
Sepasang suami istri di rumah itu masih tetap saling melihat tanpa ada kata hanya terdengar hembusan napas yang terdengar di hening nya malam dan remangnya ruangan tempat mereka berada.
"aku harus apa yank supaya kamu nggak marah lagi" akhirnya Aditya yang membuka mulut lebih dulu, karena memang dirinya lah yang telah membuat sang istri seperti ini
"yakin mau lakuin apa aja? " Rianti bertanya seperti tidak percaya dengan tawaran yang diajukan sang suami yang kini masih terus menatap nya penuh harap
"yakin" Aditya mengangguk cepat bahkan sangat mantap seolah ia pasti bisa dan sanggup menjalani hukuman yang istrinya berikan nanti
"beneran? " masih saja bertanya karena ia tahu hukuman yang akan ia berikan pasti akan sangat berat bagi sang suami
"bener kok suer, yang penting kamu nggak diemin aku lagi" ucap Aditya penuh percaya diri dengan mengangkat kedua jarinya meyakinkan sang istri
Rianti memutar matanya mendengar pernyataan sang suami, yang membuat ia begitu yakin suaminya itu tidak akan bisa menjalani hukumannya dengan baik
baru didiemin olehnya saja sang suami sudah sebegitu paniknya sedangkan hukuman yang akan ia berikan adalah hal yang tidak beda jauh dengan itu
"bilang yank" menanti serta mendesak istrinya untuk mengatakan apa yang harus ia lakukan agar bisa di maafkan
Rianti mendengus sebal dengan tingkat percaya diri sang suami yang begitu tinggi, sedangkan ia sangat tahu bagaimana sifat si suami
"dalam seminggu ini kamu tidur di kamar Riana nggak boleh kamu diem-diem masuk kamar waktu aku tidur apalagi sampai ikut tidur di sebelah aku" kata Rianti mengatakan hukuman yang harus dijalani Aditya
"Lah kok gitu? " jantung nya langsung berdegup begitu kencangnya mendengar ia harus tidur dikamar Riana sedangkan ia sudah begitu kecanduan dengan pelukan sang istri ketika tidur
mata Rianti memicing mendengar suaminya protes tidak Terima dengan apa yang harus ia jalani
"mau protes? " tanya Rianti seraya bersedakep
"yaiyalah aku protes. enak aja kamu kayak gitu sama aku , ganti sama yang lain aja. nyuci piring kek sikat kamar mandi atau yang lainnya . apaan hukuman masa gitu " Aditya nyap-nyap panjang lebar merasa permintaan istrinya begitu konyol
padahal sang istri tahu kelemahannya , entah kenapa setelah memiliki anak rasanya ia tidak pernah bisa jauh sama Rianti apalagi harus pisah tidur.
"kan aku udah tanya berkali-kali , kamu jawab yakin bisa jalanin hukuman dari aku" tukas Rianti mengungkit bagaimana tadi begitu yakin nya sang suami saat ia tanya
"ya tapi jangan begitu juga dong, mana minggu besok aku harus ke Jerman satu minggu, ini aja aku udah pusing harus jauh dari kamu , eh kamu malah nambahin kepusingan aku" malah Aditya yang marah-marah sekarang
"ya bagus dong" Rianti tersenyum tipis melihat suami nya marah panjang kali lebar karena dilarang tidur dengannya selama satu minggu dan sekarang malah jadi dua minggu karena Aditya yang harus pergi ke Jerman
"bagus apanya, orang mau puasin dulu sebelum pergi ini malah disuruh puasa dua minggu!! " berkata frustasi seraya mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangan
"mau apa nggak? " Rianti menatap suaminya dengan tajam dan penuh intimidasi
"kalo nggak mau malah aku tambahin jadi satu bulan" malah mengancam akan menambah masa hukumannya jika sang suami masih juga protes
Mendengar kata satu bulan Aditya langsung terlihat kelabakan dan menjawab begitu cepat menyetujui yang satu minggu saja
"oke oke aku coba yang pertama aja"
Rianti melotot mendapati kata "coba" keluar dari mulut sang suami "maksud kata coba itu apa? " meminta penjelasan
"ya di coba dulu , kalo aku nggak bisa berarti nggak usah" sahut Aditya mulai membuat pengaturan sendiri
"dih enak aja, nanti aku tambahin kalo nggak bisa sampai kamu bisa" tukas Rianti tidak Terima dengan aturan asal yang di buat sang suami
seenaknya Aditya menginterupsi apa yang sudah di buat oleh Rianti seolah bukan dirinya yang salah
Aditya berdecak mendapati sang istri tidak mau merubah apa yang sudah diaturnya
"yaudah, tapi mulai besok kan? " tanya Aditya berharap hukumannya baru akan berlaku esok hari dan malam ini ia bisa memuaskan dirinya tidur dengan sang istri sebelum memulai untuk tidur di kamar Riana
__ADS_1
Rianti menggeleng dengan senyum mencurigakan
"mulai malam ini! " jawab Rianti tegas dan penuh penekanan
"astagaaa Riantiiii " Aditya berkata dengan nada yang begitu gemas dengan yang dilakukan sang istri
"apa? " Rianti memajukan wajahnya seraya berjinjit agar tinggi nya seimbang dengan sang suami, menatap heran kenapa suaminya masih saja memprotes sedangkan hukuman yang ia berikan sudah termasuk sangat mudah untuk dijalani
Mata mereka pun beradu bahkan hembusan napas mereka saling menerpa wajah
"kasih keringanan dong yank please " berkata dengan memelas berharap kali ini ekspresi wajahnya bisa membuat Rianti sedikit iba dan mau menuruti permintaannya
Rianti menggeleng lagi bahkan dengan gerakan lambat seakan meminta Aditya agar dapat memahami arti dari gelengan kepala yang dilakukan oleh nya
"oh oke kalo gitu" ujar Aditya dengan gurat wajah yang membuat Rianti sedikit curiga
"mas mau ngapain? " bertanya ketika sang suami terlihat makin memajukan wajahnya
"mau seneng-seneng dulu sebelum menjalani hukuman" tersenyum licik seraya terus mendekat sedangkan istrinya terus menggerakkan badannya mundur guna menghindari sang suami
"Kan hukumannya malam ini" ucap Rianti sambil menahan dada sang suami dengan kedua tangannya sedang ia tetap melangkah mundur seraya berulang kali menoleh belakang takut tubuhnya menabrak benda
"malam ini kan? , bukan detik ini " kata Aditya dengan teorinya sendiri, menurutnya kata malam adalah sebelum pagi dan terserah ia mau mulai menjalani hukuman yang diberikan istrinya jam berapa saja asalkan belum pagi
"tapi kan.. " Rianti sudah sangat terpojok di tembok karena suaminya terus saja berusaha menghimpit meski tangannya mencoba menahan
"nggak ada tapi-tapian, aku bakal jalanin hukuman malam ini , tapi nanti jam 12 tepat " Aditya menyeringai seolah sangat senang membuat istrinya panik sekarang, dan keadaan berbalik bukan ia yang ketakutan melainkan sang istri yang pasti akan ia kerjai nantinya
"jam berapa sekarang? " menunjukkan ponsel yang diambil dari saku celananya lalu meminta sang istri untuk melihat jam di layar ponsel miliknya
"jam setengah 10" Rianti menjawab dengan peluh yang sudah memenuhi dahinya
"artinya masih ada berapa jam sebelum jam 12? " Aditya mengungkung Rianti dengan kedua tangannya setelah menyimpan kembali ponsel kedalam saku
"dua jam setengah" Rianti menjawab pertanyaan suaminya dengan kaki yang mulai tidak seimbang saat di gunakan untuk berdiri . entah kenapa ia gemetar menghadapi tingkah sang suami padahal ia sudah sering mendapat perlakuan yang menyebalkan dari ayah kedua anaknya
"bagus " setelah berkata Aditya langsung menarik pinggang istrinya menuju sofa dan memangku dengan begitu agresif
"aku masih belum boleh loh mas " ucap Rianti memberitahu bahwa mereka masih belum bisa berhubungan suami istri
"aku tahu" dengan santainya mengatakan ia tahu tapi tangannya sudah bergerak nakal kesana sini
"kayak biasa aja" bisiknya seraya mengecup daun telinga sang istri
setelah perkataan Aditya Rianti hanya mengikuti saja apa yang diminta sang suami meski ia merasa terjebak dengan perkataannya sendiri
harusnya tadi ia mengatakan detik ini juga bukan malah malam ini, ia merasa suaminya jauh lebih cerdik dari pada dirinya, mau tidak mau kini ia yang pasrah mengikuti sang suami untuk melakukan keinginan lelaki itu..
****
Selfi sedang mendengarkan musik di dalam kamar seraya tengkurap di ranjang begitu menikmati alunan yang tengah diputar sampai ia tidak menyadari Tania sudah duduk di tepi ranjang tengah menatapnya sambil menarik napas berulang kali melihat kelakuan sang adik yang katanya ingin mencari kerja tapi kenyataan yang ada sungguh sangat berbeda
tiap saat ia hanya melihat adiknya tiduran atau keluar rumah yang entah dengan siapa tanpa ada usaha untuk mencari pekerjaan
"Sel" panggil Tania namun adiknya tidak mendengar karena saking kencangnya musik yang ia dengarkan
"Selfiiiii" akhirnya berteriak seraya menyenggol kaki sang adik , dan sukses membuat Selfi menoleh padanya
"apa sih mbak? " bertanya kesal merasa keasikannya terganggu
__ADS_1
"aku mau ngomong" imbuh Tania
"yaudah ngomong aja si" Selfi masih terlihat cuek pada kakaknya yang sudah begitu geregetan menghadapi adik sepertinya
"matiin itu" meminta sang adik mematikan musik yang masih mengalun memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengar tapi tidak termasuk Selfi karena kelihatannya telinga gadis itu sudah tersumbat , terlihat dari cara dia mendengarkan musik yang begitu sangat menggelegar seisi ruangan
bukan dimatikan tapi Selfi malah menambah volume suara hingga membuat Tania menutup telinga dengan kedua tangan
Dan tak disangka Roman masuk lalu dengan ganasnya ia mematikan audio yang tengah menyala kencang
Selfi hanya mampu cemberut ketika melihat siapa orang yang sudah berani mematikan audio nya
jika saja Tania yang mematikan pasti Selfi sudah mengajak ribut kakaknya itu
Roman menatap tajam Selfi seraya berkacak pinggang, ia begitu kesal dengan tingkah adik iparnya yang sama sekali tidak ada hormatnya pada Tania, berulang kali ia melihat Selfi melawan jika diberitahu oleh sang kakak
jika saja adik iparnya itu laki-laki mungkin tanpa mikir Roman langsung mengajaknya baku hantam, masa bodo dengan yang namanya ipar.
kalo sudah membuat istrinya kesal apalagi sekarang tengah mengandung sudah dipastikan ia akan menghajar adik istrinya tanpa ampun
susah-susah ia menjaga kondisi istrinya agar stabil menjalani kehamilan yang masih muda , eh adik iparnya malah seenaknya membuat keributan
"duduk kamu! " perintah Roman pada Selfi yang masih pada posisinya semula
Selfi beranjak untuk duduk menuruti perintah sang kakak ipar meski dengan raut cemberut
"dengerin kakak kamu ngomong" tukas Roman tajam
"iyaa" Selfi menjawab ogah-ogahan
Roman melihat Tania memintanya untuk segera bicara pada Selfi seraya menyender di tembok
"kamu ngekost aja ya Sel" Tania langsung saja terus terang meminta adiknya itu untuk ngekost membuat Selfi langsung melihatnya dengan tatapan marah
"mbak kok jahat banget si" omel Selfi tidak Terima
roman menarik napas mendengar tuduhan yang di lontarkan Selfi pada sang istri
"maksud mbak biar kamu mandiri, toh mbak juga dulu sebelum nikah juga ngekost kok" Tania mencoba memberi pengertian
"alah bilang aja mbak ngusir aku, lagian kan waktu itu mbak udah kerja udah punya gaji buat bayar kost dan keperluan mbak, sedangkan aku kan sekarang belum kerja" cerocos Selfi mendengar alasan yang diberikan Tania
Tania mengatupkan bibirnya tak menjawab tudingan Selfi yang menuduhnya telah mengusir
"urusan bayar kost sama kebutuhan nanti gue yang tanggung" Roman tak membiarkan Selfi untuk menolak apa yang dikatakan Tania
"tapi kak,. "
"nggak ada tapi-tapian, lu tinggal ikutin aja susah amat si! " Roman memotong ucapan Selfi padahal gadis itu sepertinya masih berusaha untuk menolak
"yaudah, tapi kakak yang cariin kost'an nya " Selfi menurut namun tetap ada saja permintaannya yang bikin orang kesal
Roman mendengus lantas berdecak mendengar Selfi memintanya dicarikan kost
"iya besok gue cariin" sahut Roman menyetujui permintaan Selfi, nggak apa-apa repot sehari untuk mencarikan kost dari pada harus repot yang tidak tahu entah sampai kapan jika Selfi masih ada dirumahnya..
ia dan juga Tania tidak tega sebenarnya meminta Selfi untuk tinggal sendiri apalagi gadis seusianya pasti harus selalu di awasi, namun apa boleh buat saat ini ia lebih memilih ketenangan rumah tangga nya dan Tania , jadi keputusan ini dengan terpaksa harus ia ambil...
******
__ADS_1
bersambung...