
" Berisik!!... " pekik Dania lemparannya memghasilkan dua ekor burung itu akhirnya berhenti bersuara.
[ Barang bagus, batu itu bisa mendiamkan mereka berdua. ] dan yang dilempar adalah dua buah batu kristal suci.
Kwakk~...... ?
Keduanya menoleh bersama ke arah dimana seorang gadis baru saja melakukan tindakan kejahatan sudah melempar batu ke kepala mereka.
BRUK........
"...........! "
[ Sampai pingsan?. ] Dania tak menyangka kalau burung hitam itu akhirnya pingsan di tempat tapi tidak dengan Everst.
Everst kini sedang mengelus-elus kepalanya dengan sayap berbulu itu, lalu berkata.
" Sakit..sakit...sakit. " keluhnya.
Spontan tindakan dan reaksinya langsung berubah, Everst berjalan ke arah Dania dan langsung mengulurkan sayapnya ke arah Dania.
" Apa?. " ketusnya.
" Sembuhkan kepalaku. " jawab Everst sambil menunjuk ke luka hantaman di atas kepalanya
"...............! " tanpa segan, Dania menepuk-nepuk kepala Everst dengan pelan.
Everst menutup matanya seakan dia menikmati elusan dan tepukan yang lembut itu.
[ Hangat. ] batin Everst, dan tetiba dia merekahkan senyuman yang memuakkan untuk Dania.
Dania langsung membekap paruh itu dan menariknya ke hadapannya.
" Aku peringati lagi, jangan tersenyum di depanku. "
[ Dia kelihatan lebih menyeramkan jika tiba-tiba tersenyum seperti itu. ] fikir Dania pula, matanya saling baradu tatap.
" .............! " tersadar akan perbuatannya, Everst langsung berusaha keluar dari cengkraman paruhnya.
" Jangan lagi. " kata Dania lagi.
Everst mengangguk-angguk setuju.
Dan anggukan tersebut akhirnya Dania terpujuk untuk melepaskan cengkramannya.
" Ukh..... " Dania cepat-cepat mundur dambil memegang kepalanya, efek dari bir yang di berikan oleh Caster masih berpengaruh.
[ Aku harus minta dibuatkan sup pereda mabuk. Minum sedikit saja sudah membuat kepalaku pusing, sialan, sudah uangku di bawa pergi dia juga memberiku bir. ]
Kutuk Dania.
______________
" Kau..tutup lagi pintunya. " perintah salah satu penjaga gerbang mansion milik Ishid Lucrenzia.
" Baik. " dengan patuhnya pemuda ini menuruti perintah seniornya.
" Waktunya sarapan, kau gantikan aku dulu ya. " kata prajurit ini.
Dan yang di perintah hanya menganggukkan kepalanya.
[ Ahh.....sarapan, apa menu sarapan kali ini?. Tuan Ishid juga kelihatan lagi senang dalam 2 hari ini. ] batinnya, jika mengingat kalau majikannya masih dalam mood bahagia tiap kali pulang.
" Jadi rumor di pasukan kalau tuan mempunyai kekasih adalah benar?. Mungkin sebab itu dia tiap pulang dalam mood senang. " gerutunya.
Langkahnya pun membawa dirinya ke kantin dan untuk sampai kesana maka ia harus melewati lapangan latihan jadi bisa di bilang begitu jauh.
TRANG.....
__ADS_1
CTANG....
CTANG......
Mendengar suara dentingan dari pedang yang begitu cepat, sudah pasti...
[ Beliau sedang latihan. ] detik hatinya.
SYUHH.......
Merasa ada kehadiran seseorang tanpa peringatan, prajurit ini bersiaga dengan tangan kanan sudah memegang gagang pedang dan hanya tinggal bersedia untuk mengeluarkannya.
SYUUTT.......
Datangnya dari belakang, dia segera memutar tubuhnya ke belakang dan mendongak sedikit ke atas sehingga melihat...
TAK...
Sepasang sepatu boots hitam dengan model higls mendarat ke lantai dengan sempurna.
Mantel coat berwarna coklat itu sempat berkibar sesaat, dengan warna yang sama, rambut dengan panjang di atas bahu yang dimana sebelah kiri lebih pendek dari pada kanan berayun mengikuti gerak kepala dari pemilik tepat saat menoleh ke arahnya.
Sesaat ada roma bau bunga liliy saat orang tersebut mendarat di depannya.
Sebuah sosok yang indah dan sempurna daei seorang laki-laki?.
[ Tidak...mana mungkin laki-laki mau memakai spatu boots seperti itu. ] maka kesimpulannya adalah....
" Dia perempuan?. " matanya membulat saat mengetahui hal yang pertama kali ia lihat, sepasang iris mata berwarna Ruby.
Kilauannya saat terkena sinar mata hari membuatnya seperti kristal yang langka yang terkenal itu.
" Siapa kau!. "
Dia menoleh ke arahnya dan menatap dengan raut tanda tanya.
Untuk bersiaga, prajurit muda ini mengeluarkan pedangnya.
" Aku bukan musuh. " dan suara manis yang terdengar itu rupanya sukses membuat prajurit berumur kurang dari 23 tahun itu merona.
[ Kenapa dengan wajah dia?. ] batin Dania.
Lalu dua tangan yang dia rentangkan ke depan, langsung di sambut oleh...
BRUKK.....
Kantung besar berwarna coklat. Ia nya seperti kantung goni, dan Dania dapat menangkapnya dengan mulus.
" Ha?!. " prajurit ini melongo ketika mendapatkan pertunjukkan yang tidak pernah di lihatnya.
[ Dari mana datangnya kantung itu?. ]
" Ah....kau menyusup!. " kembali mengacungkan ujung pedang ke arah gadis itu.
" Memang. " jawabnya dengan selamba, lalu tanpa menatap lawan bicaranya, ia menoleh ke arah pemilik dari isi kantung yang ia bawa. ( Ishid )
" Tolong berikan ini untuk tuanmu, dan bilang agar peliharaannya jangan menggangguku lagi. " sebuah pesan singkat.
Dania langsung menyodorkan kantung besar itu ke tangan sang prajurit tanpa aba-aba, membuat prajurit itu langsung..
" Ukhh....! "
[ Berat begini, dia bisa membawanya?. ] kwalahan ternyata bukan sekedar berat seberat 20 Kg, tapi hampir mencapai 40 Kg.
" Hei....siapa namamu?. "
Dania mengerjapkan matanya karena ada juga yang bertanya dulu siapa dirinya meski awalmya disambut sebuah kewaspadaan dan dengan tidak sopan sudah mengacungkan pedang ke arah Dania.
__ADS_1
" Dania. " jawab Dania. Ia lalu memutar tubuhnya dan berkata lagi.
" Tolong sampaikan pesanku tadi. " di akhiri sebuah bungkukan hormat, sebelum akhirnya dia berlari pergi ke arah dimana prajurit tadi lalui, dan langsung menghilang saat di belokkan itu.
" Cantik~.. " tanpa sadar mulutnya mengucaokan kata cantik.
DRAP.....
DRAP....
DRAP......
Prajurit ini menurunkan karung coklat yang katanya tadi adalah peli- ...
" Ehh?!. Peliharaan?!. " terkejut bukan bain saat ingat bahwa kata kunci utama tadi adalah peliharaan.
" Siapa tadi?. Dan apa yang dia berikan padamu itu?. " tanya Ishid setelah sampai di tempat dimana percakapan singkat yang dilakukan bawahannya berada.
" Katanya ini peliharaan tuan. "
Buru-buru dia menurunkan karung itu, jelas saja....setelah diturunkan, karung coklat itu bergerak-gerak.
Ishid cepat-cepat membukanya.
" Perempuan tadi berpesan agar peliharaan tuan tidak mengganggunya lagi, dan namanya Dania. "
Kwakk...kwakk...
Meronta-ronta ingin keluar, Raya pun bergerak dengan beringas saat ujung karung yabg tadinya terikat kini sudah terbuka.
" Dania?. "
[ Jadi tadi itu dia?. ] mtanya membulat lebar penuh dengan tanda tanya dikepalanya.
" Sampai-sampai mengikat dan memasukkannya ke dalam karung. " gumam-gumam.
KWAK....
Dengan pedang yang ada di tangannya, Ishid menggunakan pedangnya untuk merobek karung tersebut dan Raya akhirnya bisa keluar.
Sesaat sudah keluar dari karung, terlihat ada kertas terikat di salah satu kakinya Raya. Ishid mengambilnya dan mulai membacanya.
KRESHH.......
Kertas kecil itu langsung Ishid remas.
" Raya "
Kwak...? \= " ya?. "
" Apa yang sudah kau lakukan?. "
Kwak...kwak.... \= " Memberinya pelajaran, tuan..dia sampai memukul kepalaku lalu di masukkan ke dalam karung?!... "
Raya masih tidak terima dengan perlakukan dari satu dua makhluk hidup itu karena sampai membuatnya dirinya pingsan.
" Jangan mengganggu orang lain, memangnya aku menyuruhmu mengusik dia?. " ucap Ishid dengan nada dingin.
Raya yang terkesiap dengan ekspresi dan auranya yang dingin itu keluar membuat Raya langsung terdiam dan menuruti perintahnya.
" Kembali ke tempatmu. " perintah teralhir yang Ishdi berikan kepada Raya sebelum Ishid memutuskan untuk pergi menyelesaikan latihan terakhirnya.
Kwak....Kwak....!
Kutuk Raya lalu terbang menuju sarangnya yang ada di rumah kaca.
Sedangkan prajurit tadi terdiam dengan tingkah tuannya dan hewan peliharaan milik tuannya itu.
__ADS_1
Ia berpikir bagaimana bisa tuannya mengerti bahasa burung, dan dengan patuhnya burung tersebut menurutinya begitu saja.