Kamulah Pilihanku

Kamulah Pilihanku
KP M II bagian 35


__ADS_3

"Kamu apa-apaan sih Darren!" Rianti terlihat marah ketika mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh suaminya tentang anak mereka.


"Maaf Bu." Darren sangat tulus meminta maaf pada sang Ibu yang dia tau pasti sangat kecewa dengan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya, sekalipun dia dan Rona tidak sampai melakukan apapun namun tetap saja dia sudah melakukan kesalahan dengan melihat tubuh lawan jenisnya.


"Kamu itu anak lelaki, dan lelaki itu yang di pegang itu perkataannya! kamu juga sudah janji sama Kakak kamu untuk bekerja dulu baru menikahi Rona! lalu sekarang malah seperti ini!" Rianti terus saja berkata dengan nada tinggi merasa anaknya itu sungguh sangat keterlaluan.


"Harusnya kamu itu menjaga Rona, bukan malah ingin merusaknya." lanjut Rianti yang berusaha di tenangkan oleh sang suami yang sejak tadi mengelus punggungnya untuk menyabarkan dirinya yang sudah kadung emosi.


Darren sudah tidak bisa menjawab apapun setiap perkataan dari wanita yang selama ini senantiasa mengurus dirinya, mengurusi segala kebutuhannya sehari-harinya.


"Terus sekarang kita harus gimana Mas?" tanya Rianti pada sang suami yang belum mengatakan bahwa Darren dan Rona harus segera dinikahkan sebelum melakukan hal yang semakin membahayakan nantinya.


Rianti menatap mata suaminya menunggu jawaban apa yang akan di berikan oleh lelaki itu yang juga tadi sama marahnya seperti sang istri.

__ADS_1


"Besok kita harus datang ke rumah Roman, kita akan Lamar Rona." tukas Aditya pelan.


"Tapi Darren belum kerja loh Mas." tutur Rianti karena yang ia tau anaknya itu memang belum terlihat mendapatkan pekerjaan seperti yang di minta oleh Riana jika ingin menikah.


"Darren udah dapet kerja kok Bu." ucap Darren yang mendapatkan gelengan kepala dari sang Ayah.


"Sudah Ayah katakan kamu akan bekerja di kantor Ayah. Ayah tidak mau kamu bekerja di cafe manapun titik dan jangan membantah Ayah lagi." kata Aditya mengultimatum sang anak yang sepertinya masih saja membahas pekerjaan di cafe temannya itu.


"Kalau sama kamu Darren nggak akan mandiri Mas." ujar Rianti yang memang sangat ingin anak lelaki nya itu tidak tergantung dengan mereka ketika sudah menjadi seorang suami nantinya.


"Dia akan kerja di kantor cabang sayang, aku juga tidak akan campur tangan apapun mengenai pekerjaan dia nanti, jika dia salah pun Ayah akan tetap memberikannya sanksi seperti karyawan yang lainnya, tidak akan ada toleransi apapun untuk anak nakal sepertinya itu." ketus Aditya seraya memberikan lirikan yang teramat sadis pada sang anak yang sudah bisa mengerti bahwa hidup sebenarnya bagi dirinya akan di mulai sebentar lagi.


Darren akan mulai memikul tanggung jawab sebagai seorang suami untuk seorang wanita yang dia nikahi sebentar lagi, menjadi pemimpin bagi keluarga kecilnya nanti, menjadi seorang Ayah bagi anak-anaknya yang entah akan lahir kedua ini kapan.

__ADS_1


Darren tampak memperhatikan kedua orang tuanya berdiskusi tentang hari esok, tentang dirinya yang akan melamar Rona dan tentunya setelah itu akan terjadi pernikahan.


"Riana?" tanya Rianti ketika teringat anak gadisnya yang berada di Singapura saat ini.


"Dia aja suruh telepon Kakaknya." Aditya menunjuk Darren dengan dagunya.


"Kamu dengar apa yang Ayah katakan bukan?" tanya Rianti pada sang anak yang mengangguk lemah, merasa saat ini dia menjadi seseorang yang benar-benar jahat karena sudah mengecewakan keluarganya sendiri dengan perbuatannya.


Aditya membuang napas panjang lalu beranjak dari sofa seraya menarik Rianti untuk ikut bersamanya meninggalkan sang anak yang masih duduk kaku di sofa ruang keluarga mereka.


Saat ini jantung Darren seperti tidak mau tenang sedikitpun sejak tadi mendengar ucapan Ayahnya pada saat di rumah Rona.


Darren duduk lumayan lama di ruang keluarga itu seorang diri dengan HP yang ada di tangannya, masih mengumpulkan keberanian untuk menghubungi sang Kakak guna memberitahukan apa yang sudah menjadi keputusan sekarang ini.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2