
Malam hari keduanya berada di meja makan menikmati makan malam yang tadi sore tak sempat mereka makan, hanya perlu menghangatkan sebentar saja dan jadilah kini perut mereka yang keroncongan setelah sore pertama yang akhirnya terjadi dan mereka yang kelelahan pun sempat tertidur sekitar 1 setengah Jam lalu bangun dalam keadaan perut yang lapar.
"Kenapa sih lihatin terus." mata tajam Darren membuat wajahnya Semerah tomat karena sejak tadi terus saja menatap dirinya.
Bukannya menjawab lelaki di depannya itu malah mengulurkan tangan dan memindahkan piring berisi makanan milik istrinya ke atas meja di sampingnya.
"Masa udah tidur bareng malah jauhan gitu duduknya." oceh nya tak mau memperhatikan ekspresi semakin malu dari sang istri. "Sini pindah." pintanya seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Sebagai seorang istri Rona pun menurut pada permintaan sang suami, toh hanya pindah duduk saja, bukan melakukan hal yang aneh.
"Nanti lagi ya?" belum sempat Rona duduk sudah mengeluarkan pertanyaan yang membuat mata Rona hendak mau loncat keluar.
Rona semakin tak mengerti kenapa Darren bisa benar-benar menjadi lelaki yang mesum, baru beberapa jam yang lalu dia mendapatkan haknya sebagai seorang suami lalu sekarang sudah membicarakan tentang itu lagi, astaga kenapa dia mencetak semua yang di miliki oleh seorang Aditya Erlangga.
"Yang tadi juga masih berasa Kak." cetus Rona seraya kembali acuh dan melanjutkan makan.
"Berasa apa?" tanya Darren dengan suara yang teramat membuat Rona bergidik merinding karena lelaki itu malah dengan sengaja menghembuskan nafas di tengkuknya.
Rona menggerakkan bahu serta lehernya mengekspresikan apa yang ia rasakan saat ini.
Mata Rona mendelik marah kala Darren malah semakin mendekat dan meniup-niup tengkuknya dengan sengaja.
"Ya Tuhan, kenapa aku baru mengetahui betapa mesumnya Darrendra Putra Erlangga ini." lirih Rona yang hanya di tanggapi senyuman oleh lelaki yang namanya ia sebut dengan sangat lengkap itu.
"Makan Kak!" seru Rona kala Darren malah asik mengerjai dirinya, menyentuh kulit leher belakangnya diselingi dengan kecupan yang sungguh membuat Rona tak kuasa menahan rasa geli.
"Suapin." jawab Darren dengan tetap sibuk mengecupi kulit halus milik sang istri.
Rona memutar bola matanya. "Mesum tapi manja." celetuk Rona yang dihiraukan oleh suaminya yang seperti menemukan mainan baru hingga tidak terganggu dengan apa yang di katakan oleh sang istri.
__ADS_1
"Ini gimana mau di suapin kalau Kakaknya nggak bisa diem." sepertinya Rona mulai sewot dengan Darren yang memang menjengkelkan dan akan selalu seperti itu, dari mereka masih kecil lelaki itu memang sudah sangat menyebalkan dan sekarang masih harus di tambah dengan tingkahnya yang amat sangat luar biasa dan baru di ketahui oleh Rona, lelaki itu sangat agresif.
Tapi Rona patut beruntung karena Darren hanya menunjukkan sifat agresifnya itu pada dirinya tidak pada wanita lain, yah semoga saja akan tetap seperti itu dan Darren tidak akan pernah tergoda oleh wanita manapun terlebih lagi wajah tampan keturunan seorang Aditya Erlangga itu memang bisa di bilang sempurna dan ia pun tau akan banyak wanita yang takkan sanggup berpaling dari ketampanan dan pesona yang suaminya itu miliki.
Darren menghentikan kegiatan yang mulai mengasikkan itu ketika merasa istrinya mulai tak sabar, dia membuka mulut di depan sendok yang sejak tadi di pegang oleh sang istri.
Kini bibirnya sibuk mengunyah makanan hingga tidak bisa lagi berbuat nakal pada Rona.
"Kak." panggil Rona ketika Darren tengah membuka mulut untuk mendapatkan suapannya lagi.
"Nanti kalau aku hamil gimana?" pertanyaan konyol yang membuat Darren mengernyitkan kening, kenapa harus bertanya tentang hamil seolah mereka adalah pasangan mesum. konyol dan sangat tak masuk akal, mereka suami istri terang hal yang wajar jika seorang istri itu hamil, tapi ekspresi Rona ketika bertanya hal itu menampakkan kekhawatiran dan bingung.
"Kok aneh banget tanyanya, kita udah gituan yang wajar lah kalau hamil. ngaco banget kalau ngomong." ketus Darren yang tak mengerti dengan istrinya itu.
"Maksudnya kan, abis lulus ini aku mau lanjut kuliah Kak. nggak lucu banget masa kuliah sambil bawa-bawa perut." celoteh Rona yang membuat Darren menatapnya intens.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau hamil? orang kuliah juga banyak kok yang hamil. ngapain mikirin kayak gitu sih." raut wajah Darren mulai terlihat tidak enak.
Rona terdiam sesaat sebelum membuat Darren salah sangka, memikirkan kalimat yang lebih tepat agar suaminya itu tidak semakin kesal.
"Ya nggak apa-apa, cuma maksudnya hamilnya nanti-nanti aja dulu, lagian kan Kakak juga masih kuliah, terus mesti kerja juga. kita kumpulin uang dulu terus tunggu sampe Kakak lulus kuliah baru deh kita punya anak." tutur Rona pelan seraya mengelus tangan suaminya.
"Jadi aku mesti pakai pengaman?" tanya Darren yang akhirnya mau mengerti dengan penjelasan Rona, cukup masuk akal memang apa yang Rona katakan sekarang yang dia perlu lakukan adalah lulus kuliah dan bekerja untuk keluarga kecil yang baru saja mulai mereka bangun.
Rona mengangguk cepat menjawab pertanyaan sang suami.
"Ya udah kalau gitu aku beli dulu." ujar Darren lalu menenggak air putih hingga habis.
Rona begitu terkejut ketika suaminya benar-benar keluar dari apartemen setelah mengecup bibirnya.
"Kan bisa beli besok, astagaa." rona menepuk keningnya sendiri merasa pusing dengan suaminya itu.
__ADS_1
*****