
Kita kembali pada Darren dan Rona lagi ya ini cerita mereka soalnya, hihihi..
Kamar pengantin yang sudah di hias sederhana namun tetap terlihat sangat cantik dengan untaian bunga di tengah ranjang dan tepi ranjang membuat seorang gadis yang tadi baru saja resmi menjadi seorang istri tampak duduk dengan perasaan tak menentu, perasaan gugup bercampur di dalam hatinya.
Entah ada rasa belum siap untuk benar-benar merubah statusnya di usia yang baru menginjak 18 tahun, bukan menyesal karena menikah dengan Darren hanya saja ia takut tidak bisa menjadi istri yang baik mengingat selama inipun ia masih sangat manja pada Papah dan Mamahnya, dan sekarang ia harus bisa untuk mandiri sekaligus memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Bahagia karena menikah dengan laki-laki yang sedari kecil sudah di jodohkan dengannya, namun di satu sisi ia merasa pernikahan ini terlalu cepat, sekalipun tetap tidak mau menyesal karena hari ini akhirnya tiba juga.
Darren yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya yang duduk di tepi ranjang menampakkan wajah yang cemas, entah cemas karena apa lelaki itupun akan mencari tau.
"Na." suara Darren membuat Rona terhenyak dari segala pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya.
"Kenapa melamun?" tanya Darren menyentuh bahu sang istri yang masih belum juga membersihkan makeup di wajahnya yang membuat gadis yang kini sudah berubah menjadi seorang istri itu makin membuatnya mabuk tak berdaya, karena begitu cantiknya sang istri malam hari ini.
Rona tergagap menatap wajah suaminya yang masih ada buliran air makin memancarkan aura tampan yang memabukkan.
"Tampan banget, pantas aja Sherin tergila-gila." batin Rona yang sepertinya akan makin mengagumi suaminya mulai dari sekarang.
"Malah bengong lagi." untuk kedua kalinya Darren kembali membuat jantung istrinya hampir saja copot karenanya.
Rona mengelus-elus dadanya sendiri. "Kaget Kak." keluh Rona dengan memanyunkan bibir kecilnya.
Mata Darren pun langsung fokus pada bibir yang hari ini terlihat lebih merah dari biasanya, ya tentu saja merah karena itu semua perbuatan sang penata rias agar Rona terlihat semakin bersinar dari siapapun, dan itu menjadi kenyataan sebab saat Rona keluar dari dalam kamar setelah dia selesai mengucapkan ijab yang langsung di sah kan oleh penghulu dan para saksi, mata Darren tak dapat berpaling sekalipun dari wajah yang semakin cantik itu.
"Kakak lihatin apa sih." Rona mulai salah tingkah dengan kedua mata Darren yang tak juga berkedip dan fokus pada satu titik.
"Ininya merah banget." kata Darren seraya menunjuk bibir Rona yang memang sangat merona seperti menggoda dirinya untuk mengecup.
Mendengar serta menyaksikan perubahan wajah dari lelaki di depannya dalam sekejap Rona merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri, aliran darahnya pun mengalir lebih deras dari biasanya jantungnya juga kembali berdegup kencang dengan keringat yang mulai menghiasi tepian keningnya.
"A..Aku bersihin muka aku dulu deh." kata Rona gugup mencoba menghindari sang suami yang mungkin akan segera menerkamnya jika ia tetap dengan bibir merah seperti sekarang ini.
Tangan Darren dengan cepat menarik Rona yang sudah berdiri agar kembali duduk. "Aku aja yang bersihin." dari nada bicaranya sudah bisa di tebak dengan cara apa Darren akan membersihkan lipstik berwarna mencolok di bibir istrinya itu.
Mata Rona membelalak kaget, semakin hampir mati rasanya ketika Darren sudah mendudukkan dirinya tepat di pangkuannya.
"Tapi aku mau ganti baju juga Kak." kali ini memakai alasan pakaian karena memang saat ini Rona masih memakai kebaya berwarna putih beserta dengan kain yang melilit di bagian bawahnya membuat ia tak leluasa untuk bergerak cepat.
"Aku bantu bukain." dan lagi kalimat yang keluar dari bibir Darren makin membuat Rona ingin mati saja, sungguh ia sangat takut sekali malam ini, entah kenapa malam ini rasanya sangat berbeda dengan malam kala mereka camping tempo hari, di saat mereka hampir berbuat dosa namun merasa gelap mata dan untungnya mereka tidak sampai bertindak jauh.
Tangan Darren sudah bersiap membuka kaitan di kebaya yang Rona pakai, sampai kemudian tangan Rona malah menghentikannya.
"Aku mesti ke Mamah dulu Kak." Rona tengah menyelamatkan dirinya dari sang suami.
__ADS_1
"Ngapain?" tanya Darren dengan mata memicing.
"Nggak tau tadi Mamah panggil." terang Rona.
"Kapan manggilnya? kayaknya dari tadi juga Mamah di kamar sama Papah." jawab Darren karena memang setelah acara selesai mertuanya itu sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat lagipula sekarang juga sudah malam.
"Tadi, Kakak nggak denger soalnya lagi di kamar mandi, aku sebentar doang kok." kata Rona yang sudah berdiri dan dengan cepat keluar dari dalam kamar meskipun ia sedikit kesulitan untuk berjalan karena kain yang melilit dengan ketat di bagian pinggang sampai kakinya.
Darren menarik napas seraya menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang seraya menatap pintu yang sudah tertutup.
Tok tok..
"Mah." panggil Rona sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya, memang saat ini mereka masih berada di rumah orang tuanya, dan rencananya besok akan langsung pindah ke apartemen yang sudah di belikan oleh Aditya agar pasangan pengantin baru itu bisa langsung hidup mandiri dan pastinya mereka pun tidak akan risih jika mau bermesraan kapanpun mereka mau, itu yang ada di dalam pikiran Aditya, karena alasan pernikahan itupun terjadi karena kelakukan Darren yang sudah tak bisa lagi di kendalikan jika sudah bertemu dengan Rona.
"Kamu ngapain di sini?" Roman yang membuka pintu menatap bingung pada sang anak yang berdiri di depan kamarnya dengan penampilan yang masih sama seperti tadi siang.
"Aku mau tidur di sini Pah." tutur Rona lalu tanpa ijin dari sang Papah Rona langsung menyerobot masuk.
"Jangan tidur di sini, tidur sama suami kamu sana." omel Roman yang menolak keinginan anaknya barusan.
Tania menatap sang anak dengan keheranan. "Kamu kenapa sih?" tanya wanita yang tadi sudah akan pulas namun terpaksa kembali terjaga karena mendengar suara anaknya di depan pintu.
"Rona takut." tutur Rona seraya menggigit bibir bawahnya.
"Darren apain kamu? dia marahin kamu?" Roman berdiri di tepi ranjang.
Rona menggeleng cemas karena memang Darren tidak melakukan hal yang menyakiti atau membuat hatunya sedih.
"Terus kenapa?" tanya Tania lembut.
__ADS_1
"Anu Mah, itu Kak Darren mau." Rona bingung bagaimana mengatakan hal apa yang membuatnya takut sekarang ini.
"Ngomong yang jelas Rona." bentak Roman tak sabar, bagaimana mau sabar jika tidurnya harus di ganggu oleh kedatangan sang anak yang minta tidur di kamarnya dengan alasan takut, takut pada apa? sangat menyebalkan, batin Roman.
"Kak Darren mau itu, Papah masa nggak ngerti." tukas Rona cepat.
Tania menggeleng menahan tawanya sebab ia kini mengerti apa yang di maksud oleh anaknya itu.
"Itu kewajiban kamu Na, kalian sudah menikah, bebas dong kalau Darren mau minta haknya malam ini." mencoba menasehati anaknya agar mengerti.
Mata Roman membuka lebar merasa konyol karena istinya jauh lebih mengerti ketimbang dirinya.
"Tapi Rona takut." jawab Rona seraya menunduk.
"Giliran udah sah takut, kemarin waktu belum sah nggak ada takutnya, emang ya setan tuh nggak suka sama yang halal." sindir Roman kala mengingat apa yang sempat Darren katakan dengan jujur hingga akhirnya pernikahan mendadak ini harus terlaksana.
"Pah." Tania meminta suaminya untuk diam dan tak usah lagi membahas masalah yang lalu, meskipun ia tau suaminya tentu masih sangat kesal dengan kedua anak yang sudah mereka nikahkan tadi siang.
"Maaf Pah." lirih Rona karena ia tahu itu kesalahan yang sangat besar baginya.
Roman mendesah kasar lalu duduk di tepi ranjang mengelus bahu anak semata wayangnya yang besok akan meninggalkan dia dan istrinya.
Sedih? tentu dia merasa sedih karena akhirnya rumah akan sangat sepi tanpa adanya Rona yang selama ini meskipun susah untuk diberitahu namun tetap sangat dia sayang.
"Boleh ya Pah, malam ini Rona tidur di sini?" pinta Rona.
Roman mendengus kembali kesal, baru saja dia akan terharu dan larut dalam kesedihan namun anaknya itu sudah membuat suasana kembali berubah dengan permintaan konyolnya.
"Tapi Darren nya sendirian Na, kasihan nggak ada yang nemenin." kata Tania mencoba membuat Rona agar kembali ke kamarnya sendiri.
"Biar Papah yang nemenin." dengan entengnya Rona menjawab yang terang saja membuat Roman mendelik tajam.
"Ngaco! Papah nggak mau!" sang Papah menolak dalam sekejap.
"Malam ini aja Pah, Lagian besok Rona udah nggak di sini, malam ini Rona mau tidur sama Mamah di sini." dan perkataan Rona kali ini membuat Roman dan Tania diam.
Roman yang kasihan pun akhirnya mengalah karena dia juga tau istirnya pun ingin bersama anaknya karena besok mereka akan berpisah, meski Rona tetap masih bisa datang ke rumah mereka tapi tetap saja akan sangat berbeda.
"Ya sudah." kata Roman lalu melenggang pergi menuju kamar dimana menantunya berada.
__ADS_1
Di dalam kamarnya Darren sudah begitu tak sabar berulang kali menengok ke arah pintu berharap istrinya akan muncul, dan ketika ada ketukan dari pintu dia pun dengan cepat berlari guna menyambut kedatangan sang istri.
****