat Papanya yang tengah mengobrol dengan Papanya Tyo juga Tyo yang berada tak jauh dari sana.



Pemuda itu hanya tersenyum ketika matanya tak sengaja melihat Rona yang juga tengah melihatnya.



Sejak mengetahui bahwa Rona sudah menikah, pemuda itu sudah tidak lagi mengirimkan pesan padanya, Tyo seolah menjaga jarak dengannya dan itu membuat Rona merasa kehilangan.



Kehilangan seorang sahabat yang selama ini selalu ada untuknya, namun ia tidak bisa berbuat apapun karena ini memang yang terbaik untuk mereka, karena dirinya juga tidak mau selalu membuat suaminya cemburu dengan terus berdekatan dengan Tyo.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2