Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 59


__ADS_3

Pagi hari sekitar jam 6 lewat di Roman sudah berdiri di depan pintu rumahnya dengan kedua tangannya yang menyilang di bawah dada, menyandar di depan pintu dengan mata yang menatap penuh pertanyaan pada dua pemuda beda usia namun mempunyai maksud dan tujuan yang sama.


"Ngapain pagi-pagi nyatronin rumah saya." suaranya terdengar datar namun tetap saja ada sedikit kekesalan karena pagi harinya di sambut dengan pemandangan tak sedap dari dua orang pemuda yang dia yakini tengah mencari anak gadisnya, iya anak gadis yang sudah tak lagi gadis namun rupanya masih saja ada kumbang yang ingin mendekatinya.


Sekejap dia merasa bahwa anaknya itu cukup populer seperti dirinya sewaktu muda dulu, Roman sedikit mengulas senyum kala mengingat betapa flamboyannya dia saat muda dulu.


Terang saja dua orang di depannya mendadak saling pandang kala mendapati Om-om di depannya malah senyum-senyum tak jelas.


"Om." Tyo yang sudah lebih dulu mengenal Roman memberanikan diri untuk menegur pria yang usianya sama dengan Ayahnya agar sadar.


"Apa?!" Roman malah dengan ketusnya menjawab dengan delikan mata yang tak senang.


Tak senang karena bocah teman anaknya itu mengganggu dirinya yang tengah bernostalgia pada pikirannya sendiri, benar-benar seorang Roman yang kelakuannya dari muda hingga memiliki menantu masih saja memalukan dan konyol melebihi ambang batas.


Tyo menggaruk kepalanya canggung dengan raut wajah yang begitu aneh. "Tyo mau jemput Rona Om, kemarin sudah janji soalnya." kata Tyo yang ditanggapi tak senang oleh Rendi yang sejak tadi berdiri di dekatnya.


"Apaan lu! gue yang udah janjian sama Rona kemarin di kampus." selak Rendi nyolot tak terima dengan pernyataan bocah yang dia ketahui bernama Tyo itu.


Tyo lantas menoleh pada orang yang sejak tadi berada di sampingnya, pemuda yang dia lihat dari raut wajahnya saja sudah sangat menyebalkan itu malah membuat dia semakin meradang tak senang, tadi di pintu gerbang keduanya berpapasan dengan tak mau mengalah nya malah saling berebut untuk masuk ke dalam pagar, sebab dua-duanya sudah saling curiga kalau mereka datang ke rumah itu dengan satu nama dan tujuan yang sama, Rona.


Tyo memandang Rendi dari atas hingga bawah, menatap keseluruhan penampilan pemuda yang hendak berkompetisi dengannya, ya kompetisi untuk mengantar Rona pagi ini ke sekolah, meski tentunya Tyo sangat yakin dialah yang akan dipilih Rona karena memang mereka satu sekolah bahkan berada di satu kelas yang sama, bukankah itu suatu keuntungan baginya?.


"Siapa Pah?" suara Tania yang tengah melewati ruang tamu membuat Roman menoleh.


"Penggemar anakmu." sahut Roman cuek.


Tania menarik napas berhenti sesaat untuk sekedar mengintip lalu kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur namun dengan bibirnya menggumam. "Rona menuruni Papahnya." rupanya setelah sekian lama membesarkan sang anak baru hari inilah ia menyadari bahwa semua yang ada pada anaknya itu menurun dari suaminya.


Roman malah asik menyaksikan dua orang pemuda di depannya yang saling beradu mulut, saling merasa lebih berhak untuk bisa pergi dengan putri semata wayangnya yang bahkan pagi ini pun dia tidak tau apakah anaknya itu sudah bangun atau belum, sudah berangkat ke sekolah atau belum, yang dia tau bahwa dua cunguk di depannya semakin membesarkan mulut mereka.


"Kenapa tidak kalian tanya saja pada Rona langsung dia mau pergi dengan siapa?" usul dari pria dewasa itu jelas membuat dua pemuda yang masih sama-sama ngotot itupun menatap padanya lalu dengan serempak menjawab.

__ADS_1


"Iya Om." kata Tyo dan Rendi merasa ada sebuah solusi dari masalah yang mereka buat sendiri.


"Ya sudah kalian tanya kalau gitu." kata Roman kemudian dengan tampang yang sangat innocent.


"Tolong panggilin Om Rona nya." kali ini Rendi bersuara.


"Lah songong!" seru Roman tak senang Rendi begitu semena-mena pada dirinya sang pemilik rumah terlebih lagi dia jauh lebih tua ketimbang duo bocah yang tak tau apa-apa itu, tak tau bahwa wanita yang tengah mereka perebutkan tidak ada di rumah itu.


"Tau lu, songong banget lu." Tyo merasa mendapat kesempatan hingga ikut menuding Rendi yang mendelikkan mata kesal. "Bukannya minta maaf malah melotot." sambung Tyo yang sungguh sangat senang karena saingannya sebentar lagi akan terkena damprat pria di depan pintu.


Tapi sepertinya harapan Tyo itu hanyalah sebuah harapan tanpa perwujudan yang nyata sebab setelahnya tak ada lagi suara dari mulut Roman.


"Ngapain kamu ngelihatin saya?" tanya Roman yang mendapatkan ekspresi wajah Tyo yang seperti tengah menunggu sesuatu.


"Om nggak ngomelin dia?" dengan polosnya Tyo bertanya.


Roman mencebikkan bibirnya lalu berteriak memanggil istrinya. "Mah, Papah berangkat." seru Roman yang membuat dua pemuda itu kebingungan terlebih ketika setelah istrinya menyahut dari dalam, Roman malah menutup pintu rapat.


Untuk kedua kalinya Tyo dan Rendi saling menatap tak jelas lalu kemudian menoleh pada pintu dan detik berikutnya berjalan cepat mengejar Roman yang sudah ada di dalam mobil, saling berebutan untuk bisa menanyakan Rona.


"Om, Rona nya mana?" tanya Rendi yang mendorong Tyo ke samping tak membiarkan bocah tengil itu mendahului dirinya.


"Rona nggak ada." sahut Roman datar.


"Kemana?" kali ini Tyo yang mengajukan pertanyaan.


"Udah berangkat kali." kata Roman seraya memundurkan mobilnya.


"Lah, kok Om nggak bilang dari tadi?!" sepertinya Rendi mulai protes dan kesal.


"Suka-suka saya dong." dengan tampang menyebalkan Roman menjawab perkataan Rendi. "Tyo." panggil Roman pada teman sang anak yang memang sudah sangat dia kenal.

__ADS_1



"Iya Om." sahut Tyo.



"Sana berangkat, nanti kesiangan." perintah Roman dan setelah itu dia pun lantas menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah.



Terdengar bunyi klakson dua kali sebagai tanda agar dua pemuda itu segera pergi dari rumahnya.



"Nih Bapaknya Rona ngeselin juga." gerutu Rendi seraya menuju motornya yang di parkir di luar pagar.



"Gua aduin aaaah." Tyo yang berjalan di samping Rendi pun dengan sangat sengaja memberikan ancaman.



"Heh bocah!" sentak Rendi galak.



Tyo acuh malah dengan sengaja mengepalkan tinjunya dan berlari kencang menuju motor serta ngacir begitu saja, masa bodo dengan segala makian Rendi yang sempat terdengar di telinganya, yang jelas dia punya senjata agar Rendi tidak diijinkan untuk mendekati Rona lagi.



\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2