Kesatria Eldania

Kesatria Eldania
Apa Aku Pergi?


__ADS_3

" Mau kamu apakan?. " Tanya Vidal, setelah lumayan terkejut dengan hal yang di bawa oleh Dania.


" Aku akan membawanya ke kamar sebagai barang mainan. " jawabnya dengan cepat.


[ Mainan?. Dia mau menggunakan itu sebagai barang mainannya?.. ]


Mengernyit kurang suka, sudah ada satu orang aneh, di tambah dengan hobi yang aneh juga.


" Tapi.......itu tidak mengandung unsur mistik kan?. " masih memberikan tatapan menyelidik.


" Mistik..." Melihat ke dalam pelukannya itu.


" Tidak ada, di mataku barang yang ku bawa adalah barang normal seperti batu yang bertebar di jalanan. " jelas Dania.


Meski sudah di jelaskan sedemikian rupa, ia melihat dengan jelas kalau Juro Vidal masih tetap belum percaya dengan kata-katanya.


Tapi.....baginya, entah mau percaya atau tidak laki-laki yang di depannya ini, ia tidak begitu peduli.


Vidal menggehal nafas, llalu berkata


" Jika memang seperti itu, terserahmu saja. Tapi bukannya kau pulang lebih cepat?. "


Dania yang hendak mengambil langkah pertama untuk pergi menuju ke kamarnya, jadi langsung mengurungkan niatnya itu, dan menatap Vidal dengan sedemikian lekat.


" Apa aku tidak boleh pulang kesini lagi?. " tanyanya.


" Bukan itu... " ucapannya jadi menggantung, karena Vidal merasa aneh, dengan perubahan sikap wanita yang lebih muda 6 tahun ini.


[ Apa yang terjadi dengannya?. ]


" Lalu apa?. " menantikan Vidal membuka suaranya lagi, kini Dania benar-benar merasa malas, ia malas untuk bicara.


Baru pulang tapi langsung di datangi oleh orang ini, dan wajahnya yang penuh dengan rasa penasaran selalu berakhir dengan pertanyaan.


" Jika tidak suka keberadaanku di sini, aku bisa pergi. "


Dania berputar balik, memunggunginya, membuat Vidal langsung menahan kepergiannya dengan menahan bahu itu.


" Tunggu, siapa yang mengatakan tidak menyukai keberadaanmu?. "


" Ho~?. " Memutar tubuhnya kembali. Matanya memicing, ia jadi mengerti akan satu hal kalau laki-laki ini memang terlihat hanya menganggap remeh dirinya.


Sedangkan Vidal menangkap sekilas ujung bibir perempuan itu terangkat untuk membentuk sebuah seringaian sebelum kembali pada ekspresi data yang tadi di gunakan.


" Padahal wajahmu yang memberitahuku. " ucapnya.

__ADS_1


" Itu..... "


Vidal tidak bisa menyangkal atas pertanyaannya.


Vidal memang tidak begitu suka akan anak ini yang membuat yang mulia Archduke jadi sedikit memprioritaskan orang asing yang bahkandi temukan di hutan dalam keadaan jadi bocah beberapa bulan lalu.


" Bukan hanya satu atau dua orang sih, masih banyak yang tidak menyukai kehadiranku disini, sayangnya aku tidak akan memberitahu siapa saja mereka. " menyempatkan melirik ke beberapa arah, di beberapa tempat ia melihat beberapa orang masih menguping.


" Karena tidak ada untungnya untukku. Jadi bukannya hal bagus untuk ke dua belah pihak, yang satu bisa lega dan yang satu lagi bisa pergi bebas. "


Keadaan yang memang tidak terduga, kalau Archduke tiba-tiba mengangkatnya menjadi seorang adik, padahal hanya orang asing yang sengaja di pungut karena waktu pertama kali itu posiai tubuhnya dalam keadaan seperti anak kecil. Tapi hasilnya, keputusan itu membuat dampak untuk semua pekerja di istana.


Rasa iri, dari keberadaan orang asing yang tiba-tiba muncuk dan segera di masukkan dalam anggota keluarga.


" Tunggu sebentar. " tiba-tiba Archduke angkat bicara. Kehadirannya dengan satu tangan terangkat untuk menarik perhatian mereka berdua yang sibuk berdebat tadi.


" Juro Vidal, aku menyuruhmu turun untuk menyambutnya bukan menahannya disini. "


" Yang mulia, saya tidak berma-...."


" Eldania. " Archduke mengabaikan Vidal dan mengalihkan pandangannya pada Dania.


" Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi dalam perjalananmu. Tapi jika memang terusik dengan orang itu ...... " sambil menunjuk ke arah Vidal.


Vidal diam-diam melirik ke samping, jelas-jelas tadi dia melihat sebuah sorotan mata yang dingin, tapi sekarang, seperti pandangan kosong.


" Iya. " langsung melewati mereka berdua begitu saja, kakinya mulai menaoakai tiap anak tangga yang berjumlah 54 itu.


TAP.........TAP..........TAP.........


Pelan-pelan Dania menyusuri koridor yang sepi, yang mana jika dalam keadaan gelap, itu sama seperti masuk ke lorong kematian.


Hanya lampu kecil saja yang menyala, meski remang-remang, yang menjadikan suasana jadi sedikit seram, tetap tidak menghentikan langkahnya.


Dia menoleh ke arah kiri, tepatnya melihat ke bahunya.


[ Sekarang sudah tidak ada. ] atau jika mendongak ke atas, hanya plafon berhiaskan ukiran saja yang ada.


Kemana sosok yang biasanya menghiasi angkasanya?.


Dimana ke dua kaki yang memiliki cakar, yang biasanya mencengkram bahunya saat bertengger di sana?.


Semuanya sudah tidak ada lagi.


KLEK..... ( Suara pintu terbuka. )

__ADS_1


Akhirnya, dia biaa kembali ke kamar yang nyaman ini, kamar dari sekian kamar yang pernah ia coba tiduri, dan hanya ini lah....


BRUK..... ( Meletakkan bungkusan ke atas lantai )


Satu-satunya tempat, kamar yang nyaman untuknya.


Dan kali ini. Benda yang di bawanya adalah...


" ........................" membuka bungkusan itu, tepatnya pakaiannya sendiri yang Dania gunakan untuk membungkus.


CLING........


Kilauan cahaya biru dari sebuah batu yang ia bawa, itulah....benda yang ada dalam bungkusan tadi.


Tersenyum sedikit puas.


" Bisa mempunyai semua batu ini, aku..... " mengambil beberapa pecahan batu yang berbeda.


" Jadi bisa mencoba membuat itu. "


SHAAA.......


Kamar yang di tinggalinya, tidak begitu terang, tapi itu seakan sedang menggambarkan suasana hatinya yang barus saja berduka.


Meninggalkan batu yang dia letakkan di atas meja, Dania pergi mendekati pintu kaca yang menghubungkan balkon.


Dia tisak keluar, dan hanya berdiri meratapi kain tipis yang menggantung itu.


[ Baru kali ini aku serasa kehilangan. ] fikir Dania.


Terlihat di luarjendela sedang hujan deras.


GREEP.......


Mencengkram baju bagian dadanya., di sana dia sudah terlepas dari ikatan perban yang sedari awal dirinya sadar, ikatan itu sudah tidak da lagi.


Seakan seperti meleoas ikatan yang membellenggu.


" Besok. " bisiknya.


Sesuatu yang akan dia coba, dari hal yang tidak pernah ia coba sekalipun selama kehidupanyya disini.


Apa itu?.


Tunggu di Next Chapter ------->>

__ADS_1


__ADS_2