
"Nggak jadi antar aku ke apartemen?" goda Rona saat jalanan yang kini mereka lalui malah mengarah pada kampus suaminya.
"Nggak usah bawel Na." ketus Darren yang masih dalam mode cemburu, apa lagi tadi telinganya mendengar sendiri bahwa besok si bocah tengil bernama Tyo itu akan menjemput istrinya, sudah bisa di pastikan dia tidak akan membiarkan istri yang sebentar lagi akan melepas seragam putih abunya itu berdekatan dengan bocah yang matanya seakan buta itu sebab selalu memanggilnya Om padahal wajah dan penampilan Darren jelas terlihat menggambarkan usianya saat ini.
"Ciee suami aku ngomel-ngomel terus, sensi banget kayaknya." Rona malah makin menjadi meledek suaminya dengan tangan yang kini sudah berada di dalam saku Hoodie yang Darren kenakan.
"Kita lagi di jalan Na, tangannya jangan nakal." seru Darren kala Rona malah seperti sengaja menggerakkan tangannya di dalam sana entah tengah mencari apa.
Menyebalkan bukan? sudah di buat kesal oleh Tyo, dan sekarang malah istrinya itu sengaja menggodanya dengan sangat nakal padahal wanita itu tadi dengar sendiri bahwa Papah mereka melarang untuk berhubungan dulu hari ini karena Rona yang baru saja memakai kontrasepsi, entah mertuanya itu memang hanya mengerjainya atau serius Darren tak tahu, yang jelas dia bukan Dokter yang memiliki pengetahuan tentang itu.
Lalu sekarang di atas motor saja Rona malah seperti sengaja menggodanya, ini di atas motor, bagaimana jika mereka sudah berada di dalam kamar? tentunya dia akan meminta wanita mengesalkan itu untuk bertanggung jawab bukan?.
Motor sudah berhenti sepenuhnya di lahan parkir gedung perkuliahan jurusan ekonomi yang Darren tempuh, sudah hampir 2 tahun dia keluar masuk gedung ini dan kurang dari dua tahun juga dia akan lulus S1.
"Aku tunggu di sini aja?" tanya Rona turun dari motor.
"Enak aja! mau ngapain di sini?!" sungut Darren dengan tatapan gemas.
"Cari angin, kayaknya di taman itu teduh banget." menunjuk taman kampus yang di penuhi dengan pohon-pohon besar, yah taman yang selalu menjadi tempat mojok teman-teman kampusnya itu memang begitu menggoda siapa saja dengan gerakan dahan yang seolah melambai meminta siapa saja untuk singgah di bawahnya.
Mata Darren memicing sempurna kala bibir istrinya bergerak dengan lugas. "Mau mengenang waktu mojok sama playboy kampus kah? hhhmm?" ejek Darren yang sungguh sama sekali tidak terpikirkan oleh Rona, ia memang benar-benar ingin berteduh di taman yang lebih mirip hutan itu, mencari kesejukan alami yang tidak ia dapatkan saat di apartemen ataupun ruang kerja Papahnya, lalu kenapa Darren malah berpikiran lain, seperti akan selalu mengingat kala dirinya tengah mengobrol berduaan dengan Rendi yang selalu Darren panggil playboy kampus itu, hanya mengobrol saja tidak lebih dari itu.
"Apaan sih Kak." mulut Rona maju sekian Centi menanggapi pernyataan mengesalkan dari suaminya itu. "Ya udah kalau nggak boleh tunggu di sini, aku mesti tunggu di mana?" tanya Rona yang memilih untuk mengalah dari pria pencemburu yang sialnya sudah menjadi suaminya itu.
Tanpa kata Darren pun menarik lengan Rona untuk mengikutinya, menaiki tangga menuju dua gedung di atas sana. "Tunggu di sini!" titah Darren di depan sebuah pintu yang sepertinya itu adalah ruangan seorang dosen.
"Iyaa." sahut Rona dengan nada malas namun juga pasrah.
Darren sudah menghilang di balik pintu yang menutup, meninggalkan dirinya yang menoleh guna mencari bangku yang bisa ia duduki.
"Rona." baru saja ia akan mendaratkan bokongnya di bangku malah terdengar suara sekaligus wajah orang yang tadi di sebut oleh suaminya, tentu itu adalah si playboy kampus menurut panggilan suaminya.
__ADS_1
"Kak Rendi." jawab Rona seraya mengulas senyum.
Rendi berjalan mendekat lalu dengan tanpa permisi duduk di depan wanita yang sekarang menjadi incaran barunya. "Sama siapa?" tanyanya kemudian.
"Kak Darren." sahut Rona pelan dan ramah, tentu saja ramah karena ia tak merasa memiliki masalah dengan pria di sampingnya, terlebih lagi pria itu jugalah yang telah menyelamatkan dirinya saat di dorong ke sungai oleh Sherin tempo hari, bukankah sudah sepatutnya ia harus bersikap baik pada pria itu sebagai ucapan terimakasih?.
Mendengar nama Darren di sebut Rendi terlihat menoleh kiri kanan mencari keberadaan saingannya itu, matanya berhenti kala jari Rona menunjuk pintu yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.
"Oh, ketemu Dosen." katanya kemudian dengan anggukan kepala.
"Heem." timpal Rona kemudian.
"Nanti malam ada acara Nggak?" secara tiba-tiba pria di sampingnya itu mengajukan pertanyaan yang sudah pasti menjurus pada hal yang lain.
"Gue mesti jawab apa?" batin Rona dengan bibirnya yang terkatup rapat dan kaku.
"Hei." Rendi mengibaskan satu tangannya di depan wajah Rona yang malah terlihat bengong.
"Kok malah ketawa.." kata Rendi yang juga jadi ikut tertawa mengikuti wanita berwajah mungil yang sejak tadi dia tatap.
"Nggak, nggak ada acara tapi Rona harus tidur cepat nanti malam, soalnya besok mau ke sekolah." akhirnya Rona menemukan alasan, karena ia sangat tau jika ia segera memberikan alasan pastinya akan muncul lagi ajakan Rendi untuk mengajaknya keluar malam nanti, bukan dirinya pede tapi ia hidup di jaman sekarang yang sudah tau apa yang pertama kali akan di katakan oleh lelaki jika ingin mengajak seorang wanita pergi keluar atau yang biasa di sebut berkencan.
Sangat tidak mungkin bukan, ia berkencan dengan pria lain sedangkan ia sudah punya suami dan suaminya itu bisa saja berubah menjadi macam liar jika sampai tau istrinya pergi dengan pria lain, apa lagi pria itu adalah teman satu kampusnya.
"Jam berapa?" Rendi malah terlihat tak pantang menyerah dengan usahanya untuk bisa dekat dengan Rona.
"Apanya?" tanya Rona dengan kerutan di dahinya.
__ADS_1
"Ke sekolahnya jam berapa?" lebih rinci bertanya.
"Memangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-napa cuma mau tau aja." kata Rendi menyembunyikan maksudnya.
Lalu dengan polosnya Rona menjawab. "Jam 7." tutur Rona tepat ketika pintu di samping mereka terbuka.
"Ya udah aku jemput besok." kata Rendi lalu secepat mungkin kabur begitu melihat tampang Darren yang bagaikan seekor hewan buas dan sangat memerlukan pawangnya.
Mata Rona bergerak tak jelas. "Tyo dan Rendi sudah membangkitkan macan tidur." gerutu Rona dengan memasang tampang serta senyuman yang begitu kaku.
"Ayo pulang!" tegas Darren berjalan begitu saja melewati sang istri.
"Gimana kasih taunya ini?" desis Rona dalam hati, tampang Darren begitu menyeramkan membuat ia yang ingin memberitahukan tentang Rendi yang akan menjemputnya besok pagi membuat mulutnya terkunci rapat.
Sepanjang perjalanan menuju Tangerang pun Darren tetap saja diam, seolah tidak ada orang lain yang duduk di belakangnya.
__ADS_1
\*\*\*\*