
Roman dan Tania sedang menuju rumah sakit setelah sedikit berdebat dengan istrinya dirumah karena perkataan Selfi yang memang ingin membuat kisruh mereka berdua..
biar bagaimanapun sebagai seorang suami ia akan merasa cemburu apabila ada laki-laki lain yang dengan sengaja mendekati istrinya apalagi laki-laki itu adalah mantan kekasih dari sang istri juga teman satu sekolahnya dulu yang ia sangat kenal bagaimana watak dari orang itu..
Sepanjang jalan Tania terus menunduk, entahlah apa yang ada dipikirannya sekarang ini yang jelas ia hanya merasa suaminya lebih sensitif dibandingkan dia sebagai ibu hamil karena jika mendengar nama Imran tensi suaminya akan langsung naik drastis
"kenapa diem aja? " Roman akhirnya membuka mulut bertanya pada sang istri yang tak juga mau mengangkat wajahnya
"mau diterusin berantemnya?! " kembali bertanya karena tak mendengar jawaban apapun dari istrinya itu
bukannya menjawab Tania malah menangis sesenggukkan dan membuat suaminya bingung campur panik
Roman gegas menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi
"Lah kamu kenapa nangis? " melepas sabuk pengamannya lalu duduk menyamping menatap sang istri
"kamu marah-marah terus, aku kan udah bilang aku nggak suka kamu kayak gitu " sahut Tania lirih dengan suara yang bergetar
"terus aku nggak boleh marah gitu kalo ada laki-laki apalagi mantan pacar kamu kirim-kirim salam kekamu, aku harus diem aja gitu? apa aku harus ketawa-ketawa terus anggap nggak pernah terjadi apa-apa,, iya? mau kamu kayak gitu? " berkata panjang benar-benar menunjukkan rasa cemburunya
"nggak gitu juga a" ucap Tania sendu
"terus aku mesti gimanaaaa? aku cemburu tau nggak! " malah semakin menunjukkan emosinya
"aku kan nggak tahu apa-apa ,aku juga nggak pernah ketemu sama Imran tapi kenapa kamu marahnya sama aku" kata Tania, begitu tidak menyangka nya ia dengan sifat Roman jika sedang cemburu pada orang yang begitu di cintainya, Roman mulai menunjukkan sisi kerasnya sebagai laki-laki
__ADS_1
"aku lagi hamil kamu malah marah-marah terus" terus mengkomplen sikap sang suami yang dianggapnya mulai sering marah, entah dirinya yang memang mulai sensitif karena pengaruh kehamilan atau memang mood suaminya yang sedang tak baik
Roman mengurut keningnya ,mendengar kata-kata istrinya memang tidak sepatutnya ia marah pada sang istri sedangkan istrinya memang tidak melakukan kesalahan, kenapa ia harus marah dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya di rumah, sudah jelas adik iparnya itu memang tidak senang melihat kakaknya bahagia,.
ia harusnya tidak terpancing dengan perkataan Selfi yang sejak dulu memang selalu iri pada istrinya, setidaknya itu yang sempat diceritakan Tania padanya mengenai sifat Selfi.
"iya maaf ya sayank aku sering bikin kamu sedih terus " akhirnya mengaku salah pada Tania, padahal dia yang selalu menasehati istrinya untuk tidak selalu emosi dan stres karena bisa mempengaruhi kehamilan sang istri, tapi anehnya malah dirinya sendirilah yang sering membuat stres istrinya padahal sebagai seorang dokter ia tahu betul resiko wanita hamil jika terlalu stres ditambah lagi ada Selfi dirumah mereka
Roman menggenggam tangan Tania erat meminta maaf dengan tulus
Tania mengangguk seraya mengangkat wajahnya menatap kedalam mata sang suami, jelas sekali masih ada sedikit emosi disana
"lebih baik kita suruh Selfi kost aja, aku nggak mau kamu jadi emosian kayak gini" usul Tania sebab ia tahu jika masih ada adiknya dirumah mereka emosi suaminya akan tiba-tiba muncul tanpa saat diduga sebelumnya
"terserah kamu aja" mencoba untuk tersenyum pada istrinya
"yaudah nanti aku ngomong sama dia" kata Tania dengan tangan kiri yang mengelus punggung tangan suaminya
"hhmm" Roman mendehem pelan seraya mengambil tissu lalu mengelap wajah Tania yang berhiaskan airmata
"istri aku jadi cengeng banget sekarang, pasti karena kamu ya baby kecil" ujar Roman mengelus perut Tania, ia tahu istrinya seperti ini karena perbuatan anaknya didalam kandungan sana
"kita berangkat sekarang? " tanyanya pada Tania seraya meremas tissu dan membuangnya ketempat sampah kecil dimobil
"iya" Tania mengiyakan dengan wajah yang masih terlihat agak muram
__ADS_1
"senyum dong, kamu cemberut gini nanti orang ngiranya aku nggak ngasih jatah " menggoda istrinya agar mau tersenyum
Tania memukul lengan suaminya yang sudah mulai konyol kembali
Roman malah tertawa kencang membuat istrinya tersenyum melihat sang suami bisa kembali tertawa sperti biasa setelah melewati perdebatan yang sebenarnya tidaklah penting.
Roman memasang kembali sabuk pengaman nya dan segera menyalakan mesin mobil yang kembali melaju ke jalan besar dan berjalan ketempat yang mereka tuju..
"oh iya nanti sore Adit sama Rianti mau kerumah" Roman memberitahu tentang Aditya serta istri dan anak-anaknya yang akan berkunjung kerumah mereka
"kok kamu baru bilang kan aku harus masak biar sekalian kita makan bareng nanti" berkata dengan nada kecewa karena suaminya tidak mengatakan lebih awal padanya soal mantan bosnya yang akan datang
"Aku juga baru liat pesan yang Adit kirim beb, nggak usah masak, kita pesen lagi aja nanti yah, kan aku udah bilang kamu jangan sampe kecapean, aku nggak mau tau deh .pokoknya kalo bisa kamu nggak usah ngapa-ngapain selama kehamilan kamu masih muda gini" mengultimatum agar jangan sampai istrinya melakukan pekerjaan yang akan membuatnya kelelahan..
Tania menunjukkan segaris senyum dibibirnya untuk sang suami yang begitu teramat ia cinta dan sayang,.
hatinya begitu sedih saat melihat Roman marah apalagi marah terhadap dirinya..
mobil terus melaju sampai akhirnya mereka tiba juga dirumah sakit.
sudah banyak ibu hamil yang terlihat menunggu tepat didepan sebuah pintu yang bertuliskan nama suaminya
"kamu tunggu sini dulu ya " meminta istrinya untuk duduk bersama dengan wanita hamil lainnya
sedangkan ia masuk ke ruangannya..
__ADS_1
*****
bersambung...