Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Bns. 109


__ADS_3

WUSHHH..........


Sayup-sayup angin datang berhembus, kebetulan sekali memang berada di sekitar lautan, maka dari itu banyak angin yang hilang dan berdatangan.


Everst yang sedang terbang tinggi sekaligus menggunakan indera oenglihatannya yang tajam itu, memperhatikan semua kawasan hutan dan sekitar pantai dengan seksama.


"............!"


Memastikan hal aneh apa lagi yang didapatinya, akhirnya ia mendapatkan pecahan batu yang tersebar di ujung pantai namun tetap saja pecahan besarnya terletak di dalam hutan.


Batu hitam itu terlihat asing, jadi karena itulah Everst terbang mendekat.


Untuk permulaan, ia terbang lurus tepat di atas pecahan batu kecil itu.


Setelahnya, barulah dia terbang mencari inti pecahan batu hitam itu.


Jika dilihat dari posisinya jatuh sudah dipastikan kalau batu itu adalah meteorit. namun seperti yang jarang diketahui orang, batu luar angkasa itu banyak bentuknya dan banyak kekuatan tependam yang terdapat di dalam batunya, maka dari itu di dunia ini hanya beberapa orang saja yang mengerti manfaat batu meteorit itu.


" Tidak ada barang yang bagus di dunia ini kecuali memanfaatkan dan menggunakannya dengan tepat. " tutur Everst pun pergi ke satu titik di mana tempat terjatuhnya batu meteroit yang memiliki kekuatan magis itu.


________________


" Ada apa dengan saya? "


" Tidak ada. " mengalihkan pandangannya ke satu tusuk ikan bakar yang ada di tangannya.


[ Dia hanya melepasnya agar bajunya bisa kering, kenapa aku jadi berpikir kalasadia Yunifer?. Hahh.....dasar, anj*ng berahi. ] Tersenyum miris karena hatinya sudah rindu dengan Yunifer.


"...........Ahm...nym...nyam..~ "


----^^vv-----


".............! "


[ Sudah kembali?! ] Dania menyadari kalau masalah utamanya sudah teratasi.


[ Sepertinya sudah ] Fikir ishid, ia memandang ikan bakarnya yang sudah tinggal separuh.


" Saya akan pulang terlebh dahulu, lalu menyuruh penyihir untuk menjemput anda. Mohon anda menunggu sebentar. "


Ucap Ishid, dia meletakkan sisa ikan bakarnya di atas daun lalu Ishid pun berdiri.


Kembali berkonsentrasi, dia mencoba melakukan sihirnya untuk berpindah tempat.


BLARRR......


Ishid pun menghilang seperti kobaran api yang langsung lenyap.


[ Uh...., panasnya. ] Padahal tidak menyentuhnya langsung, tapi ia merasakan panasnya sampai kulit.


Kerena dah mulai terasa dingin sebab hembusan angin beberapa detik lalu, ia pun kembali memakai pakaiannya kembali, meskipun pakaiannya yang hampir kering tadi jadi mulai basah lagi. Ia tak mempernasalahkannya juga.


Beberapa saat kemudian, ada secercah cahaya datang..

__ADS_1


SRINGG.....


" Ha..? " Dania terbengong, kenapa bocah itu ( Ishid ) datang kembali.


" Karena saya tidak tahu lokasi tempatnya, saya meminta bantuannya untuk mengantar saya ke tempat ini. " ucap si penyihir tersebut, memberikan penjelasan kenapa Ishid dibawa kemtempatnya.


Hari juga sudah mulai malam, pikirannya untuk menghabiskan waktu disini ia undur dulu.


Setelah selesai bersiap, Dania pun di bawa ikut oleh sang penyihir untuk ber teleportasi.


2 detik kemudian.


[ Aduhh.....aku masih belum terbiasa menggunakan teleportasi. Setelah menggunakannya kepalaku jadi pusing lagi. ] Fikirnya sambil menyentuh kepalanya yang nyut-nyutan.


" Ketua!. " panggil salah satu temannya kepada Ishid.


Ishid menoleh ke arahnya, dia berjalan cepat lalu setelah sampai di sampingnya Ishid, dia pun membisikkan sesuatu.


Bisik...bisik..bisik....


Kedua matanya langsung membulat lebar setelah dibisikkan informasi penting.


Setelah mendengarkannya sampai selesai, Ishid pergi dengan terburu-buru tanpa meninggalkan sepatah kata pun.


" Nona, yang mulia Archduke sudah menunggu anda. Tapi sebelum itu, biarkan saya membantu mengeringkan baju anda. " tuturnya lagi, hanya dalam beberapa detik, baju yang semua basah terus itu kini sudah kering.


" Terima kasih. "


[ Ini jauh lebih nyaman. ] menggerakkan bahunya untuk memastikan semuanya memang kering dan benar-benar nyaman.


Dania mencoba mencari si yang mulia Archduke itu, dan rupanya sedang menunggu di depan pintu markas sambil bercengkrama dengan dua orang lainnya.


" Kami pergi dulu yang mulia. " tutur kedua orang itu disertai tunduk hormat sebagai salam sapa perisahan.


Tetapi ketika melewati dirinya ( Dania ), kedua orang itu acuh tak acuh, meskipun hanya diberikan tundukan kecil dan sederhana, tetapi raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaannya.


Dania mengabaikannya saja, tapi seketika itu langkahnya terhenti ketika menemukan sosok pria ber jaket biru itu, sedang berdiri di dekat pintu. Dania hanya.....tak menyangka kalau di kehidupannya kali ini ada orang yang menunggunya pulang.


Srumur hidupnya kala itu tidak ada orang yang benar-benar seperhatian ini.


Tapi kali ini ia mendapatkannya bahkan tanpa ia minta sedikit pun.


" Sudah malam, kita pulang. " Archduke mengulurkan tangannya ke arahnya ( Dania. )


Ingin sekali rasanya menangis, tapi baginya, menangis itu adalah sesuatu yang tabu karena akan di anggap cengeng seperti anak kecil dan menangis itu sama saja memperlihatkan kelemahan.


Setidaknya itulah yang diajarkan orang itu ( Bos ) nya yang dulu.


" Iya. "


[ Kehangatan, ini kah rasanya kehangatan keluarga?. ] Dania melirik ke arah samping kanan.


[ Aku memang tidak punya keluarga, tapi orang ini menganggapku sebagai keluarga. ] Batin Dania.

__ADS_1


Pria bereputasi tinggi, sosok yang menjadi idaman semua wanita di sekitarnya itu sedang duduk di sebelahnya?.


[ Aku jadi bingung, apa gara-gara sakit kepalaku?. Yang aku temui itu pria semua dan kenapa kebanyakan handsome semua?!. Aku jadi iri, aku ingin memilikinya dan memandangnya lama-lama. ] Meski begitu tidak akan pernah puas.


[ Tapi aku ingin ada yang benar-benar berada di sisiku, diperhatikan, dan diberi kasih sayang. Ah...apa aku terlalu serakah?. ] Dania menggeleng pelan kepalanya.


" Tapi aku ingin serakah. " gumamnya.


[...................] Archduke tersenyum tipis mendengar gumaman dari gadis disebelahnya yang sedang tidur dalam posisi duduk.


Archduke kemudian berinisiatif sendiri, dengan mengarahkan kepalanya ( Dania ) itu untuk bersender di bahunya, itulah alasan kenapa dirinya duduk di sampingnya, karena sudah terlihat jelas gadis ini sedang kelelahan.


" Sesekali kamu bisa bersikap egois dan serakah, jadi jangan ditahan sendiri. " ucap Rachduke setelah itu.


___________


Malam menyingsing kekaisaran Rovathia, jam juga sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Kala itu suasananya terlihat hening setelah satu hari itu berlalu, kemungkinan terbesar keadaan seperti ini akan berlangsung 2 hari ke depan.


Mengingat ada satu blok, dimana blok itu banyak toko yang hancur.


Tidak ada kendala apa pun ketika mengatur masyarakat untuk berdiam di rumah terlebih dahulu.


Hal ini dilakukan untuk melakukan penyisisran jejak iblis yang kemungkinan bisa saja terjadi dan masih berada di dalam kota.


Para kesatria ditugaskan untuk berjaga, dan walaupun suasanya jauh lebih kondusif tapi tidak akan mengambil resiko yang memiliki banyak kemungkinan itu.


" Sieg, apa kamu sudah mendingan?."


" Mendingan apa?!, masih sakit!. " jawab Sieg dengan ketus.


Sekarang dia terbaring di ranjangnya setelah menerima pengibatan dari healer yang dipanggil Mikhail untuknya.


" Dimananya?, luka mu sudah sembuh total mana lagi yang sakit?. "


" Kepalaku. Sangat pusing. "


" Ohh...nanti juga sembuh sendiri, akan aku bawakan obatnya. " Mikhail pun pergi meninggalkan adiknya itu.


[ Ini gara-gara dia, melihatnya melakukan itu membuatku kepikiran. Ahh..... ] Sieg frustasi dan diakhiri mengacak rambutnya sendiri.


Meski sudah sembuh tapi rasa sakit dikepalanya tidak sepenuhnya menghilang gara-gara ingatan pasal wanita sadis itu.


' Hohoho.....apa milikmu juga ingin aku potong?, di tempatku semua pria akan memotongnya sebagai tanda untuk membersihkan diri. ' tutur Dania dengan memperlihatkan pedang di tangannya baru saja di asah.


" AHHH!,.....tidak!. " Teriak Sieg jika memikirkan hal itu menjadi kenyataan.


Kejantanannya di potong?, akan jadi apa coba?.


[ Bukankah maksudnya di kebiri!. ] menyamakan maksud yang terlintas di khayalannya tadi, dari pada itu sekarang tangannya memegang harta miliknya karena khawatir jika itu benar-benar terjadi.


" Eh...? " salah satu orang kebetulan melewati kamar asrama milik kesatria Sieg. Dia tadi sempat mendengar teriakan penolakan yang sangat lugas.

__ADS_1


" Apa dia geger otak gara-gara tadi siang?. " fikir pira ini kemudian melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2