
Di dalam tenda Rona masih saja mengoceh dan memaki tentang kelakuan Sherin yang benar-benar keterlaluan.
"Udah jelas ada calon istrinya, masih aja di deketin." celoteh Rona.
"Ini lagi kamu, ngapain aku di bawa masuk." kali ini Darren yang kena Omelan Rona yang tersulut emosi saat mendengarkan semua omongan Sherin yang terus saja mendekati Darren padahal lelaki itu sudah sangat jelas menolaknya.
"Nggak enak Na sama yang lain, mereka lagi pada tidur nanti ke ganggu." Darren berusaha menjelaskan pada Rona kenapa dia harus terpaksa menarik Rona ke dalam tenda, sejujurnya dalam hati dia ingin membiarkan saja Rona melakukan apa pada Sherin, tapi keberadaan teman-temannya yang lain membuat dia harus menghentikan apa yang mau Rona lakukan, Darren tidak mau Rona semakin di musuhi oleh teman-teman nantinya.
"Biarin aja, temen-temen kamu juga sama ngeselinnya sama dia." seru Rona dengan suara keras seperti sengaja ingin teman-teman Darren yang masih berada di luar mendengar apa yang ia katakan.
"Suuuut." Darren menempelkan jari telunjuknya di bibir Rona agar wanita itu tidak lagi bersuara kencang.
"Tidur aja yuk." mencoba mengalihkan kekesalan Rona dengan mengajaknya untuk tidur saja.
"Nggak mau." tolak Rona ketus.
Wajahnya terlihat cemberut menandakan gadis itu masih sangat kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Sayangnya aku jangan ngambek dong." Darren mulai mencoba untuk merayu Rona agar sang gadis tidak meneruskan ngambeknya yang pasti akan lama, sangat mirip dengan Ibunya jika sedang ngambek pada sang Ayah.
Sepertinya Darren sudah sangat bosan jika di tempat camping pun masih harus menyaksikan wanita ngambek atau marah, karena di rumah Ibunya juga seperti itu.
"Jangan marah sama aku, kan kamu denger sendiri tadi aku ngomong apa sama dia. eh kamu dengar nggak ya?" Darren bertanya tapi dari raut wajahnya dia sedang meledek Rona yang memalingkan wajahnya.
"Jangan suka nguping omongan orang." mencapit hidung Rona dan membuat gadis itu meringis manja.
"Sakiit iih." seru Rona yang kini memegang tangan Darren agar menghentikan perbuatannya.
__ADS_1
Darren tersenyum tipis yang sungguh membuat Rona makin tak kuasa untuk mengedalikan hatinya, betapa ia semakin jatuh hati pada lelaki di depannya sekarang ini sungguh tidak akan ada siapapun yang bisa menggeser kokohnya nama Darren di hati Rona.
Gadis itu seolah sudah tidak bisa lagi untuk menatap lelaki lain selain Darren, Darren tidak akan terganti oleh Rendi atau siapapun itu, tidak akan.
"Aku keluar ya, kamu tidur lagi aja." cetus Darren namun rupanya Rona sangat enggan membiarkan calon suaminya itu untuk meninggalkannya, terbukti dari tangannya yang memegang erat tangan lelaki itu serta gelengan kepala dan tatapan sendunya seolah memohon untuk jangan meninggalkannya.
"Nggak enak sama yang lain." tukas Darren.
"Kamu tuh nggak enak nggak enak terus, ya udah sana keluar." Rona menghempaskan tangan Darren dan mengusirnya keluar, sedangkan ia segera tiduran dan membelakangi Darren yang masih berada di dalam tenda itu memperhatikan dirinya.
"Ya udah aku temenin." kata Darren akhirnya lalu tak jadi keluar hanya membuka sedikit tenda agar tidak ada yang berpikir mereka berbuat macam-macam.
Darren terus memperhatikan Rona yang ternyata masih belum tidur juga, itu bisa diketahui oleh Darren karena Rona yang berulang kali menggerakkan tubuhnya bahkan tadi sempat menengok padanya namun kembali membelakangi ketika mata mereka saling bertemu.
"Tutup aja Ren, banyak nyamuk kasihan Rona." terdengar suara Permana dari depan tendanya yang rupanya sedang menikmati kopi bersama dangan Angga dan Rio.
"Apa mau kopi?" seru Angga lagi.
"Nggak usah, thanks." jawab Darren seraya mengangguk.
Darren tampak melihat lebih dulu ke arah Rona yang memang sedang menggaruk tangannya karena gigitan nyamuk, lalu kemudian dia pun mengikuti saran dari Permana untuk menutup tendanya.
Suasana di dalam tenda menjadi gelap apalagi tenda itu yang berwarna hitam dan tidak mendapatkan pencahayaan dari apapun, bahkan sepertinya Rona memang tidak menyalakan lampu senter.
"Kamu kalau ngantuk tidur aja." pinta Rona pada Darren, meskipun ia tidak melihat tapi ia mengetahui kalau Darren berulang kali menguap.
Darren tak juga bergerak untuk menuruti perkataan Rona hingga akhirnya tangannya di tarik oleh gadis itu untuk ikut tiduran di sampingnya.
__ADS_1
Dalam kegelapan keduanya bisa saling merasakan hembusan napas yang menerpa wajah mereka masing-masing.
"Na." suara Darren mengalihkan tatapan Rona yang tengah terpaku pada matanya.
"Ya." sahut Rona.
"Aku sayang banget sama kamu, jangan tinggalin aku ya." terdengar betapa tulus dan bersungguh-sungguh nya Darren mengucapkan kata-kata itu yang membuat hati Rona berdesir hangat mendengarnya.
"Rona juga sama." membalas ucapan Darren yang semakin mendekatkan wajahnya pada gadis yang amat dia cintai itu, detik berikutnya mereka sudah saling berbagi napas yang membuat tubuh keduanya menghangat.
****
"Kamu kenapa sih Yang?" tanya Roman begitu melihat istrinya yang sejak tadi terlihat sangat gelisah, entah apa yang sekarang ada di dalam pikiran wanita itu.
"Perasaan aku nggak enak banget Pah." kata Tania pada Roman yang duduk di sampingnya.
Alis Roman pun tertaut mendengar pernyataan dari istrinya.
"Kamu mikirin apa emangnya?" tanya Roman bingung.
Tania menggeleng karena ia juga tidak tahu apa yang tengah ia pikirkan hanya saja perasaan tak enak itu mendadak muncul begitu saja dan bahkan sekarang jantungnya berdebar sangat cepat seperti akan ada sesuatu yang terjadi tapi entah apa, wanita itupun tidak tau.
"Berdoa aja supaya nggak terjadi apa-apa." kata Roman lalu mengelus dan mencium puncak kepala Tania dan memintanya untuk tidur.
Tania pun menurut meski awalnya sangat susah untuk memejamkan mata, namun akhirnya wanita itupun pulas juga dalam tidurnya setelah hampir setengah jam uring-uringan bergerak kesana kemari.
****
__ADS_1