Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Chapter 101


__ADS_3

" KAU!..- " Dania tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena rasa marah dan....


[ TERNYATA-....ADA IBLIS MESUM JUGA- ] Fikirnya dengan datar, tatapan matanya yang tenggelam akan kemarahan tak terbendung itu karena iblis ini.


Apa yang membuat iblis ini tahu siapa dan kenapa kali ini dirinya berniat berurusan dengan gadis manusia itu adalah untuk...


[ Melanjutkan hubungan waktu itu. ]


Hubungan apa itu adalah, semasa umur 12 tahun, Kedua sosok beda ras ini pernah bertemu, berarti masa itu belum ada perpindahan jiwa yang di alami Alinda.


Saat itu.....


Fashback On.


ZRASHH........


ZRASHHH.....


Dibawah langit malam yang dingin, suasana di dalam salah satu gua yang terletak di dalam hutan itu seolah-olah terasa hangat. Hangatnya karena sentuhan seseorang dan sensasi aneh yang sedang dirasakannya.


Tangan yang lebih besar dari miliknya sedang menyentuh kulit tipisnya, sentuhan dari perut dan terus berpindah.


" Ahh......,ka...kamu mau apa? " Tanya gadis dengan tubuh sudah basah karena hujan.


Rambut pendek kusut dan pakaian kotor karena terbaring di atas tanah.


" Rasamu sangat enak. " tuturnya.


Suara berat yang ia dengar suadh pasti bisa di tebak kalau dia adalah laki-laki.


Hanya saja penglihatannya tidak bisa melihat dengan jelas wajah lawan bicaranya, tapi yang jelas kalau situasinya sedang sangat berbahaya.


Tangan besar yang dimiliki pria ini perlahan menyelusup masuk kedalam rok yang gadis itu pakai. Dengan sentuhan itu secara refleks desahan kecil terdengar dari mulut mungilnya.


Baju berkancing yang ia pakai juga sudah separuh terbuka ke bawah, sehingga memperlihatkan perutnya.


" Mi...minggir!, dasar orang jahat! " tatkala kedua kakinya berusaha mendang dengan niat memberontak tetapi..


Kedua kakinya di tahan dengan dua tangannya, dan justru dijadikan kesempatan untuk orang ini beraksi.


" Tanang gadis kecil, kita berdua akan sama-sama untung. " tuturnya, kemudian dengan paksa membuat kedua kaki dari gadis yang ia pegangi untuk di buka lebar-lebar.


" Ka..kau!,- " matanya tercekat dengan yang diperbuat laki-laki itu, walau sudah memberontak tapi tenaganya lebih besar daei pada miliknya jadi usahanya sia-sia.


Sedangkan tangannya terikat kuat, ia hendak beranjak lari tapi dicegah dengan menekankan tangannya tepat di atas perutnya sehingga terasa sakit.


Kepala pria ini menunduk ke bawah, atau lebih tepatnya mendekat ke...


" SLURPH... " Lidahnya yang panas membuat sensasi gairah dari pemilik pangkal paha gadis di hadapannya itu.


" Ahhhh!... " aneh, menggelitik, geli dan nikmat menjadi satu-kesatuan yang harmonis, itulah yang sedang dirasakannya di detik itu.


" Kamu menikmatinya kan?......slurph.. " menjilati jari jempol dan telunjuknya yang basah berlumuran dengan cairan kental namun bening.


Hubungan yang tidak sederhana itu bermula dari ini, maka.....


Flashback Off...


Menyentuh sesuatu yang lembut, kenyal sekaligus empuk.


" Ini sudah besar, aku akan semakin menikmatinya. Jika mau aku bisa menawarimu untuk melakukannya lagi. "


[ Melakukannya lagi?... ]


DEG...... ( Dania melihat ke bawah,tangan tak terkendali milik...dia..)


Lagi?....


Lagi?....


Lagi?......


Kepalanya jadi terngiang kata lagi, lagi, dan lagi.


[ Aku baru tahu, dibalik siksaannya dengan ibunya, tubuh ini punya masalah dengan para laki-laki. Dan ......orang( iblis ) ini berkata lagi?. Berarti artinya sudah tidak perawan lagi?, drngan dia?. ] Eldania menatap jijik dengan iblis di belakangnya itu, iblis pedofil yang melakukan hal masum?.


Setidaknya itulah kesan Dania pada pria berjubah hijau ini.


_______________

__ADS_1


Kembali ke tempat dimana Kesatria Sieg selarang berada.


" Hahh....hahhh......hahh...... "


[ Untungnya mereka sudah mengevakuasi warga. ] Lepas beberapa menit bertarung, hewan banteng itu sudah terkapar tak bernyawa dengan satu tanduk sudah terpotong dengan begitu rapinya yang berarti pedangnya dan teknik tebasannya benar-benar bagus.


Sieg menoleh ke arah terakhir ia melihat Archduke pergi, Sieg segera menyusulnya dengan rute sama yang dilewati Dania juga.


" Apa dia sudah sampai disana? " gumam Sieg selagi mengamati sekitarnya, berusaha tetap waspada jika sewaktu waktu ada serangan dadakan.


Karena indera pendengarannya peka, ia serasa ada sesuatu yang sedang terbang menuju ke arahnya. Secepatnya Sieg segera menghindar...


TUK.....


Tes...


Sieg mengelap pipi sebelah kanannya, ketika dilihat rupanya setetes darah segar. Sieg menoleh ke arah benda yang baru saja meneteskan sebuah darah merah segar.


" A....Apa itu? " Seketika, wajahnya berubah pucat pasi melihat satu daging yang sangat dikenalinya meski berlumuran darah sekalipun.


Daging kecil tapi panjang, dan...semua laki-laki pasti memilikinya.


" Inilah yang aku tidak suka dari kalian...!, hanya memikirkan bagian bawahnya saja. apa aku tidak muak tingkah pria ******** seperti kalian!. "


Terdengar rutukan dari perempuan yang sedang marah, Sieg segera menoleh ke samping kiri.


Terlihat satu pedang baru saja menebas atau bahasa halusnya itu adalah meng kebiri seseorang sekaligus...


[ Dia membunuh pria itu? ]


" .............! "


Setelah beberapa saat, tubuh pria tersebut berubah menjadi abu setelah dibunuh oleh perempuan sadis itu, hanya tersisa jubah juga darah yang masih mewarnai TKP.


[ Ck....aku melakukannya lagi. ] Kebiasaan lamanya datang lagi, kebiasaan dimana akan bertindak membabi buta jika seseorang menyentuh tubuhnya jika dilakukan dengan sengaja ataupun hati yang tidak setuju tanpa persetujuan otaknya.


( Dalam artian, sengaja melakukan hal bodoh dengan menyentuh tubuhnya maka tidak ada ampunan. )


Pedang besi yang digunakannya sesaat sudah bersih kembali seperti tidak pernah digunakan.


[ Hahh...... ] membersihkan dahinya dengan lengan tangan kirinya lalu ia menoleh ke samping, berdirilah manusia bersurai merah tengah memandang kejut dirinya.


Lalu kemudian melirik ke satu benda merah yang masih tergeletak di atas jalan.


[ Sialan, aku memperlihatkan sifatku ini pada orang lain. ] Tak sengaja Dania melirik ke arah Sieg lalu turun ke bawah.


Sadar akan tatapan yang diberikan Dania itu tertuju ke arah bawah, ia langsung berkata..


" Ka...kau, jangan lakukan itu kepadaku. " Sambil sedikit mundur ke belakang.


" A...aku tidak akan melakukannya jika tidak sembarangan sentuhku!...Ups.." Segera menutup mulutnya sendiri dan memalingkan wajahnya ke tempat lain. Entah kenapa amarahnya jadi mereda namun digantikan dengan sipu malu.


[ A..apa?- ]


Kalimat dipikirannya terpotong ketika sebuah cahaya biru terukir di bawah kakinya.


SRINGG ............


Perpindahan tempat secara mengjutkan untuk Sieg.


Melihat Dania masih memunggungi dirinya, di satu sisi ada iblis lain hendak menyerangnya.


" Kau!, di belakangmu! " Teriak Sieg kepada Dania.


CTANG.....


Akhirnya, Sieg lah yang menahan serangan dari satu iblis ini.


" Siapa kau! " Tanya sang Iblis kepada manusia yang menghalangi tujuannya untuk membunuh ketiga manusia di belakangnya.


" Sieg, kesatria yang mulia Tassel. Tak ku sangka jika Fallen benar-benar bisa menyelinap masuk ke kota. " jawab Sieg.


" Kalian urusi dia. " perintah Archduke lagi, terlihat wajah bercucuran keringatnya itu, Archduke benar-benar sudah menggunakan sihir terakhirnya untuk menteleportasikan dua orang ke tempatnya sekarang dengan maksud agar lebih cepat untuk melawan Fallen.


" Masuk dulu, kami akan melindungimu. " tutur Archduke kepada Lady Celes.


Dengan patuhnya, Lady Celes berjalan masuk ke dalam menara dan menutup pintunya meninggalkan ketiga orang tersebut bersama dengan satu Fallen.


" Kalian benar-benar menarik, Human!. Mari kita lihat apa yang bisa menghiburku, Gregore yang hebat ini!. " Seru sang iblis kepada ketiga orang tersebut.

__ADS_1


" Hyyaahh......! " Sieg langsung melayangkan pedangnya dan berusaha menebas baik tangan, dada atau apapun itu tapi...


CTANG......


CTANG.....


CTANG......


Suara dentingan dari pedang besi milik Sieg menandakan kalau pedangnya benar-benar sudah menyentuh kulit sang Iblis, tetapi yang bisa mereka lihat adalah..


" Oh..., Kau cukup kuat untuk seorang human human. " kedua tangannya digunakan untuk melindungi bagian dadanya setelah menerima serangan dari Sieg, walau begitu kulitnya memang keras meski sudah terkena bilah tajam dari pedang milik Sieg.


" Aku bertarung demi melindungi kota ini dari kalian para Iblis. "


CTANG....


" Jadi aku tidak bisa mengalah meski kau kuat.! "


CTANG....


" Hah!, berisik.!. HOARHHH...! " Diakhir teriakannya membuat tubuh Sieg terpental ke belakang.


" Hah..!, apa itu? " Dania yang sedari tadi melihat, baru sadar kalau iblis yang satu ini selain tipe petarung..


" Apa yang barusan kau lakukan!. " tanya Sieg.


" Sihir, Human. Aku adalah penyihir terkuat setelah komandanku. "


" Apa?. "


" Hobiku, adalah menghancurkan kepercayaan diri human sepertimu!. Aku akan puas melihat wajahmu setelah itu terjadi.! " Ejeknya.


" Sword smith..! "


Ketika ayunan pedang sudah mendarat di tangan sang iblis, iblis bernama Gregore itu mencengkram pedang yang dipegang Sieg dan pedangnya langsung patah karena sama-sama mengeluarkan kekuatan yang sama.


" Aku lupa bilang, kalau aku juga petarung yang kuat. " sambung Gregore memberitahukan kalau dirinya juga iblis tipe petarung. Lalu tangan kirinya ia rentangkan ke depan tepat ke arah Sieg dan mengucapkan mantera.


" Dark Bullet. "


Sebuah bola hitam muncul di tangan kosong milik sang Iblis.


DOR.....


DOR...


DOR....


Bola hitam itu menembak tepat sasaran ke tubuh Sieg yang membuat dirinya terpental langsjng ke belakang tepat di depannya Dania.


" Arghhh.... " karena tembakan tadi, tubuh Sieg jadi terluka parah dan berlumuran darah.


Dania mendapatkan jantung jadi berdebar kencang, ini kali pertamanya melihat tembakan dari tangan kosong dari seorang iblis tipe penyihir sekaligus petarung.


[ Tidak..tidak...tidak, jangan gugup dengan iblis ini. Kalau dia bisa aku pasti bisa kan?. ]


Dania melirik sekilas ke arah Sieg, ia menglurkan tangan kanannya dan mengarahkan telapak tangan kanannya tepat di atas kepalanya Sieg.


Kurang dari 10 detik, Sieg sudah tidak merasakan sakit lagi, Sieg lantas mendongak ke atas. Pancaran sinar matahari yang awalnya menerpa langsung wajahnya, kini terhalang oleh kepalanya Dania.


" Sudah sembuh kah? "


"............!"


[ Kemana aura seramnya itu!. ] Sieg terpegun dengan perubahan sikap Dania yang sering berubah 180 derjat dari beberapa saat lalunya itu. Tadi sedang melihat wajah marah dan sekarang berbuah menjadi wajah polos, dari mata, turun ke hidung, lalu bibir.


[ Gluk.... ]


" Hei...kalian berdua, aku sudah susah payah membawa kalian kesini untuk mengurusi iblis itu, jangan membuatku tertawa. " Ucap Archduke melihat pemandangan dua orang tersebut.


Sieg buru-buru berdiri dan membuang imajinasi yang sempat terlintas di kepalanya.


" Oh....masih bisa berdiri?, dasar human keras kepala. "


" Aku tidak akan membiarkan tujuanmu terwujud.! " Seru Sieg dengan semangat membara lagi, luka yang didapatinya sudah sembuh total, meski kehilangan tenaga karena pertarungan sebelumnya, ia tidak bisa menyerah begitu saja.


" Sudah berakhir, Human! " Sela Gregore dengan merentangkan tangan kanannya lagi ke depan lalu merapalkan sihir yang sama.


DOR......

__ADS_1


DOR....


DOR.....


__ADS_2