Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 49


__ADS_3

Mata aditya menatap tajam sebuah pesan sebelum akhirnya membuka dan membaca isi pesan tersebut..


Aditya yang semula duduk dengan santai mendadak menjadi tegang dengan mulutnya yang bergerak seperti sedang memaki seseorang


Merasa tak ada guna mulutnya memaki sendiri padahal kepalan di kedua tangannya seolah sudah sangat siap untuk meninju orang yang sudah berani mengirim pesan pada istrinya bahkan kata-katanya bagaikan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa, beruntung dirinya lah yang membuka instagram istrinya, jika tidak tentu pasti Rianti sudah termakan oleh tutur sok akrab yang di berikan musuh bebuyutannya itu.


Aditya yang sepertinya sudah sangat kesal akhirnya berlari keluar kamar hotel dan menuju kamar Johan yang terletak tepat di depan kamarnya


Lelaki beranak dua itu lantas menekan bel yanga ada,namun ketika merasa bel tak juga berguna untuk membangunkan Johan yang mungkin sudah tertidur, Aditya yang sudah seperti orang kesurupan itu malah menggedor pintu kamar sang Asisten dengan cepat dan begitu berisiknya hingga terdengar gema di lorong yang mereka huni


Sungguh keheningan lorong yang gelap memancarkan aura nya sendiri membuat Aditya makin mengencangkan pukulan tangannya di pintu rasa kesal karena pintu yang tak kunjung di buka bercampur rasa takut yang tiba-tiba saja menyergap nya membuat cuaca yang sudah dingin makin terasa begitu dingin menusuk ketika ia merasa merinding akan sosok tak kasat mata yang mungkin tengah memperhatikan nya atau bahkan sekarang ada di dekatnya .


Aditya langsung menyerbu masuk begitu pintu di depannya terbuka dan tubuh Johan hampir saja jatuh karena tubuh Aditya menubruk nya lumayan keras


Seandainya saja kaki Johan tidak berdiri dengan benar tentunya kedua pria itu akan jatuh dengan posisi Aditya berada di atas, dan pasti akan sangat menjijikkan jika sampai di lihat orang


"Bapak kenapa? " tanya Johan heran karena ia merasa aneh melihat atasannya terlihat panik


Yang di tanya malah terlihat mengatur napasnya sedemikian rupa agar kembali normal sebelum membuka mulut untuk bicara


Melihat keadaan Atasannya Johan lantas mengambilkan segelas air dan menyodorkannya pada Aditya yang kemudian meminumnya habis


"Lu ngerasa aneh nggak disini? " tanya Aditya pada Johan sudah tidak peduli dengan dengan bahasa saya dan kamu seperti biasa saat mereka sedang membicarakan pekerjaan


Kening Johan mengernyit mendapat pertanyaan yang tidak pernah keluar dari mulut Aditya Erlangga kusuma


"Aneh" kata itu yang terlintas di kepala Johan saat Aditya bertanya


"Gue ngerasa ada yang ngikutin " kata Aditya lagi


"Bapak kecapean mungkin" Johan mencoba menenangkan


"Kecapean ngapain? " Aditya malah bingung sendiri


Johan mengedikkan bahu nya ia juga bingung kecapean apa bosnya itu sedangkan saat mereka baru sampai saja Aditya sudah langsung istirahat dan yang memantau kantor justru dirinya


"Atau bapak kebanyakan ngayal " makin berbicara asal yang membuat Aditya melirik nya tajam


"Ngeselin lu lama" sahut Aditya mulai sensi


" Lagian bapak kan punya apartemen kenapa harus tidur di hotel ini terus sih" Johan malah membicarakan apartemen untuk mengalihkan Aditya yang terlihat sudah akan mengomeli dirinya dengan kata yang pastinya panjang dan berarah


"Udah lah, lu kalau gue kasih tau juga nggak bakal ngerti" kata Aditya ketus seolah Johan memang orang yang susah untuk di beritahu

__ADS_1


"Saya ngerti pak.. " sahut Johan seraya duduk di sofa depan Aditya


"Apaan? kalau emang ngerti ngapain pake nanya!! " omel lelaki yang duduk bersila di atas sofa dengan santainya, tidak ingat bahwa tadi dia sudah macam anak kecil yang ketakutan ketika melihat hantu


"Bapak nginep di hotel ini biar inget sama ibu terus kan, karena kamar ini tempat bapak dan ibu menginap dulu saat bum punya anak dan saat bapak ingin prog... "


"Diam" telinga Aditya terasa begitu panas mendengar apa yang di katakan Johan barusan, bisa-bisanya Johan begitu ingat setiap detail yang ada di kepala Aditya itu


Johan diam ketika Aditya memotong apa yang masih ingin ia katakan tentang atasannya yang masih saja macam anak ABG baru pacaran seakan tak sadar diri bahwa sudah ada dua kepala kecil yang akan selalu mengusiknya ketika akan berduaan dengan sang istri


"Pagi jni gue pulang ke Indonesia " ujar Aditya akhirnya mengutarakan hal harus membuat ia menggedor pintu kamar Johan dan harus merasakan bulu kuduk merinding di tengah cuaca yang sudah sangat dingin


Johan membuka mata lebar seraya duduk tegak melihat wajah Aditya mencari tahu apakah yang diutarakan lelaki itu barusan serius atau hanya sekedar omong kosong saja


"Kenapa kamu? " bertanya formal ketika Johan terus menatap nya tanpa bicara


"Maksud bapak apa?! " tanya Johan kemudian seraya mulai memijit keningnya dengan dua jari


Aditya berdecak kesal "Gue mau pulang hari ini!! " berkata tegas dan terkesan menyentak


Johan menggeleng kan kepala nya seperti tak setuju dengan yang baru saja di katakan Aditya


"Ngapain geleng-geleng, gue bisa pulang sendiri nggak perlu di temenin" mulai berlaku seenaknya seperti biasa yang tentunya akan berujung Johan lah yang akhirnya harus menanggung semuanya


Johan menarik napas lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan , sedikit demi sedikit mengeluarkan udara yang sudah terlalu banyak mengumpul di dalam paru-parunya


"Nggak usah pake begini begitu segala, yang harus lu tau sekarang ini adalah gue harus pulang ke Indonesia pagi dan hari ini juga titik, lu jangan ngelarang-larang gue, karena lu tau gue nggak bakal ngikutin perkataan lu!! " Aditya menekan Johan dengan perkataan juga tatapan yang penuh intimidasi dan begitu yakin Johan tidak akan mampu menahannya lagi tetap tinggal di Jerman mengurus pekerjaan


"Pak.. "


"Apalagi?! " masih terus saja memotong setiap perkataan Johan tanpa mau menunggu asistennya itu menyelesaikan apa yang ingin di ucapkan


"Bapak dengerin saya dulu bisa nggak.?!! " Johan yang sudah tak tahan kini balik membentak atasannya yang tadi nya duduk menyodorkan tubuhnya seperti menantang kini bergerak mundur bahkan sampai menyender di sofa


"Yaudah ngomong " kata Aditya akhirnya mempersilahkan Johan untuk bicara


"Bapak tau.. " kata Johan yang sebenarnya belum selesai


Namun Aditya sudah menggelengkan kepalanya " Nggak tau, lu kan belum ngomong" sahut Aditya konyol


Johan berdehem mencoba menenangkan dirinya sendiri menghadapi atasan yang makin hari makin konyol saja tingkah lakunya, Johan mengira kekonyolan Aditya akan hilang seiring anaknya yang sudah dua, namun dugaan Johan salah tingkah konyol dan aneh Aditya malah makin menjadi setelah memiliki anak, membuat Johan kadang stres sendiri di buatnya


"Ini saya mau ngomong tapi bapak malah potong-potong terus " ujar Johan dengan menahan rasa gemasnya

__ADS_1


"Oh saya kira tadi itu kamu bertanya" tukas Aditya enteng


"Tidak, saya tidak sedang bertanya pada bapak, dan sebaiknya bapak jangan memotong apa yang ingin saya utarakan demi kelangsungan hidup bapak" Johan malah berkata seperti orang yang sedang mengancam saking ia sudah merasa kesal dengan Aditya itu


Aditya menggeser duduknya agar jarak dirinya dan Johan makin jauh, tak di pungkiri ia juga merasa segan dengan Johan jika sudah marah ataupun kesal apalagi dirinya yang sudah terlalu sering menguji kesabaran seorang Johan, kan lebih baik jika ia waspada walau sedikit


"Oke silahkan kamu lanjutkan dan saya akan mendengar sampai selesai" berkata formal lagi seraya duduk yang di buat santai dan mulai menanti apa yang akan di katakan Johan


"Pagi ini jam 10 bapak ada rapat dengan wakil dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan bapak, bapak pasti tau dan ingat itu bukan?! " tanya Johan menatap Aditya


"Ingat" menjawab singkat


"Kalau bapak ingat , lalu kenapa bapak ingin pulang ke Indonesia meninggalkan rapat begitu saja " lanjut Johan


"Bukan kah kamu bisa menggantikan saya, yang sudah-sudah juga kan seperti itu, jika saya tidak ada maka kamu lah yang mengerjakan semuanya " tingkah seenaknya mulai muncul lagi ke permukaan


Kesekian kali nya Johan menarik napas panjang


"Ini rapat penting pak " kata Johan lagi


"Semua rapat juga penting Han, nggak ada yang nggak penting " masih ngeyel dengan jawaban asal ceplos nya


"Saya sudah sempat memberitahukan pada bapak bahwa rapat ini harus bapak sendiri yang menghadirinya, karena jika tidak mereka tidak akan mau bekerja sama dengan bapak" Johan berusaha mengingatkan atasannya yang keras kepala itu


"karena jika tidak mereka akan membatalkan kerja sama dan mem blacklist perusahaan bapak selamanya, bapak tahu itu artinya apa?! " Johan mulai merasa di atas angin ketika ia melihat wajah Aditya yang sudah terlihat memikirkan perkataannya barusan


"saham kita akan turun drastis " gumam Aditya yang bisa di dengar oleh Johan


"Yes " sahut Johan seraya menjentikkan jarinya


"Bagaimana sekarang? " tanya Johan


"Keputusan ada di bapak, saya hanya mengikuti bapak saja " Johan berbalik menekan Aditya


"Setelah rapat ini apa ada rapat penting lainnya? " tanya Aditya kemudian


"Ada, tapi sepertinya saya bisa handle " sahut Johan


"Baik kalau begitu setelah rapat jam 10 nanti saya langsung terbang ke Indonesia " kata Aditya memilih mengalah dari pada beresiko pada perusahaan miliknya


"Yasudah, bapak mau tidur disini?! " tanya Johan melihat Aditya yang tak juga kembali ke kamarnya sendiri


"Nggak!! " bentak Aditya seraya bangkit dan pergi menuju kamar nya dengan cepat bahkan bayangannya pun bagai tak terlihat karena gerakan yang begitu cepat

__ADS_1


Masuk ke kamar Aditya lantas mengambil ponselnya dan menghubungi Roman, karena ia merasa membutuhkan bantuan temannya itu sebelum ia kembali sore nanti..


*********


__ADS_2