
Di dalam kantornya Melly tengah melamun dengan tangannya yang mengetuk-ngetuk meja, Dirinyalah yang sekarang menjadi pengendali penuh perusahaan mendiang suaminya.
Dunia seolah begitu sempit hingga mempertemukannya dengan keturunan dari sang mantan kekasih, yang artinya kemungkinan besar ia juga dapat bertemu dengan mantan kekasihnya yang tentu tidak akan pernah bisa ia lupakan, terlebih lagi ketika Melly mengetahui bahwa mantan kekasihnya itulah yang sudah membuat ia celaka hingga terluka parah di kedua kakinya.
"Ibu memanggil saya?" seroang wanita yang menjadi asistennya baru saja masuk.
"Atur kerjasama dengan perusahaan ini," perintah Melly seraya menyodorkan berkas permohonan kerjasama dengan sebuah perusahaan.
"Bukankah ini perusahaan.." Dirsya tidak melanjutkan perkataannya.
"Memangnya kenapa? bebas bukan saya mau bekerja sama dengan perusahaan manapun?" kata Melly seraya mengangkat alisnya.
"Perusahaan itu dulu sudah pernah membatalkan pengajuan kerja sama kita Bu, saat Bapak masih memimpin perusahaan ini," jelas Dirsya.
Meskipun dia belum terlalu lama bekerja sebagai asisten di perusahaan itu namun ia bisa mengetahui daftar tentang perusahaan-perusahaan mana saja yang pernah bekerja sama atau sedang bekerja sama juga perusahaan mana saja yang pernah membatalkan kerjasama.
Dirsya mengetahui dengan pasti semua perusahaan itu.
Nyatanya si bodoh Melly ini tidak pernah tau apapun bahwa perusahaan suaminya sempat akan bekerja sama dengan perusahaan Aditya, perempuan itu dulu memang hanya sibuk menghabiskan uang serta kekayaan mendiang suaminya.
"Kemungkinan besar saat kita mengajukan kerjasama mereka akan menolak," terang Dirsya.
Meski masa kerjanya belum terbilang lama namun tidak pungkiri ia malah lebih cerdas ketimbang atasannya sendiri yang sebenarnya memang tidak mempunyai keahlian di bidang yang puluhan tahun wanita itu jalani, jika bukan karena didampingi oleh orang-orang yang berpengalaman rasanya sudah sejak lama perusahaan Wijaya bangkrut tak bersisa.
"Kirimkan saja, jika perlu saya yang akan datang sendiri menemui pemilik perusahaan itu," ujar Melly ngotot entah apa yang sedang ia rencanakan saat ini.
Dan kali ini Dirsya hanya mampu menarik nafas karena jika atasannya sudah berkata seperti itu, sudah tidak ada lagi yang bisa ia bantah lebih baik menjalankan perintah daripada kehilangan pekerjaan, begitu pikir asisten berkulit putih dan berambut sebahu.
"Baik saya akan menyiapkannya," jawab Dirsya lalu undur diri untuk kembali ke meja kerjanya guna mulai menyusun proposal pengajuan kerjasama.
Melly tidak menjawab bahkan ketika asistennya itu keluar pun ia masa bodo, karena yang ia inginkan terlaksana tanpa memikirkan hal lain yang mungkin nantinya akan berimbas pada semua orang.
Wanita itu menarik laci di mejanya lalu mengeluarkan satu cincin berlian yang dulu pernah Aditya berikan padanya, cincin yang membuat ia akan selalu teringat pada sosok pria yang pernah ia khianati.
Terasa sangat aneh karena sudah bertahun-tahun lamanya namun ia masih belum juga move on dengan pria yang bahkan mendengar namanya saja sudah sangat muak, dan sekarang Melly malah kembali memakai cincin itu dengan senyuman yang sangat jahat.
*****
Malam hari Darren yang baru saja pulang dari kampus langsung menuju rumah mertuanya untuk menjemput sang istri yang tadi pagi dia titipkan di sana.
Dia membawa motornya dengan kecepatan sedang karena sejak sore tadi dia kembali merasakan kepalanya pusing, padahal dia sudah meminum obat guna meredakan pusing namun ternyata hanya reda sesaat saja dan setelah itu malah kembali terasa dan sekarang mah di tambah dengan mual, sungguh mengganggunya dalam bekerja dan juga menyimak pelajaran saat kuliah.
Tak lama motornya sudah memasuki halaman rumah sang mertua dan di pintu dia melihat istrinya tengah berlari ke arahnya.
"Kok lama?" tanya Rona yang sejak tadi memang sudah menunggu suaminya itu datang.
__ADS_1
"Rapat sebentar di kampus," jawab Darren.
Rapat yang di maksud adalah karena kelasnya di buta ricuh oleh kedatangan orang tua Bimo yang mencari Nella karena ingin menuntut wanita itu yang sudah membuat Bimo masuk rumah sakit karena alat vitalnya yang bengkak setelah mendapat tendangan dari Nella.
Dan Nella yang tidak mau di salahkan begitu saja langsung menghubungi orang tuanya dan meminta mereka untuk datang ke kampus menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kampus malah membuat seisi kampus rusuh hingga kelas terpaksa di tunda.
"Kakak sudah makan belum?" tanya Rona.
Sedikit demi sedikit Rona sudah mulai bisa mengerti apa saja kewajiban yang harus ia lakukan sebagai seorang istri.
"Belum," sahut Darren seraya mengikuti istrinya yang menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Tadi aku diajarin masak sama Mama, mau coba?"
"Darren tersenyum lalu mengangguk dan mengelus lengan sang istri yang melingkar di tangannya.
Lihatlah betapa sangat membahagiakan sekali pasangan suami istri yang baru berbaikan itu, tampak sangat mesra karena keduanya sudah mulai ingin beradaptasi dengan status mereka saat ini.
"Aku mau ke kamar mandi dulu," kata Darren ketika Rona akan mengajaknya ke ruang makan.
"Kakak mau sekalian mandi nggak?" Rona menawarkan pada sang suami.
"Nggak ada baju aku kan disini," kata Darren.
"Pakai baju Papa, nanti aku minta sama Mama," ucap Rona.
Rona mengangguk lalu ketika suaminya sudah masuk ke dalam kamarnya ia segera mencari sang Mama di kamarnya.
"Maaaah," teriaknya dengan suara yang nyaring.
"Iyaaa, kenapa?" tanya Tania dari dalam kamar mandi.
"Cariin baju Papa dong, Kak Darren mau mandi tapi nggak ada baju ganti," seru Rona dengan tangannya yang usil memainkan alat tensi darah yang ada di meja rias sang Mama.
Klek!
Tania keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelit di kepalanya.
"Mama jam segini baru mandi, nanti kena asam urat aja," tukas Rona mengetahui Mamanya itu baru mandi pada jam 9 malam.
"Sok tau," sahut Tania.
"Dih malah bilang sok tau, tanya Papa aja, lagian suaminya Dokter masa kayak gitu aja nggak tau," seru Rona dengan bibirnya yang mengerucut.
__ADS_1
"Papa kamu aja sering mandi malam." sepertinya Tania tidak mau terlihat salah di depan anaknya.
"Cieee, Mama." Rona malah terlihat meledek Mamanya sendiri membuat wajah sang Mama merah.
"Sana minggir, Mama mau ambil baju Papa." akhirnya mengalihkan agar anaknya itu tidak terus meledek dirinya.
Tentu anaknya yang sudah bersuami itu akan sangat mengerti maksud perkataannya tadi tentang mandi malam.
Bukannya menyingkir untuk membiarkan sang Mama mencari pakaian, ia malah ikut nimbrung memilih pakaian yang cocok untuk suaminya seolah itu adalah lemari miliknya.
"Yang ini aja Ma," ucap Rona menarik kaos berwarna hitam yang padahal masih sangat sering di pakai oleh Papanya.
"Itu masih di pakai Papa kamu Na," Ucap Tania.
"Nggak apa-apa." dengan seenaknya menjawab.
"Nanti Papa kamu nyariin."
"Nanti Rona yang bilang Papa," kata Rona lalu langsung kabur membawa kaos kesayangan sang Papa.
"Kak, ini kaosnya aku taruh di atas kasur ya," teriak Rona di depan kamar mandi namun tak ada jawaban sedikit membuat Rona bingung namun wanita itu berpikir mungkin suaminya tidak mendengar.
"Biarin aja deh nanti juga Kak Darren lihat," katanya lalu berjalan keluar kamar untuk menyiapkan makan bagi sang suami.
__ADS_1
\*\*\*\*