Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 70


__ADS_3

Teman-teman Rona yang lain sudah rusuh memesan bakso yang sesuai dengan mereka, meminta pada sang penjual untuk membuat bakso seperti yang mereka inginkan, sang penjual bakso pun tampak sibuk melayani gerombolan anak SMA itu meski tidak memakai seragam nyatanya si penjual bakso sudah tahu bahwa yang tengah dia layani adalah anak sekolahan yang sebentar lagi akan duduk di bangku kuliah.


"Gue nanti mau kuliah disini, sama cowok gue," celoteh Desi sambil menunggu bakso pesanannya datang.


Mata Rona terus melirik pada gerbang kampus yang masih terbuka, tampak begitu was-was bahkan ia sampai tidak mendengarkan obrolan teman-temannya yang mulai sibuk membicarakan dimana mereka akan berkuliah setelah ini.


"Kalau elo dimana Na?!" tanya Kila yang duduk sebelahan dengannya.


"Di situ." dengan polosnya Rona menunjuk kampus di depannya membuat Desi bersorak kegirangan karena teman sebangkunya juga akan satu kampus dengannya.


"Yes gue ada teman ngerumpi kalau gitu," pekik Desi sumringah.


"Kalau Rona di sini, gue juga bakal kuliah di sini juga kalau begitu." Tyo menyambut perbincangan teman-temannya dengan sangat antusias karena dia akan bisa terus berdekatan dengan Rona.


"Yeeh, ngikut aja lu Yo," serbu Kila meledek temannya yang memang ia ketahui terus saja mendekati Rona, terus melakukan pedekate tanpa berani untuk mengungkapkan perasaannya.


"Nggak jelas emang," celetuk teman prianya yang duduk di sebelah Tyo dengan gelengan kepala.


Rasanya semua teman sekolah Rona pun sudah mengetahui bagaimana perasaan Tyo terhadap Rona, hanya saja memang Rona yang tidak peka sekaligus tidak memiliki perasaan apapun padanya sehingga membuat Rona santai saja berteman dengan Tyo bahkan begitu biasa ketika harus berboncengan dengannya.


Rona yang baru akan membuka mulutnya malah kembali menutupnya ketika bakso pesanan mereka sudah datang dan temannya mulai rusuh dengan semangkok bakso panas yang begitu menggiurkan di depan mata mereka.

__ADS_1


Mereka semua mulai sibuk dengan bakso masing-masing sambil terus bersenda gurau, tertawa bercanda dengan tangan yang bergerak guna memasukkan saos, kecap serta sambal untuk menambah citarasa yang mereka inginkan.


"Wooow mantap," seru Tyo kala kuah bakso masuk ke dalam mulutnya, ekspresi pemuda itupun tampak begitu puas dengan bakso hasil racikannya dengan menambahkan saos juga kecap.


"Nah enak kan? lidah gue nggak pernah salah dalam memilih makanan," ujar Desi senang dengan reaksi teman-temannya itu.


"Lebih enak dari yang di dalam kampus ternyata," celetuk Rona membuat seluruh mata temannya beralih padanya.


Kerutan penuh pertanyaan muncul dari masing-masing wajah yang ada di dekatnya, dan pertanyaan pun mulai muncul dari bibir mereka.


"Lu udah pernah ke kampus itu?" usut Kila memicingkan kedua matanya.


"Hah? apaan?" Rona malah terlihat bingung sendiri dengan pertanyaan dari sang teman, tidak menyadari bahwa ia keceplosan bicara.


"Iya lah kan gue bakal kuliah di situ, ya gue mesti lihat-lihat dulu kan? kali aja suasananya nggak cocok sama gue, gue bisa cari kampus lain," sahut Rona menunjukkan wajah yang santai dan tenang.


"Ooooh," Desi memajukan bibirnya kala mengatakan oh dengan panjang.


"Eh, cowoknya ganteng-ganteng nggak?" seloroh Kila dengan senyuman yang menyebalkan.


"Nanti kalau gue udah kuliah disitu baru ada cowok gantengnya, sekarang mah nggak ada pasti," cetus Tyo dengan percaya diri yang sangat tinggi, tidak menghargai temannya yang sedang makan bakso hingga mereka pun setempat tersedak kuah bakso yang rasanya sudah di pastikan pedas karena campuran sambal yang mereka masukkan tidak di ukur lebih dulu, asal Cemplung ke dalam mangkok.

__ADS_1


Uhuk! uhuk! uhuk!


Memukul-mukul dada mereka seraya sibuk membuka botol air mineral yang mendadak terasa begitu sulit.


"Sialan lu Yo, narsis lu dari dulu nggak pernah ilang malah makin menjadi aja!" Serang pemuda yang ada di sebelahnya mengutuki kelakuan Tyo yang membuat mereka semua tersedak kuah bakso pedas.


Mata mereka bahkan sudah ada yang mengeluarkan air mata karena rasa pedas itu bahkan sampai masuk ke hidung mereka.


Batuk mereka pun satu persatu sudah mulai reda sehingga mereka kembali melanjutkan menghabiskan makanan yang menjadi kegemaran mereka, sampai ketika dari arah dalam kampus muncul beberapa anak kampus yang berjalan menuju warung bakso tempat mereka berada.


"Eh eh, ada anak kuliahan, ada cowok lu nggak tuh Des?" tanya Kila ketika melihat beberapa pemuda yang baru keluar dari gerbang kampus.


"Cowok gue kuliah pagi," sahut Desi acuh seperti tidak tertarik.


"Kaca kaca kaca mana kaca," seru Kila belingsatan mencari kaca di dalam tasnya membuat temannya pada mengerutkan alis keheranan dengan tingkahnya yang sekarang mulai menatap dirinya di kaca yang kecil yang tadi ia cari-cari.


Rona melihat heran saat temannya itu tengah menyisir rambutnya lalu memperhatikan wajahnya yang memantul dari kaca lalu tangannya bergerak menepuk-nepuk wajahnya seperti tengah membersihkan kotoran yang padahal tidak ada sama sekali.


Rona dan Desi menggeleng kepala berbarengan melihat betapa centilnya teman mereka pada anak-anak kampus yang memasuki warung pinggir jalan itu.


"Aiish." Rona mendengus kala menyadari bahwa yang datang barusan adalah gerombolan Bimo, teman suaminya yang dulu pernah ribut saat mereka kemah.

__ADS_1


Sudah pasti setelah ini mereka akan mengenali dirinya dan tentu pria itu akan rusuh dengan segala ocehannya yang tak jelas.


***


__ADS_2