
Darren tampak sangat syok dengan keterangan dari Papa mertuanya barusan, penjelasan tentang dirinya yang akan mengalami semua gejala hamil langsung membuat kesenangan yang tadi dia tunjukkan memudar dari wajahnya.
Dia sudah membayangkan bagaimana repot nya dia jika saat bekerja atau kuliah mengalami hal yang wanita hamil alami.
Astagaaa, seluruh tubuh Darren mendadak sangat lemas kala membayangkan semua itu, perutnya dalam sekejap pun terasa bergejolak.
Mual yang tadi sempat menyerangnya sebelum pingsan mendadak muncul kembali hingga membuatnya terpaksa lari ke kamar mandi.
Saat mendengar suara suaminya dari dalam kamar mandi Rona pun bergegas menyusul nya guna melihat apa yang tengah di alami oleh sang suami.
Rona menghampiri Darren yang sedang muntah di atas wastafel lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Kepala aku pusing Na, perut aku juga nggak enak banget rasanya, mulut juga pahit," adu Darren sambil kedua tangannya berpegangan pada tepian wastafel putih itu.
"Terus gimana sekarang? nggak usah hamil aja?"
tanya Rona membuat Darren benar-benar hampir saja menyusrukkan wajahnya di dalam wastafel akibat pertanyaan tak masuk akal yang Rona lontarkan.
Wanita itu tengah hamil dan dengan bodohnya bertanya tidak usah hamil aja, bagaimana bisa ada orang yang bisa berpikir seperti itu.
"Lu kalau ngomong ngaco banget Na!" seru Darren.
Dari cara bicaranya sepertinya pria itu benar-benar kesal dengan pertanyaan ngelantur tak masuk akal sehingga memanggil istrinya dengan sebutan seperti itu.
Cara bicaranya seperti sedang berbicara dengan temannya saja.
"Ya maaf, lagian aku tuh kasihan lihat Kakak kayak gini," kata Rona menyesali apa yang ia katakan tadi.
"Kakak kan belum makan, makan dulu yuk, nanti malah masuk angin," kata Rona yang baru saja ingat bahwa tadi ia itu menyiapkan makanan untuk suaminya sebelum drama kehamilan yang akhirnya sekarang ini ia tau bahwa di dalam perutnya ini sedang tumbuh benih dari suaminya.
"Tapi nggak pengen makan Na," Sahut Darren seraya mencuci mulutnya.
"Di paksain, nggak apa sedikit juga asal nggak kosong banget," paksa Rona lalu merapikan rambut suaminya yang berantakan.
__ADS_1
Dan terlihat jelas bahwa mulai malam ini Rona lah yang akan berusaha untuk mengerti dengan keadaan suaminya yang tentu saja akan banyak perubahan drastis nantinya akibat mood yang pasti akan berubah-ubah dengan cepat.
Mau tak mau Darren menurut apa yang istrinya itu katakan, sepertinya tanggung jawabnya sebagai seorang suami harus bertambah berat karena dirinyalah yang harus mengalami mual ngidam di saat istrinya hamil.
Rona menuntun suaminya menuruni anak tangga menuju ruang makan yang sudah ada Papa serta Mamanya di sana tengah makan sambil mengobrol.
Yah apalagi yang akan mereka obrolkan kalau bukan tentang kehamilan anaknya itu.
Tania segera mengambilkan piring untuk menantunya yang memang belum makan sejak datang tadi, makan malam yang benar-benar sangat terlambat.
Darren duduk sedangkan Rona gegas mengisi piring suaminya dengan nasi serta lauk pauknya, tidak banyak karena ia tau jelas suaminya memang hanya makan sedikit di tambah keadaannya yang sekarang makin bertambah sedikitlah makannya.
"Aaaa," Rona menyodorkan sesendok nasi beserta sayur capcay yang ia masak tadi ke mulut sang suami.
Darren membuka mulutnya dengan terpaksa lalu dengan wajah manjanya dia berkata, "udah Na, Aku nggak mau," katanya menggelengkan kepala.
"Papaaaa," Rona memanggil Papanya seolah tengah mengadu apa yang harus ia lakukan sekarang ini.
"Kak Darren belum makan dari pulang tadi nanti malah sakit," sambung Rona dengan wajah yang sedih.
Roman pusing menghadapi anak dan menantunya, meskipun dia sering mendapat kasus seperti ini tapi nyatanya sungguh terasa menyusahkan ketika ada anggota keluarganya yang mengalaminya langsung terlebih lagi itu adalah menantunya.
Mau di kasih obat pun tidak mungkin karena itu bukan penyakit, masa harus di kasih susu hamil agar tuh perut ada isinya kan lebih tidak mungkin lagi.
"Kasih vitamin atau apa kek Pah, kasihan itu mantu kita," ucap Tania yang dari tadi mengernyit mendengar suara menantunya yang tengah memuntahkan nasi yang tadi baru masuk.
Roman menggaruk kepalanya mendengar permintaan sang istri.
"Nanti Papa belikan vitamin di apotik," kata Roman akhirnya.
"Memang Papa nggak ada? biar langsung Darren minum sekarang," jelas Tania lagi sedangkan Rona sedang memijit tengkuk suaminya.
"Ada! vitamin wanita hamil, kamu mau suruh Darren minum itu?" Roman mulai ketus menjawab pertanyaan dari istrinya yang seperti tidak paham saja profesi suaminya yang seorang Dokter kandungan bukan Dokter umum.
__ADS_1
Tentu yang dia punya adalah semua yang berhubungan dengan wanita hamil dan sekarang Darren hanya sedang mengalami kehamilan simpatik, bukan dia yang hamil jadi tidak bisa dia berikan vitamin-vitamin yang dia punya.
Tania mengatupkan kedua bibirnya dengan sangat rapat mendapat jawaban yang ketus dari sang suami.
"Ngomong-ngomong kaos yang di pakai Darren kayak Papa kenal," celetuk Roman sambil menatap Darren yang sedang berjalan ke arah mereka.
Tania pun melihat pada Darren lalu berucap, "tadi Rona pinjam, aku mau cariin yang lain malah ambil yang itu," jelas Tania.
Benar saja apa yang dipikirkan oleh Tania, suaminya itu pasti mengenali kaos miliknya yang kerap cuci kering pakai, setiap hari akan begitu seperti tidak akan kaos lain yang bisa di pakai, padahal masih ada dua tumpuk kaos milik suaminya tapi entah kenapa suaminya malah lebih senang memakai kaos berwarna hitam itu.
"Jangan melotot sama aku, kan anak kamu yang ambil," tukas Tania saat mata suaminya menatap tajam padanya.
"Papa mau ke apotik dulu," kata Roman lalu beranjak dari kursi.
"Papa mau kemana Mah?" tanya Rona begitu melihat Papanya pergi.
"Mau beli vitamin buat suami kamu."
"Oh, ya udah Kakak duduk dulu sini, aku buatin teh panas dulu biar perutnya enakan," kata Rona lalu segera melenggang ke dapur setelah Darren mengangguk.
__ADS_1
*****