
Mendengar Bimo di bawa ke klinik membuat Nella dan sahabat sejatinya yang kerap kali berdandan tidak sewajarnya itu langsung bergegas menyusulnya, Nella memperlihatkan wajah yang cemas meski Sherin sudah berulang kali untuk menenangkannya namun tetap saja yang namanya kekasih mengalami hal yang buruk di tenangkan seperti apapun tidak akan mempan.
"Gimana Bimo?" tanya Nella ketika bertemu dengan Permana di luar klinik.
"Di dalam, masuk aja," kata pemuda yang sebenarnya sangat jengkel dengan kelakukan Bimo yang memang kerap kali mencari masalah juga sepertinya temannya itu bermasalah dengan mulutnya karena sering kali mengeluarkan perkataan yang seenaknya bahkan terkesan menyakiti.
Sepertinya yang dia tahu Bimo bisa sampai ada di klinik ini juga karena mulutnya sendiri yang sudah sangat keterlaluan terhadap wanita dan akhirnya mendapatkan imbalannya karena tak di sangka dia malah berurusan dengan Darren yang bahkan seluruh kampus pun tahu bagaimana pemuda itu jika sedang marah, memang jarang bicara namun sekalinya emosinya memuncak akibatnya akan seperti yang Bimo alami, itu masih untung karena ada Rona yang bisa membuat Darren menghentikan perbuatannya, tidak usah di bayangkan bagaimana nasib Bimo jika tidak ada yang bisa membuat Darren tenang.
Nella masuk ke dalam klinik langsung menuju satu ruangan yang di sana sudah ada kekasihnya terbaring seraya meringis kesakitan merasakan wajah serta hampir semua bagian tubuhnya sakit dan terluka.
"Kok bisa sampai begini sih?!" seru Nella melihat keadaan kekasihnya yang bahkan dia tidak tahu betapa playboy nya pria yang dia pacari itu.
Sherin memandang dengan penuh kengerian pria yang terlentang di atas ranjang itu, wajahnya bahkan ikut meringis ketika Bimo memegangi kepalanya merasakan sakit yang menyerang.
"Bisa lah, mulut cowok lu kan nggak pernah di saring kalau ngomong!" celetuk Angga yang sedari tadi berada di dalam.
Tadi setelah menyelesaikan kerusakan di warung bakso kedua pria itu menyusul Bimo ke klinik, meski menyebalkan namun tetap saja mereka harus membantu teman dengan mulut bagaikan ular itu, berbisa!
"Lu pikir Darren bakal mukulin orang kalau tuh orang nggak buat masalah? nggak akan!" sambar Permana yang akhirnya kembali masuk setelah selesai menghubungi orang tua Bimo memberitahukan kondisi anaknya.
"Tapi kan nggak harus sampai kayak gini, gila kila ya dia!" Nella tampak sangat tidak terima dengan keadaan sang kekasih.
"Masih mending nggak di bikin mati! ngomong sembarangan soal istrinya, kalau gue jadi Darren, ni pacar lu bukan cuma masuk klinik tapi gue jorokin ke kuburan!" Angga tak tinggal diam ketika Nella malah menyalahkan Darren.
"Istrinya?" sepertinya Sherin di lupakan oleh mereka yang sedang sibuk dengan obrolan menguras emosi itu hingga ketika Sherin membuka mulutnya semua mata menoleh ke arahnya berdiri.
Permana memutar bola matanya, jelas setelah ini akan ada hal yang kembali terjadi, karena dia sangat tahu bagaimana Sherin yang sejak dulu menyukai Darren bahkan terus mendekatinya namun tidak pernah membuat Darren tertarik sedikitpun, segala cara Sherin lakukan tapi semuanya seakan sia-sia Darren tidak pernah menyukainya bahkan kini pria itu malah sudah menikah.
Bayangkan saja seperti apa perasaan Sherin mengetahui hal itu, wajahnya bahkan sudah menunjukkan ketegangan dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
"Kapan nikahnya? sama siapa?" serbu Nella yang kini jadi lebih penasaran.
"Cewek yang di bawa kemah dulu, nikah juga paling karena ketahuan tidur satu tenda," celetuk Bimo yang masih saja dengan mulut berbisanya, tanpa berpikir dan tanpa menyaring dulu ketika bibirnya sudah bergerak.
"Mulut lu tuh emang nggak bisa di jaga ya Bim! Darren itu nggak kayak elu yang tiap Minggu chek in di kelas melati," Angga sepertinya gemas dengan temannya sendiri.
__ADS_1
"Nggak kapok! udah babak belur kayak gini!" sambung Permana.
Pernyataan Angga barusan terang saja membuat Nella menatap tajam pada Bimo, wanita itu pun bertanya dengan sangat tajam, "chek in sama cewek mana kamu!?" sentak Nella emosi.
"Gue sama Permana pulang lah, lu naik taksi aja." Angga tahu akan terjadi pertengkaran karena ucapannya sehingga dia memilih untuk menyelamatkan diri dengan mengajak Permana juga.
Permana melirik pada wajah Sherin yang berubah drastis, wajah penuh kekecewaan dan kesedihan tersirat jelas, ada rasa kasihan namun juga kesal yang bercampur jadi satu mengingat sikap wanita itu yang selalu saja mengejar-ngejar pria yang jelas-jelas tidak menyukainya.
"Kurang ajar Lo Ngga! udah mancing keributan malah kabur!" kata Bimo tajam melihat Angga dan Permana keluar dari ruangan tempat dia berada.
"Chek in sama siapa!? kurang ajar banget kamu ya!!" sentak Nella marah, wanita mana yang akan terima jika kekasihnya bertemu dengan wanita lain bahkan sampai chek in.
"Nggak ada, nggak usah dengerin Angga lah dia kan dari dulu emang rese," terang Bimo mencoba meyakinkan kekasihnya yang dari nafasnya saja sudah dipenuhi dengan emosi.
Pasangan itu terlibat pertengkaran hingga tidak menyadari bahwa di tempat itu masih ada satu orang wanita yang kini tengah merasakan hatinya terluka bagaikan diiris oleh pisau tumpul, pisau tumpul yang tidak langsung bisa membunuhnya melainkan hanya menimbulkan kesakitan yang tak terduga.
Nella masih terus menuding dan menyudutkan sang kekasih yang memang tidak akan pernah mengakui apa yang sudah Angga katakan tadi, seorang pria yang gemar bermain wanita akan sangat mudah bersilat lidah untuk membuat orang lain percaya padanya.
Sherin yang terdiam dengan pandangan kosong itupun akhirnya memilih untuk pergi dari tempat itu, wanita itu tidak tahan dengan pertengkaran yang semakin membuat pikirannya kalut.
Wanita dengan rok mini itu bergegas turun dari taksi begitu sampai di rumahnya.
"Kok baru pulang?" tanya wanita yang sudah melahirkannya, wanita yang sangat sibuk keluar kota untuk mengurus bisnis mendiang suaminya itu baru saja sampai beberapa hari yang lalu.
Sherin tidak memberikan jawaban malah langsung masuk ke dalam kamarnya membuat wanita yang biasa ia panggil Mama pun mengernyit bingung, tidak mengerti kenapa hari ini anaknya itu begitu berbeda dari biasanya.
"Kamu kenapa?" wanita bernama Melly itu mengikuti anaknya hingga ke dalam kamar dan menyaksikan anaknya membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dengan punggungnya yang kemudian bergetar, jelas anaknya itu tengah menangis saat ini.
"Maaa," lirih Sherin ketika mengetahui Mamanya itu duduk di sampingnya dan mengelus punggungnya.
__ADS_1
"Ada apa? cerita sama Mama," kata Melly seraya merangkul tubuh anaknya untuk duduk bersandar pada dirinya.
Sherin masih terus menangis menumpahkan air matanya yang sudah tidak bisa lagi ia bendung, jelas ia sangat sedih dengan kenyataan bahwa pria yang ia sukai malah menjadi suami orang.
"Cowok yang Sherin sukai sudah menikah," adu Sherin lalu kembali menangis dengan dada yang terasa sesak.
"Darren?" tanya Melly yang memang kerap kali mendapatkan cerita dari sang anak tentang pria yang anaknya itu sukai.
Sherin mengangguk lemah sambil menyusut lendir di dalam hidungnya yang mulai mengganggu karena menangis, mata serta hidungnya juga seperti saling berlomba untuk menjadi yang paling merah.
Melly tidak mengeluarkan pernyataan apapun hanya terdengar ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Sherin harus gimana? Sherin sayang sama Darren, Sherin nggak rela Darren nikah sama cewek lain apalagi si Rona!" desis Sherin.
"Mama juga tidak mau melihat anak kesayangan Mama terluka seperti ini," ungkap Melly yang memang sangat memanjakan sang anak, semua yang anaknya mau bahkan selalu ia turuti sejak sang anak kecil, hingga membuatnya tumbuh menjadi wanita yang egois dan tidak akan pernah puas jika apa yang ia inginkan tidak tercapai.
Sherin semakin kencang menangis di pelukan sang Mama yang kini berusaha untuk membujuknya meyakinkan bahwa ia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya itu.
"Kamu tenang saja, Mama akan berusaha semampu Mama untuk mewujudkan keinginan kamu," kata Melly.
Sherin mendekap pelukan sang Mama seraya tersenyum karena ia tahu Mamanya tidak pernah mengecewakan dirinya.
*****
__ADS_1