Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M ll bagian 23


__ADS_3

"Kak." Rona mencoba bersuara di saat lelaki di sampingnya tak juga membuka mulut.


Darren menoleh.


"Panggil Sayang." berkata dengan suara datar namun raut wajahnya jelas menunjukkan betapa yang dia minta barusan ada sebuah keseriusan dan kewajiban bagi Rona agar memanggil dengan yang dia mau.


"Kan udah nggak di depan teman Kakak." Sahut Rona seraya melihat ke sana sini memastikan bahwa sekarang mereka memang hanya sedang berdua saja.


"Mulai sekarang biasakan panggil kata itu mau ada atau tidak ada teman aku." peraturannya sekarang sudah berbeda lagi.


Mata Rona membulat seperti kaget lalu gerutuan mulai keluar dari dalam mulutnya hingga kedua bibir yang kini mengerucut karena lelaki di sampingnya saat ini sungguh banyak sekali permintaannya.


"Ngapain ngedumel begitu?!" lirikan mata Darren sungguh sangat tajam bahkan seperti bisa menusuk jantung Rona.


Rona menggeleng sambil membuang napas kesal.


"Sayang mau ngomong apa?" Rona bertanya gemas dengan suara yang di buat sangat manis namun kedua matanya terlihat malah melotot yang membuat Darren malah tak kuat menahan tawanya.


Darren tertawa lepas dengan tingkah Rona yang memang sangat lucu baginya, sungguh rasanya dia tidak pernah bisa tertawa seperti ini jika sedang di depan wanita, karena di depan Ibu dan Kakaknya saja Darren hanya tersenyum saja tidak sampai mengeluarkan suara jika sedang tertawa.


Sepertinya Rona memang bisa membuat hari-harinya berwarna sekalipun terkadang tingkah gadis itu sangat tidak bisa dikatakan wajar, ada saja tingkah dan kelakuan aneh yang di perbuat oleh Rona selama mereka kenal bahkan dari sejak kecil konyol seorang Rona sepertinya tidak akan ada yang bisa menandinginya.


"Aaah malah ketawa." Rona merajuk melihat Darren malah asik mentertawakan dirinya.


"Kamu jangan lucu-lucu, akunya gemes." ucap Darren sambil menarik pipi Rona dan memainkannya.


"Sakit Sayaang." kata Rona manja yang memang pipinya merasakan sakit karena perbuatan lelaki tampan itu.


Darren pun melepaskan dan kini menggantinya dengan usapan lembut seperti tengah menghilangkan rasa sakit yang Rona rasakan.


Keduanya kembali terdiam untuk sesaat seperti tengah memikirkan apa lagi yang akan mereka bicarakan, sungguh kedua orang itu malah seperti pasangan yang kenal di dunia Maya dan baru pertama kali bertemu, tidak ada suara dari mereka hingga suasana itu malah menjadi mencekam.

__ADS_1


Tarikan napas dari Darren mengalihkan mata Rona untuk menatap dari samping bagian wajah Darren dan terus saja mengaguminya bahkan setelah sekian kali ia melihatnya.


"Na." Darren memanggil Rona dengan suara yang pelan dan dengan matanya yang tetap melihat ke arah depan tempat temannya berada.


"Ya." jawab Rona.


"Bagaimana kalau setelah kamu lulus sekolah kita menikah?" Darren mulai membahas dan mempertanyakan apa yang memang sudah mengganjal di dalam hatinya sejak beberapa hari lalu.


Bagaimana tanggapan Rona mendengar pertanyaan dari Darren? menolak kah? sepertinya tidak karena saat ini mata Rona malah sangat berbinar mendengarnya.


Pertanyaan tentang menikah memang sudah sangat di nantikan oleh Rona sejak 2 tahun yang lalu, saat ia masih berusia 16 tahun ia sudah sangat menantikan pembahasan tentang menikah dari lelaki yang ia cintai dan yang dijodohkan dengannya itu, namun baru sekarang lelaki itu membahasnya bahkan mengutarakan ajakan menikah setelah ia lulus sekolah.



"Kenapa?" Darren menoleh pada Rona yang tidak bersuara sama sekali mendengar apa yang dia katakan barusan.


"Kamu nggak mau?" tanya Darren lagi tanpa menunggu Rona menjawab pertanyaannya yang pertama.


"Bukan itu." sahut Rona dengan raut kegembiraan yang tidak bisa di sembunyikan.


"Lalu kenapa kamu diam saja?"


"Rona kaget tiba-tiba kamu ngomongin soal nikah." gadis itu memandang wajah Darren dengan begitu semangat.


"Kamu mau nggak?" tanya Darren yang sejak tadi memang menunggu jawaban dari Rona.


"Mau, Rona mau." menjawab cepat disertai dengan anggukan kepala.


Darren tersenyum simpul melihat respon bahagia dari Rona, sungguh dia merasa tenang bahwa gadis yang dia mau tidak menolak bahkan malah sangat berbinar.


Namun sesaat kemudian Rona terdiam sebelum mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Memangnya Kak Ana setuju?" tanya Rona yang memang sebelumnya mendengar perkataan Ayah dari Darren tentang lelaki itu yang harus meminta ijin dulu pada Kakaknya untuk menikah.


"Kak Ana setuju hanya saja ada satu syarat yang harus aku penuhi." ungkap Darren kemudian.


Rona menatap Darren penuh pertanyaan, tanpa bicara pun Darren sudah mengerti dan langsung mengatakan apa yang di minta oleh sang Kakak agar dirinya diijinkan menikah.


"Kak Ana minta aku untuk cari kerja dulu sebelum nikahin kamu, dia nggak mau setelah nikah kita malah bergantung sama orang tua. tutur Darren pada Rona yang sekarang menggenggam balik tangannya.


"Terus sekarang bagaimana?"


"Ya harus cari kerja biar kita bisa segera nikah." sahut Darren mengelus rambut panjang Rona yang di ikat.


Rona terdiam seperti ada yang tengah ia pikirkan saat ini dan itu bisa di ketahui oleh Darren.


"Kenapa?" tanya lelaki itu menatap gadis yang mendadak diam.


"Tapi setelah lulus sekolah Rona mau kuliah." Rona menunduk merasa tidak enak karena secara tidak langsung Darren akan menganggapnya menolak ajakan nikah yang lelaki itu bicarakan.


Darren menarik napas sebentar.


"Aku akan kasih ijin kamu untuk kuliah Na, Aku juga nggak mau ngekang kamu, dan aku juga yang akan membiayai kuliah kamu nantinya, maka dari itu aku harus mulai mencari pekerjaan secepatnya." jawaban dari Darren langsung membuat wajah Rona kembali bersemangat.


"Karena setelah menikah kamu akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya, aku tidak ingin kamu kekurangan apalagi sampai meminta pada orang tuamu." lanjut Darren dan tanpa di sangka Rona langsung mencium bibirnya lembut.


Rona baru akan menarik kepalanya namun tangan Darren sudah menekan tengkuknya seperti tengah menuntut untuk melakukan yang lebih dari sekedar kecupan.


Keduanya pun mulai larut tanpa menyadari ada yang tengah memperhatikan apa yang mereka lakukan.


Dengan tatapan yang sangat tajam dan tangan yang memukul batang pohon besar tempatnya bersembunyi karena mata dan hatinya terasa sangat panas melihat orang yang dia cintai tengah berciuman dengan orang lain.


****

__ADS_1


__ADS_2