
Sore hari ketika Darren akan menuju kampusnya dan tengah terjebak di lampu merah di belakangnya muncul segerombolan anak sekolah yang mungkin tengah merayakan kelulusan.
Darren menoleh sekilas lalu menggelengkan kepalanya. "Perasaan dulu gue lulus sekolah nggak norak kayak gitu." cibirnya yang baru melihat saja sudah dapat mengetahui kalau gerombolan anak sekolah itu tengah konvoi merayakan kelulusan mereka.
Sepertinya Darren lupa kalau hari ini istrinya juga tengah lulus sekolah dan mungkin saja ada diantara gerombolan berseragam putih abu-abu di belakangnya.
Lampu merah sudah berganti menjadi kuning lalu hijau, klakson tak sabar mulai membuat telinga Darren sakit, manusia-manusia di belakanganya sangat tak sabar untuk segera melintas membuat Darren menepikan motornya memberi jalan gerombolan itu.
Kepala Darren menoleh guna melihat anak-anak yang pastinya akan sangat rusuh jika dia tak memberikan jalan. "Bocah norak." omel Darren kesal matanya melihat satu persatu motor yang melewati dirinya dan matanya cukup memicing tajam memperhatikan ada sesuatu yang dia kenali. "Tuh kayak Hoodie gue." katanya ketika ada seorang yang duduk di boncengan mengenakan Hoodie yang bisa di bilang kesayangannya. "Jangan-jangan Bini gue lagi nih." celetuk Darren yang ingat tadi pagi dia sendirilah yang menyuruh Rona untuk memakai Hoodie nya.
Langsung saja Darren menyalakan mesin motornya dan menyusul motor besar yang telah sedikit jauh darinya.
Melaju dengan kencang agar bisa mensejajari motor di depannya. "Rona!" panggilnya kencang.
Benar dugaan Darren, itu adalah istrinya yang begitu terkejut suaminya muncul tiba-tiba. "Kak." kata Rona lemas, sudahlah sebentar lagi ia akan mendapatkan Omelan dari suaminya itu.
Pasrah? tentu saja, memangnya dia masih bisa melawan ketika suaminya itu memergoki dirinya berboncengan dengan lawan jenis meskipun yang memboncengnya adalah teman baiknya sendiri, Tyo.
Darren mengibaskan tangannya agar Tyo menepikan motor di pinggir jalan, dengan kasarnya Darren memutar konci motornya agar mesinnya tak lagi bersuara.
"Kenapa sih Om!" Tyo tampak kesal ketika tahu siapa yang tengah menghentikan dirinya. "Udah kayak polisi aja main hadang segala." ujar Tyo ketika Darren hanya menatap dengan tajam, tatapan yang bisa diartikan sebuah kemarahan dan tujuan mata dari pria itu adalah wanita yang ada di boncengannya saat ini.
__ADS_1
"Nggak mau turun Na?!" ketus Darren tak memperdulikan Tyo, malah menganggap bocah itu hanya sekedar pajangan saja.
"Iya ini turun." kata Rona menuruti sang suami, lebih baik menurut ketimbang menyaksikan Darren mengamuk di jalanan yang akan menjadi tontonan banyak orang.
Tyo menoleh pada Rona ketika merasakan pergerakan di belakangnya. "Loh nggak usah turun Na, Ayo kita jalan lagi. itu yang lain udah nungguin." ucap Tyo sambil melihat ke arah teman-temannya yang berada tak jauh di depan sana yang juga tengah menyaksikan mereka bertiga.
"Gue nggak ikut Yo."
"Dih, nggak enak Na sama yang lain." protes Tyo kala Rona membatalkan untuk ikut, lagian hari ini rencananya dia akan mengutarakan isi hatinya pada Rona lalu akan kuliah di kampus yang sama dengan wanita cantik itu, sudah berkhayal pergi dan pulang kuliah bersama Rona, boncengan motor penuh dengan kemesraan, sungguh khayalan yang sangat indah. namun seperti kaset kusut, dalam sekejap khayalannya itu musnah entah kemana ketika melihat tatapan bak seorang mafia sadis di depannya.
"Lu kalau mau pergi, pergi sana! nggak usah ngajak-ngajak Rona." bentak Darren. "Cepat naik!" beralih pada Rona yang melakukan gerakan lambat, sungguh lambat hanya untuk sampai pada dirinya yang padahal hanya berjarak kurang dari dua meter.
Sudahlah kamu tidak akan selamat dari Omelan suamimu itu Rona, dia pulang kerja dan ingin lanjut kuliah namun di tengah jalan melihat istrinya malah berboncengan dengan teman prianya, membuat darah dalam sekejap naik kepala.
Tak ada jawaban atau tanggapan apapun dari pria yang sedang mengendarai motor itu, Rona pun hanya berani berpegangan pada jaket milik suaminya itu saja tanpa berani memeluk juga merapatkan tubuhnya.
Mulut Darren seolah terkunci rapat bahkan ketika Rona bertanya kenapa membawanya ke kampus pria itu, namun tak ada jawaban sama sekali, Darren hanya turun tanpa kata lalu menarik lengan Rona menuju kantin kampus yang tentu sepi di jam-jam sore seperti ini.
__ADS_1
"Tunggu di sini!" tegas Darren mendudukkan Rona di kursi bagian pojok.
Mata Rona membola bingung saat suaminya memintanya untuk menunggu di saat pria itu tengah berkuliah.
"Aku pulang aja Kak." kata Rona kemudian, ngapain dia nongkrong di kantin kampus dengan seragam sekolah, ya meskipun dia memakai Hoodie tapi rok abu-abu dengan sedikit karya suaminya tadi pagi bukankah itu akan menarik perhatian para mahasiswa?.
"Aku cuma sebentar." kata Darren tetap memaksa istrinya menunggu. bukankah ini kesalahan Rona sendiri? siapa suruh dia malah boncengan dengan si Tyo bocah tengil dan songong itu, jadi terima saja konsekuensinya.
Mulut Rona merengut namun tak bisa lagi protes apalagi ketika HP di dalam saku Hoodie nya berbunyi dan begitu dia keluarkan mata Darren bisa menangkap nama siapa yang tengah mejeng di layar HPnya itu.
Tanpa peringatan apapun tangan Darren sudah mengambil HP dari tangan sang istri lalu mematikan HP itu secepat kilat dan mengantonginya lalu tanpa berkata melenggang begitu saja.
"Masa di sita?" lirih Rona menatap naas pada punggung suaminya yang perlahan menjauh. "Tadi pagi rok sama baju, sekarang HP, ya ampun Kak Darren udah kayak BK di sekolah, tukang protes sama tukang sita!" cerocos Rona seraya menjatuhkan kepalanya ke atas meja kantin dengan bertumpu pada tangan kanannya.
****
__ADS_1
****