Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Pertemuan Dan Perpisahan


__ADS_3

DHUARRR........


Tepat di jam tengah malam, ledakan dari salah satu lantai dari gedung bertingkat itu berhasil menarik perhatian semua orang untuk menatap mendongak ke atas, sumber dari segala masalah yang baru muncul.


" Tuan.....!. " pria ber kacamata ini membuat ekspresi paniknya, setelah melihat lantai yang hampir berada di palling atas sendiri mengepulkan sebuah asap, sekaligus membuat sebuah hujanan dari pecahan kaca, mereka semua yang sedang berdiri di depan gedung, berlari sambil melindungi kepalanya agar tidak terkena hujanan dari pecahan kaca tersebut.


Dengan tergesa-gesa dia berlari masuk, berniat untuk naik ke atas.


Sedangkan di lantai yang menjadi lokasi tempat kejadian perkara, dua orang sedang beradu tatapan.


Tembakan sihir berwarna merah yang dia arahkan untuk melawan pria itu, benar-benar tidak berhasil karena berhasil dengan tangkisan dari pedang yang tiba-tiba muncul, dan menghasilkan efek gelombang kejut yang bisa saja langsung memporak-porandakan lantai satu itu, jka saja gedung yang sudah suah di buatnya tidak memiliki ketahanan kokoh, ataupn sistem tahan dari gempa.


" Jujur saja, aku tidak peduli dengan manusia sepertimu, tapi niatanmu ingin melawanku......cukup mengagumkan juga. "


[ Tapi..aku tidak cukup waktu untuk meladenimu lagi. ] Sudah bisa merasakan kalau 'mana' nya mulai berkurang, dia harus pergi dari dunia itu segera, dan sekalian membawanya.


" U-h..........."


Semua pasang mata mengalihkan pandangannya ke erangan yang baru saja mereka berdua dengar.


Renguhan tak jelas, tapi mengisyaratkan kalau itu akan menjadi hasil yang baik juga buruk.


"..................."


Tatapan yang saling mengunci satu sama lain.


Sebuah keinginan yang bertolak bertolak belakang di antara kedua orang tersebut, membuat mereka berdua memutuskan untuk langsung bertindak cepat.


" Kau menyingkirlah. "


Ucapan yang mengisyaratkan sebuah perintah tegas, Caster tidak akan tinggal diam dengan kondisi roh yang hampir bersatu dengan tubuh itu sedikit lagi hampir sempurna.


" Tidak akan. " Dan Devon tentu saja menolak perintah itu dengan tegas juga, mana mungkin semua usahanya yang sudah ia lakukan sedemikian lama akan menjadi sia-sia hanya karena alasan laki-laki ini akan membawanya.


" Jika itu memang keputusanmu.... " Caster yang tetap berjalan dengan dengan santainya, tidak menyulutkan niatnya itu untuk tidak menyerang pria ini.


[ JIka ada orang mati di sini, setidaknya aku bisa menahan wujudku lebih lama. ] Tapi karena disini hanya ada orang hidup, dan orang yang hampir hidup, dia tidak punya pilihan lain selain...


SRRING.....!


Devon yang punya sirkuit sihir di tangannya, kembali menembakkan sihirnya ke ujung rantai yang tiba-tiba datang hendak menyentuh tubuh itu.


CTANG..........


Tapi mana mungkin dia hanya mengeluarkan satu saja, karena dia mengeluarkan lebih dari dua, tapi melihat laki-laki itu lebih cekatan dari yang di prediksi, apa lagi kalau harus meladeninya dengan sebuah trik licik dengan membuat Devon tidak bisa berkutik, meski dianya memiliki sihir, yang sebenarnya bukan tandingannya.


SRINGGG...........


Rantai emas kembali muncul, dan mengikat tubuh yang sedang berusaha keras untuk keluar dari jeratan yang awalnya kuat jadi kian melemah.


" ......................" Menyadari akan hal itu, Caster bergegas untuk pergi ke tempat terbaringnya wanita itu, dan langsung menyelipkan ke dua tangannya ke bawah punggung dan kakinya, mengangkatnya lalu...


" TIDAKKKK... " Devon yang berhasil lepas dari jeratan itu berteriak dan mengangkat salah satu tangannya ke arah punggung itu.


SLASSAHH...........


Lingkaran cahaya yang ada di lantai menjadi bersinar lebih terang, dan hasil tembakannya tadi justru mendarat di dinding, mengubah fakta kalau sosoknya menjadi samar, dan kemudian menghilang...


BRAKK.........


" Tuann!. " teriaknya, saat yang sama samar-samar ia melihat seseorang, namun sudah menghilang dalam detik itu juga, seperti sebuah asap.


[ Apa yang sudah terjadi? ]


**************


Di bawah langit berwarna orange, lautan ladang gandum berwarna keemasan menjadi pemandangannya.

__ADS_1


Dia tidak pernah memlihat pemandangan indah yang terasa damai ini.


WUSHHH~~


Angin lembut sepoi-sepoi menggerakkan tumbuhan itu, layaknya sebuah gelombang.


[ Aku sedang mimpi apa lagi ini? ] Dania berdiri di tengah-tengah padang gandum ini, merasa tidak aneh lagi, karena selalunya tiba-tiba berada di tempat aneh tiap kali bermpi, seperti saat ini.


Dia kemudian mengambil langkah ke arah kanan, mungkin akan ada sesuatu yang bisa ia temukan seperti pemandangan lain?.


Terus menyusuri ladang gandum yang sudah siap untuk di panen itu.


Sebuah tanaman yang tidak pernah ia sentuh, kini dia sentuh sesuka hati. Menyapa para gandum yang pohonnya hampir mirip dengan padi dengan ke dua telapak tangannya.


Membuat hatinya, tiba-tiba memiliki satu keinginan memetik setidaknya setangkai gandum.


Sebuah rasa penasaran karena ingin mengelupas kulit yang menyelimuti biji gandum itu.


Mengakibatkan langkahnya pun berhenti, dia sedikit membungkuk, memetik satu tangkai gandum itu dari bagian tengah, lalu dia kembali berdiri dan memulai niatannya untuk mengelupas kulit gandum itu.


SSHHAAA~~~...


Angin itu kembali datang, dan menerpa tubuhnya, terasa sejuk juga hangat.


" Apa kamu suka tempat ini?. "


Satu suara yang tiba-tiba datang membuat Dania langsung mencari pemilik suara yang lembut itu.


Dari ke arah kanan, lalu menoleh ke kiri........


Dia melihat di sebelah kirinya ada satu orang wanita berkerudung putih sedang berdiri.


Tubuhnya kemudian mengikuti arah kepalanya barusan, dan membuat posisinya sekarang sudah sejajar dengan wanita itu.


" Ya. Disini sangat tenang. " menjawab pertanyaan dari wanita itu.


" Ya kan?. Tapi besok semua gandum ini sudah harus di panen. "


" ...........!. "


Kata panen itu sendiri, membuat Dania sadar, kalau ia juga baru saja memanen satu tangkai gandum.


Di amenatap gandum itu, lalu bertanya.


" Lau, hasil panen sebanyak ini...."


Ikut memetik satu tangkai gandum, wanita ini kemudian menjelaskan, maksud dari kalimat yang sengaja dia sela duluan sebelum Dania membuat kaimat utuh.


" Dari keseluruhan gandum yang ada, sepertiga bagian akan masuk ke dalam gudang istana, dan sisanya untuk semua orang. "


[ Istana?, semua orang?. Apa maksudnya ini bukan tanah milik perorangan?. tapi milik negara?. ]


Dania melihat ke sekeliling lagi, benar-benar luas, seperti di tengah lautan emas, tapi sepertiga bagian masuk ke dalam gudang istana?.


Tidak akan mengira sebanyak apa, dan sebesar apa gudang istana yang ada, hanya untuk menaruh ratusan ton gandum ini.


" Tapi......apa kita saling mengenal, aku punya perasaan yang akrab denganmu. " Hanya itulah, pikiran yang terlintas langsung tersambung ke mulutnya untuk berkata demikian.


" Akrab?. " gumamnya.


Melihat wanita itu, menoleh ke belakang dengan sebuah senyuman kecil sekalipun senyuman itu tertup sebuah cadar, menjadikan Dania merasa sedikit terkejut.


Seorang wanita yang cantik, berambut coklat yang di ikat ke belakang, namun rambut yang sudah terikat itu di letakkan di atas bahu kanannya, cadar tipis berwarna coklat, ikat kepala berwarna merah, dia berdiri dengan pose yang begitu anggun.


[ Dia seperti wanita bangsawan. ] Dania hanya mengira-ngira saja. Dan menganggap kalau wanita ini adalah orang yang baik dan tulus, itu seperti terpampang jelas ketika melihat mata berwarna coklat yang cerah itu..


Dia memandang Dania dari atas sampai bawah.

__ADS_1


" Aku sebenarnya tidak menyangka, kalau yang mulia jadi terpengaruh ucapanku. " lagi-lagi tersenyum, tapi seperti sebuah ekspresi penyesalan.


Menyesal mengucapkan kata yang harusnya tidak di ucapkan, pada seseorang yang di panggil yang mulia itu?.


Dan itu membuatnya di berpikir.


[ Yang mulia?. Archduke?, Tassel?, Elvin?. ]


Lontaran kalimat aneh lagi, Dania masih bingung, yang mulia yang di maksud wanita itu adalah siapa?.


Soalnya, banyak panggilan yang mulia di dunia ini.


[ Apa majikannya?. ]


" Beliau memang orang yang keras kepala juga sombong, tapi hatinya sebenarnya baik. Aku jadi tidak enak pada beliau. "


[ Keras kepala?, sombong?. sepertinya ada satu. ] Otaknya kembali mencerna ucapannya, karena merasa seperti ada satu orang yang sama, namun yang di ingatny itu, dia adalah pemilik dari lidah yang tajam layaknya pedang.


Tapi, Dania langsung menyela di detik itu pula.


" Anu...tunggu, setidaknya perkenalkan dirimu, siapa kamu?. Kenapa tiba-tiba bercerita tentang yang mulia?. "


Awalnya mulutnya hanya terdiam, menahan semua jawaban itu.


" ...................., waktunya sudah tiba, yang mulia sudah susah payah berjuang sampai di titik ini, berikan ucapkan terima kasih padanya, itulah yang harus kau ucapkan. "


Pintanya, mengganti jawaban dari pertanyaan yang jauh berbeda dari itu.


Dan itulah kalimat yang terakir di dengarnya, sebuah ekspresi mata yang begitu sayu, seperti sedang merasakan sebuah kerinduan di balik ucapan panyesalan.


SHHHRAKKK...........


Setelah itu, sekelebat angin datang, dimana membuat Dania mengernyit karena sangat mempengaruhi pandangannya yang mungkin saja akan ada yang masuk ke matanya, namun, itu ternyata hasil untuk membuat dirinya langsung kehilangan sosok wanita itu dari pandangannya.


" ........................ " Langit itu pun berubah menjadi gelap.


[ Lagi-lagi aku tidak bisa menerima jawaban yang puas. ]


dan akhirnya awan kelabu itu membawakannya air yang sangat banyak.


Mengguyur tubuhnya dari atas sampai bawah, satu hal yang membuatnya menjadi berpikir heran adalah.....


TES...


TES...


TES....


[ Kenapa rasa dinginnya nyata sekali?. Padahal aku berada di alam mimpi. ] Kulitnya merasakan dingin yang begitu nyata, padahal jelas-jelas sekarang ia tengah berada di alam mimpi.


Lalu ketika melihat ke sekelilingnya, semua tanaman gandum yang awalnya berdiri tegak, kini jadi melengkung ke bawah, seperti sedang menundukkan kepala, layaknya menghormati sesuatu yang memiliki jabatan terhormat.


Mengedipkan natanya beberapa kali.


[ Apa ini?. Aku pasti berhalusinasi, bisa-bisanya aku membayangkaan kalau semua tanaman ini sedang menunduk hormat padaku. ] Sebuah pemikiran yang aneh.


Berikutnya dia mendongak ke atas, membiarkan air hujan ini menerjang wajahnya.


Sebuah kilatan menghiasi langit, dan teriakan gemuruh petir pun terjadi.


Sebuah peringatan, kalau dirinya memang tidak boleh berada di sini terus.


##############


Sebaiknya itu sebuah halusinassi.


Tapi di biarkan tetap lama pun, tidak akan merubah fakta, kalau dia pergi?.

__ADS_1


Selanjutnya------------ >> Dia dan aku.


__ADS_2