Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
bab 51


__ADS_3

Benar saja, setelah rapat selesai pada jam 3 sore, Aditya dengan gerakan cepat menyeret Johan untuk segera menuju bandara dan langsung kembali ke Indonesia, Johan yang masih belum tahu alasan apa yang sampai membuat atasannya itu begitu ngotot untuk pulang padahal mereka baru sekitar 2hari di berada di Jerman


Di tengah serius dan fokusnya Johan dengan lalu lintas yang ada mendadak saja telinganya itu terganggu dengan suara umpatan dari kursi belakangnya, ya suara siapa lagi kalau bukan suara lelaki bernama Aditya Erlangga kusuma si ayah dua anak yang sejak pagi buta sudah merengek minta pulang persis anak kecil yang tak betah jauh dari ibunya.


Mengingat itu rasanya Johan ingin tertawa sampai puas karena tak habis pikir dengan kelakuan sang pemilik perusahaan ternama di belakangnya ini, sudah bisa memproduksi dua orang anak namun entah kenapa sifat nya malah menyaingi anaknya.


Johan menggeleng sambil melihat Aditya dari kaca spion, yang di lihat masih terus fokus pada layar ponsel di tangannya seiring dengan mulut yang berkomat-kamit bagai sedang membaca mantra.


"berengsek" mulut Aditya memaki dengan kaki yang menendang kursi sopir yang di duduk oleh Johan


Sontak saja perbuatannya itu membuat Johan bukan main terkejutnya seraya mulutnya beristighfar "Astaghfirullah!!" sangat kencang sehingga Aditya melihatnya dan melihat bingung pada Johan


Aditya memajukan badannya dan menepuk pundak Johan "Kenapa?" bertanya kenapa seperti nya kakinya terbuat dari kayu hingga tak merasa sudah menendang kursi yang di duduki oleh Johan


Johan menggeleng "nggak ada apa-apa pak" sahut Johan


"Jangan bikin panik, bawa mobil yang bener" kata Aditya kemudian


Mendengar peringatan dari Aditya, membuat Johan memamerkan senyum yang amat di paksakan, sungguh sebenarnya ia merakan pinggangnya nyeri akibat tendang dari seorang pria yang pernah menjadi pelatih karate dan sudah di pastikan tenaganya tentu sudah tak main-main.


Sepanjang perjalanan Aditya hanya sibuk mengutak-atik ponselnya saja sambil terkadang keluar makian yang lolos begitu saja dari tenggorokannya membuat Johan mengerutkan kening


"Bapak sebenarnya kenapa? dari pagi saya perhatikan bapak sangat cemas" Johan akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi ia simpan dan membuatnya penasaran


"Bapak tiba-tiba gedor-gedor pintu kamar saya dan meminta pulang ke Indonesia saat itu juga, bahkan bapak juga tidak memikirkan pekerjaan dan rapat yang harus bapak hadiri" Johan melanjutkan pertanyaannya pada sang atasan


"Emang gue belum ngomong sama elu Han?" memicingkan kedua matanya melihat johan dari kaca spion yang ada di tengah

__ADS_1


"Belum" Johan menjawab singkat


karena memang atasannya itu belum mengatakan apapun tentang kenapa dirinya itu begitu ngotot untuk kembali ke jakarta


Aditya memutar matanya berpikir dan mengingat apa benar ia belum mengatakan apapun pada Johan


"Kamu urus kerjaan aja, saya tidak ingin merepotkan kamu lebih banyak" tegas Aditya yang akhirnya memilih untuk tidak mengatakan apapun pada Johan, cukuplah ia menyusahkan Johan dalam urusan pekerjaan saja ia tidak mau lagi membuat Johan terlibat dengan urusan rumah pribadinya seperti dulu


"tapi nanti tolong belikan oleh-oleh pesanan Riana karena saya tidak sempat membelinya "


Aditya menyodorkan kertas dengan tulisan yang seolah tak berujung daftar pesanan anak gadis nya


Johan yang baru saja akan terharu namun omongan Aditya berikutnya membuat Johan seolah terlempar dari gunung yang sejuk dan terjatuh di gunung gersang nan panas


Seraya memasang wajah memelas Johan menerima kertas yang di sodorkan oleh Aditya lalu menyimpan nya di saku celana


"Jangan sampai kertas itu hilang, kalau sampai hilang dan kamu belum membeli pesanan anak saya, kamu pasti tau resiko apa yang akan saya dapatkan nanti"


"Ck ck, sungguh indahnya berumah tangga" ucap Aditya yang memang mendengar gumaman Johan


Obrolan yang ternyata sedikit bisa mengurangi kecemasan yang tengah di rasakan Aditya, dan mampu membuat mulutnya berhenti mengumpat mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat telinga Johan berdengung.


Mobil hening ketika kedua mulut pria dalam satu mobil itu bagai terkunci rapat dengan gembok yang besar, hingga akhirnya suara pesan masuk di ponsel yang sejak tadi berada di dalam genggaman Aditya


Aditya bergerak cepat membuka pesan dari sang pengirim yang namanya tidak ada di daftar kontak miliknya.


Bibir Aditya bergerak membaca pesan yang tercetak jelas di layar ponselnya

__ADS_1


"MUNGKIN GUE NGGAK BISA RASAIN ISTRI LU SEKARANG, TAPI TENTUNYA SETELAH GUE MELIHAT LANGSUNG ISTRI LU ITU, GUE MALAH JADI MAKIN BERSEMANGAT UNTUK MEMILIKINYA " baru saja pesan pertama dibaca oleh Aditya pesan selanjutnya datang beruntun dan langsung terbaca oleh Aditya


"SEKARANG GUE MAU SEKUAT TENAGA REBUT ISTRI KESAYANGAN LU ITU, KALAU PUN GUE NGGAK BISA REBUT SEKARANG, TERPAKSA GUE TUNGGU DIA SAMPAI JADI JANDA" mata Aditya membuka lebar berbarengan dengan rahangnya yang mengeras


"TENTUNYA JANDA YANG DI TINGGAL MATI, BIAR GUE BISA IKUTAN KAYA HAHAHA TTD CALON SUAMI BARU DARI RIANTI" pesan yang di kirim Imran sudah benar-benar keterlaluan membuat mulut Aditya yang tadi sudah tampak damai kembali berulah mengeluarkan serapahnya


"sialan, berengsek, dia nyumpahin gua mati, stupid, idiot, begooo, monyet,nih orang mau nyari gara-gara ama gue nggak tanggung-tanggung kayaknya" geram Aditya dengan duduk yang sudah tidak bisa diam bergerak ke sana sini mengganti posisi, seakan posisi duduknya tidak ada yang membuat ia nyaman


"Bapak kenapa? " Johan mengerem mobil mendadak membuat badan Aditya maju ke depan dan kepalanya menyeruduk kursi yang di duduki Johan.


"bilang-bilang kalau mau ngerem ngedadak!! " sentak Aditya apa yang di lakukan oleh Johan makin membuat emosi Aditya membuncah memenuhi kepala hingga rasanya hampir tembus melalui ubun-ubun nya


"Kalau bilang dulu, itu tandanya saya lagi nggak ngerem mendadak pak" sahut Johan dengan wajah yang masih menoleh ke belakang melihat atasannya yang tadi mendadak seperti orang kesurupan setelah selesai membaca pesan yang entah siapa pengirimnya karena Johan yang tidak tahu apa-apa.


Aditya membenarkan posisi duduknya seraya membuang napas kasar "cepat kamu jalankan mobil ini" perintah Aditya dengan mata yang menyorot tajam tanpa mau menjawab pertanyaan Johan


Johan kembali menjalankan mobil dan melanjutkan perjalanan


"seperti nya kamu sekarang sudah berubah menjadi seekor siput" sindir Aditya yang merasakan mobil berjalan begitu lambat


Mendengar itu Johan lantas menginjak gas sangat dalam membuat mobil melaju begitu kencangnya dan membuat orang di belakangnya sedikit merasa tenang sebab karena ia berpikir akan segera sampai di tujuan dengan mobil yang melaju kencang seperti sekarang.


Di dalam pesawat berulang kali Aditya melihat jam lalu menggumam menyalahkan jam yang seperti yang bergerak sangat lambat membuat dia tak juga sampai di Indonesia, padahal ia sudah merasa duduk berjam-jam lamanya di dalam pesawat yang membawanya kembali.


Untuk sekian kalinya Aditya melihat jam dan menarik napas begitu tau baru 9 jam, dan itu artinya ia masih harus menunggu kurang lebih 7 jam lagi untuk sampai di negara yang di tinggali nya.


********

__ADS_1


terimakasih masih setia dengan Aditya juga Roman..


Bantu dukung novel baru saya juga ya,yang berjudul "TAKDIR ANTARA KITA" masih tentang percintaan karena itu yang saya bisa hehe, terimakasih semuanya 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😍😍😍😍


__ADS_2