
Kebaikan dan kejahatan, dua hal yang bertentangan itu sudah ada sejak awal. Bahkan tanpa disadari dua hal yang bertentangan itu bisa dilakukan dalam satu waktu.
Senjata paling tajam membuat orang akan merasakan sakit tapi tapi tidak membuatnya berdarah.
__ADS_1
" Kenapa kakak memberikan uangnya?. Kan kakak jadi tidak punya uang lagi, dan itu....karena kami.... " membuat raut sedih.
" Kamu tidak seharusnya melakukan itu kan?, meski kamu memberikannya uang, mereka akan tetap merampok lagi dan seterusnya. Harusnya tangkap dan bawa mereka ke kota. " kata Arhes secara panjang lebar, karena masalah itu uang yang dibawa Dania pastinya sudah habis.
" Aku tidak peduli dengan itu. Toh setidaknya sekarang aku mendapatkan imbalanku. "
" Imbalan?. " Shera bertanya.
Dania melirik ke arah Shera yang sedang menoleh ke arahnya, tapi Dania memberikan senyum kecut dan menjawab.
" Sekali-kali aku harus menanam kebaikan, kan?. "
[ Dia....wajahnya seperti orang yang banyak membuat dosa. ] Arhes tidak tahu apa saja sisi di balik sosok Gadis aneh ini, perubahan sifat dan raut wajah yang selalu berubah drastis, Arhes jadi tidak dapat menilainya dengan benar, mana yang merupakan sifat aslinya?.
[ Apa aku memang bicara sebanyak ini?, tapi sejak kapan?. ] Dania menyentuh bibirnya sendiri.
Ucapan yang di lontarkan dari mulutnya sendiri seperti seorang pendeta.
Karena pada dasarnya pendeta, dan apa lagi yang bergabung dengan kuil suci, mereka semua lebih banyak membicarakan sebuah kebaikan yang akan di balas oleh tuhan.
Jadi bisa di bilang layaknya penceramah.
Kebaikan, kejahatan, hukum alam yang bertentangan. Jati diri manusia dari lahir pun sebenarnya tidak di anggap sebagai sosok yang putih bersih layaknya kertas yang belum di cemari oleh tinta?.
[ Hanya belum menyadarinya saja. ] Dania berfikir kalau yang dilakukannya sudah sesuai kehendaknya saat ini, tapi lain hari lain hal lagi.
Hari ini kebaikan, esok ia bisa saja berbuat buruk lagi, sekalipun kecil dan tidak di sadarinya.
"...................... "
[ Sebaiknya aku menyembunyikan wajahku. ]
Dengan sebuah persiapan yang matang, Dania memakai penutup kepalanya dengan tudung dari mantel coat yang di pakainya, lalu barulah separuh wajahnya lagi dia tutup dengan masker.
Shera yang melihat kakak perempuan itu menutup dirinya dengan jubah, tak perlu di tanya lagi Shera sendiri sudah tahu.
Surai berwarna aram-temaram, dan mata merah yang tidak dimiliki oleh banyak orang, dimiliki oleh gadis ini. Wajah putih pucat dan ekspresi dingin ketika terdiam....
[ Dia...bisa saja di anggap Vampir. ] Arhes mrlihatnya dengan seksama tadi.
" Apa kamu pernah minum darah?. " Tanya Arhes dengan ragu-ragu.
" Ha?!. " All ( Shera dan Dania. )
" Kenapa kakak bilang begitu?. " tanya Shera dengan panik.
[ Apa yang ada di dalam otaknya sih?. ].
Dania menggeleng pelan sambil mengangkat bahu.
" Kenapa juga aku minum darah, padahal banyak makanan dan minuman yang lebih nikmat. Darah itu asin dan amis, di medan perang saja bisa membuatku muntah. "
" Wah...kakak pernah berperang?. " Shera yang terpegun menjadi tertarik dengan alur pembicaraan kali ini.
" Apa kamu pergi ke perang sebagai healer?. " kini Arhes yang bertanya.
[ Mereka tertarik dengan pembicaraan seperti ini?. ]
" Yahh.....bisa iya bisa tidak. Memangnya kenapa?."
" Apa kakak tidak takut mati?? "
" Shera. " panggil Arhes agar tidak bertanya lagi.
"................. " Dan Dania juga menampik atas pertanyaam Shera.
Ia malas berbicara lebih banyak dari yang seharusnya.
__ADS_1
Arhes, Shera, Dania, mereka bertiga pun terus melanjutkan perjalanannya, hanya ada pohon hijau di sekelilingnya, walau keberadaan pohon membuat jalan yang mereka lewati jadi teduh, tapi tidak menyiratkan perasaan panas dan lembab menusuk kulitnya yang mulai mengeluarkan peluh.
" Hahhh....... " Dania menghela nafas berat.
" Kakak....ngomong-ngomong kenapa burung coklat itu mengikuti kita?. " Tanya Shera sambil jari telunjuknua menunjuk ke samping kanan tepat ke arah jam 3, yaitu di salah satu pohon barisan kedua, jadi agak masuk ke dalam.
Namun siapa yang menyangka kalau Shera itu peka.
Arhes hanya bisa menjawab singkat.
" Karena dia mengikuti tuannya. " sambil berbisik dan menoleh sedikit ke belakang, ia berbisik karena merasa bahwa si empu tidak boleh di ganggu.
" Hoaamhh....... " merasa ngantuk, membuatnya menguap lebar meski tertutup oleh maskernya sendiri.
Sambil duduk di atas kuda, lagi-lagi menutup matanya tat kala kudanya masih berjalan.
TOK.....TAK.....
TOK....TAK.....
TOK.....TAK.....
Langkah kuda yang pelan membawanya ke satu tempat tujuan lain, yang bahkan ke dua kuda itu tanpa sadar melangkah masuk melewati sebuah tempat asing.
Dan siapa yang tahu, bahwa di antara pohon dan di antara tempat di tengah hutan itu, membuat mereka masuk ke dalam sebuah gerbang, yah....gerbang tak kasat mata.
Gerbang yang menghubungkan sebuah tempat yang tadinya panas dan lembab menjadi dingin juga gelap serta dipenuhi aura yang tidak mengenakkan.
NGIIKKKK.......
Arhes menarik tali-nya untuk menghentikan kudanya.
" Dimana ini?. " saat tersadar kalau suasananya berubah drastis.
Dan ketika menundukkan ke bawah, tepatnya ke Shera, dia sudah ridak ada di dekapannya.
" Shera?. " Arhes memanggil namanya, lalu celingukan ke kanan dan ke kiri lalu ke belakang.
Ketika ke belakang, ia juga tidak menemukan gadis itu, Dania. Yang ada hanya dirinya ( Arhes ) seorang.
" SHERA!?. " Teriak Arhes, tapi tidak ada sahutan sama sekali.
_______________
" Lihat...lihat, kita mendapatkan perempuan lagi. " ucap makhluk hijau ini.
" MPHHH..., MHHH...! " Shera memberontak agar makhluk kerdil berwarna hijau itu tidak mendekatinya, sayangnya kaki dan tangannya yang terikat membatasi pergerakan.
" Kya..kya..kya, wanita ini menangis, semakin bagus!.bagus!.. " tertawa senang, melihat korbannya bereaksi ketakutan.
" Huh!...." Dania yang ada di atas kuda akhirnya bangun, namun ternyata kudanya tertidur sambil berdiri.
Buru-buru menjeling ke samping kanan dan kiri, nampaknya Dania berada di dalam sebuah gua.....
[ Aku terjebak dimana lagi ini?. ]
" Ukhh....dia kuat, kita tidak bisa memindahkannya."
"................? " tapi saat melirik ke bawah, ternyata kedua kakinya sedang di paksa untuk lepas dari injakan pelana.
[...................! ] kakinya....., disentuh oleh..
" Jangan sentuh kakiku!. "
BUAK....
BUAK.....
Tendangan sukses menggulingkan kedua goblin tersebut.
Tapi tendangan saja belum cukup, karena mereka berdua masih sanggup berdiri lagi.
"............! " Tanpa turun dari kudanya, rencana selanjutnya itu, membuat kudanya sadar lagi, maka dari itu dia menepuk leher kudanya dengan keras..
TEPLAKK.....
NGIIKK....!
{ Sakit!. } pekik si kuda coklat ini.
" Salahmu tidur. " ketusnya.
{ Ini dimana?, kenapa tadi aku tertidur?. }
" Graaa!...., dia mau kabur!. " teriak salah satu goblin tadi, dan teriakannya membuat sebuah gema yang bisa mengundang banyak kawanannya..
DRAP....
DRAP....
DRAP....
[ Yang benar saja!, apa aku harus melawan goblin lagi?. ] paling hina dan menjijikan, makhluk yang sudah pernah ia lawan akan dia lawan lagi.
__ADS_1
#######
Pertarungan yang tidak ada habisnya, sepanjang perjalanannya, Dania akan dihadapkan oleh banyak hal yang membuatnya terpaksa turun tangan.