
" Apa pendeta sudah baikan? "
" Sudah, berkat pemimpin, saya sudah terhindar dari kesalahpahaman ini "
" Seandainya sejak awal saya tahu anda terkena masalah sebab bawahan saya, anda pasti tidak akan terluka seperti kemarin "
[ Ini sama saja dengan permintaan maaf pada waktu itu ] waktu dimana dirinya di cambuk hukuman karena salah mengira Danie adalah pemberontak yang ingin menculik ratu.
" Yang terpenting semuanya sudah berlalu, saya tidak akan mempermasalahkan kesalahpahaman ini lagi "
" Pendeta memang tipe yang seperti itu ya~ "
[...?, maksudnya apa lagi? ]
" Sebagai kompensasi untuk pendeta, apa yang pendeta inginkan? "
[ Kalimatnya seperti raja, dia orang yang kelewat bijaksana ] Danie mulai menggerutu dalam hatinya.
" Tidak ada " kenyataannya memang benar, apa yang aku inginkan?, karena tidak beberapa hal yang di inginkannya tidak ada di dunia ini, yang ada hanya ada di dunia sebelumnya.
《 Eldanie: Alinda, tipe orang yang meminati teknologi 》
"..........."
[ Lagi-lagi dia menatapku terlalu intens ] melohat Elvin yang kadang kala menatap lawan bicaranya secara langsung walaupun sikapnya tenang, tentu hal itu sedikit..
[ Malu... ] manusia juga memiliki sisi malu, walaupun di sembunyikan sedalam-dalamnnya.
" Jika tidak ada hal lain lagi, saya pergi dulu "
Setelah beberapa saat bertemu dengan pangeran Elvin, Danie pergi ke kantin untuk mengurusi hal yang sudah tertunda selama dua hari ini.
Karena semua orang tahu siapa dirinya, sekarang ia merasa menjadi pusat perhatian walaupun tidak ada yang mengusiknya lagi, namun tatapannya itu ..
[ Membuat punggungku tertusuk ]
Detik hatinya, namun itu juga keuntungannya sendiri karena tidak ada yang mengganggunya.
Untuk selebihnya ia lebih mementingkan apa yang ingin dilakukannya, sambil mendengarkan musik lewat heandshet tanpa kabel jadi pikirannya mulai bermain di dunianya sendiri tanpa mempedulikan apa yang akan di katakan/digosipkan, dan tatapan mereka.
[.............]
Danie serius dengan apa yang sedang dibuatnya, bahan yang beberapa hari lalu tergeletak begitu saja di dalam kamarnya , ia gunakan sekarang untuk membuat ice cream.
Tidak ada yang tahu ice cream itu apa kecuali dirinya, sebab disini yang pernah memakan camilan seperti itu, kalau pun ada mungkin hanya satu orang yaitu siapa lagi kalau bukan Danie.
Orang-orang di dalam dapur hanya menatap Danie dengan tatapan bertanya-tanya apa yang sedang dibuatnya.
Yang dibutuhkannya hanyalah, Es batu, garam yang banyak , gula halus , susu , dan sedikit potongan buah-buahan, lalu sebuah kotak kedap udara.
Hanya itu yang diperlukannya, mudah bukan?..
Susu sapi yang masih segar itu ia rebus dan kemudian ia masukkan gula pasir, setelah dingin barulah buah yang disukainya seperti stroberi, jeruk , pisang dan anggur di hancurkan lalu dimasukkan ke dalam susu manis tadi dan ia aduk sampai tercampur semua, barulah setelah tercampur rata, susu tersebut Danie tuangkan ke dalam tabung alumunium, selanjutnya adalah memasukkan tabung tersebut ke dalam wadah lain yang lebih besar dan kedap udara , alasannya karena setelah itu dia akan meletakkan es batu kesetiap sisi di pinggir tabung hingga penuh selagi menaburkan garam dalam jumlah banyak dan..
《 Keberadaan garam dalam jumlah banyak, maka akan membuat Es batu akan menjadi lebih dingin 》
" Selesai "
[ Kita tunggu semalaman ]
__ADS_1
Danie menyimpannya di lemari bawah, dan hanya tinggal menunggu sampai benar-benar membeku menjadi ice cream ter enak dan aneh.
Aneh karena memasukkan semua buah menjadi satu, jadi kemungkinannya juga akan terasa campur aduk di dalam mulut.
*****
Bagi semua orang sosok Danie adalah orang yang serampangan dengan berbagai hal yang selalu melakukan apapun yang disukainya, ditunjuk menjadi pendeta namun ia memang tidak ingin menjadi pendeta, memiliki hobi melihat kesatria karena ( semuanya laki-laki yang gagah, dan sebutan kesatria itu lebih terhormat dan seperti memiliki status lebih tinggi ketimbang prajurit ) , lalu berkeliaran kesana kemari sesuai ke inginannya, juga sosok yang hanya mengiyakan saja pada orang yang sedang menasihatinya atau saran jadi seolah-olah semua ayat yang masuk ke telinga kanan langsung keluar telinga kiri.
Tapi semuanya memang benar adanya, Danie ini lebih suka dengan dunianya sendiri, akan melakukan sesuatu berdasarkan moodnya dan kesukaannya.
Tapi yang lebih utamanya, karena kebiasaan lamanya terbawa sampai kedunia nya yang baru, begadang dan keluar ketika malam hari masih dilakukannya, itulah cara mafia.
Lalu Danie pun masih ingat dengan kata-kata ini..
' Malam itu enak '
' Karena waktunya untuk mafia '
Sangat mengesankan bukan?, disaat malam hari lah, pekerjaannya dimulai.
Tali karena sekarang berbeda, jadi Danie menganggapnya sebagai pekerjaannya sebagai ' perjalanan di langit malam ' ...walau hanya beberapa kali mencoba, tapi itu menyenangkan.
Mengarungi langit malam dengan hewan peliharaannya, tapi karena sekarang Danie tinggal di asrama jadi yang bisa dilakukannya adalah ' merasaka sensai angin malam ' dengan menatap langit malam yang terang dipenuhi dengan bintang.
Setelah malam tiba, Danie membawa mangkuk beserta benda yang berisi Ice cream ke dalam kamar secara diam-diam.
Menyantapnya sendiri dengan pikiran yang rileks dan tenang akan menambah kesan enak. Itulah yang dipikirkannya.
Setelah membawanya masuk, perasaan lega ia terima dengan senangnya.
[ Akhirnya, aku bisa merasakan ice cream setelah sekian lama pensiun dari dunia asalku ]
Sebuah hawa nafsu yang kuat terpancar dari Danie dengan ludah sudah ia teguk lagi.
" Jadi juga "
Terlihat susu yang tadinya cair sekarang sudah membeku, tak perlu menunggu lama Danie langsung menyambar ice creamnya dan ia letakkan kedalam mangkuk berukuran sedang dengan sendok sayur.
" Ciptaanku, akan aku makan dan masuk kedalam diriku " ucapnya dengan perasaan percaya diri.
Saat hendak memakan untuk pertama kali, tiba-tiba satu ketukan kecil terdengar dari arah jendela, sekilas Danie langsung melirik siapa gerangan yang mengganggu memakan ice cream untuk pertama kalinya.
{ Buka! }
" Cih..., mengganggu " Danie pun bangkit dan berjalan ke arah jendela untu segera membuka jendelanya.
{ Sudah ku duga, tuan sedang menikmati makanan ciptaan tuan sendiri }
Siapa lagi kalau bukan Everst, dialah makhluk jadi-jadian yang mengganggunya.
" Lebih tepatnya hampir, kau sudah mengganggu suapan pertamaku "
Tidak habis pikir bagaimana Everst tahu dengan makanan hasil buatannya.
Everst memandangi mangkuk berisi Ice Cream milik Danie, si pembuat merasa kalau burung ini ingin merasakan Ice Cream nya juga, jadi Danie memutuskan untuk mengambil lagi khusus untuk Everst dan meletakkannya di lantai.
{ Ah..tuan memang tahu saja kalau aku juga ingin mencicipinya } lidah Everst sedikit menjulur sudah tidak sabar dengan makanan yang dibuat tuannya itu.
" Wajahmu sudah memberitahuku dulu "
__ADS_1
Namun entah mengapa Everst seperti sedang tersenyum.
Bayangan Danie melihat burung tersenyum pada dirinya itu, sangat memuakkan dan lebih mengerikan, jadi dengan sengaja sebuah sentilan mendarat di kepala Everst.
Kwak..!
" Ssttt...! " memberikan kode agar Everst ridak membuat suara di tengah malam begini.
{ Kenapa tuan menyentil kepalaku! } marah Everst pada tuannya.
[ Salahmu sendiri, jangan pernah tersenyum padaku, senyuman seekor burung sepertimu
sangat tidak layak ]
{ Tuan melarangku! }
[ Ya!, senyuman seekor hewan itu lebih menakutkan ketimbang singa yang mengaum mengintimidasi mangsanya. Camkan itu ]
Itulah alasannya kenapa tidak suka dengan hewan yang bisa diajak berbicara dan memiliki hal lain seperti tersenyum.
[ Sudah..makan..jika tidak akan aku makan ketimbang mencair ] tuturnya dengan nada mengancam.
Makan bersama di dalam kamar asrama pun sedang terjadi, perasaan dingin di mulut dan kepalanya sangat Danie nikmati, tidak kalah juga dengan Everst yang akhirnya bisa memakan-makanan manusia sepeeti ice yang dingin namun memiliki rasa manis.
{ Jadi ini yang namanya ice cream, dingin dan manis }
[ Bukannya kamu jenis burung pemakan daging ya? ]
{ Tentu, tentu...tapi sesekali juga aku mencoba makanan sampingan seperti yang manusia makan }
Karena saking asiknya baru menikmati Ice Cream, Everst baru sadar dengan tatapan membunuh itu. Tatapan yang diberikan tuannya pada dirinya.
[ Kik..kik. kik.., bisa tidak makan yang bersih..tidak mengotori lantai kamarku.!!! ]
Sebiah cekikan dari Danie ia berikan pada burung kontraknya itu.
Bagaimana tidak marah jika mangmuknya dan isinya juga sedikit ikut tumpah ketika kaki dari Everst sama tidak kalah diam dengan paruhnya itu.
{..A..ampun..., ja..ngan ...ce..kik...aku! }
KRIEETT.......( Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka )
Menampakkan Felix dan dibelakangnya pangeran Elvin.
Pemandangan yang menakjubkan yah....., memperlihatkan Danie sedang mencekik peliharaannya pada seorang kesatria dan pangeran, lantas ia segera melepaskan cengkramannya dari leher Everst.
" Aku mendengar sedikit keributan , lalu..apa yang sedang kamu makan itu? Dan kenapa disini ada hewan? " Seketika suara Felix menjadi sedingin Es yang Danie makan tadi.
" Ini... "
[ Emm...?, apa aku harus memberitahunya? ]
" Hehe....apa anda mau coba? " Dani segera mengambilkan mangkuk lain namun ukurannya kecil lalu ia mengisinya dengan Ice cream dan langsung memberikannya pada Felix dan Elvin.
[ Pergilah atau aku akan aku ikat kedua sayap dan kakimu lalu melemparnya dari jendela ]
Seketika wajahnya berubah saat menenung Everst dengan tatapan tajamnya.
{ Yalah...yang penting sudah mencicipi ice cream tuan } dengan gaya sombongnya, Everst sedikit memasang wajah kesal dan langsung terbang pergi lewat jendela lagi.
__ADS_1
"...........? " All.
[ Dia memang orang yang aneh, sekali pandangan langsung bisa membuat hewan itu kabur ] Felix